5. Sebatas Realita

1401 Words
Jakarta. 22:53 WIB.       Cukup sulit untuk membawa Fred ke dalam rumah saat akhirnya mobil terparkir di halaman rumah. Aku bahkan sampai harus menyeret tubuhnya ketika melewati teras untuk menuju pintu depan. Kubuka pintu itu yang kuncinya berada dalam saku celanaku sambil memapah Fred yang masih tak sadarkan diri.       Ini merepotkan sekali.       Aku segera menghempaskan tubuh Fred yang berat ke sofa besar di ruang tamu setelah masuk rumah. Dan kurebahkan tubuhku sendiri di sofa yang lain. Ukuran ruang tamu rumah ini memang cukup luas hingga beberafa sofa berukuran besar mendominasi ruangan. Dulu Ibuku lah yang bertugas menata setiap benda yang ada, dan sampai sekarang tak ada perubahan yang berarti semenjak semua keluarga meninggalkan rumah ini.       Terkadang, ada rasa kesepian yang menyelinap di hatiku karena hanya tinggal berdua saja dengan Fred di rumah seluas ini. Terlebih lagi rumah ini selalu mengingatkanku pada saudara kembarku yang telah lama meninggal, lima belas tahun lalu.       Ya, aku terlahir kembar. Aku dilahirkan lima menit kemudian setelah kembaran identikku lahir. Dimas namanya, dan ketika berumur sepuluh tahun, ia meninggal. Karena lemah jantung seingatku.       Namun kematiannya merupakan pukulan berat bagi semua orang, hingga keluargaku memutuskan pindah rumah ke Bandung. Berusaha mengganti suasana, berharap agar duka yang melekat erat pada kami semua segera sirna.       Meski begitu, rumah ini tak pernah dijual. Dikarenakan ayahku yang saat itu baru merintis usaha, tentu ayah tak bisa meninggalkan itu semua di Jakarta. Semenjak itu rumah ini hanya dijadikan 'rumah singgah' untuk Ayahku selama ia di Jakarta mengurus bisnisnya.     Dan tak disangka-sangka, usaha yang dirintis Ayahku itu mengalami kemajuan dan berkembang dengan pesat. Bisnis itu bergerak di bidang jasa kepengurusan dokumen dan surat-surat tenaga kerja asing. Sampai saat ini telah ribuan expatriete (tenaga kerja asing) yang pernah atau saat ini di tangani bisnis Ayahku, baik yang aktif maupun non-aktif.       Lalu dua tahun lalu ketika Ayah merasa dirinya sudah terlampau tua untuk berbisnis, memutuskan pensiun dari pekerjaannya, menyerahkan seluruh bisnisnya itu padaku dan Fred.       Sekarang, sudah dua tahun lebih aku tinggal di Jakarta bersama Fred mengurus usaha itu. Terpisah jauh dari keluargaku yang sampai saat ini masih menetap di Bandung.       "p****t Ular." Gumaman Fred yang pelan dalam ketaksadarannya membuyarkan lamunanku.       Kedua bola mataku memutar. Sejak kapan ular punya b****g?       Aku segera beranjak dari sofa dan keluar rumah, memasukkan mobil ke dalam garasi untuk pengamanan lebih. Berita perampokan yang gencar diberitakan media massa saat ini membuatku enggan untuk membiarkan mobil hanya terparkir di halaman rumah. Hidungku mengernyit saat masuk ke dalam mobil, bau muntahan Fred terasa menusuk indra penciumanku. Besok pasti akan lebih parah aromanya.       Setelah selesai memasukan mobil ke dalam garasi, aku berjalan masuk kedalam rumah, mengunci pintu depan dan langsung menaiki tangga menuju kamarku di lantai atas, membiarkan Fred masih dalam keadaan kacau di atas sofa ruang tamu.       Hal ini memang sudah menjadi semacam kebiasaan jika aku menjemput Fred pulang ketika hobinya 'minum' hingga teler itu kumat. Cukup hanya mengantar ia selamat sampai rumah. Selebihnya, aku tak mau tahu. Fred sudah terbiasa tidur dalam kondisi berantakan seperti ini.       Sebelum tidur aku memutuskan untuk mandi terlebih dulu, hanya sedikit membilas tubuhku agar bau muntahan Fred serta wangi parfum yang kugunakan segera luntur.     Sepertinya sifat antipatiku terhadap parfum takkan pernah hilang.       Selepas mandi aku segera melemparkan tubuhku sendiri ke atas ranjang. Berpikir bahwa hari ini adalah hari yang paling melelahkan. Aku takkan pernah bisa menebak dengan pasti bagaimana sebuah hari akan berakhir, tak peduli seberapa baik atau buruknya aku memulai hari itu.       Iseng, sebelum tidur aku mengecek ponsel yang kuletakkan di meja berlaci di samping ranjang, ini adalah kebiasaan rutinku sebelum tidur. Ternyata ada sebuah pesan masuk. Yang dari keterangan waktunya, pesan itu masuk ketika aku masih berada di kamar mandi.       Dennis, besok kau jadi pulang, kan? Bunyi pesan itu. Dari Kakak perempuanku, Kak Irma.       Kutekan tombol replay.       Ya. Aku dan Fred akan pulang naik travel besok. Keberangkatan pagi. Sampai rumah paling jam 11 siang. Memangnya kenapa? Ketikku, lalu menekan tombol kirim.       Satu menit, dua menit dan tiga menit berlalu, namun tak ada satupun pesan balasan yang masuk. Akhirnya kuputuskan untuk menelepon nomornya.       "Lama banget balas SMS-nya," gerutuku langsung memulai pembicaraan ketika Kak Irma menjawab panggilanku.       Terdengar desah panjang dari seberang sana. "Ini Kak Irma lagi ngetik, kamu malah telfon. Kebiasaan nih, gak sabaran." Suara yang sangat kukenal itu terkekeh pelan. "Kak Irma cuma mau mastiin aja. Jangan sampai kamu batalin rencana pulang lagi kaya kemarin-kemarin. Besok harus jadi ya?"       Jawaban 'ya' masih tersangkut dalam tenggorokanku saat kudengar suara keributan di sebrang telepon. Aku mengenali salah satunya sebagai suara Ayahku yang sangat menggelegar itu, memaki dengan nada tinggi entah pada siapa.       "Kak, itu suara Ayah kan? Ayah kenapa?" selidikku, agak cemas.       "Ada masalah." Kak Irma menjawab, nadanya seketika bergetar. "Kamu lihat aja besok. Ini sudah hampir tengah malam. Sebaiknya kamu tidur sekarang. Oke? Dah."       "Tapi Kak ...." Dan kata-kataku terhenti ketika mendengar nada 'bip' pendek yang menandakan sambungan telepon telah berakhir.       Aku menggertakkan gigi kesal. Penasaran atas apa yang sedang terjadi di sana. Bukan hal yang baru bagiku mendengar Ayah murka. Ayahku memang agak tempramental dan kurang bisa menahan emosinya saat sedang marah.       Namun ledakan amarah tadi, apa penyebabnya?       Kusadari bahwa aku takkan mengetahui jawabannya malam ini. Aku menenggelamkan kepalaku sendiri ke dalam tumpukan bantal. Berusaha untuk tidur. Dengan kenangan mengenai kegagalan kencanku bersama Kania, Sepupuku yang suka mabuk, dan ledakkan amarah Ayah yang baru saja kudengar sebagai dongeng pengantarku menuju alam mimpi.       Tentu saja tidurku amat sangat gelisah malam itu.       Keesokan paginya, aku terbangun dengan mata masih mengantuk, akibat dari tidurku yang tak nyenyak. Aku masih ingin tidur, tapi jam sudah menunjukkan pukul 05:45 pagi hari. Harus bersiap-siap dari sekarang jika tak ingin tertinggal travel keberangkatan pagi.       Ketika aku turun ke lantai bawah, kulihat sofa di ruang tamu yang semalam ditiduri Fred kosong. Aku menemukan sepupuku itu berada di dapur---dalam keadaan sadar tentunya---tengah memasak. Sebuah piring di dekat kompor sudah dipenuhi dengan sosis dan telur matang yang bertumpuk-tumpuk. Sebotol saus sambal di sampingnya.       Dan dari penampilannya sepertinya Fred sudah siap untuk berangkat. Jaket Bomber dan celana denim gombrong serta sepatu Adidas hitam. Setelan Fred yang biasa jika ia memang akan berpergian. Rambutnya pun sudah di-gel rapi.       "Nah, kau sudah bangun ternyata," ucap Fred yang menyadari kedatanganku, tatapannya tak lepas dari telur yang tengah ia goreng.       Aku berjalan pelan memasuki dapur. "Yup. Dan kau juga sudah tidak mabuk lagi rupanya." Aku mengambil satu sosis matang dari piring dengan tangan, masih hangat, mengolesinya dengan saus sambal, lalu melahapnya dalam beberapa gigitan.       "Aku takkan meminta maaf karena tak mendengar kata-katamu semalam," ujarnya tak acuh. Ternyata ia menyadari nada menyindir dalam ucapanku.       "Aku tak pernah berharap kau akan meminta maaf." Aku mengunyah sosis yang kumakan, lalu menelannya. "Apa kau sadar semalam kau muntah di mobil lagi?"       Fred menoleh menatapku, nyengir kuda. "Kurasa iya. Aku sudah berusaha membersihkannya tadi, tapi sepertinya baunya belum hilang."       Sudah kuduga. Sepertinya aku harus memasang air freshner di dalam mobil. "Dan kau juga semalam membuat kericuhan hingga sempat menyerang pengunjung lain. Kau sadar itu?"       Fred meringis menatapku. "Separah itukah?"       Aku mengangguk cepat. "Tak ada korban jiwa, itu sisi baiknya. Tapi seorang security terluka karena diserang olehmu. Dan kau juga berhasil membuat malam akhir pekan sepupumu ini berakhir buruk."       Untuk pertama kalinya, kulihat gurat penyesalan membayangi wajahnya. "Apa ulahku semalam membuat kencanmu gagal?"       "Ya begitulah. Kencanku gagal total karena kau," tuduhku tajam. Meskipun menyadari bahwa status 'janda' yang disandang Kania itu tak ada hubungannya dengan Fred. Aku hanya ingin mencari orang lain yang bisa disalahkan.       Kejam memang, tapi aku tak perduli.       Fred kembali memperhatikan telur yang ia goreng, kepalanya sedikit menunduk merasa bersalah. Ia taruh telur yang sudah matang di atas piring lalu mulai memecahkan telur lainnya untuk digoreng. Fred sesungguhnya tak begitu pandai memasak, namun dalam hal mengubah telur dan sosis mentah menjadi matang ia cukup bisa diandalkan. Aku juga bisa, tapi aku kurang pandai menakar garam untuk setiap butir telur yang kugoreng. Telur hasil masakanku selalu keasinan.       "Pengawal yang kuserang itu, apa lukanya parah?" tanya Fred setelah mengulur waktu.       "Sepertinya tidak. Hanya tangannya saja yang sedikit teriris, tak begitu parah karena kulihat hanya diperban."       "Tetap saja, sepertinya aku harus meminta maaf secara langsung pada pengawal itu, iya kan?       "Tak perlu," sergahku, "aku sudah mewakilimu untuk meminta maaf padanya semalam. Lagi pula, sepertinya pengawal itu sudah cukup puas melihat kepalamu terbentur tadi malam."       "Kepalaku apa?" tanya Fred bingung menatap lagi kearahku.       "Semalam kepalamu terbentur badan mobil cukup keras saat para pengawal itu berusaha memasukanmu ke dalam mobil." Sudut bibirku sedikit terangkat mengingat kejadian menggelikan itu. "Jadi kau jangan terkejut jika merasakan sedikir memar di kepalamu itu."       Rasa penyesalan sedikit menyurut di raut wajah Fred. "Ya, aku merasakannya," gerutu Fred seraya mengusap pelan belakang kepalanya dengan satu tangan. Lalu Fred meringis.       Aku tertawa lepas.   ***  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD