3. Tak Sesuai Harapan

1705 Words
Jakarta. 20:34 WIB.     Ketenangan, keromantisan dan kehangatan malam ini, kini semua hilang hanya dalam rentang waktu tiga detik.     Tiga detik setelah Kania menucap tiga kata itu, aku segera menarik tanganku, mungkin bisa dibilang menyentakkan tangan Kania menjauh. Lalu, berbagai macam emosi muncul secara berurutan dalam diriku. Terkejut. Terguncang. Terpana. Tak percaya. Bingung. Semua itu kurasakan hampir secara bersamaan hingga membuatku mematung. Membisu.     Janda. Aku seolah-olah tak mengenali kata itu.     Bagaimana bisa? Aku bertanya, membatin pada diriku sendiri. Mengapa bisa aku melewatkan fakta itu? Kini terbongkar sudah penyebab mengapa Kania selalu menutup diri mengenai keterangan pribadinya dariku. Tak memperbolehkan aku mengetahui alamat rumahnya. Selalu ragu jika aku menyatakan keseriusanku untuk melanjutkan hubungan ini.     Dan aku juga belum sepenuhnya bangkit dari rasa keterkejutanku. Benarkah Kania seorang Janda? Single Parent? Sulit untuk mempercayainya, karena selama aku mengenalnya, Kania selalu Ceria. Begitu muda. Aura semangat hidup selalu terpancar darinya ketika ia bicara, layaknya anak muda yang tengah b*******h mengarungi kehidupan dunia. Sulit untuk menerima kenyataan bahwa wanita seperti Kania pernah mengalami kehancuran rumah tangga.     Namun terlepas dari semua itu. Kini emosi yang jauh lebih kuat menguasai diriku. Emosi yang membuat seluruh tubuhku bergetar hebat.     Amarah. Aku amat benci merasa dibohongi.     Kucoba untuk tak menunjukkan rasa marahku pada Kania. Bersikap tenang. Aku tak ingin membuat keadaan malam ini jadi semakin sulit. "Mengapa?" tanyaku, akhirnya bersuara. "Mengapa kau selama ini menutupi statusmu yang sebenarnya dariku?" Suaraku serak. Satu lagi macam emosi yang harus kutambahkan dalam daftar perasaan yang kini tengah melandaku. Kecewa. dan kekecewaan itu tercermin cukup jelas dari nada suaraku.     Sepertinya reaksiku yang kecewa atas pengakuannya tak mengejutkan Kania.  "Maaf aku tak berterus terang sejak awal padamu, Christian." Suaranya sarat penyesalan. "Aku tahu, seharusnya aku memberitahumu tentang statusku yang sesungguhnya sejak awal kau mulai mendekatiku. Tapi aku tak melakukannya, karena ... karena aku begitu berharap padamu. Berharap aku menemukan sesuatu darimu yang membuatku pantas mendapatkanmu. Tapi sekarang, setelah aku tahu lebih dalam bagaimana dirimu. Membuatku semakin yakin bahwa, hubungan di antara kita tak mungkin berhasil."     Perkataan Kania lagi-lagi membuatku membisu. Apa maksudnya Kania berharap padaku? Berharap menemukan sesuatu dariku yang membuatnya pantas mendapatkanku? Apa artinya selama ini Kania juga menaruh hati padaku? Membalas perasaan cintaku padanya? Apa pun artinya itu, perkataan Kania kini memang benar. ini tak mungkin berhasil. Hubungan rapuh yang begitu bodohnya kuanggap ada dengan Kania tak mungkin bisa dipertahankan. Aku tak mungkin bisa memiliki kekasih seorang ... janda. Aku selalu meringis setiap kali memikirkan kata itu.     Lagi pula, bagaimana reaksi keluargaku jika mereka tahu?     Lelah, aku menyandarkan punggungku ke sandaran kursi yang kududuki. dan memijat keningku dengan tangan kanan sementara tanganku yang lainnya masih berada di atas meja. "Kau benar," ucapku perlahan. "Ini takkan mungkin berhasil."     Kania meraih tanganku yang masih di atas meja dengan kedua tangannya, menggenggamnya. Aku tak menolak genggaman tangannya. Hal itu malah membuat rasa amarahku yang tadi sempat kurasakan lenyap seketika. Yang terasa kini hanya ... hampa.     "Maaf aku telah mengecewakanmu Christian," ucap Kania, tersenyum kecil. "Kau pantas mendapatkan wanita yang lebih baik." Dan aku menangkap nada perpisahan yang tak Kania ucapkan. Aku tak tahu harus bagaimana harus bersikap sekarang. Hal tebaik yang bisa terjadi malam ini adalah aku dan Kania berpisah secara baik-baik.     "Selamat tinggal." Akhirnya kata itu terucap dari mulut Kania.     Aku menggangkuk sebagai balasannya. Apa lagi yang bisa kuucapkan?  Kania berdiri dari kursinya, meninggalkan meja kami berdua, dan aku Membiarkan Gadis itu pergi tanpa berusaha untuk mencegahnya.     Gadis itu, aku berpikir. Bahkan Kania bukan seorang gadis.     Aku masih duduk di kursiku saat memperhatikan Kania berjalan menuju mobilnya hingga mobil itu menghilang di jalan raya. Masih tak percaya dengan apa yang baru saca terjadi. Kencan yang telah kupersiapkan jauh-jauh hari, kini berakhir hanya dalam hitungan menit? Bahkan tak sampai tiga puluh menit?     Aku tak tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Kusesap lagi cokelat cair panasku yang mulai mendingin hingga habis dan meletakkan gelasnya di atas meja. Aku baru berpikir akan pulang saja sekarang ketika kudengar suara seseorang menyapaku bicara.     "Malam yang buruk, ya?"     Suara seorang wanita.     Aku segera menoleh. Ternyata wanita bergaun merah yang  duduk sendirian tadi yang bicara. Ia menatapku hangat dan tersenyum ramah.     Aku balas tersenyum. "Apa yang anda maksud dengan malam yang buruk?" tanyaku sopan.     "Makan malam bersama seorang wanita yang tak berakhir baik," jawab wanita itu menjelaskan. Wanita itu cukup cantik. mungkin berusia sekitar akhir tiga puluhan.     Aku meringis mendengar kata-katanya. "Anda mendengar perbincangan yang kulakukan sedari tadi?" Seketika saja rasa takut bahwa kencanku yang berakhir buruk menjadi tontonan seisi restoran ini menghinggapiku, aku memperhatikan setiap pengunjung restoran dan melihat mereka semua sedang sibuk dengan urusannya sendiri. Tak ada seorangpun yang tengah memperhatikanku dengan rasa iba, kecuali wanita bergaun merah ini.     "Aku tak menguping," Wanita bergaun merah itu berkata. Tampak geli akan tingkahku. "hanya saja bisa kulihat dari cara gadis itu pergi dan wajahmu yang kini tampak muram. Sangat jelas terlihat."     Tentu saja. Wajahku pasti kelihatan muram hingga ia bisa menebaknya dengan mudah. Dan dari posisi mejaku sekarang ini, wanita itulah yang jaraknya paling dekat denganku. Ia pasti tak sengaja memperhatikan.     "Maaf jika apa yang terjadi di mejaku tadi mengganggu ketenangan makan malam anda," kataku, kali ini lebih kearah basa-basi daripada kesopanan.     "Tak masalah," ujar wanita itu santai, tak menyadari nada sarkasme dalam suaraku, "aku justru terhibur memperhatikannya."     Terhibur? Memperhatikan nasib buruk yang menimpaku barusan? Aku membatin. Wanita itu pasti kini tengah mengejekku. Entah ekspresi apa yang kini terlihat dari wajahku–memelas mungkin?—karena wanita itu melanjutkan kata-katanya. "Dan kau juga tak perlu risau dengan apa yang terjadi. Pria muda nan tampan sepertimu pasti mudah mencari sosok gadis lain untuk kau kencani."     Aku tersenyum miring mendengar ucapannya. Tapi aku tak ingin menjadikan diriku sendiri sebagai bahan pembicaraan. "Dan anda sendiri mengapa duduk sendirian di restoran ini? Apalagi ini akhir pekan. Ayolah, wanita secantik anda pasti sudah memiliki pasangan bukan?" Aku yakin sekali, sejak aku tiba di sini, wanita itu selalu duduk seorang diri.     Wanita itu tertawa pelan. "Hari ini aku berulang tahun. Jadi aku datang ke sini untuk merayakannya. Kupikir, aku ingin melewati malam ini seorang diri saja. Dan untuk pertanyaanmu yang terakhir, aku belum punya pasangan dan belum menikah."     Oh ternyata wanita itu belum pernah menikah. Padahal aku menduga yang sebaliknya karena melihat kematangan usia dan sikap dewasa yang ditunjukkannya.     Ya ampun, ternyata bakatku dalam memprediksi status asli seorang wanita itu payah sekali ya?     "Oke. Selamat ulang tahun kalau begitu," ucapku tulus, lanjut aku bertanya, "Ulang tahun yang keberapa?"     Wanita itu malah merengut mendengar ucapanku, lalu mengerutkan dahi. "Kau tahu, sesungguhnya kaum hawa tak begitu suka jika usianya dipertanyakan oleh pria. Lagi pula kau akan sangat terkejut jika tau usiaku yang sesungguhnya."     Aku sempat heran dengan cara wanita itu mengatakan "kaum hawa", seolah dirinya sendiri tidak termasuk di dalamnya. Tapi lalu kusimpulkan bahwa hanya pendengaranku saja yang keliru.     Terlintas di pikiranku bahwa wanita ini ternyata cukup menarik baik secara visual maupun kepribadian, tidak semenarik Kania sih, tapi cukup untuk meredakan sakit hatiku malam ini. Timbul keinginan untuk mengenal lebih dekat wanita bergaun merah ini.     Biasanya aku bukan tipe orang yang suka mendramatisir suatau keadaan, tapi sepertinya keliru sekali jika aku langsung berkenalan dengan gadis lain padahal aku baru saja berkencan dengan wanita lain–walaupun kencannya berakhir buruk.     Rasanya seolah-olah aku mengkhianati komitmenku bersama Kania, meski jelas komitmen dalam bentuk apa pun itu kini sudah tak berlaku lagi sejak Kania meninggalkan restoran ini.     Aku kini pria bebas. Iya kan? Aku boleh berkenalan dengan perempuan manapun yang aku mau. Tapi aku masih merasa ikatan yang terjalin antara aku dengan Kania belumlah terputus. Malam ini bukanlah akhir kisah dari Christian dan Kania.     Tapi benarkah begitu keadaannya? Atau apakah itu hanyalah sebuah pemikiran yang terbentuk dari ego liarku sebagai pria yang tak mampu menerima kenyataan dan tak bisa mendapat apa yang kumau?     Kuputuskan bahwa tak ada salahnya jika aku berkenalan dengan wanita ini.     Satu jam penuh selanjutnya kuhabiskan dengan mengobrol ringan mengenai cuaca dan pekerjaan bersama wanita yang akhirnya kuketahui bernama Lizza itu. Aku meninggalkan mejaku sendiri untuk bergabung dengannya.     Yah, hanya satu jam. Karena setelahnya, handphone yang sedari tadi kusimpan di saku celana berdering membuat perhatianku teralihkan.     Kulihat nama seseorang yang meneleponku pada layar ponsel.     Fred.     Aku mengerutkan dahi. Bingung sekaligus waswas. Jika Fred meneleponku pada saat seperti ini, biasanya bukan kabar baik yang Fred sampaikan.      Kuangkat telepon itu. "Ya. Halo Fred. Ada masalah apa?" tanyaku sarkatis, belum-belum aku sudah menanyai apa masalahnya.     "Uhm. Ehh, apa benar saya sedang berbicara dengan kerabatnya saudara Fredian Rico?" Terdengar suara seseorang berkata dari seberang sana.     Kerutan di dahiku semakin dalam. Yang bicara, suaranya terdengar seperti seorang wanita. "Ya benar. Saya Dennis, kerabat Fredian Rico. Ada masalah apa ya? Dan ... siapa anda?"     "Umm. jadi begini ... Eh, saya Emma, saya seorang manager club malam. dan teman anda, maksud saya saudara Fredian Rico ...." Nadanya kikuk, jelas sekali wanita itu kebingungan untuk menjelaskan sesuatu.     Namun tanpa penjelasan apa pun, aku bisa langsung mengerti apa masalahnya ketika suara wanita dari telepon itu berkata 'club malam'. Aku menghela napas. "Biar saya tebak. Saudara saya Fredian Rico mengunjungi club malam di mana tempat anda berkerja, minum terlalu banyak hingga ia teler tak sadarkan diri dan mengigau tak keruan. Benar begitu?"     Terdengar napas kelegaan dari seberang sana, mungkin wanita itu lega karena aku bisa langsung memahami apa yang terjadi. "Ya benar begitu. Dan saudara Fredian Rico juga sempat membuat kericuhan dan menyerang pengunjung lain, membuat kondisi tidak kondusif di sini. Jadi bisakah anda menolong membereskan masalah ini?"     Membuat kericuhan dan menyerang pengunjung lain? Nah, itu baru. Astaga Fred, kau memang sialan.     "Baiklah," kataku dengan gigi terkatup rapat. "Saya akan segera ke sana. Bisakah anda kirimi saya alamat club malamnya lewat SMS?" Aku bertanya dan wanita itu mengiyakan. Lalu kuucapkan terima kasih dan menutup teleponnya.     Kulihat arlojiku lagi. Baru pukul setengah sepuluh malam. Hah, tumben sekali Fred sudah tumbang jam segini!     Bisa seberapa burukkah malam ini akan berakhir untukku? Aku berpikir sejenak setelah menutup telepon itu. Fakta bahwa Kania telah keluar dari lingkaran hidupku sudah cukup buruk tanpa ditambah ulah sepupuku yang satu ini.     Sebelum beranjak pergi, aku pamit undur diri dulu kepada Lizza dan tak lupa meminta kartu namanya yang untungnya ia beri dengan senyuman hangat. Sepertinya itu pertanda baik.     Aku segera berdiri dari kursiku, meninggalkan meja menuju kasir tempat pembayaran dan membayar segelas cokelat cair yang telah kupesan, setelah itu berlalu keluar dari restoran dengan langkah cepat.     Udara malam yang dingin segera menyambutku ketika aku melewati pintu keluar menuju mobilku yang terparkir. Jalan raya masih ramai. Langit tampak luas tanpa satu bintangpun yang terlihat, hanya bulan menyembul sedikit dari celah-celah lapisan awan hitam.     Aku masuk kedalam mobil dengan tergesa-gesa, mengendarai mobilku menerjang malam. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD