CH 7 : Gugup Karenamu

1159 Words
Akhirnya, langkah mereka terhenti di depan salah satu ruangan yang tampaknya lebih besar dari ruang-ruang lainnya. Lily menatap pada papan nama yang terletak di atas pintu dan papan itu bertuliskan ruang personalia.  “Van, ini ruang personalianya. Sepertinya benar ini ruangannya,” ucap Lily yakin. “Ya sudah mari kita masuk, oh ya ketuk dulu pintunya,” jawab Stefan sambil tersenyum lebar. Lalu, Lily mengetuk pelan pintu ruang personalia tersebut sambil berkata, “Permisi, bolehkah saya masuk?” Tidak lama kemudian, terdengar suara dari dalam yang mempersilahkan mereka masuk. “Silahkan masuk.” Kemudian, Lily masuk ke dalam ruangan, sementara Stefan menunggu di luar ruangan sambil duduk santai di salah satu sofa yang terletak di depan ruang personalia. “Van, aku masuk dulu ke dalam. Kamu tunggu di sini, oke?” ucap Lily seraya merapikan pakaian kerjanya. “Oke, aku tunggu di sini. Tenang saja, kamu tidak akan kutinggal.” Kemudian, Lily membuka pintu di hadapannya. Dengan memberanikan diri, gadis itu menoleh ke dalam dan melihat seorang wanita yang sangat cantik sedang duduk di meja kerjanya dan tampak sibuk memeriksa berkas yang ada di hadapannya. “Permisi, Bu. Maaf mengganggu,” ucap Lily seraya menutup rapat pintu tersebut dan berjalan menuju ke meja kerja wanita itu. “Silahkan duduk, tunggu sebentar,” jawabnya seraya tangannya sibuk membolak-balikkan kertas berkas yang berada di hadapannya. “Baik, Bu,” jawab Lily tenang. Tidak lama kemudian, wanita itu telah selesai dengan urusannya, lalu dia memperkenalkan dirinya kepada Lily. “Nama saya Diana, nama kamu Lily Natasha, kan?” tanyanya seraya mengulurkan tangannya menjabat tangan gadis itu. “Iya, Bu. Nama saya Lily Natasha,” jawabnya. “Oke, ini adalah berkas perjanjian kerja yang dibuat khusus oleh Tuan Jay untuk kamu. Tolong ditandatangani di bagian yang saya beri tanda. Ini bolpoinnya, silahkan.” “Bolehkah saya baca ini terlebih dulu?” “Oh, silahkan.” Lily membaca surat perjanjian kerja itu dengan teliti, semua pasal dan tulisan yang tertera di dalamnya tidak ada yang aneh, kecuali satu pasal yang bertuliskan, “Jika pihak pertama yaitu Tuan Jay Lee Adams memiliki urusan mendadak dan harus meninggalkan rumah, maka pihak kedua yaitu, Nona Lily Natasha harus bersedia untuk tinggal sementara di rumah pihak pertama untuk menemani pihak ketiga, dalam hal ini adalah Nona Marilyn Lee Adams sampai batas waktu yang tidak ditentukan.” Lily cukup terperanjat membaca pasal tersebut, tetapi yang jauh lebih membuatnya terperanjat adalah nama panjang pria itu yakni Jay Lee Adams. Nama yang bagus dan keren, batinnya. “Bu, mengapa pasal di bagian ini sedikit aneh? Memang berapa lama biasanya Tuan Jay pergi?” tanyanya penasaran. “Aneh bagaimana? Kamu diminta untuk menemani anak perempuannya Tuan Jay selama dia tidak berada di rumah. Apa ada yang salah dengan hal itu?” “Tapi, kenapa saya harus menemaninya?” “Karena Nona Marilyn tidak memiliki siapa-siapa di rumah itu, dia akan merasa sangat kesepian jika Tuan Jay pergi, maka dari itu Tuan Jay memintamu untuk menemaninya agar anak perempuannya tidak kesepian, disamping Nona Marilyn sedikit penakut.” “Benarkah?” “Ya, lagipula Anda akan dibayar sesuai jam lembur yang telah dikerjakan. Tetapi, jika Anda ingin protes terhadap pasal itu, silahkan datang ke ruangan Tuan Jay dan diskusikan hal ini dengannya.” “Saya kurang setuju dengan pasal ini, karena saya memiliki kehidupan pribadi juga. Di sini tertulis saya harus tinggal di rumah Tuan Jay sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Lalu, kapan saya bisa menjalani kehidupan pribadi saya? Lagipula, saya bekerja sebagai guru privat dan bukan sebagai pengasuh?” “Tapi, Anda membutuhkan pekerjaan ini, bukan?” “Ya, saya memang membutuhkan pekerjaan ini. Tapi, apa tidak bisa pasal ini dinegosiasi kembali?” “Anda dapat menemui Tuan Jay dan bicarakan hal ini dengannya. Dia ada di ruangan paling ujung.” “Baiklah, saya akan menemuinya. Terima kasih, Bu Diana. Saya bawa berkas perjanjian kerja ini.” “Oke, semoga berhasil.” Lalu, Lily pun keluar dari ruangan Bu Diana, dan sesampainya di luar ruangan dilihatnya Stefan yang sedang tertidur dengan lelap di sofa. Ia merasa kasihan melihat sahabatnya yang mungkin saja kelelahan, sehingga Lily berlalu pergi meninggalkannya yang tengah tertidur lelap. Gadis itu berjalan menelusuri lorong hotel, hingga akhirnya ia sampai di depan pintu sebuah ruangan yang jauh lebih besar dari ruangan yang lainnya. Jantungnya berdegup kencang dan rasa gugup mulai melandanya. Keringat dingin membasahi telapak tangannya, ingin rasanya ia berbalik kembali dan mengurungkan niatnya. Tapi, ia sudah sejauh ini dan apa yang telah ia tekadkan sebelumnya harus ia laksanakan. Lily mengetuk pelan pintu tersebut seraya berkata, “Permisi Tuan, bolehkah saya masuk?” Tidak lama terdengar suara balasan dari dalam ruangan yang menjawab, “Silahkan masuk.” Lily pun bersiap masuk, dengan tangan yang berkeringat dingin dan rasa gugup yang sangat hebat. Ia membuka dan mendorong pintu tersebut. Dilihatnya Tuan Jay sedang duduk di meja kerjanya, membolak-balikkan berkas yang berada di hadapannya, sama persis seperti yang dilakukan oleh Diana. “Permisi, Tuan. maaf mengganggu.” “Ya, duduklah dan tunggu sebentar,” ucapnya tanpa melirik ke arah Lily. Lily pun berjalan pelan menuju kursi yang berada di hadapan pria itu, dia menarik kursinya, lalu duduk. “Sudah kamu tandatangani surat tersebut?” tanyanya tanpa menatap gadis itu. Hmm bertanya tapi wajahnya tidak melihat pada wajah orang yang sedang ditanya. Aneh sekali, untung saja dia tampan, batinnya. “Ada yang mau saya tanyakan, Tuan. Ada satu pasal yang saya kurang setuju. Dapatkah pasal itu diubah?” “Tunjukkan padaku pasal yang mana?” “Yang ini, Tuan.” Lily menujukkan pasal itu kepada pria tersebut. Wajahnya tampak datar dan tidak berekspresi. “Mengapa kamu keberatan? Bukankah kamu bilang kamu butuh pekerjaan ini?” “Saya kurang setuju dengan pasal ini, karena saya memiliki kehidupan pribadi juga. Di sini tertulis saya harus tinggal di rumah Tuan sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Lalu, kapan saya bisa menjalani kehidupan pribadi saya? Lagipula, saya bekerja sebagai guru privat dan bukan sebagai pengasuh?” “Jadi itu yang ada dalam pikiranmu?” “Iya.” Pria itu lantas berhenti menatap berkas di hadapannya, lalu menaruh bolpoin yang sedang dia pegang, kemudian wajahnya menatap lekat ke dalam bola mata Lily. Dia diam, tidak bersuara sedikitpun, tetapi pandangan matanya sangat tajam melihat isi hati seseorang yang berada di hadapannya. “Untuk kamu tahu, aku sangat jarang bepergian. Jadi, pasal itu tidak akan berpengaruh besar. Ditambah gaji yang akan kuberikan juga besar. Sebanding, kan?” Lily terdiam dan menatap ujung meja. Semua yang dikatakan oleh pria itu benar. Lalu, mengapa ia harus protes? Jay menatap lekat wajah Lily yang berada tepat di hadapannya, membuat gadis itu salah tingkah. “Jika kamu tidak mau menerima pekerjaan ini tidak apa-apa.” “Tu-tuan ... saya menerima pekerjaan ini. Sebelumnya terima kasih karena telah mempercayai saya untuk mengajar putri Anda.” “Bagus jika kamu menerima pekerjaan ini, Marilyn pasti sangat bahagia. Sekarang apa yang kamu tunggu?” “Y-ya ... maaf tunggu apa ya, Tuan?” tanyanya lugu. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD