2. Dijual

1620 Words
Anvicha langsung bergerak mundur saat lelaki gemuk itu melepaskan kedua wanita yang tadi dalam rengkuhannya. Wajahnya yang setengah teller, menatap Anvicha dengan tatapan yang menjijikan. “Hm… tidak buruk! Setidaknya, kamu memang sesuai dengan harga yang aku bayar.” “Harga?” Tentu saja Vicha terkejut. Di kepalanya, dia mulai merancang skenario buruk yang mungkin saja saat ini sedang menimpa dirinya, tapi dia berusaha untuk menyingkirkan pemikiran itu berbekal rasa percayanya pada Seli. “Iya. Aku sudah membayarmu sebanyak dua juta ke Seli, jadi kamu enggak boleh mengecewakan aku. Aku menuntut servis terbaik yang bisa kamu lakukan.” Tubuh Vicha menegang. Jelas servis yang dimaksud oleh pria itu sama sekali bukan servis mengantarkan minuman atau makanan seperti yang sebelumnya dikatakan oleh Seli. Dirinya tidak sebodoh itu untuk tidak memahami apa yang sedang terjadi saat ini. Walaupun dia berusaha menyangkal pada awalnya, tapi sekarang dia sadar. Bahwa ternyata, tidak pernah ada pekerjaan yang seperti dijanjikan oleh Seli. Di dalam ruangan ini, dirinya bukan sedang menunggu atasan yang akan mempekerjakan dirinya, melainkan menunggu lelaki yang akan melahapnya setelah membayar sejumlah uang untuk menggerayangi tubuhnya. Anvicha tahu bahwa jika dirinya menolak atau memberontak, maka dia akan dipaksa untuk tetap melayani lelaki. Karena itu, bukannya langsung menyangkal, Vicha malah tersenyum sambil menyibakkan rambutnya ke belakang dengan dramatis. “Seharusnya Om tahu, kalau dua juta adalah harga yang murah untuk seseorang seperti aku. Karena itu, Om harus sabar, karena aku harus mempersiapkan diri demi pelayan terbaik yang akan Om dapatkan. Saya jamin, kalau Om akan ketagihan,” katanya kemudian. Sebagai tambahan, dirinya bahkan sampai mengedipkan matanya dengan genit, walaupun tubuhnya merinding saat mengatakan itu. “Hm? Persiapan apa?” tanya lelaki itu bingung. Daripada lelaki yang sudah mabuk itu, Vicha merasa lebih waspada pada dua wanita yang sejak tadi menatap tajam padanya. Dia melirik ke arah pintu yang masih terbuka sedikit, lalu kemudian kembali menatap lelaki itu dengan senyum merekah. “Aku sudah menyiapkan kostum terbaik buat permainan kita malam ini. Jadi saya akan ambil lebih dulu kostumnya dan kembali kesini. Sambil menunggu, lebih baik Om main-main dulu sama mereka yang sudah Om bawa. Saya akan bersabar demi bisa membuat Om senang.” Dengan bodohnya, lelaki itu tertawa. Tangan gemuknya kembali merengkuh dua wanita itu dan menariknya ke sofa panjang. Vicha menatap jijik pemandangan itu. Lalu saat ketiganya sedang sibuk saling menyentuh, dia segera mengambil tas yang dia bawa dan berlari keluar. Tunggang-langgang dirinya berlari, menerobos banyak orang di sepanjang jalan. Sialnya, sosok Seli yang tadi terburu-buru meninggalkan dirinya, mendapati Vicha yang sedang melarikan diri. “VICHA! MAU KEMANA KAMU?!” Sungguh tidak tahu malu. Kalau saja Vicha tidak dalam situasi terdesak saat ini, mungkin dirinya sudah akan berbalik badan hanya untuk memendang tubuh ceking mantan temannya itu. Berani-beraninya Seli memanfaatkan dirinya di saat Vicha sedang dalam situasi menyedihkan. Sebagai pelampiasan kekesalannya, dia menunjukkan jari tengahnya kepada Seli yang mengejarnya. Terus berlari hingga berhasil keluar dari dalam ruangan gelap dan pengap itu. Vicha celingukan, mencari tempat bersembunyi yang aman untuk dirinya. Tapi pelataran parkir yang luas ini, jelas bukan tempat yang bisa menyembunyikan dirinya dengan baik. Hanya saja, ada satu mobil dengan pintu bagian belakang yang terbuka. Anvicha jelas tahu, jika pintu mobil dalam keadaan terbuka, sudah pasti ada pemiliknya di sana. Mungkin saja ini sama dengan keluar mulut harimau dan masuk ke kandang singa. Tapi dia tidak punya pilihan lain, karena prioritasnya saat ini adalah lolos dari Seli yang masih mengejarnya hingga keluar. Vicha nekat masuk ke dalam mobil dan merunduk di jok belakang. Dia bahkan menutupi bagian atas tubuhnya dengan dua tangan, walaupun logikanya jelas menertawakan tindakan bodoh tidak berguna itu. Lalu dia sengaja diam, menajamkan telinga untuk memastikan apakah Seli masih mencarinya atau tidak. Tapi bukannya mendengar suara Seli, dia justru mendengar suara lain. Suara yang jaraknya bahkan lebih dekat dengannya. “Siapapun enggak masalah. Yang penting, dia bersedia hamil darah dagingku.” Gila! Sebenarnya, apa yang sedang Vicha dengar saat ini? * Sadam Gustama Zuardi memijat keningnya pelan. Rasa pusing yang selalu dia rasakan belakangan ini, nyatanya tidak juga membaik. Masalahnya hanya satu, tekanan pekerjaan dan juga tekanan dari keluarganya yang membuat Sadam gagal lepas dari migrain yang beberapa bulan belakangan ini mengganggu kualitas hidupnya. Dia kesulitan tidur saat malam, kesulitan fokus saat bekerja dan kehilangan nafsu makan hingga berat tubuhnya turun drastis. Itu semua karena dia hidup dalam keluarga yang gila. Hanya karena dirinya belum juga menikah di usia tiga puluh satu tahun, kakeknya mengancam mengambil semua asset dan fasilitas yang Sadam miliki hingga sekarang. Tidak bisa dipungkiri, bahwa ini kesalahannya yang terlalu sombong. Karena hanya melihat dari hasil kerja keras kakeknya yang membuahkan hasil sangat mengagumkan dengan keberadaan perusahaan elektronik terbesar yang sekarang bahkan mengembangkan sayap di bidang pembuatan smartphone canggih, dia merasa bahwa dirinya juga akan bisa melakukannya. Tapi bisnis yang dia bangun dengan menggunakan seratus persen uang investasi dari ayah dan kakeknya, nyatanya hancur dalam enam bulan. Dan sebagai bentuk toleransi karena telah menghilangan uang puluhan miliar, kakeknya memaksa Sadam untuk menikah dan memberikannya cicit. Sadam menghela napas kasar. Dia berjalan mendekat ke arah mobilnya dan membuka pintu belakang untuk mengambil sandal yang dia letakkan di sana. Dia mengganti sepatu pantofel mengkilapnya dengan sandal murah yang dia beli di pinggir jalan. Lalu tiba-tiba ponselnya berdering. Dirga, sepupunya menghubunginya setelah membatalkan janji temu mereka di club malam ini. “Apa?!” sentak Sadam kesal. Tapi sepupunya yang gila itu malah tertawa tanpa dosa. “Maafin gue, Dam! Lo tahu sendiri, bini gue belakangan ini susah banget ditinggal.” Sadam berdecak pelan, dia berjalan ke arah kursi kemudi dan duduk di sana. “Terus aku gimana? Kan kamu sendiri yang janjiin buat bantu cari perempuan yang mau menikah sama aku.” Terdengar Dirga mendengus di seberang telepon, “Kenapa lo enggak cari cewek baik-baik aja sih dan menikah beneran? Di club malam itu, bisa aja lo malah ketularan penyakit aneh, Dam.” Tangan Sadam kembali memijat keningnya. “Aku Cuma butuh perempuan buat ngelahirin anakku habis itu pisah. Aku enggak ada niat buat bener-bener menikah.” Padahal Dirga sendiri tahu alasan kenapa dirinya sampai sekarang menolak untuk menikah, tapi lagi-lagi Dirga mempertanyakan hal yang sama. “Tapi yang namanya cewek di club malam kan berarti cewek enggak bener, Dam! Gimana kalau sampai nanti sifatnya itu nurun ke anak lo?” Sadam bukannya tidak memikirkan hal itu, hanya saja dimana lagi dia bisa mendapatkan wanita yang mau menjadi perempuan yang dia nikahi hanya untuk dipinjam rahimnya? Sadarm tidak pernah berpikir membangun keluarga, tetapi dia membutuhkan seorang anak yang mewarisi DNA nya. “Pokoknya aku mau coba cari dulu. Siapapun enggak masalah. Yang penting, dia bersedia hamil darah dagingku.” BRAK Sadam terkejut saat suara keras terdengar dari belakang tubuhnya. Reflek dia menoleh ke belakang dan matanya membulat melihat seorang wanita dengan posisi tengkurap berada di jok belakang mobilnya. “Siapa kamu?!” Tangan Sadam mematikan sambungan telepon dengan Dirga, dia butuh fokus pada penyusup yang entah bagaimana caranya bisa berada di dalam mobilnya. “Mas.. Mas… tenang dulu!” kata perempuan itu berbisik tertahan. “Jangan keras-keras! Saya lagi dikejar orang yang mau jual saya ke Om-Om tua. Tolong jangan berisik!” Kening Sadam berkerut. Perempuan itu bahkan tidak merasa bersalah walaupun sudah menyusup masuk ke dalam mobilnya dan malah sibuk mengintip keluar dengan wajah cemas. “Saya enggak mau tau! Sekarang juga, kamu keluar dari mobil saya!” Perempuan itu merengut, tangannya mengambil tas miliknya dan bersiap untuk keluar. Tapi ketika dia akan melangkah keluar dari mobil, tubuhnya tiba-tiba saja kembali terngkurap hingga membuat Sadam terkejut. “Tadi saya lihat dia lari kesini, Om! Saya yakin dia masih ada di sekitar sini!” Seorang perempuan dan lelaki tua berada di luar mobil, saat perempuan yang bersembunyi itu berusaha membuat Sadam tetap diam. Sadam menghela napas berat, dia memilih untuk membantu perempuan itu kali ini dengan menutup pintu jok belakang mobilnya dan kemudian mulai menyalakan mesin. Dia mengendarai mobil menjauh dari area club. “Loh? Kok jalan?” tanya perempuan itu panik. “Mas! Ini mau kemana? Mas penculik? Mas juga mau jual saya ya?!” Mendengar suara berisik perempuan itu membuat kepala Sadam makin berdenyut. Dia berdecak keras hingga membuat perempuan itu sontak terdiam. “Saya bukan mau jual kamu, kalau bisa, saya mau beli kamu terus saya lakban mulut kamu yang berisik itu!” Perempuan itu langsung beringsut mundur sesaat mendengar ucapannya. “Sebenarnya, apa sih yang kamu lakuin sampai dikejar-kejar begitu?” tanya Sadam akhirnya. Dia yakin perempuan yang duduk di jok belakang mobilnya ini bukan gadis belia yang bodoh dan naif. Tapi melihat perempuan itu sampai dikejar setelah ‘dijual’, bukankah berarti perempuan ini baru saja tertipu? “Saya ikut temen saya kesini karena dia bilang saya bisa kerja disini dengan bayaran tiga ratus ribu sehari. Dia bilang, kerjanya Cuma bawa minuman sama makanan pesanan pelanggan, tapi ternyata saya malah dijual ke Om-Om yang tadi.” Ternyata, perempuan ini memang lebih bodoh dari yang Sadam duga. “Jaman sekarang kana da internet, memangnya kamu enggak bisa riset soal kerja di club malam yang dibayar sebesar itu? UMR Jakarta kan kecil, sekalipun itu club, bayarannya enggak akan sebesar itu!” entah kenapa malah Sadam yang jadi kesal karenanya. Sedangkan perempuan itu malah menunduk, memainkan jemarinya bak anak kecil yang sedang diomeli orangtuanya. “Mau bagaimana lagi, kan? Saya butuh uang buat nyari tempat tinggal dan bertahan hidup. Jadi saya pikir, karena dia teman saya, dia bisa dipercaya.” Melihat tatapan putusasa yang ditunjukkan perempuan itu, membuat Sadam merasa bersalah karena sudah mengomelinya padahal mereka bahkan tidak kenal sama sekali. “Hm, kamu butuh uang?” Perempuan itu mendongak, “Memangnya di dunia ini, siapa yang enggak butuh uang?” “Saya,” jawab Sadam cepat. “sebagai gantinya, saya butuh Rahim buat melahirkan anak saya.” **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD