11. Momen Santai

1383 Words
Bandung. 13:43 WIB.       Kak Irma melenggang masuk ke ruang tamu, bertepatan setelah terdengar suara pintu kamar ayah tertutup. Momentumnya pas sekali hingga aku curiga bahwa sedari tadi Kak Irma bersembunyi di balik dinding, mendengarkan seluruh konfrontasi kecilku dengan ayah.       Hal itu semakin diperkuat setelah kulihat dua bulatan hitam di matanya menatap simpati ke arahku. Aku menahan diri agar tak menggerutu, kekecewaan ayah terhadap diriku sepertinya sudah diketahui oleh semua penghuni rumah.       Bukan pertama kalinya memang hal semacam ini terjadi, tapi rasanya agak menyedihkan bahwa hal itu terus berulang. Sikapku yang seringkali tak bisa memenuhi harapan ayah telah menjadi rahasia umum bagi penghuni rumah ini.       “Wah, Irma, apa yang kau bawa itu?” tanya Fred saat melihat sebuah piring besar yang dibawa kakakku.       Piring itu diletakkan di atas meja, di sana terlihat potongan kue beraneka warna, disusun rapi dengan tampilan yang menggoda.       Fred pasti sudah mengetahui jawabannya, tapi Kak Irma tetap menjawab, “Ini kue bolu buatanku. Berani mencobanya, Fredian?”                 Tubuh Fred bergerak, posisi duduknya menegak, seringai di wajahnya menampilkan antusiasme. “Tantangan yang menyenangkan. Sini biar kucoba.”       Tangan sepupuku terulur, meraih sepotong kue berwarna gelap dengan taburan cokelat dan keju di atasnya. Sementara potongan kue yang kuambil tersusun dalam aneka warna yang berlapis-lapis.       “Kalau ibu mau, makan kuenya yang ini ya,” ujar Kak Irma, telunjuknya menunjuk pada tumpukan kue berwarna kuning keemasan pudar yang tampak terasing di piring itu. “Irma sengaja bikin kue ini buat ibu. Tanpa gula.”       Ibuku mengucap terima kasih, tapi tak kunjung meraih satu pun. Wajar menurutku, penampilan kue tanpa gula itu tak terlalu memikat. Rasanya pasti hambar.       “Hmm,” Fred bergumam sembari mengunyah, gayanya seperti juri dalam ajang pencarian bakat memasak. “Rasanya tak mengecewakan. Dari mana belajar semua ini?”       Kak Irma tersenyum. “Aku belajar semua ini dari pacarmu, Fredian. Dia yang ngasih semua resepnya. Fatma benar-benar jago memasak, gak heran kalau usaha toko kuenya bisa laku banget.”       Jawaban dari Kak Irma tak menunjukkan sarkasme sama sekali, yang membuatku yakin bahwa ia belum tahu tentang telah berakhirnya hubungan Fred dan Fatma.       “Memang benar-benar menantu idaman anak itu,” timpal ibu tiba-tiba menatap Fred. “Udah cantik, pintar berbisnis, jago masak juga. Kamu beruntung punya calon istri sebaik itu, Nak.”       Aku menikmati menonton reaksi Fred atas kata-kata ibu barusan. Setahuku Fatma memang baru saja berbisnis dengan membuka toko kue, itu adalah bisnis keduanya setelah sebelumnya ia memiliki usaha toko kosmetik yang dirintis bersama temannya.       Jelas saja kata-kata ibu membuat Fred bungkam. Mulutnya untuk sesaat berhenti mengunyah, seolah lupa tengah memakan sesuatu. Fred pasti tengah bimbang antara memberitaku ibu soal berita berakhirnya hubungan mereka atau tidak. Kemudian kulihat Fred membalas tatapan ibu, tersenyum. “Ya, Fred memang beruntung, Bu.”       Salah satu alisku terangkat, mengapa dia tak langsung berterus terang saja? Namun lagi-lagi, Fred menghindari tatapanku. Dari gelagatnya, kukira Fred memang belum siap untuk memberitahu kebenarannya.       Sial bagiku karena kini perhatian ibu tertuju padaku. “Nah, kalau anak ibu yang satu ini gimana? Udah punya pacar baru belum?”       Tak tahu harus menjawab bagaimana, aku terdiam sesaat. Yang ibu tahu, aku sudah lama tak berkomitmen dengan wanita mana pun. Terakhir adalah dua tahun lalu saat aku masih kuliah, berpacaran dengan mahasiswi cantik bernama Mega, tapi hubungan kami berakhir saat aku harus memulai pekerjaan di Jakarta. Hubungan jarak jauh memang jarang pernah berhasil.       Tentu aku tak pernah membicarakan mengenai kedekatanku dengan Kania pada ibu selama ini. Apalagi sekarang, setelah aku tahu bahwa kedekatanku dengan Kania telah berakhir, tak ada gunanya lagi memberitahu ibuku perihal hubunganku dengan seorang wanita yang baru saja kandas tadi malam.       Akan terasa sangat menyedihkan jika aku melakukan itu.       “Setahu Fred, Dennis sudah punya gebetan baru,” celetuk Fred tanpa diminta siapa pun. “Bukan begitu, Dennis?”       Aku melotot ke arahnya, sesaat berhenti mengunyah. Bisa-bisanya dia mengorbankan aku demi mengalihkan topik dari Fatma?       “Aku tak tahu apa yang kau bicarakan, Fred,” sangkalku, berharap bahwa pembicaraan mengenai kemalanganku semalam itu tak akan diungkit-ungkit. “Aku tidak sedang dekat dengan wanita mana pun.”       Pelototanku rupanya tak membuat Fred gentar, karena ia kembali berkata, “Bukannya kau semalam sudah kencan dengan seorang wanita? Kalau tidak salah Kania namanya, kan?”       Butuh kesabaran yang sangat besar untuk menahan godaan melempar kue yang kugenggam ke kepalanya. Fred sangat sulit diajak bekerja sama. Tak urung timbul niatan untuk membongkar kelakuan Fred selama di Jakarta sebagai balasan, tapi kubatalkan karena tahu bahwa aku akan kena getahnya jika melakukan itu.       Dari sudut mata, kulihat Kak Irma dan Ibu menatap kami berdua secara bergantian.       “Jadi mana yang benar, nih? Dennis sudah punya pacar baru atau belum?” tanya Kak Irma melirik ke arahku, raut wajahnya memancarkan rasa penasaran seperti itu. Orang yang ingin tahu seputar kehidupan percintaanku rupanya bertambah satu.       Terdorong oleh rasa malu, aku menjawab cepat, “Kencannya gagal. Dennis memang sempet deket sama seseorang, tapi kencannya gagal tadi malam.”       Tiga orang menatap diriku---lagi-lagi---dengan simpati, bahkan kutemui Fred tampak terkejut mendengar ucapanku, yang sebenarnya agak mengherankan karena sebelumnya ia sudah tahu akan kegagalan kencanku. Rupanya bagi mereka, menjomblo selama tiga tahun berturut-turut merupakan sebuah kemalangan besar.       Sepanjang sisa siang itu, aku menghabiskan waktu dengan berbaring di sofa ruang tamu, menemani ibu menonton acara TV yang sesungguhnya tak benar-benar kunikmati. Aku bersyukur topik mengenai Kania tak lagi dibahas. Aku hanya sedang ingin menikmati momen ini, saat-saat aku berada dekat dengan keluargaku, terutama ibu. Aku berusaha tak memikirkan fakta bahwa ayah masih belum mau keluar dari kamarnya.       Pada satu waktu, aku juga memikirkan para tamu yang tak terduga kedatangannya di rumah ini, Om Tirta dan Bibi Immelda. Mereka berdua sejak tadi belum menunjukkan lagi batang hidungnya. Selalu mengurung diri di dalam kamar, hal yang aneh untuk dilakukan mengingat begitu banyak kue yang Kak Irma sajikan di ruang depan ini. Aku menanyakan apa para tamu sudah ditawari kue, Kak Irma hanya menjawab dia sudah mengantarkannya ke kamar mereka.       Yang mengherankannya adalah, ibu tampak tak acuh akan keberadaan mereka, padahal aku selalu tahu bahwa ibu jagonya dalam memanjakan para tamu. Konflik apa pun yang sedang terjadi di antara orang tua ini, aku jadi memiliki dugaan ibu juga terlibat. Bukannya dalam mimpi tadi juga aku mendengar ibu berdebat mereka?       Mimpi tadi mungkin memang tak berarti khusus, tapi sampai detik ini aku selalu saja merisaukan setiap adegannya.       Ketika ibu mengajakku dan Fred bicara, ia kebanyakan menanyai detail kondisi kami selama di Jakarta. Semua pertanyaan darinya kebanyakan kujawab dengan nada dilebih-lebihkan. Bagaiamanpun, aku tak ingin membuatnya cemas, terlebih ibu tahu bahwa aku sebenarnya tak begitu menyukai kerjaanku di Jakarta. Dulu, aku pernah bertengkar hebat dengan ayah mengenai keenggananku untuk mengurus bisnisnya, dan ibu menangis melihat itu. Aku tak ingin membuat itu terjadi lagi.       “Yang penting kalian berdua sehat dan bisa jaga diri di Jakarta,” nasehat ibu bijak pada kami berdua. “Jangan ngelakuin yang macam-macam selama di sana. Jangan bandel. Kalian juga harus bisa saling jaga satu sama lain. Pokoknya Ibu enggak mau denger salah satu dari kalian terlibat yang aneh-aneh. Jauhi minuman keras apalagi narkoba.”       Jelaslah Fred semakin salah tingkah dibuatnya. Soal narkoba, jelas aku dan Fred tak pernah berani mencobanya, meski sesekali kesempatan untuk menyicipi hal terlarang itu datang. Dan untuk minuman keras, bisa dibilang Fred sudah menjadi expert di bidang itu.       Nasihat dari ibu pasti pada akhirnya membuat ia gentar, kuharap itu cukup untuk membuat Fred merenungkan kembali hobinya yang tak bagus itu. Fred segera berdiri, mengundurkan diri dari ruang tamu dengan dalih capek dan mengantuk, ia segera berlalu dan hilang saat menaiki tangga.       Tebakanku, Fred akan mengurung diri di dalam kamarnya sepanjang sisa hari ini, mengubur dirinya dalam perasaan bersalah dan dosa-dosa.       Tak lama kemudian, ibu juga pergi dari ruang tamu menuju kamarnya mungkin untuk mengecek apa amarah ayah sudah dapat diredakan atau belum,praktis dengan begitu menyisakan aku dan Kak Irma yang masih berkutat dengan sisa-sisa potongan kue yang ada. Sambil berbisik, kami membahas masalah kedatangan para tamu dan konflik yang menyertai di belakangnya.       Dari pembicaraan itu aku juga tahu Kak Irma memiliki kecurigaan yang sama denganku, ibu tak menyukai kehadiran mendadak Om Tirta beserta istrinya. Kami mencoba berspekulasi, tentang konflik apa kah yang membuat hubungan mereka merenggang.       Setelah berjam-jam berdikusi, tentu saja kami tak ada hasil. Hanya dapat menerka-nerka, layaknya mencoba mencari-cari sesuatu yang kami tak ketahui apa itu di malam buta.   ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD