10. Evaluasi Kerja

1478 Words
Bandung. 13:00 WIB.       Aku tak mengerti, mataku menatap Kak Irma seolah ia telah berbicara dalam bahasa asing.       “Menjemputku? Memastikan aku masih hidup … apa maksudmu, Kak?”       Kepala Kak Irma menunduk menatap lantai. “Setidaknya itulah tebakan Kakak setelah menguping pembicaraan mereka. Kakak sendiri tak tahu apa artinya itu. Kamu bisa melihatnya sendiri, Dennis. Ketegangan yang terjadi antara Ayah dan Ibu dengan Om Tirta dan Bibi Immelda, itu jelas membuktikan kalau Ayah dan Ibu tak menyambut baik kedatangan mereka.”       Perkataannya memang benar. Aku bisa merasakannya sendiri di ruang tamu tadi. Perkataan Om Tirta yang dipotong Ayah … itu pasti ada hubungannya dengan tujuan utama Om Tirta datang.       “Apa maksud Kakak dengan menguping?” tanyaku kemudian. Perkataannya barusan memang menyiratkan seolah-olah apa pun masalah itu, ayah dan ibu tak menginginkan Kak Irma untuk tahu.       “Ayah memperlakukan Kakak seperti anak kecil,” jawabnya cepat, sorot di matanya menunjukkan ketidak setujuan. “Mereka tak membiarkan Kakak mendengarkan apa pun percakapan mereka. Jadi, mau tak mau Kakak harus menguping.” Kak Irma mengambil jeda sejenak untuk menatapku sebelum melanjutkan kata-katanya.  “Kemarin sore saat tamu kita sampai di rumah ini, hal yang mereka tanyakan adalah mengenaimu, Dek. Mereka bertanya di mana dirimu dan apa kamu baik-baik saja? Itu yang membuat Kakak yakin kalau kedatangan mereka ada hubungannya denganmu.       “Lalu tadi malam saat kamu menelepon, mereka terlibat pertengkaran hebat. Kamu sampai bisa mendengarnya dari sambungan telepon. Enggak banyak yang Kakak dengar semalam, cuma teriakan ayah yang terdengar sampai ke sepenjuru rumah. Orang dewasa lainnya bisa mengontrol emosi. Dan dari yang tertangkap kuping Kakak, Om Tirta berniat untuk membawamu atau apalah ... tapi, Ayah dan Ibu tidak menyetujui itu.”       Kedua telapak tangan Kak Irma mengusap wajah, kemudian menggeleng, seolah tengah berusaha menghalau pikiran menggelisahkan dari kepalanya.  “Kondisinya tegang banget semalam. Mereka enggak berhenti bertengkar sampai tengah malam. Kakak jadi takut masalah itu benar-benar serius sampai Kakak sulit tidur.”       Aku meletakkan piring yang telah kosong ke dalam nampan, lalu bergerak mengambil posisi duduk di sampingnya. Telapak tangan kiriku mengusap-usap punggungnya lembut memberi kekuatan (telapak tangan kananku kotor berminyak karena telah bersentuhan langsung dengan daging yang telah kumakan).       Pasti berat rasanya bagi Kak Irma melewati tadi malam sendirian. Aku yakin jika ayah memberi kebebasan untuk Kak Irma menjalani hidup, Kakak perempuanku ini bakalan memilih untuk membantuku mengurusi bisnis ayah di Jakarta.       Namun itu tak mungkin, ayah rupanya berpikir lebih baik untuk Kak Irma tetap di Bandung. Entah apa alasannya, kutebak itu berdasarkan kekhawatiran seorang ayah yang tak ingin putri satu-satunya tinggal jauh semata.       Tak pernah aku mengakui ini, tapi aku setuju dengan keputusan ayah itu. Bukan karena Kak Irma adalah seorang wanita, melainkan karena aku kurang yakin dan tak tega jika membiarkan Ayah dan Ibu ditinggal sendirian. Usia mereka sudah tak lagi muda. Dengan adanya Kak Irma yang tinggal di sini mengurus mereka, itu membuatku lega.       Sementara aku? Aku laki-laki, meski aku sesungguhnya tak menyukai ini, ayah berharap lebih padaku untuk mengurusi bisnisnya. Bagimanapun juga, dua tahun telah berselang hingga membuatku terbiasa dengan hal ini.       Kak Irma akhirnya mendongak setelah berhasil menguasai diri, ia melemparkan sebuah senyum untuk meyakinkanku bahwa ia baik-baik saja. “Yah, semalam memang sulit. Tapi Kakak lega sekarang kamu udah pulang. Untuk sementara, kita pura-pura tidak tahu aja, Dek. Jangan bicarain ini sama Ayah atau Ibu. Lihat aja nanti jadinya bakal gimana.”       Kepalaku mengangguk, mungkin saat ini aku hanya bisa menunggu. Menanti Om Tirta melanjutkan kata-katanya yang terpotong di ruang depan tadi.       Kak Irma segera berdiri dari tempat tidur. “Omong-omong, Kakak tadi pagi bikin kue. Rasanya enak banget. Kamu mau coba?” Ia menawarkan.       Tentu aku menerima tawarannya itu, hal baik yang kurindukan saat pulang ke Bandung adalah makanan lezat yang datang dengan sendirinya. Aku ikut berdiri dan mengikutinya keluar kamar. “Sejak kapan Kakak bisa bikin kue?”       “Baru akhir-akhir ini aja, Dennis. Kan pekerjaan Kakak di sini cuma beres-beres. Banyak waktu kosong, ya udah Kakak coba-coba bikin.”       Kami berdua menuruni tangga, Kak Irma menuju dapur untuk mengambil kue yang dimaksud. Sementara aku ke westafel untuk mencuci tangan.       Fred ada di ruang depan saat aku ke sana. Punggungnya bersandar pada sofa dengan kedua tangannya bersedekap di atas perut. Piring kosong tergeletak di meja itu, Fred juga ternyata habis makan. Gayanya santai sekali. Di sebelahnya ada ibu, ia tampak menikmati acara televisi yang ditontonnya. Ayah duduk di kursi yang berbeda, sesekali ia tampak berbincang dengan Fred. Dari ekspresi serius yang ditunjukkan keduanya, aku yakin mereka tengah membahas pekerjaan.       “Dennis, Nak. Duduk di sini sama ibu,” sambut ibu ketika ia melihat kedatanganku. Meski senyumnya merekah, tapi sorot kelelahan di matanya tak luput dari pengamatanku.       Aku mengisi tempat duduk di sebelah kirinya. Fred yang berada di sebelah kananya segera menoleh padaku. “Nah, Dennis. Aku dan Ayah baru saja berdiskusi soal pekerjaan kita di Jakarta, jadi bisa kau bantu aku menjelaskan pada Ayah bagaimana kondisi tepatnya?”       Kubalas tatapan Fred dengan pandangan kesal. Ini hari minggu. Tak bisakah membahas pekerjaan di waktu lain saja? Aku malah berharap bahwa wacana mengenai bisnis tak akan diungkit selama aku di Bandung.       Namun, rupanya Ayah menginginkannya sekarang karena ia berujar, “Jadi bagaimana kondisi pekerjaan tepatnya, Nak? Kata Fred kalian mengalami masalah soal kepengurusan KITAS dan KITAP belakangan ini?”       Posisi dudukku menegak, pria tua yang saat ini kuhadapi tengah mengambil peran sebagai seorang atasan ketimbang seorang ayah. “Yah, memang tak begitu bagus. Bulan kemarin pihak Depnakertrans mengubah beberapa peraturan buat mengurus surat perizinan. Jadi, kita harus mengkonfirmasi beberapa persyaratan, otomatis surat izinnya jadi selesai lebih lama dari yang dijanjikan sedari awal.”       Mata Pak Tua itu menyipit. “Bagaimana dengan reaksi expatriate kita dalam hal ini? Apa mereka bisa mengerti ini? Nggak ada complain sama sekali?”       Aku menelan ludah. Itu … merupakan pertanyaan yang aku tak tahu jawabannya, karena Fred-lah yang biasanya bertugas menangani para klien secara langsung. Aku melirik ke arah Fred, meminta bantuan. Sialnya, Fred menghindari tatapanku seolah tak peduli.       “Dennis kurang tahu, Yah,” akuku jujur. “Fred yang lebih tahu soal itu.”       “Dan kenapa Fred yang lebih tahu soal ini? Bukannya kamu?” balas ayah cepat.       Ketakutanku saat mengalami mimpi buruk tadi seolah tak ada apa-apanya dengan ini, kini akulah yang menghindari tatapan ayah saat menjawab, “Karena Fred yang mengurus dan berurusan dengan klien secara langsung.”       Embusan napas berat terdengar darinya.”Dennis, bukannya Ayah sudah menyuruhmu untuk mengambil bagian itu? Ayah ingin kamu belajar untuk memegang peranan vital itu. Sangat penting untuk kamu mengenal lebih dekat secara personal dengan para klien. Kenapa kamu tak menuruti ayah?”       Tengah kupikirkan alasan yang tepat sebagai jawaban. Jika aku berdalih bahwa bahasa inggrisku belum terlalu lancar pasti ayah tak percaya, lagipula aku bisa menyewa penerjemah jika perbedaan bahasa adalah kendalanya. Namun, ayah akan marah besar padaku jika aku berterus terang. Sejujurnya aku tak menyukai pekerjaan ini. Mengurus bisnis yang ayah wariskan membuat diriku terbebani alih-alih bangga. Selama ini hidupku terlalu diatur olehnya. Kuliah memasuki fakultas hukum---yang telah direncanakan ayah dari dulu. Kini mengirimku ke Jakarta untuk mengurusi pekerjaan, dia bahkan tak pernah meminta pendapatku untuk segala keputusannya.       Selama ini aku bertahan karena terpaksa.       Ayah memang sangat berharap padaku untuk dapat meng-handle bisnisnya. Berurusan langsung dengan klien adalah salah satunya, tapi aku tak pernah benar-benar melakukannya. Selama ini tugas ini kubiarkan Fred yang mengurusnya. Aku cukup puas dengan tugasku yang sederhana, seperti mengirim invoice pada perusahaan yang menggunakan jasa kami.       Namun bagi ayah, usahaku itu belum cukup. Tak pernah cukup       “Dennis masih belum siap, Yah,” jawabku takut-takut.       Tangan ibu tiba-tiba mengusap lutuku lembut, berusaha menenangkan. Kemudian ibu berucap pada Ayah, “Mungkin Dennis masih butuh waktu untuk menyesuaikan diri. Jangan terlalu keras padanya. Bagaimana juga Dennis baru dua tahun kerja, jelas berbeda dengan Fredian yang sudah lebih berpengalaman. Beri Dennis waktu.”       Hatiku mengucap terima kasih atas pembelaan yang dilakukan ibu.       “Iya tapi mau nunggu sampai kapan?” timpal ayah gusar. “Kinerja Dennis dari dulu nggak pernah mengalami perkembangan.”       “Yah, mungkin yang dikatakan ibu benar,” seru Fred akhirnya bersuara. Sekilas ia melirik padaku dan aku tak menyukai sorot iba yang kutemukan di sana. “Mungkin Dennis memang belum siap. Sungguh, Fred tak masalah kalau harus berurusan dengan klien secara langsung. Nanti Fred kasih laporannya mengenai perkembangan pekerjaan. Nggak ada complain yang muncul dari klien kok sampai saat ini.”       Netra hitam ayah melirik tajam ke arahku, ibu dan Fred secara bergiliran. Ia tampak gusar, membuatku takut jika emosi ayah kembali meledak-ledak. Namun yang ia lakukan hanya diam, kemudian berdiri dan berjalan cepat menuju pintu kamarnya sendiri.       Pundakku segera bersandar pad sofa, kepalaku menengadah menatap langit-langit. Ayah pasti marah.       Kembali, telapak tangan ibu mengusap keningku, sentuhannya menenangkan. “Jangan khawatirkan ayahmu, Nak. Nanti ibu bicara sama Ayah kalau dia sudah tenang. Biarkan ayahmu menenangkan diri dulu.”       Yang bisa kulakukan saat ini hanyalah mengangguk.       Masalah dalam hidupku begitu rumit hingga tak semudah meluruskan kembali jalinan benang yang kusut.   ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD