Sore harinya, Klari dan Rey diajak pergi ke apartemen Ado. Laki-laki itu menginginkan pasangan anak dan Ibu itu tahu di mana ia tinggal. Siapa tahu, suatu hari Rey ingin mengunjunginya.
"Mas," sapa seseorang. Penghuni dari unit sebelah yang disapa Ado sebagai Lakka.
Tanpa sengaja Lakka bertatapan dengan Klari. Keduanya saling mengangguk lalu tersenyum sebagai bentuk sapaan.
"Ya, Kka." Ado balas menyapa Lakka. "Mau pergi siaran?" tanya Ado, cowok berkaca mata tersebut mengangguk.
Tatapan Lakka berpindah pada Rey yang juga sedang menatapnya. Cowok itu menyunggingkan senyuman lebar sembari melambaikan tangannya ke arah Rey. Bukan rahasia lagi kalau Lakka memang sangat menyukai anak-anak. Di keluarganya, terutama ia dan Lucky, adiknya, sangat menyukai anak kecil. Bahkan kedua cowok itu tidak pernah kesulitan berinteraksi dengan anak-anak.
"Kenalin Kka, ini Rey, anak saya." Ado keceplosan mengenalkan Rey sebagai anaknya kepada Lakka.
Klari lantas mendongak menatap Ado yang tampaknya sangat semangat mengenalkan Rey kepada cowok di depannya. Sementara Lakka malah kebingungan. Walaupun ia cukup dekat dengan Ado, ia baru tahu bahwa Ado memiliki anak dan seorang... istri? Ah, entahlah. Karena Rey diperkenalkan sebagai anaknya. Pasti perempuan di samping bocah itu istrinya.
"Hei, halo," Lakka menyapa Rey lalu mengusap kepala bocah itu. "Anak Mas Ado umur berapa?" tanya Lakka.
"Enam tahun," jawab Ado cepat.
Klari mengatupkan bibirnya. Barusan ia akan menjawab pertanyaan cowok itu. Tetapi kalah cepat dari Ado.
Lakka menegakkan punggung, kembali mengangguk dengan senyum tipis sebelum meninggalkan Ado dan keluarganya di lorong apartemen. "Sayang banget saya harus pergi siaran," keluh Lakka. "Mari, Mbak, Mas."
Klari balas tersenyum. Dan Ado mengatakan, "Hati-hati, Kka."
Selepas Lakka berpamitan pergi, Ado mengajak Klari beserta Rey masuk ke dalam apartemennya. Unit Ado tepat di samping unit Lakka, cowok yang tadi. Sembari mengajak Klari dan Rey duduk, sesekali bolak-balik ke dapur membuat camilan sampai mengeluarkan semua camilan ke ruang tamu, Ado bercerita mengenai Lakka, tetangganya tadi.
"Yang tinggal di apartemen ini dulunya adiknya temen aku, Endra." Ado bercerita sambil membuka snack kentang untuk Rey. "Ternyata istrinya Endra, itu mantan pacarnya Lakka, tetangga aku yang tadi. Karena Endra cemburu, jadi dia mutusin buat menyewakan apartemennya."
Klari tertegun sebentar. Menurutnya agak konyol saja alasan pemilik apartemen sebelumnya. Pindah, cuma karena cemburu mantan pacar istrinya tinggal di unit sebelah.
"Mungkin cuma perasaan Endra aja," kata Ado. "Padahal Lakka anaknya baik, nggak aneh-aneh juga."
"Kadang, cemburu bisa bikin orang jadi buta." Klari berkomentar. "Cuma karena ada masa lalu di antara istri sama unit sebelah, tapi bukan berarti masih punya perasaan yang sama, kan?"
Klari diam setelahnya. Entah kenapa, ia seperti sedang menyindir dirinya sendiri.
"Kenapa?" tegur Ado.
Klari menggeleng pelan. "Nggak apa-apa."
Apa benar ia dan Ado saling terhubung di masa lalu? Ada kenangan sebanyak apa di antara mereka dulunya? Klari menundukkan kepala, tiba-tiba meringis. Ia merasakan kepalanya sangat sakit.
"Kla, ada apa? Kepala kamu sakit?" tanya Ado, refleks memegangi pergelangan tangan Klari.
Perempuan itu hanya menggeleng. Seringkali ia merasakan sakit di kepalanya setiap memaksakan diri mengingat masa lalunya. Selain kejadian kecelakaan yang menimpa orang tua dan Rey yang nyaris kehilangan nyawa, Klari tidak mengingat apa-apa lagi.
Sejujurnya Klari ingin mengingat apa saja yang pernah terjadi dalam hidupnya. Tapi kondisinya tidak memungkinkan. Lihat saja, baru sedikit berusaha mengingat masa lalunya bersama Ado, kepalanya sudah diserang rasa sakit.
"Do," panggilnya.
"Hmm?" Ado masih memegangi tangan Klari.
"Maaf, aku nggak bisa inget apa pun tentang kamu."
Ado mengangguk kecil. "Nggak apa-apa. Aku nggak akan maksa kamu buat inget semuanya."
"Kamu... mau cerita tentang kenangan kita dulunya?" Ado bungkam segera. "Apa... dulunya aku sama kamu saling suka, atau saling jatuh cinta?"
***
"Maaf kalau aku ngerepotin kamu," katanya sambil memindahkan ponsel ke telinga kirinya. "Ya, aku diminta buat jaga tetangga aku yang dirawat di rumah sakit. Hmm... makasih ya, Do."
Klari mengakhiri panggilanya bersama Ado. Dikantonginya ponsel ke dalam saku celananya lantas masuk ke ruang inap sang tetangga yang sedang dirawat di rumah sakit.
Ibu dari salah satu tetangganya pingsan karena serangan jantung. Klari, orang yang menemukan Ibu tetangganya pun, segera membawanya ke rumah sakit. Ia ikut panik setelah mendengar napas Nenek, panggilan Ibu tetangganya itu, terdengar sangat lemah.
Nenek mempunyai tiga orang anak, dan ketiga-tiganya pun sedang bekerja, dan tidak diperbolehkan pulang cepat. Sempat salah satu anak si Nenek datang ke rumah sakit untuk bertemu dokter sekaligus mengurus administrasi. Selesai bertemu dokter, si anak pun meminta Klari agar menjaga ibunya sampai ia dan kedua saudaranya pulang bekerja.
Klari tidak enak jika menolaknya. Bagaimanapun ada Rey yang harus ia urus di rumah. Namun, melihat Nenek tidak ada yang menjaga, sementara sesekali suster memintanya mengambil hasil ini-itu di ruang lab, Klari akhirnya mengiakan. Ia teringat pada Ado. Ia bisa menitipkan Rey kepada laki-laki itu sampai ia selesai menjaga Nenek.
"Kamu pulang aja nggak apa-apa, Kla. Nenek bisa sendiri, kasihan Rey kalau kamu tinggal sendirian di rumah." Nenek membawa tangannya memegang punggung tangan Klari. "Nenek malah nggak enak karena ngerepotin kamu."
Klari menggeleng lalu tersenyum. "Nenek nggak perlu khawatir sama Rey. Dia baik-baik aja, kok."
"Rey ada yang jaga?" tanya Nenek, raut wajahnya terlihat khawatir.
"Iya." Klari masih tersenyum. "Rey baik-baik aja sama ayahnya."
Mendengar hal itu, Nenek melebarkan kedua matanya tidak percaya. Sebagai tetangga dekat Klari, Nenek ikut senang jika Rey mendapatkan Ayah baru. Karena bagaimanapun, Klari masih sangat muda jika harus hidup sendiri. Selain baik, Klari juga sangat cantik. Tidak heran banyak perempuan iri sampai-sampai menyebarkan gosip buruk mengenai tetangganya ini.
Saat Rey masih kecil, Klari pernah dilabrak seorang perempuan hanya karena suaminya sering memerhatikan Klari. Padahal Klari tidak pernah merespons laki-laki mana pun. Entah itu lajang, apa lagi suami orang. Nenek bersungguh-sungguh mengatakan bahwa Klari adalah perempuan baik-baik. Tidak seperti gosip yang disebarkan orang-orang.
"Rey mau punya Ayah baru, Kla? Kamu mau nikah?" Suara Nenek terdengar begitu gembira. "Ya, ampun! Nenek ikutan seneng dengernya. Selamat ya, Kla. Akhirnya ada laki-laki yang bisa bikin hati kamu luluh!"
"Bukan Ayah barunya Rey, Nek." Klari balas menggenggam tangan Nenek. "Orang itu memang ayahnya Rey. Ayah kandungnya."
Nenek kembali terkejut mendengarnya. Lantas, Nenek tertawa malu karena mengira Ayah yang dimaksud Klari adalah calon suami perempuan itu. Ternyata malah Ayah kandung anaknya.
"Pasti Rey seneng banget sekarang. Setiap Rey diolok temen-temennya karena nggak punya Ayah, hati Nenek ikutan sakit. Dasar anak-anak, tapi orang tuanya juga nggak bisa didik anak sampai suka ngomong sembarangan!" omel Nenek ikutan kesal.
"Tapi...," Klari menarik napas sejenak, kemudian mengembuskannya. "Sampai sekarang Rey belum tahu kalau orang itu Ayah kandungnya, Nek." Perempuan itu memandangi Nenek dengan tatapan sendu. "Bahkan Rey masih panggil pake sebutan Om."
"Loh, kenapa? Kalian nggak mau ngasih tahu Rey?"
"Aku takut, Nek," gumam Klari, memegangi tangan Nenek. "Aku takut kalau orang itu cuma datang sesaat, lalu pergi lagi. Sementara Rey, dia pasti merasa kehilangan banget kalau tahu ayahnya akhirnya pergi lagi."
"Aduh, Kla!" seru Nenek heboh. "Belum apa-apa kenapa kamu udah takut? Jangan pernah menakutkan sesuatu hal yang belum pernah terjadi. Apa yang terjadi di dunia selalu jadi misteri. Hari ini kita sehat, belum tentu besok kita masih bisa napas," beritahu Nenek. "Kasih tahu Rey dari sekarang. Akan lebih baik itu dari kalian, orang tua kandungnya. Jangan sampai Rey kecewa karena tahunya dari orang lain."
"Iya, Nek," jawabnya, mengangguk. "Aku sama Ado berniat buat bilang ini ke Rey."
"Bagus." Nenek mengatakannya penuh semangat.
"Permisi. Selama malam," sapa seorang suster, membuka pintu ruang inap Nenek.
Nenek dan Klari balas menyapa si suster. Klari berjalan ke belakang memberi jalan agar suster bisa memeriksa infus dan menanyai si Nenek mengenai keluhannya. Nenek mengatakan dirinya sudah lebih baik daripada tadi.
"Ibu keluarganya Nenek?" tanya suster kepada Klari.
"Bukan, sus. Saya tetangganya," jawabnya.
Suster terlihat memeriksa catatannya, lalu mengatakan, "Tolong beritahu ke anak atau keluarga Nenek yang lain untuk menemui Dokter Gino besok ya, Bu. Dokter Gino perlu diskusi sama keluarga pasien langsung."
"Ah..." Klari mengangguk paham. "Baik, sus. Nanti saya sampaikan."
"Terima kasih. Saya tinggal ya. Kalau infus hampir habis, bisa panggil suster di ruang jaga. Mari," pamit si suster, keluar ruang inap Nenek.
Sepeninggal suster, Nenek berbisik kepada Klari. Lucunya, Nenek malah bergosip mengenai Dokter Gino kepadanya.
"Ya ampun, Kla, beneran ganteng banget dokternya. Pasien di kanan kiri Nenek, nih, jadi ikutan kesemsem." Nenek tertawa cekikikan. "Sayang sih, kamu tadi lagi pergi ke ruang lab. Coba tadi kamu ketemu, kamu pasti setuju sama Nenek kalau Dokter Gino ganteng banget!"
Klari menanggapinya dengan tawa. Ternyata Nenek berusia tujuh puluh tahun masih bisa membedakan laki-laki tampan, ya.
Lebih tampan mana dari Ado memangnya?
To be continue---