Keesokan harinya, Nana terbangun ketika merasakan perutnya kembali mual di pagi hari. “Duh, mual banget,” ia segera bangkit dari ranjang, bergegas pergi ke kamar mandi yang berada di kamarnya. “Hoeekk ... Hoekk ...” Max sontak membuka matanya perlahan saat mendengar suara orang muntah, ia menggerakkan tangannya ke sisi kirinya, “Na,” dan tidak menemukan Nana di sisinya. “Hoeekk ... Hoeekk ...” Max sontak bangkit dari tidurnya, menatap ke arah kamar mandi di mana suara Nana terdengar di sana. “Na! Na kamu gak apa-apa?” Tok! Tok! Tok! Max mengetuk pintu kamar mandi berkali-kali ketika ia tidak bisa membuka pintu kamar mandi karena dikunci dari dalam oleh Nana. Ceklek! Beberapa saat kemudian pintu kamar mandi terbuka. “Na, kamu pucat sekali. Kita ke rumah sakit ya,” Max menangkup wajah p

