8 DIBAPTIS CAHAYA (1)

903 Words
Jari-jari tangan Arissa menegang erat. Matanya terpejam erat dengan ekspresi kesakitan dan keringat dingin mulai bercucuran di dahinya. Cristan mulai panik. Jacob juga. Sekarang, Jacob ikut menggenggam sebelah tangan Arissa yang mulai terasa dingin dan gemetar. Firasat buruk mulai merayapi hati Cristan. “Jose! Ada apa ini! Arissa kenapa??!!” tanya Cristan cemas. Jose menatap laporan print out yang sekarang mulai menunjukkan pergerakan gelombang otak yang sangat aktif dan agresif. Sudah 2 jam Arissa berada dalam kondisi tertidur tapi kini keadaannya mulai memburuk. “Ia pasti sudah sampai di titik pusat traumanya sekarang. Gelombang otaknya sudah sampai di level Beta. Ini tidak bagus… tapi tetap kita harus pantau terus. Jika dalam 2 jam dari sekarang kondisinya tidak membaik, kita harus bangunkan Arissa secara paksa!!” kata Jose tak kalah serius. Cristan dan Jacob hanya bisa mengangguk pasrah sambil terus mengawasi keadaan Arissa dengan hati was-was. ………………………………………………………………………………………. Arissa merasa lelah sekali dan tak berdaya. Dibandingkan dengan semua ruangan lain yang ia masuki, ruangan ini terlihat jauh lebih sederhana. Hanya ada sebuah kasur lusuh dan lemari kayu biasa di pinggir tempat tidur. Tapi di atas kasur tersebut, ada sebuah sosok yang tengah duduk bertelungkup dengan kedua kaki yang terlipat menutupi tubuhnya. Ada empat buah gelang besi yang terkait dengan rantai besar yang terpasang di kedua pergelangan tangan dan kaki gadis muda tersebut dan tersambung dengan setiap sudut kasur lusuh tersebut. Aura di ruangan tersebut juga terasa sangat berat dan menekan. Dipenuhi dengan atmosfer keputusasaan yang sangat pekat. Membuat Arissa kesulitan untuk bernafas. Tapi ia tetap memaksakan dirinya untuk berdiri dan mendekati sosok asing tersebut. “Blu?” tanya Arissa pelan. Perlahan, sosok gadis itu mengangkat kepalanya. Arissa tercekat. Di matanya, tidak ada gairah kehidupan. Gadis ini bagaikan sesosok boneka atau mayat hidup yang tengah memandang ke arahnya dengan tatapan kosong dan hampa. Apa yang Arissa rasakan hanya bau kematian yang keluar dengan sangat pekat dari dalam tubuh gadis ini. “Blu…” Tidak ada reaksi. Arissa berjalan semakin dekat. “Blu….” Posisi tubuhnya sudah mendekati kasur dan tangannya hampir menyentuh gadis tersebut ketika telinga Arissa mendengar sebuah langkah kaki mendekat kea rah ruangan dimana mereka berdua berada. Lalu, suara menggeram yang mendendangkan lagu anak-anak. Badan Arissa seketika membeku. Warna wajahnya memucat ketika ia mengenali suara langkah siapa itu. Kronos. Ekspresi gadis itu pun berubah. Wajahnya yang tadinya datar berubah menjadi penuh kengerian. Airmata mulai mengalir deras di kedua pipinya sementara ia mengencangkan rangkulan kedua tangannya pada lututnya yang ditekuk sedemikian rupa untuk mengunci dan melindungi tubuhnya yang gemetar ketakutan. Suara gemerincing rantai yang gemetar terdengar sangat jelas di ruangan tersebut sementara suara langkah kaki tersebut semakin mendekat. ……………………………………………………………………………………………….. “JOSEEEEE!!!!!!” Cristan berteriak ketakutan sambil menahan guncangan tubuh Arissa yang mulai kejang-kejang tak terkendali seperti penderita penyakit ayan dan berteriak-teriak histeris. Matanya masih terpejam erat tapi ekspresi wajahnya mengeras seperti ditikam oleh ribuan belati secara bersamaan. Keringat dingin mengucur deras di kening dan punggungnya. Jacob tak kalah panik melihat kondisi ibunya seperti itu. Seumur hidupnya, baru kali ini ia merasakan ketakutan yang luar biasa saat melihat ibunya berteriak-teriak ngeri seperti dikejar setan di dalam mimpi. “M…Ma…..MAAAA……. BANGUNNNNN!!!!” Jacob juga berusaha keras untuk menahan guncangan keras tubuh Arissa yang mulai tak terkendali. Kepanikan dan air mata mulai mengalir deras di kedua pipi Jacob karena ia merasa sangat berdaya dan frustasi saat melihat kondisi Arissa sekarang. “MAAAAAAAA……..!!!!” “ARISSAAAAAAAAA………BANGUNNNNNNN!!!!!” Jose sendiri tak kalah panik dan mulai mengeluarkan suntikan berisi cairan adrenalin untuk memacu kesadaran Arissa kembali ke titik awal. Alat pacu jantung pun disiapkan jika ternyata benar-benar diperlukan. Pikiran Cristan mulai kembali membayang di saat pertama kali ia membawa Arissa ke Rose Mansion dalam keadaan pingsan setelah hampir dilecehkan. Saat itu, kondisi Arissa pun tak jauh berbeda. Tapi, kali ini, kondisinya jauh lebih parah karena badan Arissa mulai terus kejang-kejang. ……………………………………………………………………………………. “ARGGHHHHHHHHHHHHHHH………JANGANNNNN!!!!!!!!” “JANGANNNNNNN MENDEKATTTTTTTTTTTTT!!!!” Sosok gadis itu terus berteriak-teriak histeris sambil memegangi kedua telinganya. Kondisi Arissa sama saja. Ia shock berat dan badannya terus gemetar hebat tanpa henti sambil matanya terus menatap kea rah pintu. Lebih parahnya, perlahan-lahan, kegelapan mulai memakan tubuhnya dari arah bawah. Menghirup dan mengikis setiap energi kehidupan yang dimilikinya sedikit demi sedikit. Menggerogoti jiwanya. Kesadarannya. Tubuh jiwa Arissa mulai menghilang. Berganti dengan mimpi buruk yang selama ini selalu menghantuinya. Lalu, pintu lapuk itu pun terbuka lebar. Sesosok pria gempal tersenyum lebar dengan bekas luka yang mengerikan muncul di ambang pintu. Kronos. Arissa hampir menyerah. Jiwanya mulai bersatu dengan kegelapan sekarang. Ia kalah. Maaf, Cristan. Ternyata…. Aku tak sekuat yang kukira…. Selamat tinggal… ................................................ Note : Siap2 sport jantung dan tegang terus yaa.... Ongoing 1000 love, gaiss... Visual tokoh2 bisa cek di IG saya ya: rockinglady69
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD