8. Tamu dari Sumatera

1382 Words
Bandung. 11:31 WIB.       “Sungguh Dennis, aku tak mengerti mengapa kau bisa bertahan berteman dengan anak itu selama bertahun-tahun,” ujar Fred sambil menatap mobil Ares yang telah terparkir di halaman depan rumahnya, nada bicaranya terdengar agak sinis hingga membuatku berjengit. “Dia orang teraneh yang pernah kukenal. Padahal aku sudah mengenalnya sejak usia dua belas tahun. Seharusnya kau bisa mencari teman yang lebih dewasa dari dia.”       Aku menoleh padanya, merasa tak setuju dengan perkataannya barusan. Ares memang memiliki kecenderungan untuk bersikap kekanak-kanakan, tapi masalah itu tak pernah benar-benar mengganggu bagiku. “Maaf kalau kau kurang setuju atas pilihan orang yang kujadikan teman. Aku tak tahu standar teman baik itu seperti apa. Sepupuku saja menghabiskan malam tiap akhir pekannya untuk minum alkohol sampai teler, jadi bisa kau jelaskan teman yang baik itu seperti apa?”       Fred meringis, dari ekspresinya, aku tahu bahwa jawabanku tepat mengenai sasaran. Tentu Fred masih punya rasa malu hingga tak berani menyanggah pernyataanku. Biar bagaimanapun, seorang pria dengan tingkah anak kecil jauh lebih baik daripada pemabuk.       “Kau takkan mengadukan kelakuanku selama di Jakarta pada Ayah dan Ibu, kan?” tanya Fred kemudian, kecemasan dalam suaranya membuatku melunak. Fred sangat penurut jika hal itu bersangkutan dengan kedua orangtuaku, yang memang sudah lama Fred anggap sebagai orangtuanya sendiri.       “Tidak akan.” Aku menepuk punggungnya, tak bisa kubayangkan bagaimana reaksi orangtuaku jika sampai mereka tahu.       Fred segera berjalan menuju pagar, kemudian mengetahui bahwa pagar besi setinggi leher itu terkunci, ia memanggil-manggil nama Kak Irma untuk memberitahukan kedatangan kami. Tak lama berselang, pintu depan terbuka. Namun, bukan kakak perempuanku yang muncul, melainkan ayah. Sosoknya yang tinggi dan sedikit bungkuk dengan rambut nyaris semuanya putih nampak terkejut saat melihatku dan Fred, seolah baru ingat bahwa hari ini kedua anaknya akan datang. Ia lalu tersenyum menghampiri.       “Nak, Ayah tak mendengar suara mobil datang,” ucapnya, membukakan pagar lalu memeluk aku dan Fred secara singkat. “Bagaimana kabar kalian berdua?”       “Baik, Yah.” Fred dan aku mengucapkannya nyaris berbarengan.       Kami berjalan memasuki rumah dan selama sesaat, aku terdiam mengamati rumah di depanku. Jika dibandingkan dengan rumah di Jakarta, jelas rumah ini jauh lebih kecil tapi nampak begitu terawat dan hangat. Tiga lantai dengan cat putih kusam. Kedua balkon di lantai atas dipenuhi bunga bugenvil yang berderet dalam pot kecil, sementara di halaman depan tak terlalu luas dan hanya mampu menampung satu mobil Toyota putih ayah. Secara keseluruhan tak ada yang benar-benar berubah dari rumah ini semenjak kepulanganku sebulan lalu.       Di ruang depan, ibu memeluk kami berdua jauh lebih lama. Wajahnya sumeringah sekali saat melihat ke arahku juga Fred. “Akhirnya kalian pulang, Ibu kangen sekali sama anak-anak Ibu ini. Bagaimana perjalanan kalian? Lancar?”       “Macet sekali tadi,” keluh Fred, menduduki kursi di samping ayah sambil mengusap rambutnya. Lalu berhenti melakukan itu---meringis. Kutebak ia tak sengaja, lupa mengusap puncak kepalanya yang masih memar akibat terbentur badan mobil itu. “Tapi dari Cihampelas ke sini lancar.”       “Bu, di mana Kak Irma?” Aku bertanya setelah ikut duduk di salah satu kursi.       Ibu baru saja akan menjawab ketika sosok pria lain memasuki ruangan dan berseru, “Wah, siapa yang datang, nih?”       Aku menatap pria itu dalam keterkejutan, jelas dia bukan Kak Irma. Pria itu berkulit kecoklatan, postur tinggi dan tegap, rambutnya sedikit beruban tapi tak selebat ayah, sesuatu dalam wajahnya mengingatkanku pada ayah dan itu wajar karena mereka kakak beradik, dia adalah adik dari ayahku, Om Tirta.       “Eh, Om Tirta? Kapan Om datang?” tanyaku menghampiri untuk menjabat tangannya. Om Tirta setahuku sudah lama menetap di kota Medan sejak ia menikahi seorang wanita asli sana. Itu terjadi jauh sebelum aku lahir. Sudah lama sekali aku tak berjumpa dengannya, terakhir adalah ketika dia membantu kami pindah dari Jakarta ke Bandung. Ya, lima belas tahun yang lalu.       Om Tirta tersenyum ke arahku, ia menatapku lebih lama dari seharusnya sebelum menjawab, “Baru kemarin sore Om datang, sama Bibimu juga. Dia lagi di kamar sekarang. Dan Dennis, untunglah kita bisa bertemu, banyak hal yang ingin Om bicarakan---“       “Tirta, jangan sekarang!” potong ayah cepat, ada nada mendesak dalam suaranya dan---entah kupingku yang keliru mendengarnya---juga terselip amarah yang mengancam di sana. “Dennis baru saja sampai setelah perjalanan jauh, biarkan dia beristirahat dulu.”       Kulirik ayahku, lalu menoleh ke arah Om Tirta berulang kali, mencoba membaca suasana macam apakah yang tengah berlangsung di sini. Ketegangan jelas terasa olehku seolah ada listrik statis yang merambati kedua kakiku. Keheningan yang terjadi sangat canggung, aku teringat pada makian ayah yang terdengar lewat sambungan telepon semalam. Apa masalah yang disebut-sebut Kak Irma ada hubungannya dengan kedatangan Om Tirta ke sini?       “Ayahmu benar,” ucap Om Tirta perlahan seolah mengalah. “Kamu pasti capek sekali. Kita akan bicarakan hal ini nanti.”       “Fredian, sebaiknya kamu istirahat juga, Nak,” ucap ibu pada Fred, untuk sesaat aku memiliki firasat aneh bahwa ibu menolak untuk menatap padaku, tapi ternyata ibu menoleh padaku. “Kakakmu lagi di dapur, menyiapkan makan siang, nanti akan ibu suruh dia membawakan makanan ke kamar kalian.”       Fred menurut, ia bangkit dari sofa lalu melangkah maju menuju tangga yang letaknya bersisian dengan dapur. Aku mengikutinya. Aroma sedap makanan tercium hidungku saat melewati dapur.       “Fred, apa kau tahu sebenarnya ada masalah apa ini?” tanyaku padanya ketika kami sama-sama tengah menaiki tangga.       Fred yang berada di depanku menoleh ke belakang. “Aku tak tahu apa-apa, Dennis. Sepertimu.” Kemudian ia kembali berderap menaiki tangga dan masuk ke kamarnya sendiri.       Kamarnya berada di lantai dua, sementara milikku di lantai tiga dekat dengan kamar tamu. Kunaiki lagi sebuah tangga, sambil membayangkan diriku sebentar lagi akan melepas rindu dengan ranjang di kamar. Namun, aku terdiam di ambang pintu yang terbuka ketika melihat seorang perempuan tengah berdiri di dekat jendela kamar, membelakangiku.       