1. Hanya Pelayan

1089 Words
My Little Wicth 1 Pertemuan Kembali Sean Malik Raharja, seorang pengusaha muda di bidang otomotif berjalan memasuki sebuah restoran untuk bertemu dengan salah satu kliennya di sana. Penampilan Sean terlihat mencolok segera menarik perhatian banyak pengunjung perempuan yang ada di sana. Pemuda itu tinggi, tampan ala opa-opa korea dan dia mengenakan stelan jas yang sudah pasti mahal. Sebuah kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya yang membuatnya makin terlihat tampan. Pemuda itu segera berjalan ke meja resepsionis dan menanyakan tempat yang sudah dipesannya asistennya beberapa waktu sebelumnya. Wajah tampan Sean yang putih langsung berubah menjadi merah padam ketika karena marah ketika seorang pelayan tanpa sengaja menabraknya ketika pelayan itu menghindari seorang anak kecil yang tiba-tiba berlari ke arahnya. Pelayanan itu terlihat panik saat kopi hitam yang dibawanya membasahi kemeja dan jas mahal milik Sean. Sean langsung menatap pelayan itu dengan murka.. “Maaf, tuan. Saya tidak sengaja,” kata pelayan itu segera mengambil tisu untuk membersihkan tumpahan kopi di kemeja putih dan jas milik Sean yang telah menjadi basah. “Apa Kau buta? Jauhkan tangan kotor mu dari pakaianku!” tangan Sean langsung menepis tangan pelayan yang hendak membersihkan. “Bahkan gajimu selama setahun tak kan bisa mengganti baju ini!” “Maaf tuan, saya tidak sengaja,” gadis itu mematung sambil sambil menundukkan wajahnya, suaranya tampak gemetar. Beberapa pengunjung mulai memperhatikan mereka tapi pemuda itu tak perduli, ia masih terus mencaci pelayan di depannya. “Kamu harus menggantinya!” dengus Sean kemudian sambil menatap sengit gadis di depannya membuat wajah gadis itu langsung memucat. “Apa?” pelayan itu kemudian mengangkat wajahnya, menatap Sean dengan sengit. Bukankah baju itu masih bisa dicuci dan noda capuccino di kemejanya bisa hilang? Gila! “Kamu!” Sean terkejut saat melihat wajah pelayan itu, bukan karena wajah si pelayan yang sangat cantik tapi karena wajah itu mengingatkannya pada seorang wanita sombong yang selama ini dibencinya. “Maaf, Tuan, saya tidak sengaja,” gadis itu mengulang kembali permintaan maafnya membuat Sean kembali menatap gadis do depannya. “Siapa namamu?” Tanya Sean sinis. “Moza, Tuan.” Moza merasa gugup “Moza? Moza siapa?” “Moza Ardinta, Tuan!” Sean langsung menyeringai mendengar nama itu, Fix! Pelayan itu memang dia! Sean merasa sangat senang melihat nasib saingannya yang sekarang berdiri dengan wajah pucat dihadapannya. Dia tak menyangka Moza yang begitu pintar dan sombong saat itu, sekarang hanyalah seorang pelayan restoran. Sean merasa sangat senang melihat kenyataan itu. Melihat Moza bersitegang dengan seorang pelanggan yang penting manajer restoran segera menghampiri mereka dan menanyakan apa apa yang terjadi “Maaf. Tuan Sean. Kalau boleh tahu ada apa ini?” Manajer restoran tergopoh-gopoh mendatangi keduanya. “Lihatlah pelayan bodohmu ini mengotori bajuku!” Sean melempar tatapan tajam kepada manajer restoran. Manajer restoran segera meminta maaf karena kejadian tidak disengaja tadi dan dia berjanji akan memberikan kompensasi dan berharap Sean mau memaafkan Moza karena Moza baru beberapa hari kerja di tempatnya. “Kompensasi katamu?! Aku mau dia dipecat sekarang juga!” Moza hanya berdiri kaku di tempatnya berdiri, meski dia sangat membutuhkan uang untuk biaya ayahnya dia tidak sudi untuk memohon untuk tidak dipecat. Sean menyeringai, dia, dia sangat tahu Moza menaruh harga dirinya sangat tinggi, dia tidak mau meminta maaf kalau dia tidak merasa salah. “ Jangan Tuan. Kasihan dia. Tolong maafkan dia,” manajer restoran berusaha membujuk Sean. “Baik, kalau kamu ingin dipecat juga!” Wajah Sean mengeras. “Jangan begitu, Tuan. Saya punya anak dan istri yang menjadi tanggungan saya.” Wajah manajer restoran memucat, dia tak menyangka Sean akan sekeras ini. Sean mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan pemilik restoran kabarnya dia juga ikut menanamkan sahamnya di sini jadi manajer restoran sadar kalau ancaman sean bukan sekedar isapan jempol belaka. “Maaf, Mo. Saya tidak bisa menolong kamu.” Manajer restoran itu berbisik pada pada Moza wajahnya tampak menyesal. Dia kemudian menyuruh Moza untuk mengurus gajinya selama bekerja yang belum dibayar di bagian keuangan. Moza melangkah dengan gontai sambil menahan air matanya jangan sampai terjatuh meninggalkan tempat itu. “Tunggu!” teriak Sean membuat Moza menghentikan langkahnya, ”Enak saja kamu pergi begitu saja! Kamu tetap harus mengganti bajuku !” kata Sean dingin sambil menatap tajam gadis di depannya yang menunduk. Rasanya dia senang sekali melihat ekspresi gadis itu yang menahan tangis. Ekspresi ketakutan dan nyeri yang pernah dilihatnya saat dia tak lagi menjadi juara satu dulu. "Sebagai ganti rugi karena telah mengotori bajuku, kamu harus menjadi asistenku selama satu bulan dimulai hari ini. Kalau kamu menolak aku akan membuatmu tidak bisa bekerja di manapun!" Sean menyeringai, rasanya puas sekali bisa menjatuhkan gadis itu. "Tugas pertamamu adalah menemaniku makan siang. Segera antar makananku ke ruangan biasa.” Tanpa menunggu jawaban dari Moza maupun Manajer restoran Sean segera menaiki tangga menuju lantai dua, Sean menuju sebuah ruangan yang tidak terlalu besar namun sangat nyaman dan indah. Sean suka duduk di ruangan ini kalau dia sedang makan di sini. Terdapat jendela kaca besar yang menghadap ke jalan yang ada di depan restoran sehingga dia bisa mengawasi jalan ketika suasana hatinya sedang tidak merasa tidak nyaman. Sean masih tidak percaya kalau pelayan itu adalah Moza karena Moza yang dia tahu adalah seorang yang ambisius, dulu dia akan melakukan segala cara agar tetap bertahan di rangking satu, dia datang ke sekolah lebih pagi agar bisa belajar lebih banyak, Moza juga menghabiskan waktu istirahatnya dengan belajar di perpustakaan dan dia akan bertanya banyak kepada guru saat pelajaran. Harusnya dengan kepandaiannya dan ketekunannya dia sudah menjadi seorang manajer dan bukan seorang pelayan. Sean sangat membenci gadis itu karena semenjak dia bukan ranking pertama lagi papa jadi agak pelit dengan semua permintaannya. Seperti ketika dia minta Sean masih ingat saat dia harus menyogok wali kelasnya dengan sebuah motor baru karena dia sangat menginginkan Bentley karena dia sudah bosan dengan mobil lamanya. Sudah lama dia menginginkan mobil itu tapi papanya hanya mau memberinya mobil itu kalau dia bisa ranking satu. Sean sudah berusaha lebih keras dari biasanya, dia sudah mengurangi kegiatan hang out yang biasa dilakukannya, dia juga melakukan banyak hal lainnya yang dibencinya seperti ikut bimbel dan ke perpustakaan tapi sepertinya berapapun kerasnya dia berusaha tapi nilai ulangannya selalu dibawah Moza. Karena itulah dia melakukan suatu kecurangan untuk membuatnya bisa mendapatkan keinginannya. Sebuah ketukan di pintu menyadarkannya dari lamunan, ditatapnya gadis yang memasuki ruangan tempatnya duduk dengan seksama. Wajahnya yang cantik terlihat lebih dewasa dengan garis-garis kesedihan yang terlihat samar. Moza segera menata makanan yang ada di atas troli ke atas meja kemudian Moza hendak mengembalikan troli . “Duduk! Kamu bukan lagi pelayan di sini!" *** AlanyLove
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD