21. Teror Dalam Kesendirian

1553 Words

Jakarta. 18:22 WIB.       Kukira aku sudah siap untuk menerima konsekuensi dari keputusanku tadi sore, tapi saat akhirnya ponselku berdering dengan nama Ayah tertera di layar, nyaliku jadi ciut.       Saat itu sore sudah beranjak menjadi malam hari. Aku berada di ruang kerja---sendirian, menduduki sebuah kursi empuk bersandar di belakang meja. Sebuah komputer menyala di hadapanku, menampilkan visual dari game Solitare.       Yah, seharusnya aku membuka e-mail dan membalas pesan elektronik yang dikirimkan para klien---seperti yang selalu dilakukan Fred jika ia bertugas. Namun perasaanku sangat tak keruan saat ini, jantungku berdebar dengan tempo yang lebih cepat dari detakan normal. Firasatku mengatakan ini akan berakhir buruk. Saat itulah ponsel yang kuletakkan di samping monitor ko

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD