"Apa kita pernah nikah?"
Satu pertanyaan Klari jelas membungkam mulut Ado. Tubuhnya bahkan tidak bisa ia gerakkan. Alih-alih memberi jawaban, Ado malah mengatakan ia akan membuat Klari segera mengingat kenangan mereka juga tentang dirinya.
Klari tidak memaksa Ado untuk menjawab. Dengan tenang perempuan itu melangkah pergi meninggalkan Ado yang mematung. Sungguh, Ado kebingungan saat akan menjawabnya. Tidak mungkin juga ia mengatakan bahwa mereka pernah menikah dulunya. Tapi, lebih tidak mungkin lagi Ado mengatakan mereka dulunya belum pernah menikah, tetapi memiliki Rey. Ado bingung, maka dari itu ia memilih bungkam dan membiarkan Klari pergi tanpa sepatah kata pun.
"Mas." Sebuah panggilan lantas membuyarkan lamunannya. Sosok tampan Giorgino Thaufan berdiri tepat di belakang punggungnya dengan raut wajah datar.
Sepupunya satu itu memang tidak pandai memainkan ekspresi. Mengenal sejak kecil, bahkan sempat tinggal di rumah yang sama dan diasuh oleh Nenek di Jogja, sangat jarang sekali Gino tersenyum apa lagi tertawa terbahak.
"Aku baru dari apartemen Mas. Tapi kata penghuni unit sebelah, Mas masih di restoran." Gino menarik kursi di samping Kakak sepupunya.
"Oh, Lakka ya." Ado bergumam sesekali mengangguk. "Tadinya mau pulang," Ia mendengus kecil. "Tapi lupa di apartemen nggak ada yang nyambut. Ya, urung."
Gino menggelengkan kepalanya dan balas mendengus. Kakak sepupunya ini termasuk orang yang humoris, tapi masih bisa dikategorikan laki-laki pendiam. Paling tidak, Ado masih bisa menyapa orang sambil tersenyum.
"Oh ya." Gino memutar kursinya, memberinya jeda sebentar saat salah satu pekerja Ado meletakkan secangkir kopi ke atas meja bar. "Terakhir kita teleponan, Mas Ado bilang Rey udah ketemu, kan?"
Gino teringat obrolan singkatnya bersama Ado di telepon sekitar dua minggu yang lalu... entahlah. Gino lupa kapan tepatnya. Karena cukup lama. Mereka tidak bisa sering-sering menelpon dikarenakan Gino yang selalu sibuk. Hanya sesekali untuk bertukar kabar. Saat Ado pergi ke rumah Gino, ia hanya akan menemukan Ganesha, anak semata wayang Gino.
"Aku udah ketemu sama Rey," gumam Ado.
Gino urung menyentuh cangkir kopinya. Kali ini seluruh pandangannya berpusat pada sepupunya. "Ekspresi Mas kenapa gitu? Harusnya Mas Ado seneng bisa ketemu Rey lagi."
Ado menarik napas berat. Kepalanya tertunduk, memandangi isi cangkirnya. "Masalahnya rumit, Gi."
"Masalah apa?" tanya Gino bingung. "Deya nggak bolehin Mas Ado ketemu Rey?"
"Rey nggak tinggal sama—"
"Tunggu bentar," potong Gino.
Ponsel dari dalam saku celana Gino berdering. Laki-laki itu menurunkan sebelah kakinya lantas merogoh saku celana dan mengeluarkan ponsel. "Dari rumah sakit. Aku angkat telepon dulu."
Ado hanya mengangguk lesu.
***
"Tugas lo cuma bersih-bersih apartemen doang. Lebih bagusnya kalau lo mau jaga sekalian. Karena pemiliknya nggak pernah pulang, lebih milih tinggal di rumah temennya, gitu."
Klari membuka pintu sebuah apartemen. Sesekali mengamatinya penuh decak kagum, Klari meletakkan tas beserta jaketnya ke atas sofa.
Ia mendapatkan pekerjaan baru. Ya, walaupun hanya menjadi tukang bersih-bersih sebuah apartemen mewah yang jarang di huni oleh pemiliknya, namun gaji yang diberikan lumayan tinggi. Klari hanya perlu datang seminggu tiga kali. Datang pukul delapan pagi, dan boleh pulang setelah selesai mengerjakan tugas-tugasnya.
"Katanya sih, yang punya artis terkenal gitu. Tapi nggak tahu juga, sih! Karena gue yakin lo nggak bakalan kepo juga."
Divia mengenal baik tentang dirinya. Klari menunduk, tersenyum tipis lalu menggeleng mengingat Divia yang sangat antusias bercerita. Entah benar atau tidaknya apartemen ini milik seorang artis terkenal, Klari tidak memedulikannya. Ia menerima pekerjaan ini semata-mata untuk mendapatkan uang agar bisa membiayai hidupnya dan menabung untuk masa depan Rey.
Pertama-tama yang dilakukan Klari adalah membersihkan meja makan. Sepertinya bekas botol minum, bungkus snack, sampai botol minuman beralkohol telah ditinggalkan cukup lama oleh si pemilik, dan sengaja tidak dibereskan. Sayang sekali apartemen sebagus ini dibiarkan kotor dan berantakan.
Dalam hati Klari bergumam, "Apa benar pemiliknya seorang artis?" Diam-diam ia merasa tidak yakin. Kondisi apartemennya sangat-sangat kotor. Debu di mana-mana, sampah bekas makanan ada di meja ruang tamu, meja bar, di lantai, belum lagi bekas puntung rokok sekaligus abunya berhamburan nyaris satu meja. Ya Tuhan, Klari akan bekerja keras di hari pertamanya.
Klari memasukkan sampah yang berserakan ke dalam plastik hitam besar lalu menyeretnya pergi ke ruang lain kalau-kalau ada bungkus makanan yang tertinggal. Klari juga mengecek isi kulkas. Siapa tahu si penghuni apartemen tidak pernah menata isi kulkas. Melihat keadaan apartemennya saja, sudah sekacau ini.
Dan benar saja, Klari melongo saat membuka pintu kulkasnya. Potongan buah beserta kulitnya, pisau, dan piringnya dimasukkan ke dalam menjadi satu dan ditumpuk oleh bekas piring-piring lainnya. Sayuran yang busuk, bungkus keripik yang isinya tinggal setengah langsung jatuh begitu pintunya dibuka.
Manusia macam apa yang tinggal di sini?
Klari memutuskan untuk mengeluarkan semuanya tanpa sisa. Memisahkan mana yang masih bisa disimpan dan dibuang. Sembari sebelah tangannya mengeluarkan makanan dan minuman dari kulkas, sebelah tangannya lagi mengambil ponsel dari saku lalu menelpon Divia.
"Aku titip Rey agak lama bisa ya? Di hari pertama kerja, aku udah harus lembur."
Divia yang sudah tahu deskripsi pemilik apartemen, justru menertawakan Klari. Perempuan itu pun mengatakan, "Okay."
***
Mobil Ado mogok di pinggir jalan. Karena sudah cukup malam dan jalanan yang sepi, Ado tidak menemukan angkutan umum mau pun taksi yang lewat. Ado menelpon orang bengkel, mengatakan bahwa mobilnya tiba-tiba mogok, namun ban mobilnya baik-baik saja. Setelah menghubungi orang bengkel, Ado menelpon tetangga unit sebelah, Lakka. Karena di sana yang paling dikenalnya hanya laki-laki itu, Ado pun meminta agar Lakka menjemputnya.
Lakka mengiakan sehabis Ado menjelaskan kronologinya. Sekitar setengah jam kemudian laki-laki itu datang mengendarai mobil putihnya. Ado segera menghampirinya, membuka pintu lalu duduk di samping kursi kemudi.
"Makasih ya, Kka." Ado memasang sabuk pengamannya. "Saya udah coba telepon orang di restoran, tapi nggak ada yang angkat. Kayaknya mereka udah pada pulang."
Lakka mengangguk, membenarkan kacamatanya sesekali mengamati jalanan yang sepi. "Santai aja, Mas. Saya juga nggak lagi ngapa-ngapain di apartemen."
Kedua laki-laki beda usia tersebut sesekali ngobrol sepanjang perjalanan. Karena Lakka orang yang pendiam dan jarang bicara, Ado lebih banyak berinisiatif mengajak laki-laki itu ngobrol. Lakka menimpalinya sesekali sambil tertawa saat Ado menceritakan orang-orang di restorannya yang kadangkala membuatnya menggelengkan kepala.
"Langsung balik ke apartemen aja, Mas?" tanya Lakka.
"Iya." Ado menjawabnya.
Tiba-tiba ia teringat Klari dan pertemuan terakhirnya dua hari yang lalu. Semenjak hari itu, Ado belum menemuinya lagi. Ado masih bingung. Meluluhkan Klari agaknya akan lebih sulit dari meyakinkan Rey bahwa ia adalah Ayah kandung bocah itu. Klari terus menanyainya. Walaupun Ado berulangkali membuat alasan agar Klari percaya, namun lagi-lagi perempuan itu menjebaknya dengan pertanyaan lain. Dan Ado, pun berakhir bungkam seperti dua hari lalu.
"Kka, kamu bisa anterin saya ke suatu tempat?"
Lakka menengok, dahinya mengernyit heran.
"Ada orang yang mau saya temui."
"Malem-malem begini?" tanya Lakka tidak yakin.
"Ya," jawab Ado yakin.
Ado menyebutkan sebuah alamat rumah. Beruntung Lakka bukan orang yang mudah penasaran. Ketimbang sibuk menanyakan sesuatu yang tidak berhubungan dengannya, Lakka pun mengantarkan Ado sesuai alamat yang diberikan.
Mobil Lakka berhenti di depan sebuah lapangan sepak bola yang sepi. Lakka mengamatinya dari dalam mobil. Terdengar suara sabuk pengaman yang dibuka, dan Ado mengatakan terima kasih kepada Lakka dan menyuruhnya pulang lebih dulu.
"Nggak perlu ditunggu, Mas?"
Ado menggeleng. "Nggak usah, Kka. Makasih ya."
Lakka menaikan kaca mobilnya, bergegas pergi meninggalkan Ado yang berlarian memasuki sebuah gang kecil. Laki-laki itu mau menemui siapa memangnya? Lakka mengangkat sebelah bahunya. Melajukan mobilnya bersiap pulang menuju apartemen.
Ado sudah sampai di depan pagar rumah Klari. Tiba-tiba saja hujan turun begitu deras. Ado mengangkat sebelah tangannya, meletakkan tepat di atas keningnya lalu mendorong pagar rumah Klari.
Kemeja garis-garis Ado setengahnya basah kuyup. Apa lagi rambut laki-laki itu, sudah basah seperti orang mandi. Ia memberanikan diri mengetuk pintu rumah Klari beberapa kali. Ado berharap Klari mendengarnya dan mau membukakan pintu untuknya.
Samar, Ado mendengar suara kunci yang diputar. Kemudian pintu terbuka, dan muncul sosok Klari mengenakan daster berlengan pendek.
Mulanya Klari terkejut. Namun setelahnya terlihat biasa-biasa saja. Keduanya diam sesaat. Sampai akhirnya sosok Rey muncul dari belakang Klari sembari mengusap kedua matanya lucu.
Hati Ado langsung menghangat. Ini kedua kalinya ia bisa melihat putranya dari dekat. Ingin sekali Ado mendekap Rey, dan mengatakan bahwa ia adalah ayahnya.
"Oh!" tunjuk Rey, kedua matanya yang menyipit kini melebar.
"Rey," panggil Ado dengan d**a sesak.
To be continue---