Sosoknya segera kukenali sebagai Bibi Immelda, istrinya Om Tirta. Aku menyapa pelan, “Bibi Immelda?”       Punggungnya bergerak, ia membalikkkan badan. Sebuah senyum serta merta timbul tatkala ia melihatku. “Dennis, kamu baru sampai?”       Aku melangkah masuk. Dan mengangguk.       Bibi Immelda memiliki ciri fisik yang mudah diingat. Kulitnya hitam, lebih gelap dari Om Tirta. Tinggi badannya setara dengan Ares, wajahnya tampak simetris dengan tulang pipi yang besar. Tatapan matanya dalam, entah bagaimana aku bisa menemukan tatapan lembut dan keras secara bersamaan dalam sorot matanya. Rambutnya yang hitam ikal tergerai hingga puggung. Bibi Immelda seperti sosok wanita tangguh yang menunjukkan bahwa menangis dan mengeluh bukanlah sifatnya. Dalam hal usia, ia sama seperti ibuku. Sudah tak lagi muda.       Anehnya, ia hanya berdiri di sana, kini membelakangi jendela. Menatapku, dengan senyum penuh arti yang tak surut dari bibirnya. Dari dulu, sejak masih kecil, Bibi Immelda memang tipe orang yang tak banyak bicara.       Hingga akhirnya suara Om Tirta terdengar di belakangku. “Immelda, sayang. Kenapa kau di sini? Jangan ganggu Dennis. Dia butuh istirahat setelah menempuh perjalanan. Ayo kita ke kamar.”       Bibi Immelda mengangguk-anggukan kepalanya, tapi tatapan itu masih tertuju ke arahku. Kemudian ia berjalan ke luar kamar menghampiri suaminya.       “Istirahatlah, Dennis,” ucap Om Tirta padaku. “Kamu membutuhkannya.”       Aku melirik ke arah mereka, yang masih menatapku dengan cara yang ganjil, lalu kudorong pintu hingga tertutup dan mengernyitkan dahi.       Entah masalah apa yang sebenarnya terjadi, tapi aku merasa bahwa masalah itu cukup serius hingga ayah bereaksi keras seperti tadi, bahkan Om Tirta sampai menyempatkan diri berkunjung ke sini meski dia tinggal di kota yang berbeda. Yang kutakutkan, masalah itu ada hubungannya denganku---tapi itu terdengar konyol bahkan hanya untuk dipikirkan. Komunikasiku dengan Om Tirta sampai saat ini masih bisa dihitung dengan jari, tak mungkin aku menjadi penyebab dari masalah apa pun ini.       Kepalaku tengah berusaha mencari pikiran positif. Mungkin ini hanya masalah sepele, dan kunjungan Om Tirta ke sini murni untuk menyambung tali silaturahmi dengan keluargaku. Dulu, aku pernah mendengar desas-desus dari Kak Irma, bahwa ayah sebenarnya tak begitu merestui pernikahan Om Tirta dengan Bibi Immelda, membenci keputusannya untuk menetap di kota Medan. Itulah yang menjadi alasan dari pertengkaran mereka berdua. Aku mencoba meyakinkan diriku sendiri, ini hanya masalah kecil.       Namun, bagian dari diriku yang tak henti-hentinya bersikap pesimis, yakin bahwa kedatangan tamu tak terduga ini ada sangkut-pautnya denganku.       Aku menghela napas perlahan, merasa bodoh atas kekhawatiranku yang tak beralasan, segera kujatuhkan badanku ke atas ranjang yang tertutupi seprai biru. Merebahkan tubuhku dan membiarkan sarafku rileks. Ini adalah kamar yang kutempati sejak kepindahan kami di sini, suasananya benar-benar membuatku nyaman hingga perlahan rasa kantuk melanda.       Perlahan, kedua mataku terpejam.   ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD