Papa! Tolong, Pa! Seenggaknya biarin aku tetap disini! Kalau aku enggak tinggal di rumah ini, aku harus kemana lagi? Aku cuma punya Papa sebagai satu-satunya keluargaku dan aku Cuma punya rumah ini.”
Anvicha Netravati memohon, bahkan nyaris bersujud dan memegangi kaki ayahnya yang sudah akan masuk ke dalam rumah. Sedangkan koper yang berisi semua pakaiannya, berserakan di lantai dengan kondisi terbuka.
“Kamu udah denger, kan? Jingga enggak nyaman karena kamu terlalu perhitungan sama dia! Dari awal Papa udah bilang, supaya kamu bisa menjadi Kakak yang baik buat Jingga. Memangnya kamu enggak punya hati? Nina, istriku yang merawat kamu saat kamu kehilangan Ibu kamu, kan? Dia sudah mengorbankan hidupnya dan bahkan merawar kamu yang bukan darah dagingnya, tapi kamu malah perhitungan sama anaknya! Sekarang Papa enggak bisa bela kamu lagi. Kamu sudah dewasa, jadi kamu harus menanggung hidup kamu sendiri.”
Kepala Vicha menggeleng keras, “Enggak! Papa sendiri tahu, kalau Jingga selalu pakai semua barang punyaku. Aku Cuma enggak suka dia sentuh laptop pemberian Mama, Pa! Cuma karena itu..Cuma karena itu Papa sampai lebih milih anak yang bukan darah daging Papa dan ngusir aku?!”
“ANVICHA!” Lelaki itu berteriak. Tanpa perasaan, kakinya menepis tangan Vicha yang sedang memeganginya hingga Vicha jatuh terjengkang. “Jingga lebih baik karena selalu bersikap manis sama Papa! Dia anak penurut yang enggak pernah membangkang, enggak seperti kamu!”
Anvicha menunduk. Bahkan tangisannya langsung terhenti saat itu juga saat dengan telinganya sendiri, dia mendengar ayah kandungnya memuji anak lain yang bukan darah dagingnya.
“Tapi, anak yang pembangkang ini adalah anak yang merelakan namanya dipakai untuk semua pinjaman online yang Papa dan istri Papa punya, kan? Sedangkan anak manis yang Papa banggakan itu, kerjanya hanya merayu Papa untuk membelikan ini-itu. Apa anak seperti itu yang—“
PLAK
Mata Vicha membulat saat tangan besar dan kuat ayahnya, menampar pipinya dengan keras. Dia terbelalak, menatap tidak percaya pada lelaki yang seharusnya menjadi penopang paling kuat di dunia ini. Padahal hanya ayahnya, satu-satunya keluarga yang Vicha punya. Tapi sekarang, itu pun sudah bukan miliknya lagi.
“Jangan pernah mengatakan omong kosong! Pinjaman online atau apapun itu, Papa ambil untuk kamu juga, kan?! Apa sekarang kamu juga mulai perhitungan dengan Papa?”
Anvicha mengambil napas berat kemudian menghembuskannya perlahan, seolah memaksa sesak di dadanya keluar seluruhnya. Percuma saja.
Dirinya yang paling mengerti bahwa mendebat ayahnya saat ini tidak akan membuahkan hasil. Ayahnya sudah telanjur jatuh cinta pada wanita yang selama lima tahun ini menjadi istrinya. Wanita yang jika di depan ayahnya, akan berlaku baik pada Vicha tapi di belakangnya, selalu mengambil barang milik Vicha sedikit demi sedikit. Bahkan hutang yang menumpuk dengan nama Anvicha juga, hasil rayuan dari wanita itu.
“Ya, terserah saja,” kata Vicha menyerah. “Tolong diingat, bahwa hari ini, dengan tangan Papa sendiri, Papa membuang darah daging Papa. Maka dari itu, mulai hari ini juga, aku enggak berkewajiban buat mengurusi Papa. Hari ini juga, aku memutuskan hubungan dengan Papa. Jadi ke depannya, kalau sesuatu terjadi, jangan pernah menyalahkan aku dan jangan pernah mencari aku. Bukankah hidup Papa sudah cukup bahagia dengan mereka berdua?” mata Vicha melirik pada dua wanita yang berdiri di ambang pintu. Mereka bahkan terang-terangan menikmati adegan dimana Vicha diusir dari rumahnya sendiri.
Mungkin saja Papanya diguna-guna, tapi Vicha sudah tidak perduli lagi. Entah guna-guna atau santet, Ayahnya sendiri yang sudah membuangnya hari ini.
Maka setelah menenangkan dirinya dan meredam rasa perih di pipinya akibat tamparan tadi, Vicha mulai berjongkok untuk memunguti pakaiannya yang berserakan.
Dia menatap sekali lagi ke arah ayahnya yang masih memasang ekspresi marah. Hanya karena Vicha melarang anak wanita itu menyentuh laptop tua peninggalan ibunya, Jingga mengadu dengan air mata berderai seolah Vicha baru saja menjambak rambutnya. Dan ayahnya itu, seratus persen membela Jingga dan bahkan sampai mengusir Vicha dengan menuduh bahwa Vicha adalah beban dan pembawa sial dalam keluarga. Padahal ayahnya menjadi pengangguran setelah tertangkap basah melakukan penggelepan dan kemudian Vicha yang harus menanggung biaya hidup semua manusia itu, bahhkan sampai merelakan namanya dijadikan tumbal utang pinjaman online yang bukan hanya di satu tempat.
Sekarang, walaupun mungkin akan sulit karena mendadak menjadi tunawisma yang bahkan tidak memiliki pekerjaan dan hanya menyimpan uang satu juta di dalam rekening, Vicha akan berusaha keras bertahan. Jika memang dibutuhkan, dia bahkan bisa menjual jiwanya pada iblis dan membalas perlakuan wanita tua perayu itu.
“Jangan pernah kembali!” teriak ayahnya dari jauh.
Anvicha sudah tidak perduli lagi. Hatinya memang sakit bukan main, tapi bukan berarti dia akan memohon dan mengemis pada orang-orang yang sudah berlaku jahat padanya. Cukup satu kali dan tidak akan lagi.
Sekarang yang paling penting adalah, mencari tempat tinggal sementara agar dirinya bisa bertahan hidup dan tidur di tempat yang nyaman.
*
“Vicha? Kenapa kamu kesini malam-malam?!”
Anvicha tersenyum kaku saat berhadapan dengan satu-satunya teman yang dirinya miliki. Setelah lulus kuliah dan sibuk bekerja, Vicha secara natural putus kontak dengan semua teman yang pernah dekat dengannya. Hanya dengan Seli dirinya masih sering bertukar kabar dan cerita, sehingga secara nekat, dia mendatangi kos tempat temannya itu tinggal.
“Aku minta maaf karena datang malam-malam. Tapi..kalau boleh, apa aku bisa menginap disini buat beberapa hari aja? Seenggaknya sampai aku dapat kosan murah.”
Dia sangat malu mengatakan itu dengan mulutnya sendiri. Dia berpikir, jika disini pun dirinya ditolak dan diusir, maka akan kemana lagi dirinya pergi? Apakah dia harus tidur di atas makam ibunya?
“Loh? Memangnya kenapa kamu pergi dari rumah?”
Pertanyaan Seli itu tidak bisa langsung dijawab oleh Vicha, dia hanya bisa tersenyum masam sambil membuang muka.
Tapi unutngnya, Seli yang mungkin merasa iba melihat keadaannya yang seperti gelandangan, akhirnya membuka pintu kamar kosnya lebih lebar. “Yaudah, ayo masuk! Udah malam banget loh ini!”
Anvicha tersentum lega, dia berjalan masuk ke dalam ruangan yang tidak besar itu dan duduk melantai. Hanya ada satu ruangan yang juga merangkap menjadi dapur, juga toilet yang ada di sudut ruangan, kasur berukuran sedang yang terbentang di tengah-tengah.
“Ya ini pertama kalinya kamu datang ke kosan aku kan? Keadaannya memang begini, jadi nikmatin aja ya!”
Tentu saja Vicha langsung mengangguk. Sudah untung ada yang mau menampungnya sementara waktu. Walaupun begitu, dia harus segera mencari kosan besok agar tidak terlalu lama menginap di kosan milik Seli.
“Nah, karena kamu udah disini, jadi kamu langsung tidur aja! Aku mau siap-siap buat kerja.”
Kening Vicha berkerut mendengar apa yang dikatakan oleh Seli, matanya melirik pada jam dinding yang ada di atas pintu. Pukul setengah sebelas malam.
“Kerja? Kamu kerja malam-malam?” tanyanya, tidak bisa menahan rasa penasaran.
Seli yang sedang memakai bedak tebal di wajahnya, mengangguk tanpa menoleh. “Kerjaku memang malam sampai subuh.”
Anvicha sebenarnya ingin kembali bertanya, tapi dia enggan karena takut Seli merasa teranggu dan risih. Maka setelah temannya itu bersiap pergi, Vicha secara natural bangun dari duduknya dan mengantar Seli sampai ke pintu. “Kunci aja pintunya, oke? Aku bawa kunci cadangan jadi aman.”
Kepala Vicha mengangguk paham. Dia menunggu sampai Seli benar-benar pergi bersama seseorang yang datang untuk menjemputnya. Barulah setelah itu, dia menutup pintu dan menguncinya seperti arahan Seli.
Anvicha memandang sekali lagi ruangan itu. Sepi dan sempit, tapi entah ini buruk atau baik, Vicha bersyukur karena Seli tidak ada dan dirinya bisa beristirahat lebih nyaman tanpa merasa canggung, terdengar agak tidak tahu diri, tapi sejujurnya, Vicha membutuhkan waktu untuk menerima semua kenyataan yang mendatanginya secara berturut-turut.
Dipecat karena fitnah dari teman satu departemennya, bertengkar dengan adik tirinya, diusir dari rumah, dan juga menjadi pemilik hutang puluhan juta.
Betapa lengkapnya penderitaan Anvicha. Apakah benar, bahwa dirinya pembawa sial?
*
“Ugh!”
Vicha terbangun saat mendengar lenguhan keras di sebelahnya. Dia mengerjapkan mata, membiasakan pada cahaya yang masuk ke pupilnya. Lalu dia menyadari bahwa Seli sudah terabaring di sampingnya, masih dengan mengenakan setelan kemeja putih dan rok hitam. Ada bau menyengat yang tercium dari tubuh Seli, seperti bau alcohol.
Walaupun begitu, Vicha tidak mungkin mengganggu temannya yang baru saja pulang bekerja subuh hari ini. Dia yang tidak bisa tidur, akhirnya memilih untuk mandi dan kemudian keluar dari kamar. Dia berdiri diam menatap pemandangan depan kosan yang masih sepi. Lalu ada satu dua orang yang sepertinya membawa barang jualan mereka,
Biasanya, sepagi ini dia pasti sudah sibuk membersihkan rumah dan memasak sarapan untuk semua orang. Lalu setelah itu, Vicha akan mengurung diri di kamar, mencari lowongan pekerjaan seharian.
Tapi sekarang, dia tiba-tiba saja merasa bingung dengan apa yang harus dirinya lakukan. Tidak nyaman rasanya tetap berada di dalam kamar dalam kondisi Seli yang sedang tidur, vicha takut kalau sampai temannya itu merasa terganggu dengan kehadirannya.
Maka setelah lama diam, Vicha akhirnya memutuskan untuk berjalan ke depan gang. Kalau tidak salah ingat, di depan akan ada penjual sarapan dan juga bubur. Vicha berniat untuk membelikan sarapan untuk dirinya dan Seli, agar Seli bisa langsung menyantapnya saat bangun.
Tapi, siapa yang akan menyangka jika Seli baru bangun saat tengah hari? Anvicha bahkan mati kutu di dalam kosan karena tidak melakukan apapun. Niatnya untuk pergi mencari kosan juga akhirnya batal karena tidak enak hati pergi tanpa membangunkan Seli, sedangkan untuk membangunkan temannya itu, lebih tidak mungkin lagi.
“Kamu lagi ngapain? Nyari kerja?” tanya Seli sambil melongok ke arah laptop Vicha yang terbuka.
Anvicha yang sejak tadi memang tidak melakukan apapun dan memilih mencari lowongan pekerjaan di internet, mendongak ke arah Seli yang baru saja selesai mandi. “Iya. Aku udah seminggu ini nganggur, udah banyak apply juga tapi belum ada panggilan,” jawabnya jujur.
Seli bergumam pelan sambil memakan gorengan yang tadi pagi dibelikan oleh Vicha. “Kamu mau ikut kerja sama aku enggak? Kerjanya memang malam, tapi sehari bisa dapat tiga ratus ribu loh! Malah kadang lebih.”
Tentu saja ucapannya itu membuat Vicha mengenyit. Dirinya bertanya-tanya, pekerjaan macam apa yang bisa menghasilkan tiga ratus ribu atau lebih dalam sehari? Kalau pekerjaan part time dengan perusahaan asing, mungkin bisa dimengerti. Tapi jika pekerjaan di Indonesia dan dengan pendapatan seperti itu, bukankah akan banyak orang yang tertarik?
“Kerjanya ngapain?” tanya Vicha, berusaha untuk terlihat tidak terlalu tertarik. Dia teringat dengan kondisi Seli semalam, yang pulang dengan bau aneh di tubuhnya.
“Cuma nganterin minuman doang! Di club.”
Oh? Apakah karena itu, bau tubuh Seli menyerupai alkohol? Jadi bukan berarti Seli ikut meminum itu juga, kan?
“Beneran Cuma nganterin minum doang? Kayak missal kerja di kafe gitu kan?”
Dengan yakin, Seli mengangguk. “Iya, begitu! Sama paling bawa makanan ringan ke setiap meja. Lumayan, kan? Mau enggak?”
Anvicha mulai tergiur. Dirinya tahu bahwa banyak resiko yang bisa terjadi jika bekerja di club malam, tapi dalam kondisi seperti ini, sejujurnya Vicha juga tidak memiliki banyak pilihan. Lagi pula, Seli tidak mungkin membohongi dirinya, kan?
“Boleh deh, aku coba. Tapi kalau semisal aku enggak cocok sama pekerjaannya, boleh langsung keluar, kan, Sel?”
Temannya itu mengangguk sambil berbalik badan, mengambil nasi uduk di atas meja. “Ya kamu coba dulu aja,” katanya.
Maka setelah banyak pertimbangan dan memantapkan diri, malam harinya, dengan mengenakan pakaian seadanya yang sedikit mirip dengan setelan kerja Seli, Vicha bersiap untuk ikut ke tempat kerja temannya itu.
“Karena kita berdua, jadi kita naik taksi online aja ya!”
Anvicha mengangguk, menyerahkan sepenuhnya pada Seli. Tapi mungkin karena mereka berdua mengenakan rok di atas lutut, supir taksi online sempat melirik pada mereka dari kaca spion atas. Tangan Vicha menutupi bagian pahanya dengan tas, sedangkan Seli hanya sibuk dengan ponsel di tangannya.
Beruntung, karena hingga mereka sampai di tempat tujuan, tidak ada hal buruk yang terjadi. Walaupun Vicha sempat mendengar supir itu melakukan cat calling pada Seli, yang hanya mengabaikannya begitu saja.
“Nanti aku antar kamu ke tempat lain dulu, biar kamu bisa ngobrol sama atasan aku. Soalnya begitu masuk, aku harus langsung kerja,” kata Seli.
Inginnya, Anvicha menolak dan meminta Seli untuk menemani dirinya, tapi dia tidak enak hati karena sudah banyak merepotkan Seli sejak kemarin. Maka, walaupun takut, dia tetap mengangguk.
Suara berdentum keras memenuhi pendengeran Vicha begitu masuk ke dalam ruangan kerlap-kerlip itu. Pemandangan yang belum pernah dirinya lihat selama ini, kini terpampang di epan matanya.
Dia mengikuti langkah Seli sambil terus menatap ke arah orang-orang yang meliak-liukkan tubuhnya di lantai dansa. Vicha sampai tidak sadar saat Seli menghentikan langkah dan membuat Vicha menabrak bagian belakang tubuh temannya itu.
“Disini,” kata Seli sambil membuka sebuah ruangan yang mirip dengan ruangan karaoke. Tidak ada siapapun di sana. “Kamu bisa tunggu disini dulu sebentar. Nanti atasanku akan langsung datang kesin.”
Mulut Vicha terbuka hendak mengatakan sesuatu, tapi Seli terlihat terburu-buru meninggalkannya. Vicha menarik napas dan membuangnya, dia kemudian masuk ke dalam ruangan itu dan membiarkan pintunya tertutup.
Entah kenapa, firasatnya mulai tidak enak. Dia mengeluarkan ponsel dan mencari kontak yang sekiranya bisa dia hubungi kalau ada situasi darurat. Tapi di saat itulah dia menyadari, bahwa dia tidak memiliki siapapun.
Dan bersamaan dengan itu, pintu ruangan terbuka. Mata Vicha membulat saat mendapati sosok lelaki dengan perut buncit yang sedang merangkul dia wanita di kanan dan kirinya.
“Oh? Jadi ini barang baru yang dibawa Seli?”
**