CH 8 : Terlalu Dekat

1120 Words
“Y-ya ... maaf tunggu apa ya, Tuan?” tanyanya lugu. Jay bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekat menghampiri Lily, lalu pria itu duduk di tepi meja tepat di samping gadis berwajah oval itu. Lily menjadi semakin gugup dibuatnya dan ia tidak berani menatap Jay. Ia mengarahkan pandangan matanya pada tumpukan berkas yang berada di atas meja. Lalu, Jay mendekatkan wajahnya pada wajah gadis itu, semakin lama semakin dekat. Bahkan, Lily dapat mendengar deru napas pria itu dengan jelas. Mau apa dia dekat-dekat seperti ini? Astaga lama-lama aku tidak kuat menatap wajah tampannya, batinnya. “Lily, apa kamu tidak mau menandatangani berkas perjanjian kontrak kerja ini? Mengapa kamu malah bertanya tunggu apa? Saya menunggu kamu menandatangani berkas ini. Apa sebenarnya yang sedang kamu pikirkan?” tanya pria tampan itu penasaran. Wajah Jay hanya berjarak sekitar beberapa sentimeter saja. Lily hanya berani menatap lurus ke depan sambil mengatupkan tangannya erat-erat. “S-saya mau. Maaf Tuan, saya salah mengartikan perkataan Anda. Baik saya tandatangani sekarang,” jawab Lily gugup, jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Ia mengambil bolpoin yang terletak di atas meja, lalu menandatangani beberapa lembar berkas perjanjian kerja itu. “Saya sudah menandatangani berkas perjanjiannya, Tuan.” Lily menoleh dan memberanikan diri untuk menatap wajah pria itu, tapi yang terjadi justru berada di luar dugaan. Pandangan mata keduanya saling beradu, menatap jauh ke kedalaman mata. Lalu, pandangan Lily jatuh pada bibir tipis sedikit lebar berwarna merah milik pria itu. Jantungnya berdegup semakin kencang dan pikirannya mendadak kosong melihat pemandangan di hadapannya. Lily terpaku pada wajah tampan yang berada dekat di hadapannya. Hidungnya yang mancung, iris matanya yang berwarna kecoklatan yang dihiasi oleh bulu mata lentik dan tebal, alis matanya yang tebal dan rapi, rahang wajah yang tegas serta napasnya yang beraroma mint. Semua hal itu membuat gadis lugu ini terpaku, selama dua puluh satu tahun, ini pertama kali dalam hidupnya berdekatan wajah dengan seorang pria tampan. Dan selama itu pula, Lily belum pernah menjalin kasih atau berpacaran dengan pria manapun. Dan uniknya, gadis ini belum merasakan yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama. Hanya dekat dengan Jay saja membuat jantungnya berdegup dan berdetak lebih kencang. Napasnya terdengar memburu dan keringat dingin membanjiri telapak tangannya. Rasa gugup dan salah tingkah mendominasi diri gadis itu tatkala berdekatan dengan pria tampan bermata biru itu.  “Tu-tuan, saya rasa Anda terlalu dekat,” ucap gadis itu gugup. “Jangan panggil aku tuan. Setelah kupikir-pikir, lebih terdengar enak jika kamu memanggil namaku saja. Panggil aku Jay. Bukankah aku sudah pernah memberitahumu hal ini?” ucapnya seraya menatap wajah Lily dengan seksama. “B-baik Jay. Lalu, apa Anda ada perlu lagi dengan saya?” “Kau terdengar tergesa-gesa. Aku tidak ada urusan lagi denganmu, kau boleh pergi sekarang. Tapi ....” “Tapi apa, Jay?” tanya Lily penasaran. Jay menjauhkan wajahnya dari Lily, lalu berdiri membelakangi gadis itu kemudian berkata, “Mulai besok kamu sudah dapat mengajar Marilyn. Oh ya, selama mengajar lebih baik kamu memakai celana panjang sebab Marilyn anak yang cukup aktif, jika kamu memakai rok, maka akan menyulitkan dirimu saja,” ucap pria itu. “Baik, saya mengerti. Jika tidak ada yang lainnya lagi, bolehkah saya pergi sekarang?” tanya Lily gugup. “Boleh, silahkan keluar. Besok jam kerjamu mulai jam sembilan pagi dan tunggu saya sampai di rumah, baru kamu boleh pulang. Dan satu lagi, besok teman priamu tidak perlu menemani atau menjemput kamu, saya sudah siapkan supir pribadi untuk antar jemput kamu. Sampai di sini apa kamu mengerti?” “Ya, Jay.” “Bagus, baiklah kamu boleh keluar sekarang.” Jay mengulurkan tangannya dan mempersilahkan gadis itu keluar. Lily bangkit berdiri dari kursi, mengambil tasnya, lalu membungkuk dan tersenyum kecil pada pria itu seraya berkata, “Saya permisi dulu, Jay.” “Ya, silahkan,” jawabnya seraya menatap Lily. Lily pun berjalan menuju pintu keluar dengan langkah lunglai, ditariknya pegangan pintu dan ia keluar dari ruangan itu. Namun, sebelum ia menutup rapat pintu ruangan pria tersebut, ternyata pandangan mata Lily beradu pandang dengan pandangan mata pria itu. Lily terkejut dan jantungnya berdetak kencang menandakan ia salah tingkah. Segera ia tutup pintu ruangan tersebut dan ia bersandar pada dinding untuk sejenak, menarik napas dalam-dalam, menstabilkan kembali perasaannya yang sempat kacau dan pikirannya yang sempat kosong karena terlalu gugup. Ia memegangi dadanya seraya berkata dalam hati, kenapa aku menjadi gugup dan salah tingkah? Tapi aku merasa senang berada dekatnya. Arghh Lily, kamu gila. Tadi malam kamu memimpikan dirinya menyatakan cinta dan mencium bibirmu, kini kamu merasa senang saat berada dekatnya. Tidak bisa, tidak bisa. Ini gila dan tidak nyata. Lily menggeleng-gelengkan kepalanya ke kiri dan kanan seraya bergumam, “Tidak boleh, tidak boleh. Lily sadarlah, sadarlah.” Stefan yang telah bangun dari tidurnya sejak lima belas menit yang lalu, mengarahkan pandangannya ke setiap sudut hotel mencari keberadaan Lily. Tidak lama, dilihatnya gadis itu tengah berada di ujung ruangan seraya bersandar pada tembok. Pria itu pun bergegas bangkit berdiri dan menghampiri Lily. “Ly, sudah selesai tanda tangannya?” tanya Stefan penasaran. Lily tersadar dari lamunannya dan menoleh pada sahabatnya itu. Lalu, ia pun menjawab, “Oh, i-itu tadi aku sudah selesai tanda tangan perjanjian kerjanya. Kamu sudah bangun?” “Iya aku sudah bangun tidur, kalau belum bangun terus yang berada di hadapan kamu sekarang siapa? Kamu kenapa jadi linglung begitu? Tadi kamu diapain sama Jay?” jawab Stefan. “Kamu sembarangan bicara, terus satu lagi aku tidak linglung. Aku cuma kaget saja, tadi itu wajahnya dekat sekali dengan wajahku.  Baru kali ini aku lihat wajah pria selain kamu dari jarak dekat.” “Hah? Serius? Ha ha ha ha kamu lugu banget, Ly. Ya sudah kita pulang atau gimana?” “Aku serius. Ayo kita pulang. Aku mau siap-siap untuk besok kerja. Oh ya, besok kamu tidak perlu antar aku pergi kerja. Tadi Jay bilang kalau mulai besok aku diantar jemput sama supir pribadi.” “Oh. Sudah disiapkan supir pribadi rupanya. Baik sekali,” jawab Stefan. “Tadi di dalam dia minta aku panggil dia pakai nama saja, tidak perlu menyebut dengan tambahan kata tuan lagi di depan namanya. Aku tadi lupa, waktu pertama kita ke rumahnya, dia sudah pernah bilang kalau dia ingin dipanggil Jay saja. Pakai acara lupa segala lagi.” “Ha ha ha entah kenapa aku sebagai pria merasa dia ini sedikit aneh. Tapi tidak yakin juga. Ya sudah mari pulang.” Setelah sampai di rumah, malamnya Lily duduk di teras depan rumahnya seraya melamun menatap langit malam sendirian. Entah kenapa, ia memikirkan Jay, memikirkan setiap perkataannya dan wajahnya yang berada dekat dengan wajah Lily. Apa aku mulai menyukainya? Semua orang berkata, pria yang luar biasa akan mencari wanita yang tidak biasa-biasa saja. Aku hanya seorang wanita biasa, apakah pantas bagiku untuk menyukainya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD