12. Peringatan Berbahaya

1446 Words
Bandung. 18:45 WIB       Ketika Ares datang ke rumah membawa pacarnya, matahari sudah benar-benar tenggelam di luar sana. Kegelapan yang menyelimuti setiap jengkal udara membuat seluruh penghuni perumahan di sini menyalakan lampu teras depannya.       Dilihat secara sekilas, aku bisa menebak bahwa Ares sudah lama mempersiapkan momen ini, ia datang dengan bangga memperkenalkan pacarnya kepada semua orang, yang segera menyambut kedatangan mereka dengan ramah.       “Pacarmu cantik,” puji ibuku setelah berkenalan dengan Darla. Dan aku juga berpendapat serupa.       Darla tentu saja jauh dari kesan gadis pembunuh ikan berkawat gigi yang selama ini kubayangkan. Ia memiliki postur tinggi, membuat tinggi badan Ares yang tak seberapa tampak lebih kentara terlihat. Kulitnya putih, dengan dua bola mata menonjol, rambut ikal panjang tergerai yang membingkai wajahnya berwarna hitam, bibirnya yang penuh membentuk senyum semringah ketika ia mendengar pujian ibuku. Polesan kosmetik yang ia pakai pastilah membantunya terlihat sangat anggun.       Ares yang melihatku masih duduk bersantai di salah satu kursi segera berkata, “Dennis, sebaiknya kau dan Fred bersiap dari sekarang. Kita tak ingin menghabiskan waktu dengan terjebak kemacetan semalaman, kan?”       Aku pun berdiri, lalu mengerutkan kening. “Bagaimana dengan Fatma?”       “Oh, aku sudah menjemputnya. Dia ada di mobil,” jawab Ares dengan jempol tangan kanannya menunjuk ke arah belakang di mana mobilnya terparkir di halaman depan. “Entah kenapa dia tak mau masuk ke sini.”       Kerutan keningku semakin dalam saat memikirkan itu. Aku segera menuju lantai atas untuk mengabari Fred sambil bertanya-tanya apa Fatma masih marah padaku gara-gara menutupi hobi Fred? Tak dapat disangkal, hubungan pertemananku dengan Fatma pun sedikit terpengaruh karena kejadian ini.       Pintu kamar Fred segera kuketuk setelah aku sampai, dan suara parau yang dalam seketika terdengar dari dalam. “Masuk saja, pintunya tidak dikunci.”       Kondisi kamar Fred sedikit gelap saat aku melangkah masuk, lampu di langit-langit kamarnya tidak dinyalakan. Satu-satunya penerangan berasal dari lampu tidur di sebelah ranjang yang memancarkan cahaya remang-remang.       “Ares sudah datang,” kataku memberitahunya, mataku berusaha terfokus pada sosok yang setengah tubuhnya ditutupi selimut tebal di atas ranjang. “Bersiap-siaplah dari sekarang kalau kau mau ikut pergi.”       Fred menatapku lekat-lekat. “Kurasa aku tak jadi ikut.”       Sebelah alisku terangkat. “Alasannya?”       “Kondisi badanku tidak enak, kurasa aku sedang sakit.”       Kurasa katanya? Aku menatap Fred penuh selidik. “Kau tak jadi ikut bukan karena Fatma, kan? Dia sudah menunggu di depan.”       “Bukan karena itu,” sangkal Fred cepat. Namun, aku yakin kulihat kulit wajah Fred memucat.       Karena tak ingin memperdebatkan hal ini terlalu jauh, aku mengangkat bahu tak acuh. “Terserah katamulah,” kataku seraya berbalik menuju pintu.       “Tunggu dulu,” seru Fred pada saat aku hendak menutup pintu, membuatku kembali mencondongkan tubuhku ke dalam.       Kutatap wajahnya, menunggu. “Ya?”       Kupikir Fred akan mengatakan sesuatu yang penting karena terjadi jeda cukup lama, tapi pada akhirnya ia hanya bekata, “Selamat bersenang-senang!”       Kedua bola mataku berputar bersamaan dengan pintu kamar yang kututup.       Di lantai ketiga, aku mendapatkan sebuah kejutan. Om Tirta berdiri di ambang pintu kamarku yang terbuka, punggungnya disandarkan pada dinding kecil yang menjadi pemisah antara kamarku dan kamar tamu yang ia tempati. Tubuhnya lebih condong ke arah tangga, membuatku yakin bahwa ia tengah menungguku.       Yang membuatku heran, gestur tubuhnya sangat tidak asing. Kedua kaki yang disilangkan, kedua tangan yang bersedekap di atas d**a, dan menggigit bibir, semua gestur itu juga sering kulakukan saat aku tengah menunggu sesuatu dengan rasa cemas.       “Om?” sapaku saat mendekatinya. Aku melongok ke dalam kamar dan mendapati kejutan lain. Bibi Immelda tengah berdiri di dekat jendela, tengah menatap kegelapan malam di luar sana.       Mulut Om Tirta membentuk senyum lebar saat melihat kedatanganku. “Dennis, Om sama Bibimu ingin membicarakan sesuatu denganmu. Kamu punya waktu?”       Ini dia, pikirku. Alasan utama mereka berdua berkunjung setelah sekian lama tidak berkomunikasi.       “Sebenarnya Dennis sekarang mau bersiap pergi sih, Om. Tapi kalau cuma sebentar kayaknya bisa.”       “Oh, cuma sebentar kok,” timpal Om Tirta seraya menepuk punggungku pelan, mengajakku masuk ke dalam kamar.       Bibi Immelda yang melihatku datang juga tersenyum, tapi senyumannya terkesan penuh kehati-hatian. Berkali-kali aku melihat Om Tirta dan Bibi Immelda bertukar pandang penuh arti, yang membuatku semakin risih dan curiga atas apa yang akan mereka bicarakan padaku.       “Nah, Dennis, Om hanya ingin memastikan beberapa hal. Kamu baik-baik saja, kan?” tanya Om Tirta setelah aku duduk di tepi ranjang, dia duduk di sebelahku. Sementara istrinya masih berdiri di dekat jendela.       Kepalaku mengangguk spontan.       “Yakin?” tanya Om Tirta lagi. “Semuanya berjalan lancar? Kamu enggak merasa ada hal aneh yang terjadi belakangan ini, atau apa pun itu?”       Rasa penasaranku semakin memuncak, tapi aku masih bisa menjawab dengan nada biasa. “Ya, semuanya baik-baik saja, perkerjaan atau apa itu. Semuanya oke.”       Dalam hati aku menambahkan bahwa satu-satunya hal yang tak berjalan lancar adalah urusan percintaan, kegagalan kencanku tadi malam. Namun aku tak mau mengungkit hal itu sekarang.       “Keanehannya tidak harus mengenai kebiasaan sehari-hari,” ucap Bibi Immelda tanpa kuduga sebelumnya ia akan bersuara. “Bisa mengenai hal-hal remeh, seperti rasa sakit di badan yang tidak bisa dijelaskan, merasa diawasi seseorang, mimpi buruk atau firasat buruk. Kamu tidak pernah mengalami hal itu, Nak?”       Mataku menatap sosoknya, aku hendak menjawab tak terjadi apa-apa ketika teringat mimpi buruk yang terjadi tadi siang. “Mimpi buruk?”       Mendadak saja kurasakan tangan Om Tirta meremas bahuku pelan. “Kenapa, Dennis? Kamu pernah bermimpi buruk sebelumnya?”       Apa yang kalian inginkan sebenarnya? Batinku bertanya-tanya seraya menatap kedua orang di sekitarku bergiliran. Ingin sekali aku bertanya begitu pada mereka berdua, tapi aku urung melakukannya karena itu akan dianggap tidak sopan.       “Sekali,” jawabku memandang wajah Om Tirta yang terlihat cemas. “Cuma mimpi buruk, itu bukan hal yang harus dikhawatirkan, kan?”       Namun, Om Tirta tampaknya tak mengacuhkan perkataanku. “Apa isi dari mimpi buruk itu, Dennis?”       Kutelengkan kepalaku ke kanan seraya mengingat-ingat. “Dennis cuma ingat sedikit. Ada Dimas dan---“       “Tunggu,” potong Om Tirta, kedua matanya memicing. “Kamu bilang Dimas? Dimas saudara kembarmu?”       Aku hanya mengangguk singkat sebagai jawaban, lalu lagi-lagi tanpa kuduga, Bibi Immelda bertanya, “Kenapa bermimpi tentang Dimas bisa kamu anggap sebagai mimpi buruk, Nak?”       “Karena di mimpi itu penampilan Dimas berdarah-darah,” jawabku spontan. “Itu sangat menakutkan.”       “Berdarah-darah,” kata Bibi Immelda mengulang, lalu kulihat wajahnya diliputi ekspresi sendu yang mendalam.       “Ceritakan lebih spesifik, Dennis,” pinta Om Tirta padaku, “Apa yang terjadi di mimpi itu? Apa yang dilakukan Dimas? Apa ada sosok lain di mimpi itu?”       Pertanyaan Om Tirta jelas terlalu banyak sehingga aku bingung harus menjawab yang mana dulu, tapi anehnya semua pertanyaan itu sangat rinci, seolah entah dengan cara apa Om Tirta bisa menebak dengan benar bagaimana mimpi buruk itu berlangsung, dan dia bertanya hanya untuk memastikan tebakannya itu.       Lagi pula, aku merasa terlalu kekanak-kenakan jika semua detail spresifik dalam mimpi buruk itu kuceritakan semuanya. Kuputuskan untuk tak mengungkapkan semuanya. “Di mimpi itu, Dennis bertemu Dimas, dia menyapa, hanya menyapa dengan penampilannya yang penuh dengan darah. Cuma itu.”       “Hanya itu?” tanya Om Tirta tampak tak percaya. “Serius?”       Rasa bersalah melanda diriku seperti biasa ketika aku berbohong, tapi aku hanya mengangguk. Fred pernah memberitahuku bahwa daun telingaku tampak memerah jika aku tengah mengatakan sebuah dusta, kuharap hal itu tak terjadi sekarang.       “Tak ada kejadian aneh lagi, Dennis? Selain mimpi itu?” selidik Om Tirta. Wajahnya yang sudah tak muda lagi masih menampakkan raut tak percaya.       “Iya, itu satu-satunya hal aneh yang terjadi. Cuma mimpi buruk biasa.” Sampai saat ini aku masih tak mengerti alasan dan tujuan dari semua pertanyaan yang Om Tirta dan Bibi Immelda lontarkan padaku, tapi toh aku diam saja. Meskipun aku penasaran setengah mati, tapi aku cukup bijak untuk tidak mencoba memancing masalah itu untuk datang. Jika para orang dewasa mengangap aku tidak boleh mengetahui masalah apa itu, aku takkan mengeluh.       Om Tirta segera berdiri, disusul Bibi Immelda yang berjalan mendekat. “Ya sudah, cuma hal itu yang ingin ditanyakan Om dan Bibimu.” Om Tirta merangkul istrinya lalu mengajaknya berjalan menuju pintu. “Ayo kita pergi, sayang. Dennis punya rencana jalan-jalan malam ini bersama teman-temannya, iya kan?” tanyanya kepadaku.       Mulutku membentuk senyum. “Iya, Om Tirta boleh ikut kalau mau.”       Om Tirta terkekeh. “Angin malam terlalu berbahaya untuk pria setua Om, Dennis,” kelakarnya seraya berjalan keluar. Namun setelah berada di ambang pintu, mereka membalikkan badannya dan menatapku dengan lekat.       Aneh rasanya ditatap dengan cara begitu oleh mereka berdua, mengingat kami jarang sekali bertemu dan berkomunikasi. Itu adalah tatapan yang hanya bisa dilihat ketika orang tua memandang anaknya.       “Dennis,” ucap Om Tirta pelan, sambil satu tangannya merangkul pinggang Bibi Immelda. “Om sama Bibimu sangat senang bisa melihatmu sehat dan tumbuh dewasa. Teruslah begitu.”       Aku tak sempat mengucapkan kalimat balasan atas kata-katanya itu, karena tangan Bibi Immelda segera mencapai pegangan pintu dan menutupnya.   ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD