9 DIBAPTIS CAHAYA (2)

1299 Words
Bola mata Arissa mulai memutih dan kejang-kejangnya benar-benar tak terkendali. Jose, Cristan dan Jacob benar-benar panik sekarang sambil terus berusaha menahan guncangan tubuh Arissa yang semakin hebat. Suntikan cairan adrenalin yang sudah disiapkan oleh Jose pun langsung mental terkena lemparan tangan Arissa yang tak disengaja dan terjatuh di pojok ruangan. “M…M….MAAAAA…. PLEASEEEE… BANGUNNNNNN….” Pinta Jacob dengan sangat memelas sambil menangis sementara air mata mengalir deras di pipinya. Ia benar-benar takut sekarang! Ia sama sekali tidak mau kehilangan Arissa!!! Sebuah pikiran liar melintas di kepala Cristan dan spontan ia langsung mencabut semua kabel elektrik yang terpasang di tubuh Arissa serta memeluk erat gadis itu di dalam dekapannya. “CRISTANN!!! KAU GILA!!!” teriak Jose panik saat melihat tindakan Cristan yang sama sekali tidak masuk akal tersebut. Tubuh Arissa mulai terasa dingin dan bibirnya membiru. Nyawanya sudah berada di ambang batas antara hidup dan mati sekarang. Cristan tak peduli. Dengan air mata yang mengalir deras di kedua pipinya, ia berbisik lirih di telinga Arissa. “Sayang, dengar aku. Aku di sini. Jangan takut…ok? Aku di sini. Aku ga ke mana-mana. Tolong…” “Jangan menyerah sekarang, Arissa…” “Please…” Didalam dekapan erat Cristan, panas tubuh pemuda tersebut mulai menjalari badan Arissa. …………………………………………………………………………………….. Jari-jari tangan Arissa mulai menghilang ketika pelan-pelan ia mendengar seseorang memanggil namanya. Suara yang sangat familiar. Suara dari seseorang yang selalu ada untuknya. Suara dari seseorang yang selalu melindunginya dimanapun dan kapanpun ia berada. “Cris…..tan?” Lalu ia mulai merasakan kehangatan merambati tubuhnya. Sebuah perasaan nyaman dan hangat yang terasa akrab mulai menyinari hatinya dan berpendar perlahan. Membuat keberadaan jiwanya yang hampir musnah mulai kembali membentuk sebuah entitas yang utuh. Sebuah jiwa baru yang solid dan padat. Pendaran cahaya yang berasal dari hatinya semakin lama semakin bertambah terang. Suara itu terus menerus memanggil namanya dan terus mengalirkan kekuatan baru kepadanya. Arissa… Arissa …. Arissa… Tolong… Jangan…. menyerah… Aku di sini…. Kembali…. Pulang……. ……………………………………………………………………………………….. BYARRRRR………… Sebuah cahaya keemasan langsung meledak dan menerangi ruangan kumuh tersebut. Bayangan Kronos seketika menghilang seperti kabut dan tubuh Arissa kini berpendar lembut dengan sinar warna-warni bagaikan cahaya pelangi bersemu warna emas. Ia dibaptis cahaya. Aura kematian dan putus asa yang tadinya melingkupi ruangan tersebut pun lenyap tak berbekas, Arissa bagaikan sebuah matahari kecil yang memancarkan sumber kedamaian serta kebahagiaan yang tak terhingga saat itu. Ketika melihat sosok baru Arissa, gadis itu tercengang heran. Air matanya berhenti mengalir dan hanya bisa memandang takjub pada Arissa. “Si… siapa kau?” tanyanya dengan ekspresi takut bercampur rasa ingin tahu. Ia tak lagi bertelungkup tapi berlutut di atas kasur sambil mendekatkan dirinya pada Arissa. Gadis itu terpesona pada keindahan sinar berpendar yang dipancarkan oleh tubuh Arissa. Arissa berjalan mendekat dan sementara ia berjalan, sebuah bola-bola cahaya kecil mulai terbentuk di sekitar dirinya. “Aku adalah kamu. Kamu adalah aku. Kita adalah satu. Pribadi yang sama….” Arissa lalu mengulurkan tangannya kea rah gadis tersebut dan gadis itu pun melakukan hal yang sama. Ketika kedua tangan mereka bertemu dan saling bersentuhan, Arissa mengucapkan namanya. “Kamu… Arissa…..” Di saat yang sama, semua bola-bola cahaya kecil yang terbentuk tadi langsung membentuk sebuah bola cahaya besar seukuran dengan bola bowling di hadapan gadis tersebut. “Aris… sa…… Arissa…. Arissa….” Gadis itu terus-menerus mengulang nama yang diberikan Arissa kepadanya sambil matanya terus memandang lekat pada semua fragmen memori yang ditampilkan dalam bola cahaya di hadapannya. Semuanya adalah fase-fase memori yang dilihat Arissa saat ia menyusuri setiap pintu ingatannya. Begitu indah, begitu menakjubkan, begitu memukau, begitu nyaman, hangat, dan bahagia. Gadis itu kembali menangis, tapi kini air matanya adalah air mata sukacita. “Aris…sa… namaku Arissa….” “Aku punya anak….” “Aku punya teman-teman…” “Aku dicintai…..” “Semua orang sayang padaku….” Satu persatu, setiap keping memori yang sudah dilihat lalu merasuk ke dalam jiwa gadis itu. Mengisi relung hati gadis itu yang tadinya kosong dan hampa, mulai berubah berubah menjadi butir-butir cahaya hangat yang berwarna-warni. Merubah bentuk fisik gadis tersebut yang tadinya lusuh dan tanpa harapan, kini mulai menjelma menjadi sesosok cermin diri Arissa yang baru dan berseri-seri dengan sepasang mata birunya yang menangis bahagia. “Terima…. kasih….” ucap sosok gadis itu ketika bola cahaya terakhir memasuki tubuhnya. Bersamaan dengan kalimat itu, tubuh gadis itu meluruh menjadi jutaan partikel cahaya yang kembali memasuki tubuh jiwa Arissa setelahnya. “Arissa…..” Sebuah suara lain kembali memanggilnya. Hangat dan menenangkan jiwa. Arissa lalu menoleh ke asal suara tersebut. Sosok ibu angkatnya ada di hadapannya dan sedang tersenyum lembut padanya. Suster Hua. “Ibu…” kata Arissa penuh haru. “Ingatlah selalu akan nama yang kuberikan padamu…” “ Arissa Nova.” “Seorang wanita cantik terkuat yang tangguh, berani dan cemerlang. Sebuah doa yang kutitipkan untuk masa depanmu…” “Ibu…” Air mata Arissa berderai ketika ia berlari kencang untuk memeluk erat sosok ibu angkatnya tersebut. Lalu, ketika kedua tangannya memeluk sosok tersebut, tubuh itu meledak menjadi jutaan partikel berwarna pelangi yang melempar tubuh Arissa ke atas dengan kecepatan tinggi…. …………………………………………………………………………………… Bayangan di depan matanya semakin jelas. Lampu neon. Wangi citrus. Warna putih. Ah iya… Arissa membuka matanya. Keringat membanjiri tubuhnya. Nafasnya tersengal-sengal ketika ia merasa tubuhnya tengah didekap erat oleh seseorang. “Cristan…?” tanya Arissa lemas. “Sayang??” “Kau sudah bangun??” “Kau tidak apa-apa??” “Bagaimana keadaanmu?” Cristan bertanya bertubi-tubi dengan wajah cemas dan panik dengan mata basah sambil mengelus-ngelus wajah Arissa dan menciumi serta kembali memeluknya erat dengan kelegaan yang luar biasa. Tubuhnya masih gemetaran dan berguncang karena emosi. Cristan merasa kalau ia hampir saja kehilangan Arissa tadi. Sementara Arissa balik memeluk tubuh pemuda itu sambil menepuk-nepuk punggung Cristan untuk menenangkannya. “Sudah… sudah… aku tidak apa-apa..” “Aku di sini…. Tenang ya…” Jacob dan Jose yang melihat Arissa sudah sadar kembali, merasa lega luar biasa. “Ma… mama benar tidak apa-apa?” tanya Jacob kalut dengan wajah cemas luar biasa. Keadaan Jose juga sama saja. “Arissa.. kau yakin tidak apa-apa?” Arissa hanya mengangguk sambil memeluk Cristan yang masih mendekapnya erat. Setelah melihat anggukan kepala Arissa, Jose dan Jacob lalu menghembuskan nafas lega. Reaksi Cristan masih sama. Tubuhnya masih gemetar sambil terus mendekap Arissa. Arissa sendiri tidak bisa berbuat apa-apa selain balas memeluk dan mengelus-ngelus kepala pemuda tersebut dengan lembut. Sudah kurang lebih 6 jam mereka berempat ada di dalam ruangan tersebut dan sekarang, Jacob baru bisa merasa kalau perutnya sudah keroncongan. Jose lalu memberikan tanda supaya mereka berdua keluar ruangan dan memberikan sedikit privasi untuk Cristan serta Arissa. “Jacob, ayo temani aku makan siang. Sekalian ada yang perlu kubicarakan denganmu…” .......................................................... Note: Legaaaaa sekarang.. hehehe... Mudah2an di minggu kedua atau ketiga, sinopsis diapproved yaa.... Ongoing 1000 love, gaiss... Visual tokoh2 bisa cek di IG saya ya: rockinglady69
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD