Bandung. 10:55 WIB.
Posisi matahari sudah nyaris berada di atas kepala saat mobil travel akhirnya sampai di tempat tujuan. Sang supir yang turun pertamakali segera masuk ke dalam gedung tempat pembelian tiket yang menyatu dengan sebuah hotel untuk beristirahat, dua orang pemuda berseragam karyawan segera menghampiri, salah satunya membantu membuka pintu mobil dari arah luar, sementara satu orang lagi menuju belakang mobil dan membuka bagasi, mengeluarkan barang-barang para penumpang yang dijejalkan di sana.
Meski cuaca di Bandung tak sepanas Jakarta, mataku menyipit saat aku keluar dari mobil dan dihujani cahaya terik siang hari. Fred mengikutiku turun dari mobil lalu menepuk bahuku, menyuruhku untuk mencari Ares---teman yang memang sudah direncanakan akan menjemput kami---sendirian sementara ia akan mencari warung terdekat lebih dulu untuk membeli permen yang rupanya masih kurang (Fred sampai menghembuskan napasnya lewat mulut ke arahku untuk memastikan bahwa masih tercium aroma alkohol dari dirinya).
Tak sulit untuk menemukan sahabatku itu, setelah aku mengambil semua barang bagasi, aku mendengar seseorang memanggilku di pinggin jalan seraya melambai-lambaikan tangannya. Aku membalas lambaian tangannya itu, sosok Ares yang kurus dan sedikit lebih pendek dariku tengah bersandar di badan mobil hitam miliknya.
“Hai, Res,” sapaku menghampirinya setelah berhasil melepaskan diri dari kerumunan para penumpang.
Ares segera membantuku memasukan barang-barang ke dalam bagasi mobilnya. “Dennis, kupikir kalian tak jadi pulang,” balasnya lalu melihat-lihat sekitar. “Di mana Fred?”
“Oh, dia ke warung sebentar, membeli sesuatu. Apa kau sudah menunggu lama?”
Ares mengangguk pelan, membuat rambut jabrik hitam miliknya bergerak-gerak. "Nyaris dua jam. Aku sudah menunggu di sini sejak jam sembilan, bukannya kau naik travel keberangkatan paling pagi?"
Aku mengangguk, lalu meringis sebagai bentuk permintaan maaf. “Jalanan macet sekali tadi. Akhir pekan seperti biasa.”
“Sudah kuduga,” gerutunya, menutup pintu bagasi dan mengajaku masuk mobil, kemudian ia bertanya, “Omong-omong, apa kabar yang beredar akhir-akhir ini benar? Fred dan Fatma benar-benar sudah putus?”
Kedua alisku terangkat, heran dengan pertanyaan yang mendadak terlontar darinya. “Dari mana kau tahu itu? Fatma yang memberitahumu?”
“Tidak juga,” jawabnya memasuki mobil, duduk di kursi kemudi dan aku di sebelahnya. “Aku hanya menebak-nebak. Fatma menghapus nama Fred dari status BBM-nya, dan status f*******:-nya juga akhir-akhir ini menunjukan kegalauan.”
Aku tertawa, meski dalam hati merasa sedikit cemas jika Fatma secara tidak sadar menuliskan penyebab hubungannya berakhir di salah satu media sosialnya. “Ya, itu benar. Mereka sudah putus dua minggu kemarin.”
“Tapi kenapa?" tanya Ares lagi dengan nada terkejut yang menurutku agak berlebihan.
Meski begitu, aku bisa memahami alasan dari keterkejutannya, Fred dan Fatma sudah berpacaran sejak SMA, membuat semua orang tahu bagaimana lamanya hubungan pacaran mereka bedua terjalin. Bahkan ibuku sudah yakin kalau hubungan itu akan maju ke arah yang lebih serius, semacam pertunangan---atau malah pernikahan. Kabar yang terjadi sekarang pastilah sedikitnya akan menimbulkan kegemparan.
Dan, apa yang akan dikatakan orang-orang saat tahu alasan di balik berakhirnya hubungan Fred dan Fatma ini?
Kuputuskan untuk berbohong. "Aku tak begitu paham penyebab mereka putus, hal-hal yang tak kumengerti. Kau tanyakan saja langsung pada mereka berdua.”
Dering pesan masuk di ponselku terdengar menginterupsi obrolan, aku merogohnya di saku jaketku, rupanya sebuah SMS dari Kak Irma, isinya menanyakan keberadaanku sekarang.
Jari-jariku segera mengetikkan pesan balasan.
Baru sampai di Bandung, sekarang masih di Cihampelas. Baru masuk mobil, setengah jam lagi juga sampai di rumah.
Kutekan tombol send, dan tepat saat itulah pintu belakang mobil terbuka dengan Fred yang melenggang masuk, kulihat tangannya menggenggam penuh permen.
“Hai, Fred. Bagaimana kabarmu?” Ares menyapa santai.
“Hmm.” Fred bergumam, perhatiannya terfokus pada permen yang tengah ia buka menggunakan gigi (secara tidak sadar aku membandingkan cara Fred membuka bungkusan permen dengan Kania). “Bagus. Masih waras setidaknya.”
Ares terkekeh pelan. “Putus dengan Fatma tak sampai menjadikanmu gila rupanya. Kenapa kau bisa putus dengan dia?”
Dari kaca spion mobil kulihat kedua mata Fred membulat lebar---terkejut, karena dilempari pertanyaan itu---kemudian raut wajahnya berubah masam. Ia melahap sebutir permen ke dalam mulutnya, meremas cangkangnya dan melemparkan bungkus permen kosong itu ke kepala Ares. “Jangan banyak tanya. Jalankan saja mobilnya. Aku benar-benar ingit cepat sampai rumah.”
Diperlakukan seperti itu, Ares jadi cemberut. Ia menggerutu dengan nada pelan sampai-sampai sulit untuk mendengarnya. Namun, aku yakin terdengar kata-kata “cowok galau sensi” dalam gerutuan Ares itu.
Aku yang melihatnya hanya bisa menahan senyum.
Sudah lama aku mengenal Ares hingga tahu bahwa hal ini cukup mengganggu bagi dirinya, sifatnya yang selalu ingin tahu permasalahan orang lain sudah kukenal dengan baik. Bisa dibilang, Ares adalah teman pertamaku di Bandung, dulu, lima belas tahun yang lalu, setelah kematian Dimas saudara kembarku, keluargaku pindah rumah ke tempat yang benar-benar baru, dengan suasana dan orang-orang baru. Otomatis, aku tak memiliki seorang pun teman kecuali Fred.
Dan Ares, yang tinggal tepat di sebelah rumah baruku, adalah satu-satunya orang yang bisa kujadikan teman. Fakta bahwa kami bertetangga mungkin satu-satunya alasan kenapa kami bisa bersahabat. Maksudku, Ares baik, dia teman yang asik. Namun, dilihat dari binar kekanak-kanakan di matanya, siapa pun dapat melihat bahwa Ares bukanlah orang yang bisa diajak berdiskusi serius, seolah sebagian besar sifat anak kecilnya masih menetap dalam otaknya sampai sekarang dan enggan untuk pergi (Ares sudah berumur seperempat abad---sepertiku).
Itulah alasan utamaku sulit untuk terbuka tentang permasalahanku mengenai Fred padanya.
Berbeda dengan perjalanan dari Jakarta ke Bandung, perjalanan dari Cihampelas ke rumah nampaknya lancar, kondisi jalanan di Bandung memang lengang jika siang hari, terutama hari minggu. Celotehan Ares tak henti-hentinya mengalir seraya mobil meluncur. Banyak yang ia tanyakan padaku juga Fred, kebanyakan mengenai pekerjaan dan kehidupan di Jakarta yang kami jawab seperlunya, karena rasanya malas sekali membicarakan masalah pekerjaan di waktu santai begini. Entah Fred menyadarinya, tapi kurasa Ares berusaha mengungkit-ngungkit tragedi putusnya Fred dan Fatma, obrolan seputar apa pun, pertanyaan Ares selalu tak jauh-jauh dari Fatma, kegigihan Ares dalam mengorek informasi memang patut diapresiasi.
Namun ternyata, Fred menyadari hal itu, karena hingga pada suatu titik ia merasa lelah meladeni pertanyaan Ares mengenai hubungan Fred dengan Fatma setelah putus.
“Hei, kudengar kau sudah punya pacar baru?” tanya Fred sebagai sebuah pengalihan, menolak menjawab pertanyaan yang Ares lemparkan sebelumnya. Fred juga melirik ke arahku sekilas, sorot matanya kesal, atau mungkin meminta tolong.
“Ya, aku sudah punya pacar baru.” Ares menjawab dengan nada bangga, begitu mudahnya perhatian ia teralih pada hal lain. “Namanya Darla. Kami baru berpacaran satu bulan. Dennis sudah tahu itu. Iya ‘kan, Dennis?”
Kepalaku mengangguk spontan, selama di Jakarta, aku dan Ares memang sering berkomunikasi lewat chat media social, dan sebulan ke belakang ini apa yang kami bicarakan selalu mengenai Darla, sang pacar barunya.
Tak mungkin aku tak mengetahui itu karena Ares selalu mengabariku mengenai perkembangan hubungannya. Aku sendiri belum mengenal pacar baru Ares itu, hanya baru melihat fotonya. Namun tiap kali berusaha mengingatnya, bayanganku selalu tak bisa lepas dari Darla sosok gadis kecil, berkawat gigi pembunuh ikan yang ada di film Finding Nemo.
“Kau harus mempercayai ini, Fred. Ares sudah punya pacar baru,” ujarku, menanggapi perkataan Ares. Nada bicaraku terdengar melebih-lebihkan bahkan oleh diriku sendiri.
Fred mendecak tak percaya, antara takjub atau senang karena berhasil mengalihkan perhatian Ares. “Itu luar biasa. Bagaimana bisa kalian berpacaran?”
“Terjadi begitu saja,” jawab Ares, matanya tak menoleh sedikit pun dan hanya menatap ke arah jalan di depannya. “Darla itu mahasiswi pindahan baru di kampus, dan temankulah yang mengenalkan aku padanya, kami langsung dekat begitu saja dan jadian.”
Berbeda denganku yang kini langsung kerja setelah lulus kuliah strata satu, Ares sekarang masih melanjutkan pendidikannya ke strata dua jurusan ekonomi.
“Dan dia langsung menerima ajakanmu untuk berpacaran?” Fred bertanya lagi, keheranan di matanya tampak tulus kali ini.
“Oh tidak, bukan aku yang menembaknya. Dia yang memulainya lebih dulu.”
“Apa?” ujar Fred nyaris tersedak permen. Keterkejutan dalam nada suara Fred mustahil tak terdengar. Yang bagiku wajar, karena reaksiku pun begitu waktu mendengarnya untuk pertamakali dulu. “Kenapa aku sulit mempercayai ceritamu ini?”
Ares berdecak sebal. “Sudah kuduga reaksimu bakal begitu. Aku tahu kau memang tak suka sifat kekanak-kanakanku, Fred. Tapi percayalah, kharismaku sebagai cowok ceking keren kian hari semakin kuat saja memancar.”
Aku terbatuk kecil berulang kali, sementara Fred berdeham keras sekali hingga hampir menyerupai geraman. Yah, aku dan sepupuku punya cara yang berbeda dalam usaha menahan gelak tawa. Kami berdua tahu, Ares akan sangat tersinggung jika kepercayaan dirinya sendiri kami tertawai seperti itu.
Kubuang pandanganku ke arah luar, mobil sudah memasuki gerbang komplek perumahan kami. Tinggal beberapa belokan lagi, kami akhirnya pulang. Meski aku sadar bahwa Bandung bukanlah tempat kelahiranku, tapi aku tak bisa mengenyahkan perasaan kuat bahwa aku kini tengah bergerak menuju kampung halaman.
Lagi pula, semua keluargaku ada di kota ini.
“Oh aku baru ingat,” ujar Ares mendadak ketika mobil akhirnya berhenti tepat di depan pagar rumahku.
“Nanti malam akan ada pasar malam di alun-alun, apa kalian berdua mau ikut?”
Kepalaku memikirkannya sejenak. Jalan-jalan malam sepertinya asik, dan aku juga butuh pengalihan agar tak selalu memikirkan Kania terus menerus … aku mengangguk. “Tentu saja, sepertinya seru.”
“Bagaimana denganmu, Fred? Aku sudah mengajak Fatma tadi pagi, dia mau ikut nanti malam,” Ares bertanya sembari ‘merayu’. Menjanjikan kehadiran Fatma jelaslah membuat Fred bimbang.
Fred terdiam cukup lama.
“Aku traktir bakso dan tiket naik bianglala, deh,” bujuk Ares kembali, dari nada bicaranya, ia tak tampak menyadari bahwa bujukan itu terlalu konyol. “Lagian ini juga waktu yang pas untukku mengenalkan Darla pada kalian.”
Akhirnya, Fred membuang napas berat. “Oke, aku ikut. Tapi aku tak melakukan ini karena ada Fatma juga. Aku hanya … butuh hiburan.”
Jalan-jalan malam bersama mantan pacar sepertinya tak akan membantu menghibur hatimu yang galau merana, batinku spontan. Namun, aku tak mau mengucapkan hal itu secara terang-terangan.
“He-eh, iya deh. Sip. Aku akan menjemput kalian nanti jam delapan malam. Sekarang pergilah, cepat turun dari mobilku. Hush sana.” Ares melambai-lambai tangannya ke arahku dengan lagak tengah seperti mengusir anjing galak.
Kedua bola mataku terputar, kubuka pintu mobil di sebelahku dan beranjak ke luar.
“Terimakasih sudah mau mengantar kami Ares,” kataku tulus sekali. “Semoga kau sampai ke rumah dengan selamat.”
“Kau yakin?” tanyanya. “Apa kau yakin aku bakalan sampai rumah dengan selamat?” Ekspresi wajahnya serius, namun kilat jahil di matanya jelas menunjukan bahwa ia sedang bergurau.
Dengan lagak serius, kualihkan mataku dan menoleh ke sekeliling. Tepat di samping rumahku, sebuah rumah tiga tingkat dengan cat biru laut tampak berdiri dengan lampu depan yang menyala, itu rumah Ares. Hanya berjarak beberapa meter dari tempatku berdiri sekarang. Aku cukup yakin tak ada masalah apa pun yang akan menghambat perjalan Ares yang singkat menuju rumahnya. Namun, yang kulakukan adalah: aku melirik Ares dengan ekspersi khawatir yang terpampang di wajahku.
“Aku tak yakin,” jawabku dengan nada seserius mungkin, “bisa saja ada meteorit besar yang mendadak muncul dari langit. Jatuh menimpa mobilmu hingga hancur berkeping-keping dan kau pun mati.”
Fred yang baru saja turun dari mobil tergelak keras.
Alih-alih tersinggung, Ares nyengir lebar dan ikut tertawa. “Aku tak peduli apa katamu, sampai nanti malam.”
Mobil hitamnya kembali melaju pelan---dengan selamat---menuju rumahnya.
***