Di dunia ini, tidak ada orang yang tidak pernah berbohong. Begitu pun dengan dirinya. Hanya saja, ini adalah kebohongan terbesar yang ia lakukan.
Agar bisa mendekati sang anak, Ado berbohong dengan mengatakan bahwa dirinya adalah bagian dari masa lalu Klari. Hanya satu dari sekian banyak cerita yang Ado katakan, cuma perihal Rey anak kandungnya. Selebihnya, semua adalah kebohongan.
"Maaf, Klarissa." Ado membatin, memandangi Klari.
Jangan kira semua cerita Ado diterima Klari. Karena nyatanya perempuan itu tidak mudah dibohongi. Klari mengatakan ia tidak memiliki ingatan apa pun mengenai Ado. Perasaannya biasa-biasa saja. Kalau memang laki-laki itu adalah bagian masa lalunya, bahkan sampai menghasilkan Rey, kenapa Klari tidak mengingat atau merasakan apa pun?
Ado memutar otak. Ia akan mencari cara supaya Klari mempercayainya. Akan tetapi, Klari bukan perempuan bodoh. Klari kelihatan lebih pintar dari bayangannya. Ado kira, perempuan itu akan percaya begitu saja karena kehilangan sebagian ingatannya. Namun tidak. Klari tetap bersikeras bahwa ia tidak percaya apa pun yang dikatakan Ado.
"Kita bisa test DNA kalau kamu mau." Ado menimpalinya dengan tenang. "Mungkin dengan test DNA, kamu akan percaya kalau aku Ayah biologis Rey."
Ado menunjuk dadanya. Sepasang matanya tertuju ke samping tempat Klari duduk. Berbeda dari kemarin, Klari jauh lebih tenang.
"Test DNA aja nggak cukup." Klari menengok ke tempat duduk Ado. "Kalau dilihat, kamu orang berada. Bisa aja hasil test DNA-nya kamu tukar? Jelas kamu bisa bayar orang dalam."
Ado nyaris frustrasi. Klari seolah memiliki banyak jawaban telak, seakan Ado yang dijebak. Tidak. Ado tidak boleh menyerah. Demi mendapatkan Rey, ia harus banyak bersabar.
"Lalu, dengan apa supaya kamu percaya?" tanya Ado.
Klari diam seperti patung. Hanya bulu matanya yang bergerak naik turun.
Lima detik setelahnya, alih-alih memberi jawaban, Klari justru melemparkan pertanyaan, "Di mana pertama kali kita bertemu?"
Ado mengerjapkan matanya kebingungan. Tahu-tahu Klari menanyakan pertanyaan yang jelas Ado tidak mengetahuinya. Kali pertama mereka bertemu sekitar seminggu yang lalu, itu pun saat sudah memiliki Rey. Kan, bagian dari masa lalu yang ia sebutkan hanya kebohongan.
Jadi, apa Ado harus menyusun kebohongan lain lagi?
Klari tersenyum tipis. Perempuan itu beranjak dari bangku, kemudian mengatakan sesuatu sebelum pergi meninggalkan Ado. "Bahkan kamu nggak bisa jawab pertanyaan sesederhana itu."
Ado ikut beranjak dari tempat duduknya. Mengekor di belakang Klari sembari mencari alasan yang bisa diterima perempuan itu tanpa menaruh curiga padanya. Ia harus menjawab apa? Di mana seharusnya jika mereka bertemu? Taman, mal, bioskop, atau...,
"Kita ketemu di acara kondangan!"
Klari menghentikan langkahnya sejenak. Ia mendengar suara Ado yang sangat lantang dari belakang.
Ia berbalik, menatap Ado seksama. "Kondangan?"
Laki-laki itu mengangguk, dan menyusun kebohongannya secara acak. Apa pun yang ada di kepalanya, ia katakan kepada Klari. "Aku malu buat mengakui sebenernya," ujarnya, menarik napas gusar tanpa kentara. "Waktu itu aku masih nggak punya apa-apa. Aku sengaja menyusup masuk ke pesta pernikahan orang supaya bisa makan gratis."
Kedua mata Ado memejam rapat. Konyol. Ini sangat konyol. Bahkan dalam bayangan pun, Ado tidak pernah berpikiran menyusup masuk ke pesta pernikahan orang hanya untuk makan gratis, sekali pun dirinya sedang tidak punya uang.
Klari tidak memberikan reaksi selain menatap Ado. Entah percaya, bisa jadi Klari menganggap ini sama konyolnya seperti Ado.
"Di saat itu... kamu lihat aku. Kamu yang mergoki aku." Di akhir kalimatnya, Ado tersenyum canggung sembari mengusap belakang kepalanya.
"Terus?"
"Ya, aku ketahuan." Ado tahu ini konyol. Tapi ia terlanjur banyak berbohong. Kenapa tidak sekalian menceburkan diri saja?
"Kamu yakin?" tanya Klari ragu.
"Kamu nggak inget?" Ado malah balas bertanya.
Laki-laki itu memberanikan diri mendekati Klari. Dari tempatnya berdiri, Ado bisa melihat wajah cantik perempuan itu. Sepasang matanya hitam, rambut sebahunya yang sama hitamnya, juga bibirnya yang mengatup.
"Aku tahu ada masalah sama ingatan kamu," kata Ado. "Tapi kedatangan aku ke sini, bukan bermaksud jahat. Aku cuma mau ketemu Rey, dan kamu..." Ado menunduk, menutupi setengah wajahnya. "Izinin aku buat dekat sama kalian. Aku janji, aku akan kembalikan ingatan kamu yang hilang."
Klari mendongak, mengerjapkan matanya memandangi wajah Ado. Laki-laki itu menyunggingkan senyum tipis. Saat itu, entah kenapa Klari merasakan ada ketulusan dari kata-kata Ado.
Sekali lagi, Klari memberi pertanyaan kepada Ado. "Apa kita pernah menikah?"
To be continue---