13 PERMULAAN

1491 Words
Ruang bawah tanah, Rose Mansion Semua anggota senat Klan Levy sudah berkumpul di ruang bawah tanah termasuk Jade dan Cristan. Suasana terasa sangat tegang ketika para anggota senat memilih tempat duduknya masing-masing dan jelas-jelas menunjukkan keberpihakan mereka pada kubu yang sudah dipilihnya. Leo duduk dengan santai sambil tersenyum licik di tengah-tengah para pengikutnya di sebelah kanan. Sementara Cristan duduk di sebelah kiri dengan Jade, Borca dan para anggota senat yang masih berusia kurang lebih seusia dengannya. Di tengah-tengah ada 4 orang tua yang sudah ditunjuk sebagai juri dalam pertarungan ini. Mereka semua tadinya adalah anggota dari 5 Pilar Utama dan seangkatan dengan Kakek Besar sebelum masing-masing dari mereka mengundurkan diri karena faktor usia. Kening keempat tetua itu berkerut jengkel dan jelas-jelas gusar karena mereka harus kembali menangani urusan klan di waktu seharusnya mereka sudah beristirahat dan menikmasi sisa hidup mereka di atas muka bumi. Tapi, begitu keempatnya mendengar apa yang sudah terjadi dengan Kakek Besar dari Jade, mau tak mau, mereka berempat sepakat untuk kembali mengawasi pertarungan ini secara adil untuk kebaikan bersama. Hal itu juga yang menjadi salah satu syarat wajib dari pakta The Origin yaitu para penilai haruslah orang-orang yang tadinya merupakan anggota tetap klan tapi sekarang sudah tidak menjabat status apapun di dalam klan sehingga para penilai bisa mengawasi jalannya pertarungan secara adil dan tidak berat sebelah. Keempat tetua itu duduk dengan diam di area tengah sampai kemudian salah satu dari mereka mulai memperkenalkan dirinya masing-masing. Seseorang dengan wajah simpatik dan sorot mata yang sangat teduh. Perlahan, ia bangkit berdiri dan dengan suara sedikit bergetar, ia mulai menyampaikan beberapa kata pembuka kepada semua orang. “Selamat siang, Saudaraku. Seperti yang telah kita ketahui, hari ini merupakan salah hari yang paling bersejarah karena kedua kandidat utama yang mencalonkan dirinya sebagai calon ketua klan telah sepakat untuk mengaktivasi The Origin…” “Sebuah tradisi leluhur yang sudah lama hilang dan dilupakan. Sebuah obor untuk mencapai supremasi tertinggi di mata dunia….” Pria tua mengambil nafas sebentar dan menghembuskannya perlahan. Ia berusaha untuk menahan gejolak emosinya sebelum kembali melanjutkan kalimatnya. “ Namaku adalah Phllias Levy, tapi lebih banyak orang mengenalku sebagai Kakek Phil. Aku, Dominic, dan ketiga rekanku di sini dulu dikenal sebagai 5 Pilar Utama yang menopang klan tapi mungkin, sekarang jaman sudah berubah dan sekarang, sebagai pendukung di belakang layar, kami secara resmi memulai pakta The Origin…” Kakek Phil tersenyum sambil memperkenalkan ketiga rekannya yang duduk di sisinya. Margareth Levy, yang duduk persis di sebelahnya, sekaligus istrinya. Peter Levy yang selalu bertampang serius serta Ricardo Levy yang hanya duduk tenang sambil melipat kedua tangannya di d**a dan mengangguk kecil pada semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut. Perlahan, Kakek Phil membuka gulungan kulit kuno bernoda 20 jempol darah yang ada di tangannya. Hatinya seperti tersayat-sayat saat itu ketika membacakan setiap peraturan yang tertulis di atasnya dalam bahasa Italia. Dari dulu, mereka berlima sama sekali tidak menyukai The Origin karena setiap kali pakta tersebut diaktifkan, pasti terjadi pertumpahan darah yang terjadi dan menyebabkan perpecahan internal besar-besaran dalam klan. Tapi tak ada seorang pun yang berani untuk melanggar tradisi. Baru Arina sajalah yang berani mengambil tindakan tegas untuk menyegel pakta berdarah itu rapat-rapat dalam masa kepemimpinannya. Keempat tetua termasuk Kakek Dom akhirnya bisa menghembuskan nafas lega setelah tak ada lagi korban jiwa akibat kelicikan atau saling serang dalam perebutan kekuasaan dalam klan. Mereka berlima bisa hidup damai dan saling bercengkrama sesekali sambil mengenang masa lalu saat mereka berjibaku berjuang bersama untuk kepentingan klan. Sayangnya, perdamaian itu pecah hari ini… Dalam waktu 20 menit, semua peraturan dalam pakta The Origin selesai dibacakan dan Kakek Phil duduk kembali. Berikutnya, perwakilan dari kubu Leo yaitu Thomas mengumumkan kriteria, lokasi dan waktu pertarungan pertama dari pakta The Origin. “ELEMEN LOGAM : GOLD FOR GLORY…” “Lokasi : Aula Utama Rose Mansion…” “Waktu : Besok pagi pada pukul 10.00….” “Kedua kandidat dipersilakan untuk mempersiapkan presentasinya masing-masing. Sekian…” Begitu Thomas selesai membacakan kriteria pertandingan pertama, dengan santai, Leo tersenyum licik sambil bangkit berdiri dan meninggalkan ruangan. Begitu ia melewati barisan Cristan dan teman-temannya, langkah kakinya terhenti sebentar. “Sampai jumpa besok, Nak…” Tangannya menepuk salah satu pundak Cristan dengan lembut tapi Cristan langsung menepis tepukan tangan ayahnya dengan ekspresi jijik. Leo terkekeh. Sama sekali tidak merasa terganggu akan sikap anaknya tersebut. Sementara semua orang hanya terdiam saat menyaksikan adegan tersebut. Sepeninggal Leo, Cristan langsung membuat panggilan kepada anak buahnya di Symbiote Corp, Eliah Woods. “Eliah, siapkan laporan presentasi perusahaan serta semua total aset yang Symbiote Corp miliki sekarang. Aku mau semuanya beres sebelum pukul 18.00 sore ini. Ya… betul…minta juga Haykal untuk membantumu dalam mempersiapkan semuanya….” Jade yang dari tadi ikut mendengarkan akhirnya ikut angkat bicara. “Apa ada yang perlu kubantu, Tuan Muda?” tanya Jade dengan nada cemas. Pakta The Origin sudah dibuka dan tantangan pertama sudah dilemparkan oleh pihak lawan. Mereka sudah tidak bisa mundur lagi! “Ya, tolong siapkan semua data kekayaan serta jumlah aset yang kumiliki sebagai hak waris di dalam Klan Levy…” balas Cristan dengan nada serius. GOLD FOR GLORY adalah tantangan pertama dengan elemen logam dimana kedua belah pihak akan membandingkan total nilai aset dan kekayaan bersih yang dimilikinya. Barangsiapa yang memiliki nilai likuiditas tertinggi, ialah pemenangnya! Sebagai salah satu pemilik perusahaan yang sedang berkembang pesat, total kekayaan bersih yang dimiliki oleh Cristan sendiri sangat banyak. Tapi siapa yang tahu, seberapa besar total kekayaan bersih serta aset yang dimiliki oleh Leo? Apalagi Leo dikenal sangat dingin dan tertutup. Tak banyak informasi pribadi yang bisa dikorek dari ayahnya tersebut. Rasa cemas mulai merayapi hati Cristan. Tapi ia tak bisa mundur sekarang… ……………………………………………………………………………………….. Desa Oberon Kronos menerima telepon dari Janus dengan hati berbunga-bunga. Strateginya sudah berhasil dengan baik. Musuh sudah memakan umpan yang mereka berikan sekarang, tugasnya hanyalah menonton dan menunggu hasil pertandingan besok dengan baik. Tapi, sebagai seorang elite, ia tidak boleh terlena sekarang. Walaupun kelihatannya semuanya akan berjalan sesuai rencana, ia tetap harus berhati-hati dan menyiapkan rencana cadangan. Mata-matanya sudah menginformasikan sebuah lokasi. Sebuah panti asuhan. Dan sebuah nama dari seorang wanita tua. Sambil menyeringai lebar, Kronos menaiki mobil jip off-roadnya serta memerintahkan salah satu anak buahnya untuk menyetir mobil langsung ke lokasi tersebut. “Kita mau ke mana, Bos?” “Kita akan berkunjung sebentar ke sebuah tempat…” “Panti asuhan Young Generous…” ……………………………………………………………………………………… Sementara itu, di sebuah vila mewah…. Ruang tamu yang biasanya lengang itu dipenuhi dengan berbagai orang. Diantara mereka, seorang pemuda berwajah tampan sedang duduk bersandar dengan angkuh sambil menyilangkan kedua kakinya. Gayanya sangat aristocrat. Menunjukkan kalau ia berasal dari kasta yang sama sekali berbeda dari para tamunya. Dihadapannya, ada sekitar 10 amplop coklat tebal yang ditumpuk rapi di atas coffee table. Pandangan para pria di hadapan pemuda tersebut terlihat sungkan sambil sesekali mencuri pandang kea rah tumpukan amplop tebal di hadapan mereka. “Jadi… kita mencapai kata sepakat?” Kesepuluh orang di depannya secara otomatis langsung menganggukkan kepala secara tegas sambil meneguk ludah. Mereka adalah para awak media yang sengaja disewa untuk meliput acara pertandingan The Origin besok dan sudah disuap untuk memanipulasi berita di seluruh media nasional. “Baiklah, silakan mengambil jatah kalian masing-masing…” Dengan patuh, kesepuluh orang tersebut mengambil satu amplop dan langsung undur diri setelahnya. Dalam waktu singkat, ruangan tersebut langsung berubah sunyi. Hanya bunyi jarum jam saja yang terdengar pelan di sana. “Kerjamu bagus, Thomas…” puji Janus yang keluar setelah ia mengamati semuanya dari sebuah sudut tersembunyi di ruangan tersebut. “Apapun untuk Klan Judas….” katanya sambil tersenyum puas. “Orang biasa memanggil kami dengan sebutan munafik, tapi aku menyebutnya politik. Begitulah sistem kerja dunia ini. Tidak ada batas hitam putih, hanya ada warna abu-abu…” “Betul kan?” tanya Thomas secara retoris kepada Janus. Janus hanya mengangguk sambil melipat kedua tangannya di atas d**a. Sinar matanya berkilat keji. “Besok… akan menjadi hari yang sangat menarik…” ………………………………………………………………………………………………… Pangkalan militer, klinik psikologi Jose Ivera “Ehmmm… kau sudah siap, Rue?” tanya Jose pada seorang gadis muda yang tengah berdiri di hadapannya. Gadis yang disebut Rue tersebut hanya mengangguk ringan. Tanpa dikomando lagi, ia langsung menghilang di tengah kegelapan malam. ..................................... note: ongoing 1000 love, gaisss.... tegang lagiiiii.....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD