9. Mimpi Sang Almarhum

1413 Words
Bandung. 11:55 WIB.             Kusangka aku hanya tertidur selama beberapa menit, tapi kulihat ke luar jendela kamar dan mendapati langit telah menggelap. Rona kemerahan di tepi cakrawala sana sudah meredup, menjadikan kamarku nyaris gelap gulita.       Lampu kamar belum dinyalakan.       Aku bangkit dari posisi berbaring dan terduduk, gerakannya terlalu cepat hingga mengalami disorientasi. Kuusap wajah dengan kedua telapak tangan sampai aku merasa terbangun sepenuhnya, setelah itu rasa heran menerjangku, mengapa semua orang membiarkanku tertidur seharian ini sampai menjelang malam? Segera kuraih sakelar lampu, cahaya putih serta merta menghujani sepenjuru ruangan saat tombol itu ditekan.       Sekonyong-konyong, suara tinggi ayah yang terdengar membuat tubuhku tersentak.       “… TIDAK PEDULI. SEBAIKNYA KALIAN BERDUA PERGI DARI SINI, AKU TAK AKAN MEMBIARKAN DIA IKUT DENGAN KALIAN!!!”       Tubuhku seolah memiliki instingnya sendiri, aku segera bangkit dan merangsek keluar kamar. Lorong di lantai atas dan tangga juga gelap, seolah semua orang lupa menyalakan lampu. Saat aku mulai menginjak anak tangga pertama, kudengar suara Om Tirta menimpali suara ayah.       “Damar, tolong kuasai emosimu dan berpikir jernihlah. Tanda-tandanya sudah muncul! Kami tak mungkin membiarkan hal ini berlangsung dan berpura-pura seolah tak terjadi apa-apa.”       Aku begitu terkejut hingga membeku di tempat saat selanjutnya suara ibuku yang menyela. “Apa kamu pikir aku akan mempercayaimu dan istrimu setelah apa yang terjadi pada Dimas? Dennis putraku! Jangan pernah bawa-bawa dia dalam masalah ini---”       “Ratna, tolong jangan salah paham. Bukan maksudku untuk mencelakakan hidupnya.” Kali ini suara dalam mlik Bibi Immelda yang terdengar.       Tubuhku terdiam, terpaku di tengah-tengah tangga, seluruh saraf pada tubuhku terkunci selagi otakku berusaha untuk memahani segalanya. Apa yang mereka bicarakan? Mengapa mereka menyebut namaku dan saudara kembarku? Beragam pertanyaan membuncah di pikiranku hingga membuatku khawatir bahwa kepalaku akan meledak jika tak segera mendapat jawabannya.       Tepat sebelum aku hendak menggerakkan kakiku lagi untuk turun dan melerai pertengkaran itu, terdengar sebuah suara yang begitu familiar.       Christian Dennis, aku di sini.       Bulu kudukku meremang. Perasaan ngeri melanda sampai rasanya ingin aku berteriak. Tidak. Ini tidak mungkin. Mustahil aku mendengar suara itu lagi. Suara seseorang yang hanya bisa kudengar sampai usia sepuluh tahun. Dia yang telah meninggal lima belas tahun lalu. Dia yang telah tiada, saudara kembarku yang malang tak mungkin bisa kudengar suaranya lagi. Namun, kini suara itu begitu nyata terdengar … dan sangat dekat.       Tidak, suara itu tak berasal dari pertengkaran di bawah sana, tidak di tempat di mana ayah, ibu, Om Tirta dan Bibi Immelda masih bersahut-sahutan dengan nada sengit, tapi tepat di atas sana.                 Di puncak tangga.       Dengan susah payah, kuputar leherku ke belakang dan mendongak.       Sulit untuk memfokuskan penglihatan saat kondisi gelap, lorong di lantai atas hanya didominasi warna hitam. Kemudian, aku melihatnya. Sulit untuk menjelaskan hal ini, tapi sebuah siluet hitam perlahan muncul dalam kegelapan, sosok itu memiliki kepekatan yang lebih kental dibanding  dengan keadaan di sekelilingnya. Tingginya tak sampai satu meter, yang membuatku makin gelisah karena siluet itu lebih menyerupai anak-anak.       “Siapa kau?” akhirnya aku bisa berkata, sangat pelan tapi aku punya firasat sesuatu di atas sana dapat mendengarnya.       Suara itu---yang seolah menggema di dalam kepalaku---terdengar lagi memberi jawaban.       Aku sudah lama menunggumu, Dennis. Aku merindukanmu.       Kucoba untuk lebih fokus dalam menatap sosok itu. Sia-sia saja, hanya kegelapan tak terjangkau yang bisa kupandang.       Lihat apa yang iblis wanita itu lakukan padaku, sosok yang masih belum kupercaya sepenuhnya sebagai kembaranku itu kembali berkata. Hal yang terjadi berikutnya tak pernah kuduga akan terjadi: suara sakelar lampu ditekan terdengar dari lantai atas, seiring lampu yang menyala memberikan cahaya sebagai sumber penerang. Membuat warna hitam di atas sirna dalam sekejap.       Membuat sosok itu pun terlihat jelas sejelas-jelasnya.       Christian Dimmas---saudara kembarku---ada di sana, mustahil aku bisa melupakan sosoknya meski lima belas tahun telah berselang, wajah anak kecilnya masih sama---identik seperti wajahku dulu, kulit mukanya pucat dengan pipi penuh, mengenakan setelan baju tidur bergambar Mickey Mouse lusuh bernoda merah.       Namun, bukan sosoknya yang membuatku ngeri, tapi sosok tinggi setinggi langit-langit rumah yang berada di belakangnyalah yang membuatku tercengkram rasa takut. Wanita, dengan rambut panjang kusut menjuntai ke lantai, dengan keropeng di seluruh permukaan kulit, mulut lebarnya terbuka menyeringai padaku, menampakkan gerigi setajam pisau dan mata berkilat merah. Kedua lengannya panjang dan cakar setipis jarum. Dengan gerakan cepat, cakar-cakarnya itu menyabet ke depan, mengenai tubuh Dimmas, darah menyembur keluar dari badan gemuk anak itu.       Lolongan Dimmas membahana seiring kudengar suara tulang-tulangnya patah, aku menutup mata dan telinga, tak kuasa melihat apa yang ada di sana, menghalau suara itu tak tertangkap indra pendengaranku, tapi jerit kesakitan itu tetap terdengar hingga nyaris membuat tengkorak kepalaku pecah.       Kedua mataku pun terbuka.       Tubuhku kelabakan, kedua tanganku mencengkram sesuatu yang bertekstur lembut. Tersentak, aku langsung bangkit terduduk untuk mendapati bahwa kini aku masih berada di kamarku. Aku tak mengerti. Kulirik jendela, langit biru nyaris tanpa awan terhampar di sana, cahaya terik matahari masih menerangi komplek perumahan di tempatku berada sekarang. Lalu aku menoleh ke arah jam dinding.       Pukul satu tepat siang hari.       Hanya mimpi.       Kelegaan menghampiri diriku. Namun, tubuhku masih gemetaran. Keringat dingin membuat pakaianku basah. Butuh waktu beberapa menit sampai pernapasanku berjalan kembali normal. Itu hanya mimpi buruk, kelewat buruk sampai aku digandrungi kengerian yang terasa nyata. Aku merutuki diriku sendiri, inilah akibatnya jika tertidur di siang hari dengan pikiran tak keruan.       Kuregangkan kedua jari-jari tanganku, yang rupanya tengah mencengkeram erat seprai kasur berbahan lembut. Tak pelak rasa malu menghampiri, jadi aku tadi bergerak-gerak  seperti orang terkena ayan saat tidur? Meski rasa ngeri yang ditimbulkan mimpi itu belum benar-benar surut, aku merasa lega bahwa tak ada seorang pun yang melihat hal itu terjadi.       Mulutku terasa kering, tenggorokanku dilanda rasa haus. Aku bangkit dari tempat tidur dan segera menuju pintu, berniat ke lantai bawah untuk mengambil segelas air. Namun, ternyata itu tak perlu. Pintu itu diketuk tepat saat tangan kananku memegang handel pintu, membuatku segera membukanya.       Di sanalah berdiri satu-satunya kakak perempuanku, tiga tahun lebih tua dariku. Postur tubuhnya ramping, dengan kulit putih yang sama dengan ibu. Rambut hitam kecoklatannya sepanjang bahu dengan potongan lancip. Sepasang mata dengan pupil hitam itu melebar, barangkali terkejut karena pintu yang ia ketuk terbuka dengan cepat.       “Dennis! Kakak seneng akhirnya kamu pulang.” Kak Irma tersenyum lebar, membawa nampan berisi makanan---sepiring nasi, semangkuk sop sayuran dan daging serta segelas air putih---yang membuat air liarku terbit. “Ini Kakak bawakan makan. Kamu pasti laper, kan? Mukanya sampai pucat begitu.”       Aku tak berniat memberitahu Kak Irma bahwa alasan kulit wajahku pucat karena baru saja bermimpi buruk.       Bibirku membentuk senyum balasan lalu mempersilakannya masuk, nampan itu ia letakan di sebuah meja dan segera aku lahap. Air mineral yang kuteguk membuat kerongkonganku lega.       Kuletakkan gelas yang telah kosong itu di atas nampan, mengambil hidangan utama dan mulai menyuapi mulutku. “Jadi, bisa ceritakan padaku? Masalah apa yang sebenarnya terjadi di sini kemarin malam?”       Kak Irma yang mengambil posisi duduk di tepi ranjang terkekeh melihatku. “Jangan bicara sambil makan, Dek.”       Aku melanjutkan makan siang itu dalam keheningan. Kak Irma sepertinya tengah tenggelam dalam lamunannya sendiri, dan begitu juga aku. Aku mencoba mengingat kembali mimpiku barusan, dan terngiang dalam kepalaku setiap kata yang kudengar. Apa isi mimpi itu---entah bagaimana bisa---ada hubungannya dengan permasalahan yang terjadi di sini? Sebuah pertanda mungkin? Hal itu memang mustahil dipercaya, mimpi hanya bunga tidur, tak ada hubungannya dengan realita. Namun, sesuatu dalam benakku berkata bahwa kemunculan Dimas dalam mimpi itu bukanlah fakta yang dapat dilewatkan begitu saja.       Setelah belasan tahun berlalu tanpa ada masalah apa-apa, Dimas akhirnya muncul kembali dalam kehidupanku untuk pertama kalinya. Aku tak tahu apa itu merupakan pertanda baik atau bukan.       “Om Tirta dan Bibi Immelda datang kemarin sore,” ucap Kak Irma setelah makananku di piring tinggal beberapa suapan lagi. “Itu masalahnya.”       Ternyata dugaanku benar. Namun, aku masih tak mengerti. Kutelan sesuap nasi, lalu berkata, “Bagaimana mungkin kedatangan mereka berdua menjadi sumber masalah? Tak ada yang salah dari kunjungan keluarga jauh.”       Manik mata Kak Irma terfokus tepat ke wajahku, sorot frustasi dan lelah di sana membuat ia terlihat lebih tua dari aslinya. “Mereka datang  ke sini bukan sekedar untuk berkunjung, Dennis, tapi ada tujuan lain di balik itu, dan tujuan lain itulah yang membuat ayah marah, murka lebih tepatnya.”       Entah mengapa, makanan yang masih tersisa di piring tak terlalu menarik lagi bagiku, lantas kudapati diriku bertanya, “Apa tujuan asli mereka itu?”       Perasaan heran luar biasa menerjangku saat kudengar jawaban dari Kak Irma.       “Untuk memastikan bahwa kamu masih hidup, Dennis. Sekaligus untuk menjemputmu.”   ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD