Jakarta. 22 : 05 WIB.
SMS yang berisikan alamat kelab malam itu datang tiga menit kemudian, dan membutuhkan waktu tiga puluh menit penuh untuk sampai ke sana. Aku agak merinding ketika melihat gedung dengan alamat yang dimaksud. Bangunannya tak begitu mencolok. Berlantai tiga dengan cat kelabu. Puluhan motor berjejer rapi di halaman parkir, hanya ada beberapa mobil di sana.
Papan reklame besar bertuliskan 'Oh! My Oh! Night Club' dipasang menempel pada bangunan itu yang membuatku tahu bahwa itu adalah tempat hiburan malam. 'Oh! My Oh!'? Sebelah alisku terangkat tinggi-tinggi membaca nama club malam ini. Kreatif sekali. Terdengar mirip dengan salah satu nama produk Mayonaise bagiku.
Pintu depannya yang dijaga dua pria bertubuh besar beberapa kali terbuka dan tertutup ketika beberapa orang masuk kedalam gedung itu. Kebanyakan dari mereka anak muda dengan pakaian stylish. Aku mencoba membayangkan bagaimana reaksi kedua orangtuaku jika sampai mereka tahu aku pernah mengunjungi tempat semacam ini. Mengusirku dari rumah? Tak dianggap anak mereka lagi? Atau merebusku hidup-hidup mungkin? Kemungkinannya tak terbatas.
Aku menepikan mobilku di pinggir jalan, meskipun lapangan parkir yang luas itu masih cukup ruang untuk beberapa kendaraan lagi. Aku memang tak berniat untuk berada di sini terlalu lama. Aku segera keluar dari mobil dan bejalan mendekati gedung itu. Namun sebelum aku bahkan bisa masuk, kedua pengawal yang tengah berjaga segera menghadang jalanku, menutupi pintu masuk.
"Maaf, bisa tolong anda tunjukkan kartu undangan dulu sebelum anda masuk?" Salah seorang pengawal berbadan tegap dengan kepala hampir botak bertanya. Nada suaranya ramah, tapi tegas.
Aku menaikkan sebelah alisku. Jadi ada semacam privat party di dalam sana? Aku penasaran darimana Fred bisa mendapat undangan ke pesta ini. Aku tersenyum ramah. "Maaf, kedatangan saya kemari bukan untuk itu. Kira-kira setengah jam yang lalu saya mendapat telepon dari Emma ... manajer club malam di sini?" Aku mengubah kata-kata terakhir itu menjadi pertanyaan retoris. "Saya diberitahu bahwa seorang pria bernama Fredian Rico sempat membuat kericuhan di sini, apa itu benar?"
Sesaat kedua pengawal itu saling melirik satu sama lain. Lalu pengawal yang lainnya–berkulit gelap dan lebih tinggi–menatapku garang. "Ya, itu benar. Jadi tujuan anda datang kemari untuk menjemputnya?"
Aku heran mendengar nada marah dalam suaranya. Dan sorot dingin di matanya juga tak menunjukkan keramah tamahan sama sekali.
Aku hanya bisa menganggukan kepala sebagai jawaban.
"Ikuti saya kalau begitu," kata pengawal yang berkepala hampir plontos itu padaku. Aku mengangguk lagi dan mengikutinya. Sementara pengawal yang satunya lagi -yang tidak ramah- diam di tempatnya berdiri.
Awalnya aku mengira aku akan diantar memasuki gedung itu. Tapi tidak, penjaga itu menuntunku ke sisi lain gedung, memasuki gang sempit yang menjadi pemisah dengan gedung lain di sebelahnya. Gang itu pengap dan lembap dengan penerangan minim. Bau alkohol serta anggur hasil Fermentasi menguar di udara ketika aku berjalan semakin dalam memasuki lorong sempit itu, hingga akhirnya penjaga itu mengantarku ke hadapan sebuah pintu bercat hitam bertuliskan 'GUDANG PENYIMPANAN'.
Aku menatap pengawal itu kebingungan.
Sadar dirinya sedang kupandangi, pengawal itu menoleh padaku dengan senyum kikuk yang tercetak di bibirnya, seperti ia tahu alasan kebingunganku. Pria itu menjelaskan, "Maaf kami terpaksa mengunci kerabat Anda di dalam sini, karena setelah kegaduhan yang dibuatnya kami tak mungkin membiarkannya berada di depan orang banyak."
Aku masih menatap penjaga itu, masih kebingungan. "Dan kalian menguncinya sendirian di ruang pengap ini?" tanyaku, sedikit panik. Aku hafal betul bagaimana tingkah Fred jika ia tengah dikuasai candu alkohol.
"Teman anda sudah menyerang pengunjung lain dengan botol." Ucap pria itu membela diri. "Salah satu temanku bahkan sampai kena, pergelangan tangannya sedikit teriris saat temanmu itu menyerangnya dengan pecahan botol."
Mataku melebar saking terkejutnya. "Benarkah?"
"Iya betul. Kau baru saja bertemu dengannya. Temanku yang tadi sedang berjaga denganku di depan, kau tidak memperhatikan perban yang menutupi pergelangan tangan kanannya?"
Aku menggeleng. Aku memang tak begitu memperhatikan penampilan orang itu secara keseluruhan. "Pantas saja temanmu itu bersikap kurang ramah padaku tadi." Aku menggerutuku.
Anehnya penjaga itu tertawa mendengar gerutuanku. "Harap maklum. Oh dan ya temanmu tidak kami tinggal di dalam sana sendirian. Boss-ku yang menjaganya."
Mulutku membentuk huruf 'O' tanpa suara. Sedikit lega, lalu, "Bisakah anda membuka pintunya sekarang?" Aku bertanya, dari tadi kami hanya berdiri di depan pintu itu.
Pria itu langsung menyadari apa tugasnya. Ia meringis kepadaku seperti meminta maaf. Lalu dibukakanlah pintu itu.
Karena aku tak pernah menyukai minuman keras---apalagi menyicipnya---aku jadi sedikit limbung saat aroma alkohol yang menguar dari ruangan itu menghantam indra penciumanku begitu kuat. Gudangnya luas dengan berderet-deret rak penuh botol berisi cairan anggur fermentasi. Pada setiap rak diberi kode yang tebakanku menunjukkan jenis minuman yang berada di dalamnya.
Penerangannya cukup terang hingga aku bisa melihat keadaan di dalam sana dengan jelas, berdinding semen dengan cat biru dongker. Mataku meneliti setiap detail ruang itu. Gudang itu tengah dihuni dua orang. Seorang perempuan berpenampilan mengerikan yang bersandar pada salah satu rak yang menempel pada dinding. Dan seorang pria tengah tergeletak di pojok ruangan di atas lantai marmer.
Aku mengerang keras. Yah, pria yang tengah tak sadarkan diri itu. Itu Fred.
Mengatakan bahwa Fred tak sadarkan diri sepertinya tak begitu tepat, karena sesekali mulutnya bergerak disertai lenguhan pelan. Aku pasti akan tertawa terbahak-bahak jika kondisinya tak semenyebalkan ini.
"Jadi lo yang namanya Dennis? Lo yang mau jemput tu orang kan?" Wanita yang sedari tadi bersandar pada rak di dinding itu berbicara padaku.
Bukan tanpa alasan aku menyebut penampilan wanita itu mengerikan. Ia memakai kaos hitam usang dengan rompi denim di bagian luar. celana jeans-nya belel dan sobek di bagian lutut. Dan memakai sepatu sneaker putih. Wajahnya? Tanpa make up. Tapi ada tindikan dibagian lubang hidungnya. Dibibir bagian bawah juga ada. Dan di kedua daun telinganya juga ada. Rambutnya super pendek dengan nuansa warna merah darah.
Aku jadi ingat, ibuku sering berpesan padaku agar jangan mendekati wanita yang 'aneh'. Aku yakin sekali wanita 'aneh-aneh' yang ibuku maksud itu adalah wanita seperti ini.
Aku memaksakan mulutku membentuk senyum ramah. "Ya, saya Dennis. Dan atas nama teman saya, sepupu saya lebih tepatnya, benar-benar minta maaf karena telah membuat kekacauan di sini."
Dari sikap angkuh yang ditunjukkannya, jelas sekali bahwa wanita inilah pemilik hiburan malam ini. 'Boss-nya' jika aku mengutip kata-kata pengawal tadi.
Wanita super-seram itu mengangguk. "Ga masalah. Sepupu lo bukan orang pertama yang berulah kaya gini. Semua masalah udah gue beresin. Lo tinggal bawa dia keluar dari sini."
Aku menahan diri agar tidak meringis mendengar ucapan wanita itu. Kata sapaan 'elo-gue' tak pernah kupakai dalam percakapan sehari-hari. Terlalu kasar menurutku. Aku melangkah pelan menuju pojok ruangan di mana Fred terbaring. Penampilannya benar-benar kacau. Kemeja berlengan panjang dengan motif kotak biru-merah yang ia kenakan itu kusut. Beberapa kancingnya terlepas. Celana denimnya pun basah dan lengket berbau anyir.
"Hei, bangun kau!" serukuu seraya menendang pelan onggokan daging tak berguna ini dengan kakiku. Mengacuhkan pandangan heran dari para penontonku di belakang.
Tentu saja Fred tidak membalas perkataanku. Dia hanya melenguh panjang lagu bergumam pelan, "Ekor monyet." Nah, inilah kebiasaan unik Fred jika ia sedang mabuk. Bergumam tentang organ tubuh berbagai macam binatang. Binatang apa saja. Dan jangan tanyakan padaku mengapa itu bisa terjadi. Aku pun tak tahu mengapa.
Sekarang aku tak tahu harus melakukan apa. Bagaimana caraku menggotong Fred keluar dari sini? Apalagi harus memapahnya melewati gang sempit tadi. Pasti susah sekali. Lalu aku tersadar bahwa penjaga bertubuh tegap itu masih bediri di ambang pintu.
Aku melirik pria itu dengan pandangan meminta tolong. "Maaf, bisa tolong bantu saya bawa orang ini keluar? Saya bawa mobil."
Penjaga itu mengangguk lalu keluar dari ruangan itu dan satu menit kemudian ia datang kembali membawa temannya yang tadi berjaga di depan. Dan ternyata benar, pria berkulit gelap, tinggi dan tidak ramah itu memakai perban di pergelangan tangannya.
Aku sedikit meringis mengingat penyebabnya.
Mereka berdua lalu segera menghampiri Fred dan dengan cekatan mengangkatnya keluar menuju mobilku. Tanpa pamit lagi pada wanita super-seram itu, aku segera mengikuti mereka.
Ada sedikit kesalahan prosedur saat kedua penjaga itu berusaha memasukan Fred ke dalam mobil. Barangkali karena bobot tubuh Fred yang berat, kedua penjaga itu menggotong Fred dengan tergesa-gesa dan sempoyongan, sehingga sebelum aku sempat membukakan pintu mobil belakang, kepala Fred tak sengaja terbentur badan mobil cukup keras hingga membuatku memekik kaget.
Suara benturannya terdengar sangat jelas di telingaku.
Rasanya pasti sakit.
Namun kurasa itu bukan salah siapa-siapa. Tak pernah ada buku panduan yang menjelaskan tata cara memasukan orang mabuk ke dalam mobil kan? Pengawal yang berkepala plontos juga kaget lalu melayangkan pandangan meminta maaf padaku, sementara pengawal yang satunya lagi---yang pergelangan tangannya diperban karena diserang Fred---menunduk menyembunyikan seringai puasnya. Menyicipi manisnya membalas dendam.
Aku tak menyalahkannya.
"d**a tupai," gumam Fred tiba-tiba. Pembuktian bahwa Fred tak mengalami geger otak atau apa.
Aku tersenyum. "Tak apa," kataku kepada para pengawal itu seraya membukakan pintu mobil belakang, "masukkan saja dia langsung kedalam mobil. Lebih cepat saya meninggalkan tempat ini semakin baik."
Mereka berduapun menurut. Aku memberikan uang tip kepada mereka karena telah membantuku. Lalu aku pun masuk kedalam mobil dan bergegas pulang menuju rumah.
Masih di dalam mobil saat berkendara pulang, aku memikirkan bagaimana malam ini begitu berubah jauh dari apa yang semula kuharapkan. Aku masih ingat bagaimana rasa gugup dan antusiasku yang campur aduk saat menunggu Kania datang di restoran, atau perasaan bahagiaku saat Kania tesenyum penuh rasa padaku. Pada saat itu -dan dengan kondisi seperti itu- tentu aku mengharapkan sesuatu yang lain, akhir yang lebih membahagiakan, bergandengan tangan dengan Kania di bawah sorot cahaya bulan misalnya. Tapi yang terjadi malah aku berada satu mobil dengan pemabuk yang adalah sepupuku.
Payah.
Tapi aku juga tak bisa menyalahkan Fred sepenuhnya. Meskipun aku kesal padanya karena telah memperburuk keadaan, dan tak mendengarkan kata-kataku untuk tahu batas malam ini, dalam lubuk hatiku yang terdalam aku sebenarnya merasa bersimpati terhadap kondisi Fred saat ini. Hampir setiap malam akhir pekan selalu ia habiskan dengan menenggak minuman keras supaya ia sejenak saja dapat melupakan kepahitan hidup yang ia alami . Demi bisa mendapatkan sedikit ketenangan dari segala kegetiran yang Fred rasakan. Aku sangat bisa memahami hal itu.
Fred sudah menjadi yatim piatu saat berumur delapan tahun. Kedua orang tuanya dibunuh -ditembak mati- seseorang yang membegal mobilnya ketika di perjalanan menuju puncak. Kejadiannya sudah berlangsung lama, saat itu keluargaku masih tinggal di Jakarta. Pada malam pergantian tahun baru, keluarga kami membuat pesta kembang api di Vila keluarga yang berada di daerah puncak Bogor. Seluruh keluargaku serta Fred terlebih dahulu pergi kepuncak, terpisah dengan Ayah dan Ibu Fred yang direncanakan akan menyusul saat malam dikarenakan urusan pekerjaan yang belum usai.
Namun ketika malam datang, ketika semua kembang api telah meledak di angkasa yang hitam, bahkan ketika sorak sorai orang-orang yang bersuka cita menyambut tahun baru telah hilang, kedua orang tua Fred tak pernah datang.
Aku sendiri tak begitu paham bagaimana kejadiannya. Waktu itu aku baru berumur enam tahun. Yang pasti saat ayah dan ibuku akhirnya mengetahui alasan mengapa ayah ibu Fred tak kunjung sampai, keluargaku terguncang hebat. Salah seorang warga menemukan jasad keduanya di tepi jalanan menuju puncak dengan luka tembak. Bahkan kabar pembegalan itu sempat diliput media nasional, jadi pemberitaan media masa. Dengan pemberitaan besar-besaran yang terjadi saat itu, sulit untuk merahasiakan dari Fred mengenai apa yang terjadi pada orang tuanya.
Sampai saat ini, aku tak pernah tahu bagaimana perasaaan Fred kecil saat mendengar kejadian itu.
Pikiranku yang tengah terbang ke masa lalu tiba-tiba saja mendarat pada masa kini saat aku mendengar suara orang tersedak dari kursi belakang. Aku melirik sekilas kearah Fred lalu menatap ngeri. Fred tiba-tiba saja terbangun dan dari mulutnya mengeluarkan cairan bening menjijikan berbau busuk disertai erangan pelan. Cairan itu mengenai kursi mobil penumpang yang kosong dan beberapa ada yang tercecer hingga ke bawah.
Fred muntah. Di mobil, lagi.
Sialan.
***