Bandung. 19:21 WIB.
Hal pertama yang dilakukan sesampainya kami di pasar malam adalah, naik bianglala!
Janji Ares yang mengatakan akan mentraktir kami seporsi bakso dan satu tiket menaiki wahana permainan ternyata bukan hanya bualan belaka. Aku sempat mengeluh bahwa wahana permainan yang satu itu hanya untuk anak-anak, tapi Ares tak peduli dan tetap memberi satu tiket kepada kami bertiga---aku, Darla pacarnya dan Fatma.
Jika dilihat dari panjangnya antrian, nyaris semuanya adalah anak kecil berusia enam sampai sebelas tahun, dan yang paling dewasa kulihat sekitar delapan belas tahun. Tinggi badanku yang cukup menjulang saat menunggu antrian pastilah terlihat sangat mencolok.
Setelah menunggu nyaris setengah jam, kami akhirnya mendapat giliran untuk menaiki bianglala. Ares dan Darla mengisi satu ruang yang mirip dengan sangkar burung itu, jelas mereka akan menikmati waktu berduaan di dalam sana. Sementara aku mengisi satu sangkar bersama Fatma, kondisi semacam ini seharusnya tak masalah buatku seandainya Fatma bisa bersikap lebih hangat kepadaku.
Selama perjalanan dari rumahku sampai pasar malam ini, Fatma sangat irit bicara. Ia bahkan tak membalas sapaanku saat aku memasuki mobil dan duduk di sebelahnya. Ia juga tak berkomentar sedikit pun saat kukatakan pada mereka semua bahwa Fred tak jadi ikut karena sedang tidak sehat.
Sejujurnya, lama-kelamaan ini membuatku khawatir, sampai kapan ia akan memusuhiku seperti ini? Fred-lah yang memiliki hobi buruk itu, dan akan jadi aneh jika aku yang harus menanggung dampaknya.
Bianglala yang kunaiki mulai berjalan saat semua sangkar sudah terisi penuh. Roda penggerak yang membuat wahana ini berjalan mulai bekerja, sangkar yang aku dan Fatma naiki berguncang sedikit lalu bergerak dengan pelan ke atas.
Aku berdeham. Berusaha mencairkan suasana yang sangat tidak enak ini. “Aku masih tak percaya kita bisa melakukan hal ini, seperti anak-anak lagi. Ares memang jagonya dalam bersenang-senang. Iya, kan?”
Fatma pasti bisa mendengar ucapakanku, tapi ia tak memberi reaksi apa-apa. Ia membuang muka, melihat pemandangan pasar malam di luar sangkar. Harus kuakui, pemandangannya bagus. Semua jenis permainan bisa kulihat ketika sangkar yang kutempati berada di puncak. Bias cahaya lampu di bawah sana membuat formasi berantakan bagai kunang-kunang.
“Ya deh, jangan tanggapi perkataanku. Aku lagi ngomong sama batu,” sindirku, masih berusaha mengambil perhatian gadis mungil yang berada sangat dekat denganku saat ini.
Sepertinya usahaku berhasil, karena kulihat Fatma menghela napas lalu berkata, “Apa sebenarnya maumu, Dennis?”
Bahuku mengedik pelan, berusaha bersikap santai. “Aku hanya ingin punya teman bicara di sini, dan bisakah kau berhenti menatapku seolah aku ini hendak melemparkan kotoran tikus ke wajahmu?”
Kedua bola mata Fatma yang besar dengan bulu mata lentik itu menyipit menatapku. “Memangnya kau ingin membicarakan apa?”
Lagi, bahuku mengedik. “Apa saja. Mungkin perkembangan toko kosmetikmu atau usaha toko kuemu yang baru itu?”
Sangkar yang aku dan Fatma naiki bergoyang pelan saat bergerak turun dan memulai kembali putarannya yang kedua. Pada saat bersamaan, Fatma menjawab, “Semua bisnisku bagus. Dan, oh ya kalau kau mau tahu, tadi siang Mega titip salam untukmu.”
Perkataan Fatma itu sungguh di luar dugaan sampai butuh satu detik lebih lama untukku merespon. “Mega … mantan pacarku?”
Manik hitam Fatma berkilat-kilat jahil, rupanya usahaku dalam mencairkan suasana sukses dengan mudah. “Iya, Mega mantan pacarmu. Dia titip salam setelah aku memberitahunya kalau malam ini aku akan pergi ke pasar malam bersamamu. Dia belum punya pacar lagi setelah putus denganmu, asal kau tahu saja.”
Tubuhku bergeming, berusaha untuk tak terlihat salah tingkah. “Sampaikan salam balik kalau begitu.” Aku membuang muka, menatap keramaian di luar sana dengan jengah.
“Yah, akan kusampaikan,” kata Fatma kemudian. “Tapi kurasa aku harus memberitahu Mega bahwa ia jangan terlalu banyak berharap padamu sekarang.”
Perhatianku teralihkan seluruhnya. Aku menoleh padanya. “Kenapa begitu?”
“Hanya memperhatikan, kulihat sejak tadi bukan aku saja yang sedang hemat bicara. Kutebak, ada seorang wanita di Jakarta sana yang membuatmu begini.”
Alisku bertaut heran. “Bagaimana kau bisa tahu?”
Fatma terkekeh, membuat deretan giginya yang rapih terlihat jelas. “Ayolah, Dennis. Aku sudah mengenalmu sejak SMA. Kita bahkan satu kelas. Aku bisa tahu jika ada hal yang membuat pikiranmu terganggu saat ini. Soal apalagi kalau bukan soal wanita?”
Pandangan Fatma mengenai diriku mungkin saja terasa meremehkan, tapi tetap saja suara decak kagum berhasil lolos dari mulutku. “Kau memang hebat.”
Jika dipikir-pikir lagi, aku juga memang tak begitu banyak bicara saat di mobil tadi. Tentu saja aku memikirkan Kania, dan bagaimana hubungan kami berakhir dengan begitu mudahnya. Aku mulai berpikir bahwa langkah yang kuambil ini keliru---menjauhi gadis itu hanya karena ia seorang janda beranak satu. Namun, bukan berarti itu satu-satunya yang kupikirkan sejak tadi, aku juga memikirkan masalah yang ada di rumah, gerak-gerik Om Tirta dan Bibi Immelda yang membuatku cukup gelisah dan sebagainya.
Fatma menanggapi pujianku dengan senyum yang terkulum di bibirnya. “Jadi, siapa wanita itu, Dennis?”
“Sejujurnya, aku sedang tak ingin membicarakan hal itu,” akuku, lalu kuamati lagi sosok Fatma dengan teliti, postur tubuhnya yang mungil seakan tak pernah bertambah tinggi sedikit pun sejak masa SMA, rambut hitam yang panjangnya hingga punggung itu dicat kemerahan di bagian ujung, jaket chambray navy yang membungkus tubuhnya pasti dapat menangkal hawa dingin malam hari. “Aku malah ingin membicarakan hubunganmu dengan Fred.”
Lenyaplah sudah senyuman itu di bibirnya. Fatma kembali memasang raut muka masam. “Aku tak mau membicarakan hal itu.”
Sudah kuduga jadinya akan begini. Aku tahu tak seharusnya mencoba memancing masalah, tapi aku ingin benar-benar tahu apa yang Fatma pikirkan mengenai masalah hubungannya dengan sepupuku. Dan bagaiaman hal itu memengaruhi penilaiannya terhadap diriku.
“Begini saja,” aku mencoba menawarkan, barangkali Fatma akan terbuka padaku apabila aku juga terbuka mengenai masalahku padanya. “Aku akan berterus terang padamu mengenai problematika percintaanku jika kau juga berterus terang mengenai Fred. Bagaimana?”
Bisa kulihat bahwa Fatma sedang menimbang-nimbang tawaranku. Aku juga cukup tahu bagaimana Fatma, seperti Ares, ia selalu ingin tahu pada masalah apa yang tengah menimpa seseorang yang dikenalnya. Bedanya, Ares memang sekedar ingin tahu, tapi Fatma lebih cenderung peduli.
Akhrinya, kulihat Fatma mengangguk. “Aku setuju,” ucapnya, lalu ia menunggu.
“Selama sebulan terakhir ini, aku dekat dengan seorang wanita,” katamu memulai, lebih mudah mengatakan masalah ini ke Fatma karena kutahu ia tipe orang yang bisa jaga rahasia. Dan mungkin aku memang butuh penilaian seorang wanita dalam masalahku percintaanku ini. “Namanya Kania, dan kemarin malam, saat aku mengajaknya berkencan, aku baru tahu bahwa ternyata ia seorang janda dan punya anak. Hubunganku dengan wanita itu berakhir seketika itu juga.”
Keterkejutan di wajah Fatma kentara sekali terlihat. “Kau apa? Janda? Lalu kenapa hal itu malah membuat hubungan kalian berakhir?”
Keheranan yang kutemukan dalam nada suaranya benar-benar tak bisa kumengerti. “Aku tak bisa, Fatma. Apa yang akan orangtuaku katakan kalau mereka tahu aku memiliki hubungan dengan wanita seperti itu?”
Fatma menggeleng-gelengkan kepalanya dengan raut muka tak percaya. “Wanita seperti itu? Memang apa salahnya dengan janda? Itu bukan hal yang buruk.”
“Tapi … aku tak bisa menerima itu,” elakku yang entah kenapa mulai merasa bersalah, mempertanyakan kembali kebenaran dari semua tindakanku. “Aku hanya tak bisa.”
“Terserah apa katamu,” ucap Fatma, yang menatapku dengan pandangan menuduh. “Tapi asal kau tahu saja, jika aku yang menjadi Kania, mengetahui bahwa pria yang kusuka menjahiku hanya karena statusku, aku akan sangat merasa sakit hati.”
Aku tak suka mendengar nada menghakimi yang Fatma gunakan, sehingga aku membalasanya tanpa berpikir panjang. “Aku juga akan sangat sakit hati jika cewek yang sudah lama jadi pacarku, langsung memutuskan hubungan hanya karena aku sering minum alkohol.”
“Itu berbeda,” ucap Fatma dengan nada dingin, dan aura permusuhan yang tadi sempat sirna kini kembali hadir dan malah semakin menguat.
Kebetulan sekali saat ini bianglala berhenti berputar. Durasi menaiki wahana ini untuk satu tiket rupanya telah berakhir. Seorang pria segera membuka pintu sangkar, menyuruh kami agar segera turun.
“Aku benar-benar kecewa padamu, Dennis. Bukan hanya karena kau berusaha menutup-nutupi keburukan sepupumu, tapi karena kau juga ternyata memiliki pemikiran yang dangkal,” tandas Fatma tajam. Kemudian ia keluar dari sangkar besi bianglala dan meninggalkanku yang masih diam di tempat.
Aku hanya menatap kepergian mantan pacar Fred itu dengan kening berkerut. Heran dengan kenyataan bahwa mood seorang wanita cepat sekali berubah.
***