Jakarta. 21:35 WIB. Tok. Tok. Tok. “Dennis! Dennis, apa kau di dalam?” Mataku terbuka secara perlahan, untuk beberapa detik terdiam selagi menunggu pengelihatanku terfokus. Aku segera terduduk dari sofa dan merasa limbung sedikit. Kuregangkan tubuh lalu menguap selebar-lebarnya. Kulirik jam di dinding. Pukul sebelas. Apa ini masih malam? Pikirku, tapi segera kusadari bahwa cahaya matahari sudah muncul dari celah jendela bertirai. Ini pasti sudah siang. Kepalaku terasa sakit, akibat dari durasi tidur yang panjang, tapi fakta itu segera kuterima dengan senang, akhirnya aku berhasil melewati malam mencekam itu dengan selamat. Suara gedoran pintu masih terdengar dengan susulan suara seorang pria yang meningkahi. “Dennis? Ya ampun, tolong jawab a

