Bagian Dari Masa Lalu

1248 Words
Hampir seminggu menganggur dan hanya diam di rumah bersama Rey, Klari mendapat tawaran pekerjaan dari Kriwil. Tetangga depan rumahnya tersebut datang ke rumahnya dan mengatakan restoran tempatnya bekerja membutuhkan seorang pekerja baru, dikarenakan pekerja sebelumnya akan resign dalam waktu dekat. Klari sempat ragu menerimanya. Selain usianya yang sudah mendekati kepala tiga, ia juga memiliki seorang anak. Sangat jarang kafe atau restoran yang mau menerima pekerja yang memiliki anak.  Kriwil meyakinkan kalau bosnya tidak mempermasalahkan usia mau pun status pekerjanya. Selama orang itu bisa bekerja dengan baik serta giat, bosnya pasti akan senang. Selain itu, Kriwil juga menjelaskan kalau calon bosnya adalah seseorang yang sangat baik. Kesempatan baik tidak akan datang dua kali. Pikir Klari, memandangi Kriwil di depan pintu rumahnya. Dari penjelasan cowok itu, Klari jadi tertarik untuk menerimanya. Ditambah lagi lokasi restorannya tidak jauh dari tempat tinggalnya. Saat jam istirahat tiba, ia bisa menyempatkan pulang sebentar untuk melihat Rey. Klari pun menerimanya. Kriwil mengatakan besok mereka bisa berangkat bersama menggunakan motor vespa miliknya. Klari pun setuju. Ia tersenyum senang lalu mengucapkan terima kasih kepada Kriwil. Keesokan harinya Klari sudah berpakaian rapi. Walaupun pakaiannya tampak biasa, Klari lebih cantik ketimbang orang-orang yang mengenakan pakaian mahal sekali pun. Kriwil mengajak Klari, sementara Rey, dititipkannya ke salah satu temannya, Divia. Mereka sampai di restoran. Klari turun lebih dulu, melepaskan helmnya dan memandangi restoran yang akan menjadi tempat kerjanya mulai hari ini. Meskipun sempat heran karena Klari tidak perlu melakukan interview atau mengirim surat lamaran, pada akhirnya Klari meyakinkan dirinya kalau ini kesempatan baik. Selain itu, uang di dompetnya tinggal selembar uang lima ribuan. Klari menarik napas perlahan, menganggukkan kepala saat Kriwil mengajaknya masuk ke dalam restoran. Ia melihat ke sekitar. Kriwil menepuk kedua tangannya keras, tidak lama teman-temannya datang mengerumuni mereka. "Kenalin, ini Mbak Klari, teman baru kita semua." Kriwil menjelaskan kepada teman-temannya. "Mbak Klari mulai kerja hari ini." "Penggantinya Cindy, ya?" tanya salah satu temannya. Kriwil mengangguk. "Mas Ado ke mana?" "Udah dateng, kok. Lagi ada di ruangannya," jawab temannya sebelum kembali bekerja. "Ayo, Mbak, saya anter buat ketemu Mas Ado," ajaknya. Klari tersenyum tipis. Menganggukkan kepalanya kepada teman-teman kerjanya yang baru. Ia menaiki anak tangga yang ada di sana. Klari mendongakkan kepala, sepasang matanya mengerjap kala menemukan sebuah pintu yang kini sedang diketuk oleh Kriwil. "Mas, saya masuk ya." Kriwil berkata setelah dua kali mengetuk pintunya. Pintu di depannya terbuka. Klari berdiri di belakang Kriwil. Pandangannya terarah kepada laki-laki yang duduk di kursi sembari membaca koran. Klari tidak bisa melihat wajah bosnya karena tertutup koran. Dilangkahkan kakinya lebih ke dalam, dan saat itu, bosnya menurunkan koran di tangannya hingga ia bisa melihat bagaimana rupa wajah si bos. Seketika Klari memasang wajah terkejut. Orang yang akan menjadi bosnya itu adalah laki-laki yang membawa Rey waktu itu. Klari tidak salah melihat. Jelas dia orangnya. Tidak jauh berbeda dari Klari, Ado pun sama terkejutnya. Ia tidak menyangka kalau Kriwil malah membawa Klari bertemu dengannya. Ado lupa mengatakan kepada cowok itu untuk tidak mengatakan siapa pemilik restorannya. Karena teringat pertemuan pertama mereka. Dugaan Ado, Klari mengira dirinya adalah orang asing yang jahat. Klari berjalan mundur sampai ke dekat pintu. Ado terdiam sesaat. Bingung jika harus dihadapkan pada situasi seperti ini. Apa lagi Klari terlihat ketakutan melihatnya. "Loh! Mbak," teriak Kriwil saat Klari berlari keluar ruangan Ado tanpa mengatakan sepatah kata pun. Kriwil pun dibuat heran oleh Klari. Saat melihat Ado, perempuan itu malah kabur, seolah sangat ketakutan. "Kenapa kamu bawa Klari ke ruangan saya?" tanya Ado, mengusap wajahnya. "Saya cuma mau memastikan Mas Ado beneran mau terima Mbak Klari atau nggak. Makanya saya ajak buat ke ruangan Mas." Tidak. Ini bukan salah Kriwil. Apa yang dilakukan cowok itu memang sudah benar. Hanya Ado saja bodoh. "Baru kali ini ada perempuan lari ketakutan lihat cowok ganteng," celetuk Kriwil memandangi Ado heran. *** Ado masih kepikiran kejadian kemarin saat Klari berlari ketakutan saat melihatnya. Ado belum sempat menyapa, atau bahkan menjelaskan kenapa ia bisa bersama Rey waktu itu, tetapi Klari sudah ketakutan lebih dulu. Usut punya usut, semenjak trauma yang dialaminya, Klari jadi lebih waspada kepada orang-orang asing. Terutama laki-laki yang mendekati Rey. Dalam pikiran Klari, semua laki-laki asing yang mendekati putranya memiliki niat jahat. Ado mendengus, memandangi pantulan wajahnya dari spion atas. Seandainya saja Klari tahu siapa Ado, perempuan itu pasti memikirkan dua kali menyebutnya orang asing. Pagi-pagi sekali Ado bersiap pergi. Ia ingin melihat Rey pergi ke sekolahnya. Tidak masalah walaupun hanya melihat bocah itu dari kejauhan, asal Ado bisa memastikan bahwa putranya hidup dengan baik dan sangat sehat. Ado melambankan laju mobilnya. Dari seberang jalan, ia bisa melihat Rey sedang digandeng Klari. Mereka sedang berjalan menuju ke sekolah Rey. Pemandangan seperti ini bukan pertama yang dilihatnya. Hampir setiap pagi. Ya, hampir setiap hari ia mengikuti Klari dan Ado yang akan pergi ke sekolah. Keduanya berjalan di atas trotoar. Ado tersenyum kecil. Dalam hatinya berkata, kapan ia bisa berada di posisi Klari? Merawat serta mengurus Rey dengan kedua tangannya sendiri. Mereka sampai di sekolah TK Rey. Klari melambaikan tangan saat Rey bersama teman-temannya masuk ke dalam sekolah sangat riang. Klari menyunggingkan senyum hangat, belum mau berhenti melambaikan tangan sampai Rey hilang dari pandangan matanya. Saat berbalik hendak jalan pulang ke rumah, ia berpapasan dengan orang tua murid yang lain. Klari menyapanya sambil menyunggingkan senyum tipis. Para orang tua yang jelas didominasi ibu-ibu muda itu balas menyapa Klari. Belum lama menyapa, Klari mendengar para orang tua murid mulai membicarakannya. Klari hanya diam, hal seperti sudah biasa. Bahkan tidak jarang orang-orang itu membuatnya menjadi bahan gosip yang tidak-tidak. Entah disebut perempuan yang punya anak tanpa suami, penggoda suami orang, dan yang paling parah, mereka menyebut Klari menjadi simpanan laki-laki kaya karena sampai hari ini ia belum menikah. Marah pun percuma. Klari hanya memiliki dua tangan, tidak akan bisa membungkam mulut orang-orang itu. Toh, mereka hanya asal bicara. Orang itu atau siapa pun yang menggapnya buruk tidak tahu menahu kehidupan Klari. Biarkan mereka mengatakan apa pun yang mereka mau. Langkah Klari berhenti, ia dihadang oleh seseorang di depannya. Ia melihat kedua kaki laki-laki itu, kemudian mengangkat kepalanya. Klari terkejut. Ia berjalan mundur menjauhinya. "Tunggu, Kla," ujarnya, menahan langkah Klari yang akan pergi. Klari membeku. Orang itu Ado, bosnya Kriwil yang ia temui kemarin. Klari nyaris tersenang kepanikan, namun segera diambilnya napas lalu mengembuskannya. "Aku nggak berniat jahat sama kamu atau pun Rey." Ado mengulurkan sebelah tangannya. Pada akhirnya, Klari mendapatkan ketenangannya. Keduanya berdiri saling menghadap satu sama lain. Klari tetap bersikap waspada walaupun ia bisa lebih tenang dari sebelumnya. "Mau kamu apa?" tanya Klari. "Aku nggak kenal kamu siapa, kenapa kamu bawa Rey waktu itu." "Aku nggak bawa Rey, Kla." Ado menegaskan. "Okay, aku akuin hampir setiap hari lihat kamu dan Rey di sekolah setiap pagi. Tapi sumpah, waktu itu aku nggak sengaja lihat Rey sendirian di taman." Ado juga menambahkan, "Rey pergi ke taman setelah bertengkar sama temen sekolahnya." "Nggak mungkin Rey bertengkar," sela Klari. "Kamu pasti bohong. Pasti kamu punya niat jahat, kan?" "Aku nggak bohong." Ado menggelengkan kepala. "Rey cerita, dia bertengkar sama temennya karena ngolok ibunya. Demi kamu, dia rela bertengkar sama temennya." Klari diam, hanya pergerakkan bulu matanya yang terlihat naik turun. "Klarissa," panggil Ado, menahan napas sesaat. "Kamu nggak inget siapa aku?" tanyanya. "Aku nggak merasa kenal sama kamu," jawab Klari dingin. "Ini aku, Kla." Ado bergumam pelan. "Aku... Ayah kandung Rey. Kamu lupa? Aku pernah jadi bagian masa lalu kamu." Ado tidak memiliki cara lain. Klari kehilangan sebagian memorinya akibat traumanya. Ado menjadikan itu sebagai kesempatan untuk mendekati Klari agar bisa dekat dengan Rey, putranya.   To be continue---
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD