"Kamu sama Rey duluan aja. Aku angkat telepon dulu," ucap Klari menunjukkan ponselnya yang berdering.
Ado menggandeng Rey menuju gerbang sekolahnya. Hari ini bocah itu sedikit lesu, berbeda dari biasanya yang selalu ceria dan riang setiap kali akan pergi sekolah. Dengan patuh bocah laki-laki itu digandeng sang Ayah, saat sampai ke dekat gerbang, Rey menghentikan langkahnya lalu menunduk.
"Kenapa, Rey?" tanya Ado, setengah membungkukkan badan.
Rey kembali mengangkat wajahnya. Topi birunya terlalu turun nyaris menutupi wajahnya. Ado duduk berjongkok di depan sang putra sembari membenarkan letak topinya. Dengan sabar Ado menanyai Rey lagi.
"Kenapa, Rey?" ulang Ado, nada suaranya terdengar sangat lembut.
"Aku nggak mau masuk," jawabnya, lesu.
"Rey berantem sama temen di sekolah?" tebak Ado.
Bocah itu mengangguk-angguk. Pandangannya tertuju lurus ke gerbang sekolah yang dibuka lebar, lalu masuk lah satu per satu teman-teman sekolahnya bersama orang tua masing-masing.
"Mereka nggak mau temenan sama aku karena nggak punya Ayah," adunya. Raut wajahnya berubah sedih. "Padahal, kan, aku masih punya Mama. Emang dosa ya nggak punya Ayah?" celetuknya.
Terselip rasa bersalah di dalam hati Ado. Andai saja Rey tidak dibawa pergi oleh Deya, mungkin keadaannya tidak akan seperti sekarang. Rey tidak perlu diolok setiap hari hanya karena tidak memiliki Ayah.
"Kata siapa Rey nggak punya Ayah?" Ado menyunggingkan senyum hangat. "Mulai sekarang, Rey punya Ayah."
"Siapa?" tanya Rey cepat.
"Om," jawab Ado. "Mulai hari ini Om naik pangkat jadi ayahnya Rey. Sekarang, Rey cuma perlu masuk ke sekolah buat belajar dan nggak perlu takut diejek temen lagi."
Walaupun Rey kurang memahami maksud dari Ado, tetapi bocah itu mengangguk dengan riang. Rey sempat melompat kegirangan kala Ado mengatakan ia telah naik pangkat menjadi ayahnya.
Raut wajah sedih Rey berangsur-angsur pergi. Sekarang ia bisa memamerkan kepada teman-teman di sekolah bahwa Rey juga memiliki Ayah seperti lainnya. Rey menggandeng tangan Ado sangat erat, tersenyum lebar, kemudian menyapa tiga temannya di depan gerbang sekolah yang kebetulan masih ada para orang tua.
Ado menyapa teman-teman Rey juga orang tua murid yang ia temui. Baik anak-anak hingga orang dewasa yang disapanya terlihat kebingungan melihat Rey diantar seorang laki-laki tampan yang juga ramah.
"Lihat! Aku juga punya Ayah!" seru Rey benar-benar memamerkan Ado.
Ketiga teman Rey menatap bingung. Bocah yang badannya paling besar tampaknya tidak percaya jika Rey memiliki Ayah. Semua teman mereka tahu kalau Rey cuma memiliki seorang Mama.
"Pasti ngaku-ngaku," celetuk bocah perempuan, salah satu teman Rey juga.
"Om! Om beneran ayahnya Rey?" tanya bocah lainnya lagi.
Pertanyaan terakhir seolah mewakili rasa penasaran para ibu-ibu yang mengantar anaknya. Sudah lama mereka penasaran dengan rupa Ayah kanduny Rey seperti apa. Dilihat dari rupa si bocah, jelas orang tuanya akan sangat rupawan. Karena jujur saja, timbulnya berbagai gosip buruk mengenai Klari salah satunya karena wajah cantik perempuan itu. Mereka tidak bohonya, mamanya Rey sangat cantik. Laki-laki mana yang tidak akan silau melihat wajah rupawan Klarissa?
Ado duduk berjongkok sembari merangkul bahu Rey, mendekatkan pipi mereka lalu bertanya, "Kita kelihatan mirip, nggak?" Dan bocah-bocah itu mengangguk bersamaan para orang tua. "Ayo kenalan, Om, ayahnya Rey. Maaf ya. Om telat kenalan sama kalian."
Dari arah kejauhan Klari berlarian menghampiri Ado dan Rey yang ternyata masih ada di depan gerbang sekolah bersama tiga teman Rey, juga orang tuanya. Entah sedang membicarakan apa, mungkin Klari bisa mendengarnya saat ia berada di dekat orang-orang itu.
"Do, kenapa masih di sini?" Klari berdiri di samping Ado, memegangi bahu Rey. "Ayo masuk, Rey. Nanti keburu bel bunyi."
Rey berbalik, mendongakkan wajahnya, lantas mencium punggung tangan kedua orang tuanya sebelum masuk ke dalam kelas. Ado menepuk-nepuk kepala Rey pelan, berpesan kepada anaknya agar belajar dengan baik.
"Kami permisi dulu. Mari," ucap Ado, meraih tangan Klari untuk ia gandeng.
Para orang tua murid pun berdecak kagum melihat pasangan di depan mereka. Seperti pasangan dalam sebuah drama dan film yang tampak serasi dilihat dari sudut mana pun. Pantas saja wajah Rey sangat tampan, ternyata bocah itu mendapatkan wajah rupawan karena gen dari orang tuanya.
"Nggak perlu kayak gini, Do," bisik Klari, namun walau begitu ia tidak melepaskan genggaman tangan Ado.
"Kenapa?" Ado menengok ke arahnya. "Aku mau tanya. Mereka selalu kayak gitu sama kamu dan Rey?"
Klari mengerutkan dahinya. "Gitu, gimana?"
Keduanya agak jauh dari jangkauan orang tua murid tadi. Tidak mungkin orang-orang itu bisa mendengarkan obrolannya bersama Klari.
"Maaf aku datengnya telat," gumam Ado tiba-tiba. "Harusnya aku lebih cepat nemuin kalian. Dengan begitu, kamu sama Rey nggak perlu diperlakukan buruk sama orang."
"Aku sama Rey baik-baik aja, Do. Ya, walaupun awalnya agak berat dijalani, tapi lama-lama kita jadi biasa."
Ado menggelengkan kepalanya. "Jangan lagi." Laki-laki itu menunjukkan ketegasannya. "Mulai hari ini aku nggak akan biarin siapa pun memperlakukan kamu sama Rey dengan buruk."
"Jangan gini, Do." Klari melepaskan genggaman tangan Ado. "Jangan bikin aku sama Rey merasa selalu dilindungi. Karena," Ia menarik napas sejenak, kemudian menambahkan. "Kalau suatu hari kamu pergi lagi, aku yang kesulitan mulai dari nol lagi."
"Aku janji, aku nggak akan pergi dari kalian."
Ganti Klari yang menggeleng tegas. "Jangan janji buat aku. Seenggaknya, lakuin ini untuk Rey. Nggak perlu janji ke aku, Do."
Ado menyudahi perdebatan mereka. Selain Klari yang keras kepala, mereka juga masih berada di tempat umum. Ia tidak ingin mereka menjadi perhatian orang-orang di sekitar.
"Ya udah. Aku anter kamu ke tempat kerja ya," kata Ado. Ia menyambar tangan Klari lalu digandengnya kembali.
"Aku libur hari ini. Barusan yang telepon asisten yang punya apartemen," adu Klari. "Asistennya bilang, hari ini aku nggak perlu datang."
"Kenapa gitu?"
Klari mengangkat bahunya. "Nggak tahu. Asistennya cuma bilang yang punya apartemen pulang, dan lagi nggak mau diganggu."
Ado mengangguk-angguk paham. "Ya udah, kamu ikut aku aja."
"Hmm? Ke mana?" Klari menarik tangan Ado, dan menghentikan langkah. "Aku harus jemput Rey pulang sekolah nanti."
"Kita jemput berdua nanti." Ado meyakinkan Klari. "Omong-omong, ada tempat yang pengin kamu datangi, nggak, Kla?"
***
Sebelum berangkat bekerja, Klari menyempatkan dirinya pergi menjenguk Nenek di rumah sakit. Ia menenteng rantang di tangan, berjalan melewati lorong menuju kamar inap Nenek.
Sudah tiga hari Nenek dirawat di rumah sakit. Ketiga anak Nenek pun bergantian menjaga Nenek. Klari sempat menawarkan untuk ikut menjaga, namun anak-anak Nenek menolaknya karena merasa tidak enak sudah banyak merepotkan Klari. Ditambah lagi, Klari mempunyai anak yang harus diurus dan dijaga.
Sampai di depan pintu, Klari berpapasan dengan seorang dokter laki-laki. Dokter didampingi suster dari belakang, kemudian menyapa Klari dengan anggukkan kepala lalu pergi meninggalkan kamar inap Nenek. Klari mengamati punggung si dokter, merasa agak famillier dengan wajahnya. Tapi, entah siapa, atau mungkin mereka pernah berpapasan sebelumnya?
"Kla," sapa Nenek sangat riang.
Nenek dan seorang anak si Nenek mengarahkan pandangannya ke ambang pintu. Klari balas menyapa kepada Nenek dan pasien di kanan kiri ranjang wanita tua itu. Klari mengangsurkan rantang nasi pada anak Nenek, dan mengatakan kalau itu sarapan yang ia masak dari rumah.
"Biar Nenek yang aku jaga. Kamu pergi makan aja," kata Klari setelah rantang nasinya berpindah kepada anak bungsu Nenek.
"Nggak ngerepotin kan, Mbak?" tanya anak Nenek.
Klari menggeleng sambil tersenyum. "Nggak, kok. Udah sana gih."
"Aku tinggal makan dulu ya, Mbak Kla," pamit si anak.
Di gedung yang sama namun berbeda area, Ado sedang menghubungi sepupunya yang bekerja sebagai dokter bedah di rumah sakit ini. Ia sedang menunggu Klari menjenguk seorang tetangganya. Perempuan itu sempat memintanya untuk pulang saja, namun Ado bersikeras akan menunggu Klari dan mengantarnya pergi ke tempat bekerja.
"Halo, Mas. Tumben," sapa sepupunya, Ado malah tertawa mendengus.
"Aku lagi di rumah sakit tempat kamu kerja," balas Ado, memandangi ke sekeliling. "Ada waktu luang buat ngopi bentar, nggak?"
Sepupunya diam sebentar, kemudian menjawab, "Tapi aku nggak bisa lama."
To be continue---