Pintu memori!
Semua pintu-pintu tersebut adalah fragmen-fragmen ingatannya tentang semua hal yang ia alami selama ini!
Setiap pintu menyimpan satu memori yang pernah Arissa rasakan dalam kehidupannya!
Ada pintu memori yang berisi kenangan saat Jacob memberinya kecupan hadiah ulang tahun saat anak itu berusia 3 tahun.
Ada pintu memori berisi ingatan saat ia bermain dan mengajar adik-adiknya di panti asuhan bersama dengan Anne.
Ada pintu memori saat ia menjalani masa-masa kuliahnya bersama dengan Jojo serta berbagai cerita konyol yang mereka bagi bersama.
Ada pintu memori yang berisi ingatan tentang Jacob saat ia lulus sekolah dasar dengan nilai terbaik dan betapa bangganya Arissa saat itu sebagai seorang ibu.
Semua pintu memori itu bersinar indah berwarna-warni serta menimbulkan perasaan hangat di hatinya. Perasaan kalau ia disayangi dan dikagumi oleh orang –orang dekatnya.
Lalu, Arissa juga membuka pintu memori yang lain.
Saat-saat pertemuan pertamanya dengan Cristan dan betapa tengilnya pemuda itu dulu.
Saat-saat mereka berdua bertengkar seputar pembagian ruangan di apartemen tua yang mereka tinggali bersama. Betapa konyolnya mereka berdua waktu itu. Arissa hanya terkikik geli saat mengingat waktu tersebut sambil menggelengkan kepalanya.
Lalu, waktu Cristan berkali-kali menyelamatkannya. Saat wajahnya hampir rusak karena peralatan makeup yang dicampur bubuk logam, saat ia hampir diperkosa beramai-ramai, saat ia hampir mati tenggelam karena kedinginan…..
Satu persatu, Arissa membuka pintu itu dan mengulang kembali semua ingatannya. Dan dari semua pintu tersebut, pintu-pintu ingatan tentang Cristanlah yang berpendar paling terang dengan sinar yang lembut dan membawa kedamaian pada batinnya.
Lalu, ketika Arissa membuka pintu memori saat Cristan memberikan kejutan di hari ulang tahunnya, di saat yang sama, perasaan yang hangat menyelimuti seluruh tubuhnya. Ia masih ingat jelas tentang hari itu. Bagaimana sosok Cristan yang sempurna bermandikan ribuan cahaya keemasan yang berkelap-kelip saat menyambut kedatangannya. Belum pernah seumur hidupnya, Arissa merasa begitu dicintai dan disayangi oleh seseorang seperti itu sebelumnya.
Kalau boleh, Arissa ingin tinggal di dalam pintu memori ini selamanya dan menyerap semua atmosfer kebahagiaan yang ia rasakan secara utuh. Tapi, ia tahu kalau perjalanannya belum selesai. Masih ada ratusan pintu-pintu lain yang belum ia buka dan diantara ratusan pintu tersebut, ada satu pintu yang berisi mimpi buruk terbesarnya.
………………………………………………………………………………….
Kening Arissa mulai berkerut dan genggaman tangannya pada tangan Cristan sedikit menegang.
“Bagaimana, Jose? Apa yang sedang terjadi?” tanya Cristan kuatir.
Sudah satu jam berlalu dan keadaan Arissa masih tetap sama.
Jose melihat kea rah hasil print kertas di hadapannya, “Ia sedang melakukan perjalanan alam bawah sadarnya. Aktivitas gelombang otaknya sedikit meningkat, tapi sejauh ini masih dalam batas aman….”
“Ok….” kata Cristan lagi.
‘’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’
Sedikit mulai sedikit, pendaran cahaya di barisan pintu itu mulai meredup. Sekarang, Arissa berada pada fase ingatan dimana ia berada di panti asuhan dan awal mula ia bertemu dengan ibu angkatnya, Suster Hua.
Jika dibandingkan dengan ingatan –ingatan awal tadi, fase ini terasa lebih berat dan menekan. Arissa ingat betul bagaimana ia berjuang keras untuk bisa menjadi sosok dirinya yang sekarang. Bagaimana ia berjuang untuk mengatasi semua rasa takut. Kecemasannya yang berlebihan. Ketidaknyamanannya saat bertemu dengan banyak orang, terutama pada anak-anak panti asuhan yang sama sekali tidak menyukai kedatangannya saat ia tiba untuk pertama kalinya. Perasaan tertolak.
Perasaan dibenci.
Sekarang semua emosi negative itu mulai menyelimuti hatinya.
Arissa merasa langkahnya semakin berat dan nafasnya mulai terengah-engah. Dadanya sesak oleh semua beban serta emosi labil yang dirasakannya sekarang.
Tapi ia tak boleh menyerah! Ia tak bisa menyerah sekarang!
Sambil setengah menyeret langkahnya yang terasa bagai dibebani oleh ribuan rantai jiwa tak kasat mata, Arissa membuka pintu paling ujung.
Dibandingkan semuanya, pintu ini terlihat sangat lapuk dan rapuh. Persis seperti pintu tua yang ada di dalam film-film horror.
Jauh di dalam lubuk hatinya, Arissa tahu, pintu apa ini.
Dengan mengerahkan segenap kekuatannya, Arissa mendorong pintu tersebut ke dalam dan langsung jatuh berlutut ke atas lantai dengan nafas ngos-ngosan.
Ini….
Pintu kematiannya….
............................................................
Note :
Siap2 sport jantung dan tegang terus yaa....
Ongoing 1000 love, gaiss...
Visual tokoh2 bisa cek di IG saya ya: rockinglady69