6 FACE YOUR DEMON, ARISSA! ( 2)

1323 Words
Pangkalan militer nasional, klinik psikiater Jacob berbaring dengan malas di atas sofa di dalam ruangan Jose yang ber-AC sementara Jose sendiri sibuk mempersiapkan beberapa peralatan dan buku catatan yang biasa ia gunakan saat terapi. Sambil sibuk bermain dengan ponsel dan mendengarkan music dengan headsetnya seperti biasa, Jacob bertanya,” Jadi siapa lagi yang kita tunggu, Paman?” Jose tidak menjawab dan hanya memandang kea rah remaja tersebut dengan penuh arti serta melihat kea rah jam tangannya. “Yah, seharusnya mereka sudah datang sekarang…” Mendadak, pintu ruangan terbuka dan Cristan serta Arissa langsung memasuki ruangan klinik tersebut secara bersamaan. “Maaf, kami sedikit terlambat. Tadi di jalan….” kata Cristan berusaha menjelaskan. Jose hanya melambaikan tangannya dengan santai dan membalas, “Tidak apa-apa. Sekarang, semuanya sudah berkumpul, Kita langsung ke ruangan sebelah yaa..” “Tunggu!” Jacob bangkit berdiri secara tiba-tiba dan menuding kea rah Cristan dengan tatapan gusar. “Aku mengerti kalau kita menunggu ibuku dari tadi. Tapi, kenapa bocah tua itu ada di sini juga?” Jose menghela nafas panjang dan berusaha menjelaskan dengan sabar,” Akan kujelaskan semuanya setelah sesi ini selesai. Bagaimana? Kau keberatan?” Walaupun masih kesal, Jacob menganggukkan kepalanya. “Hhh… baiklah…” “Bagus! Nah, sekarang, semuanya… tolong ikuti aku…” “Kau tidak sibuk hari ini, Kak Jose?” tanya Arissa sedikit gugup. Ia tahu sendiri betapa sibuknya Jose di pangkalan militer sehingga ia sama sekali tak sempat pulang untuk mengunjungi ibu angkat mereka di panti asuhan. “Aku sengaja mengosongkan jadwalku khusus untuk hari ini….hehe…” balas Jose sambil membukakan pintu ke ruangan sebelah dan mempersilakan mereka untuk masuk ke dalam ruangan. Di dalam ruangan tersebut, tidak terlalu banyak perabotan yang ada. Hanya sebuah tempat tidur khas rumah sakit yang hanya cukup ditempati oleh 1 orang, sebuah meja kayu dengan kaki logam, sebuah sofa dan beberapa tempat duduk untuk sekitar 3 orang. Satu lagi, ada sebuah alat elektronik dengan kertas rol panjang yang tergulung keluar. Posisi alat tersebut persis berada di sebelah tempat tidur. “Ok, alat ini namanya adalah Electroencephalogram atau biasanya kita singkat dengan EEG. Fungsinya adalah untuk membaca gelombang otak manusia. Seperti yang kita tahu, otak manusia terdiri dari beberapa bagian, tapi yang paling kita ketahui secara jelas fungsinya ada di otak besar yang terbagi menjadi dua bagian yaitu otak bagian kiri dan kanan. Nah, jika otak bagian kiri biasanya kita gunakan untuk hal-hal yang bersifat praktis dalam keadaan sadar seperti mengambil keputusan sehari-hari, berpikir secara logis, melihat detail sebuah benda, dan sebagainya. Tapi sebaliknya dengan otak kanan. Di bagian otak ini, segala sesuatu yang bersifat abstrak, ada di bagian ini. Imajinasi, emosi, intuisi, mimpi, kreativitas serta ingatan memori jangka panjang, semuanya ada di sana dan tersimpan di alam bawah sadar kita. Hal – hal yang kita alami dan simpan sebagai ingatan kolektif secara otomatis akan menentukan karakter dan kebiasaan serta bagaimana respon kita terhadap orang lain atau sebuah kejadian di waktu sekarang. Sampai sini… kalian semua paham?” Jacob, Cristan dan Arissa hanya manggut-manggut saja setelah mendengar penjelasan seputar masalah otak manusia tersebut dari Jose. “Nah, apa yang akan kita lakukan sekarang adalah sesi hipnoterapi. Dengan bantuan beberapa alat psikologi, Arissa akan melakukan perjalanan self-healing menuju kea lam bawah sadarnya sendiri dan menyembuhkan trauma batinnya. Kau sudah siap, Arissa?” Arissa mengangguk singkat tapi ada sedikit keraguan di matanya. “Tunggu, apakah hal ini aman? Kau sudah pernah melakukan hal ini sebelumnya?” tanya Cristan cemas. “Well… kau bisa lihat hasilnya pada Kakek Dom dan beberapa pasien lain yang pernah kutangani. Dan, sebagai tambahan informasi, cara ini sudah popular dilakukan sejak abad 19 dan legal secara hukum. Jadi, bagaimana menurutmu?” tanya Jose balik sambil mengangkat kedua alisnya. “Baiklah, kalau begitu. Sayang, kau yakin? Apa kau benar-benar sudah siap untuk melakukannya hari ini?” tanya Cristan lagi dengan kuatir sambil menggenggam tangan Arissa erat-erat. Jacob hanya mendecakkan lidahnya dengan kesal sambil memalingkan wajahnya kea rah lain. “Aku siap, Jose. Ayo, kita lakukan sekarang…” kata Arissa. Ia sudah bertekad bulat untuk mendampingi dan membantu Cristan untuk pertarungan terakhirnya. Dan ini, adalah hal terbaik yang bisa ia lakukan untuk dirinya sendiri. Menghadapi dan mengalahkan semua mimpi buruk yang menghantuinya sejak dulu. Sekarang, ia punya alasan untuk berjuang dan Arissa tidak akan gentar untuk menghadapinya. Arissa lalu berbaring di atas kasur sambil Jose memasangkan beberapa kabel elektrik di bagian kepala dan tangan Arissa untuk tetap memantau keseluruhan proses aktivitas di dalam otak Arissa. Jose juga sudah menyiapkan sebuah suntikan berisi kadar morfin yang sangat rendah untuk membantu Arissa lebih rileks dan memasuki “gerbang alam bawah sadarnya” dengan tenang. “Arissa, aku perlu memberitahumu beberapa hal ini. Pertama, setelah disuntik oleh morfin, tubuhmu akan terasa lebih rileks dan perlahan-lahan kesadaranmu akan menurun. Di fase ini, gelombang otakmu akan mencapai level Alpha yang kemudian akan turun terus menuju level Theta dimana semua memori masa lalu dan ingatan mimpimu tersimpan dengan sangat baik di dalamnya. Ada beberapa visualisasi yang dialami oleh semua pasienku saat mereka berada dalam fase ini dan semuanya sama sekali berbeda. Ada yang melihat gerbang besar berwarna putih, ada yang melihat padang rumput yang luar biasa luas, ada yang melihat jalan raya tak berujung, semuanya tidak ada yang sama menurut pengalaman pribadi mereka masing-masing. Aku pun, tidak akan bisa melihatnya. Yang bisa aku pantau hanyalah pancaran gelombang otakmu melalui alat ini. Ini adalah sebuah perjalanan spiritual pribadi yang hanya bisa kau lakukan sendiri tanpa kami. Apa kau mengerti?” Arissa mengangguk. “Sekali lagi kutanya, kau sudah siap?” Arissa mengangguk sekali lagi. Ada sebuah keteguhan hati di sepasang mata biru tersebut. Tanpa ragu, Arissa lalu membaringkan dirinya di atas kasur dan melemaskan tubuhnya. Cristan terus berjaga di sampingnya sambil menggenggam erat tangannya. “Baiklah…” Jose mulai menyuntikkan cairan morfin tersebut pelan-pelan ke dalam lengan Arissa. “Dalam waktu 3 menit dari sekarang… tubuhmu akan mulai terasa ringan dan melayang…” “Sekarang, pejamkanlah matamu….” Arissa mengambil nafas panjang dan menghembuskannya pelan-pelan. Ia bisa merasakan kalau pengaruh morfin tersebut mulai bekerja pada dirinya. Pelan tapi pasti, kesadarannya mulai menurun. Suara Jose yang menghitung mundur mulai terdengar samar-samar. Ia mengantuk sekali. Sepuluh…. Sembilan… Delapan…. Tujuh…. Enam… Lima… Empat… Tiga…. Dua…. Satu…. Bayangan semua orang mulai memudar. Digantikan oleh sebuah warna. Hitam pekat. Arissa tertidur. Tubuhnya terasa sangat ringan. Ia melayang. Anehnya, ia merasa kalau ia seperti tengah terjatuh ke dalam sebuah sumur tanpa ujung. Tubuhnya terus meluncur pelan ke bawah perlahan seperti ditarik oleh sebuah kekuatan tak kasat mata. Sampai akhirnya, kakinya mencapai sebuah dasar dan Arissa akhirnya bisa berdiri tegak dengan kedua kakinya. Di hadapannya terbentang barisan pintu dengan cahaya berpendar berjejer di sebelah kanan kiri dengan jumlah tak terbatas. Semua pintu tersebut bagaikan berada di dalam sebuah terowongan besar tanpa wujud. Arissa tidak bisa melihat apapun di sana karena dikelilingi oleh kegelapan total. Syukurnya, ia masih bisa melihat dirinya sendiri secara utuh dan bentuk pintu – pintu tersebut yang terhampar di hadapannya. Pelan, dengan rasa ingin tahu yang besar, Arissa mulai membuka pintu pertama…. ………………………………………………………………………………….. 30 menit sudah berlalu…. “Bagimana keadaannya?” tanya Cristan kepada Jose yang sibuk memantau hasil print out alat EEG di hadapannya. “Masih aman. Sementara ini gelombang otaknya masih stabil. Kurasa ia baru saja sampai di gerbang bawah alam sadarnya…” kata Jose. Cristan mengangguk dan terus menunggu. ..................................................... Note : 2 chapter hari ini yaa, gengs!! Siap2 sport jantung dan tegang terus yaa.... Mudah2an di minggu kedua atau ketiga, sinopsis diapproved yaa.... Ongoing 1000 love, gaiss... Visual tokoh2 bisa cek di IG saya ya: rockinglady69
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD