12 LEO & WANDA (21++)

1145 Words
Laboratorium Pusat, Sayap Kiri Rose Mansion “Semuanya sudah siap?” tanya Leo pada Thomas yang duduk di sebelahnya serta menganggukkan kepalanya dengan patuh. Ada 20 orang yang sedang duduk di dalam ruang pertemuan tersebut dan semuanya merupakan para anggota senat yang membelot dari Klan Levy. Diam-diam, tanpa sepengetahuan Kakek Besar dan Jade, Thomas dan Joseph sudah memulai manuver mereka dari jauh-jauh hari untuk mempersiapkan hal ini di bawah perintah Leo. Dimulai dari hari kematian Arina, Leo Levy sudah bergerak untuk mempersiapkan diri mengambil alih posisi tertinggi di klan perlahan-lahan secara paksa. Butuh waktu lama bagi mereka untuk membujuk para anggota senat yang lain untuk ikut mendukung dan berkhianat terhadap d******i kepemimpinan Kakek Besar sepeninggal Arina. Syukurlah, semuanya ternyata berjalan baik. Senyum licik terlihat di wajah Leo ketika akhirnya ia bangkit berdiri dan mengangkat gelas berisi sampanye yang sudah dipersiapkan di atas meja. Besok, ia akan mengumumkan lokasi pertarungan, para calon juri, dan bagaimana kriteria penilaian pemenang akan ditentukan. Semuanya sudah diatur dengan sangat rapi dan cerdik. Ia sudah yakin tidak akan ada celah sedikit pun dalam rencananya kali ini. “Bersulang!!” Leo mendentingkan gelasnya dengan para anggota komplotannya sebelumnya akhirnya ia menenggak habis isinya. Malam ini, posisi meja telah berubah. Sebentar lagi, nama Leo Levy akan tercatat di dalam sejarah sebagai salah satu pemimpin tertinggi di Tiga Dunia! …………………………………………………………………………………………………… Kamar tidur utama, Laboratorium Pusat, Sayap Kiri Rose Mansion Leo Levy baru saja selesai mandi. Tubuhnya masih sedikit mengeluarkan uap air hangat sementara wangi sabun tercium segar dari badannya. Rambutnya masih sedikit mengeluarkan titik-titik air karena Leo baru saja keramas tadi. Pertemuan yang ia adakan selama 6 jam ini cukup menguras energinya dan ia merasa letih. Tapi setelah mandi, ia merasa sangat segar. Leo baru saja mau mengeringkan rambutnya, ketika ia merasa ada seseorang yang mengusap punggung dan membantunya untuk mengeringkan rambut dengan sebuah handuk kering. Ketika ia berbalik, ia melihat Wanda yang sedang tersenyum manis ke arahnya dengan pose tubuh yang sangat menggiurkan. Tubuhnya dibalut dengan gaun tidur hitam transparan sehingga memperlihatkan setiap lekukan raganya dengan sangat sempurna. Di bawah penerangan lampu kamar yang remang-remang, siluet tubuh Wanda terlihat begitu erotis dan mempesona. Kedua payudaranya bahkan terlihat sanggat menggoda mata malam ini. Leo tak pernah habis pikir. Kenapa setiap kali ia melihat sosok wanita ini, gairahnya langsung bangkit dan kejantanannya menegang kencang seketika. Wanda seperti hanya terlahir untuknya. “Wanda….” Leo langsung menarik wanita cantik tersebut ke dalam pelukannya dan langsung memagut bibirnya dengan birahi menggebu-gebu. Lidahnya dengan liar memasuki mulut Wanda yang setengah terbuka serta mengeksplorasi langit-langit mulut wanita itu dengan sangat bernafsu. Sementara kedua tangannya sibuk menggerayangi tubuh sintalnya yang indah. Di bawah rangsangan seksual Leo, Wanda mulai mendesah nikmat. Ketika Leo membanting tubuhnya ke atas kasur dan langsung menindih tubuhnya, lidah dan bibir Leo mulai menciumi setiap bagian tubuh Wanda dengan sangat intens. Dalam sekali sentakan, tangan Leo juga dengan beringas langsung melepas bra yang dikenakan oleh Wanda dan langsung membuangnya ke atas lantai. Leo tak berhenti sampai di sana. Perlahan, ia mulai memainkan kedua gunung kembar Wanda dan mencumbui puncaknya yang berwarna merah muda dengan lidahnya. Membuat tubuh Wanda spontan menggelinjang dan melenguh nikmat saat tangan ketika lidah Leo bermain dengan sangat pintarnya menjelajahi setiap titik erogenus di tubuh Wanda. Getaran-getaran sensual itu seperti ribuan setrum yang merangsang tubuh Wanda perlahan-lahan yang mampu menerbangkannya ke langit ke tujuh. Sebuah surga duniawi yang diciptakan oleh insting manusia paling primitive. Seks. “Achhhhh…..Leooooooooo…………..” Wanda menjerit bersamaan dengan lonjakan orgasmenya yang spontan keluar tanpa tertahan lagi. Leo tersenyum tapi ia belum berhenti, mata sendunya memberikan sinyal bahwa permainan seks ini masih akan terus berlanjut sampai mereka berdua merasa puas. Tidak, tepatnya, ia puas. Lidah Leo perlahan turun ke bagian bawah tubuh Wanda dan menatap bibir mahkota yang berwarna merah muda. Lidahnya mulai kembali menari di sana. Menjelajahi setiap sudut terintim dengan pijatan sensual dari kedua jari tangannya yang bermain dengan klitorisnya. Wanda kembali melenguh dan tubuhnya membungkuk ke belakang. Kedua kakinya terentang lebar. Memberikan ijin selebar-lebarnya pada Leo untuk melakukan apapun yang ia mau di bawah sana. Sebelah tangan Wanda meremas rambut Leo sementara ia menutup matanya sambil merasakan sensasi birahi yang terus naik dan nafasnya tersengal-sengal. Berusaha untuk meredam lonjakan gairah yang terus dipompa oleh jari dan lidah Leo tanpa henti. Kemudian….. Wanda menjerit sekali lagi. Lagi-lagi, ia o*****e. “Giliranku….” Balas Leo yang segera menghunjamkan kejantanannya langsung ke dalam mahkota mungil milik Wanda dalam sekali gerakan. Wanda tersentak kaget dan ingin berteriak tapi mulutnya langsung dilumat paksa oleh Leo. Lidah mereka saling beradu di dalam sementara tubuh Leo menindih dan memompa kejantanannya berulangkali dengan cepat. Mengirimkan semua sensasi erotis dengan kecepatan yang menggila ke dalam otak mereka berdua. Dalam beberapa menit, mereka berdua melenguh panjang berbarengan dengan meledaknya o*****e secara bersamaan. Seprai mereka langsung basah oleh campuran cairan cinta yang keluar dari organ intim mereka berdua. Nafas mereka berdua tersengal-sengal. Kedua tubuh mereka basah kuyub oleh keringat dan wajah mereka tersenyum puas. Tapi, Wanda belum selesai. Dengan sigap, ia bergantian menindih tubuh Leo di atas ranjang dan mengulum kejantanan pria tersebut dengan sangat ahli. Ia sudah hafal betul di mana titik-titik erogenus pria tersebut sembari lidahnya menari liar di atas b***************n Leo dan salah satu tangannya mengocok batang pusaka pria itu dengan sangat cepat serta membuat Leo mengerang nikmat. Tidak berapa lama, Leo melenguh keras dan cairan putih langsung tersemprot keluar dari ujung kejantanannya. Wanda tersenyum puas dan memposisikan tubuhnya di atas tubuh pria itu. Ia mulai memompa kejantanan Leo yang masih berdiri tegak dengan vaginanya. Leo bisa merasakan kalau dinding v****a Wanda sangat erat menjepit batang pusakanya dan memijatnya secara perlahan dari dalam sementara pemandangan kedua bukit kembar yang berguncang naik turun sangat memanjakan matanya. Dengan rakus, direngkuhnya kedua gunung kembar tersebut dengan bibirnya secara bergantian sambil sesekali ia melumat bibir Wanda. Malam itu entah berapa kali mereka bercinta dengan berganti-ganti posisi dan penuh gairah sampai subuh menjelang. Seumur hidupnya, Leo belum penah menikmati permainan ranjang sepanas dan seliar ini dengan siapapun. Hanya dengan Wanda! Dan ia sangat menyukainya! Wanda tidak secerdas Arina, tapi Leo tak peduli. Jika dulu dengan Arina ia seringkali bisa beradu otak dan argumen sebelum mereka berakhir di tempat tidur, Wanda dengan caranya sendiri bisa memuaskan seluruh hasrat biologisnya dan melayaninya sepenuh hati. Sebuah insting naluriah yang dimiliki oleh setiap manusia dan mereka berdua bisa menuntaskannya setiap kali mereka bercinta dengan ganas di atas ranjang. Leo juga yakin. Seyakin-yakinnya……….. Kalau dalam permainan ini, tanpa kehadiran Arina, Klan Levy pasti jatuh ke dalam tangannya! ................................. note : ongoing 1000 love ya, gaiss... siap2 emosinya diroller coaster lagi okehhh...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD