3. Sama gilanya

1468 Words
Jika mereka berdua dibandingkan, maka siapa yang terlihat lebih gila? Vicha yang mengikuti Seli walaupun tahu bahwa tawaran temannya itu mencurigakan dan kemudian menyusup ke dalam mobil orang lain? Atau lelaki asing yang secara terang-terangan mengatakan bahwa dia membutuhkan Rahim seorang wanita untuk melahirkan anaknya? “Mas….lagi bikin casting film azab begitu, kah? Judulnya, Anak titipan CEO? Atau Rahim sewaan?” tanya Vicha bingung. Tapi lelaki yang masih saja mengendarai mobilnya entah kemana itu, malah berdecak keras dengan alis yang hampir menyatu. Anvicha meringis. Mungkin karena tadi dirinya panik dan berpikir asalkan bisa lepas dari Seli maka tidak masalah walaupun bersembunyi di dalam mobil orang lain, maka dia tidak menyadari betapa menakutkannya pria yang sedang bersama dengannya ini. Wajahnya memang tampan, Anvicha bisa menjamin itu. Alis tebal tapi simetris dan wajah mulus yang sepertinya tidak pernah dihinggapi jerawat batu itu, pasti menggunakan perawatan yang mahal, yang bahkan tidak akan bisa dicapai oleh manusia seperti Vicha. “Kamu penulis? Atau pengarang? Mungkin kamu memang menganggap ini sebagai sesuatu yang aneh, tapi ada sesuatu yang membuat saya harus mendapatkan itu. Saya bisa mengatakan ini ke kamu, karena saya tahu kamu juga bukan perempuan biasa. Memangnya perempuan bodoh mana yang percaya dengan scam pekerjaan seperti itu dan bahkan masuk ke dalam mobil milik orang asing dengan mudah?” Anvicha rasanya merasa kesal, tapi sialnya, dia tidak bisa menyangkal. “Dan katanya, kamu butuh uang, kan? Sampai-sampai kamu langsung percaya sama scam—“ “Ah! Jangan dibahas terus dong! Jadi, maksudnya omongan Mas itu, apa?” Walaupun dirinya salah dan bodoh, tapi jika kesalahannya terus dibahas oleh orang asing, tentu saja Vicha merasa tidak senang. “Ada pekerjaan yang bisa menghasilkan lebih banyak uang, lebih dari yang kamu butuhkan,” kata lelaki itu. Mata Anvicha memicing, “Nyewain Rahim saya?” “Iya.” “Wah! Gila!” tanpa sadar Vicha berseru keras di dalam mobil. “Apaan sih?! Kamu ini benar-benar enggak tahu sopan santun ya?!” “Ah, Maaf,” kata Vicha setengah hati. “Tapi memangnya, ada orang normal yang minta perempuan buat nyewain rahimnya?” “Ya ada. Saya,” balas lelaki itu santai. Anvicha menipiskan bibirnya, rasanya percuma saja jika dirinya mengatakan apapun di depan lelaki yang sekali lihat saja, tidak akan mungkin mau kalah. “Ya sudah, Mas cari aja perempuan yang mau nyewain Rahimnya buat ngelahirin anak Mas,” kata Vicha kesal. Tangannya kemudian mengetuk bagian badan mobil, “Saya mau turun, Mas. Makasih banget karena sudah—“ “Satu Miliar.” Tubuh Anvicha membeku saat mendengar apa yang dikatakan oleh lelaki itu dengan dingin. “Apa?” “Bayaran untuk melahirkan anak saya adalah satu miliar rupiah. Selama kamu hamil anak saya, biaya makan, vitamin dan pemeriksaan rutin dengan Dokter Spesialis, semuanya akan saya tanggung di luar dari bayaran satu miliar itu. Tapi tentu saja, kalau kamu setuju juga, kamu harus menjalani pemeriksaan kesuburan dan harus dipastikan bahwa Rahim kamu dalam keadaan sehat dan subur.” Kepala Vicha mendadak kosong. Satu miliar adalah bilangan yang sangat besar, yang bahkan tidak akan bisa dirinya dapatkan meskipun bekerja seumur hidup. Apalagi, dirinya akan menjalani kehamilan dengan perawatan kelas atas selama hamil. Bahkan hal itu tidak akan bisa didapatkan oleh semua wanita yang menikah dna hamil atas keinginan mereka sendiri, bukan? Tapi, bukankah menyewakan Rahim sama saja dengan menjual dirinya? Bagaimana dengan harga diri Vicha dalam kasus ini? “Kenapa harus saya?” tanya Vicha. Dan dia langsung merinding saat melihat senyum seringai yang muncul di wajah lelaki itu. “Siapa bilang harus kamu? Saya menawarkan ini karena kebetulan ketemu sama kamu. Dengan kata lain, kalau kamu menolak, tentu saja saya akan mencari orang lain yang mau menerima tawaran ini. Saya yakin, akan banyak yang berminat jika mendengar tawaran ini, bukan?” Anvicha menelan ludah. Apa yang dikatakan pria yang bahkan belum ia ketahui namanya itu, sepenuhnya benar. Jangankan satu miliar, ditawari seratus juta saja, mungkin akan banyak wanita yang mengiyakan dengan mudah. Pernikahan menjadi momok yang menakutkan belakangan ini bagi sebagian banyak wanita, karena banyak kasus dimana mereka salah pilih suami dan kesulitan ekonomi hingga harus hidup pas-pasan atau kekurangan. Dengan menerima tawaran ini, mereka akan hidup dengan nyaman hanya dengan hamil satu kali. Bahkan menerima perawatan dan kehidupan kelas atas selama hamil. “Apakah…kita akan melakukannya di luar nikah?” tanya Vicha. Dia bahkan merasa malu hanya dengan mempertanyakan tentang itu. Sedangkan lelaki yang kini mulai melambatkan laju kendaraannya itu, menoleh padanya. “Saya juga orang yang punya agama dan mengerti agama walau enggak terlalu taat, karena itu, saya enggak mau anak saya lahir di luar menikah. Setidaknya, saya dan perempuan itu harus tetap menikah dan mempertahankan pernikahan setidaknya sampai satu tahun, termasuk dengan hitungan waktu selama wanita itu hamil. Dengan kata lain, setelah menikah, akan sangat diusahakan agar wanita itu hamil agar pernikahan hanya berjalan selama satu tahun.” Anvicha memilin jemarinya. Dia mulai berpikir bahwa penawaran ini bahkan tidak ada ruginya sama sekali untuknya. Jika berpikir secara kasar, bahkan jika dia menikah dengan orang yang dia cintaipun, dirinya tidak akan memastikan bahwa kehidupannya akan lebih baik dari sekarang. Terlebih, masalah yang lebih mendesak adalah tentang hutang puluhan juta yang dimilikinya. “Apa..saya bisa minta waktu berpikir?” Terdengar helaan napas lelaki itu, “Sepertinya kamu masih belum mengerti. Saya sudah bilang sebelumnya kan? Saya menawarkan ini ke kamu, karena kebetulan saya ketemu sama kamu. Dengan kata lain, saya enggak masalah sekalipun orangnya bukan kamu.” Anvicha menggigit bibirnya. Dia merasa tertarik dengan tawaran ini, tapi apakah bisa dirinya merelakan anak yang dikandungnya selama Sembilan bulan dan pergi begitu saja membawa uang satu miliar rupiah? Entah kenapa walaupun belum terjadi, itu terasa pahit sekali. “Oke. Sebagai bahan pertimbangan, setelah melahirkan anak, kamu masih akan diizinkan untuk bertemu anak kamu. Dengan catatan, kamu enggak boleh ikut campur atas apapun yang saya rencanakan untuk anak itu. Entah tentang pendidikannya atau tentang cara asuhnya. Saya juga akan memberitahu anak itu bahwa kamu adalah ibunya, karena saya bukan orang sekejam itu yang memisahkan anak dengan ibunya hanya karena saya butuh anaknya saja.” Kepala Vicha mendongak cepat, menatap pada lelaki itu. Dia merasa terkejut karena lelaki itu seperti tahu apa yang sedang dipikirkan dan dikhawatirkan olehnya. “Saya enggak punya banyak waktu, karena sekarang saya harus putar balik. Jadi maaf, saya butuh kepastian kamu.” Vicha dikejar waktu. Jika dia menolak dan melepaskan kesmepatan ini, maka dia akan kehilangannya selamanya. Tawaran ini tidak akan pernah datang lagi padanya seumur hidup. “Oke,” kata Vicha sambil memejamkan mata. Dadanya berdebar, karena mungkin saja dia akan menyesali keputusannya saat ini. “Tapi sebelum itu, bisa enggak Mas antar saya ke kosan temen saya? Saya harus cepet-cepet keluar dari sana sebelum temen saya pulang. Karena bisa aja, saya dijual lagi sama dia.” Walaupun terlihat malas menanggapi permintaan Vicha, lelaki itu pada akhirnya mengangguk. “Pindah ke depan sini! Saya enggak mau jadi supir kamu,” katanya ketus. Dengan merengut, Anvicha langsung melangkah ke depan hingga membuat lelaki itu terkejut. “Memangnya kamu enggak ngerti yang namanya pintu?”tanya lelaki itu sewot. Vicha mendelik, “Kelamaan, Mas! Keburu temen saya pulang nanti saya dijual lagi.” Lelaki itu berdecak, memilih untuk tidak mendebat Vicha lagi selama perjalanan. Lalu ketika mereka sampai di depan gang, Vicha bersiap untuk turun, tapi dia tidak menyangka jika lelaki itu juga akan ikut turun dengannya. “Mas mau kemana?” tanya Vicha bingung. Sedangkan yang ditanya, terlihat lebih bingung. “Ya ke kosan temen kamu! Gimana kalau ternyata temen kamu nungguin di kosan karena tahu kalau kamu pasti akan datang? Walaupun kontrak kita belum dibuat, tapi saya enggak mau kalau orang yang mau taken kontrak sama saya diambil orang lain! Apalagi kalau harganya jauh di bawah harga yang saya tawarkan.” Ucapan lelaki itu, tanpa sadar menyakiti hati Vicha. Dia seolah seperti w************n yang menjual tubuhnya. Dan mungkin, lelaki itu juga sadar bahwa ucapannya melukai Vicha hingga kemudian dia berdeham canggung. “Maksud saya, saya enggak mau kalau sampai Om yang tadi ngejar kamu, ngebawa kamu lagi dan berhasil nyentuh kamu. Kamu juga enggak mau kan kalau sampai itu terjadi?” Tanpa menjawab, Vicha langsung melangkah mendahului lelaki itu. Dirinya tahu bahwa keputusannya akan membawa banyak hal yang mungkin akan menyakitkan dirinya sendiri di kemudian hari, tapi sekarang Vicha tidak memiliki jalan lain. Biar saja dirinya dihujat seluruh dunia sebagai w************n yang menjual dirinya sendiri, lagipula seluruh dunia tidak akan melakukan apapun sekalipun Vicha sekarat dan terjerat hutang. Langkah kakinya terkesna cepat, tapi lelaki di belakangnya bisa mengikuti dirinya dengan mudah. Hingga kemudian dia sampai di depan kosan, langkah Vicha terhenti bahkan tanpa sadar bergerak mundur. “Seenggaknya, harusnya kamu enggak bikin susah orang yang udah nolong kamu kan?!” Sosok Seli berdiri di depan kosan dengan tatapan tajam dan mengerikan, seolah siap membunuh Vicha saat itu juga. **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD