"Siapa, kamu?" Tanya pria itu menunjuk ke arah Deon dan Hans yang sudah berdiri di depannya. tatapan tajam Deon tidak membuat pria itu takut.
"Hans, urus dia." pinta Deon.
"Kalian ikut campur urusanku," geram pria asing itu. sembari menunjuk dengan wajah penuh amarah. Meskipun tubuhnya terlihat tak mampu berdiri tegap. pengaruh alkohol membuat tubuh kekar itu lunglai tanpa tulang. Pria asing itu berusaha untuk melangkah kedepan. Sembari tersenyum sinis tanpa rasa takut sama sekali.
Deon membalas senyuman itu dengan tatapan mata tajamnya. Aura mematikan mulai keluar dari sekujur tubuh Deon. Wajah yang sangat dingin itu mulai berapi-api.
"Jangan pernah mencoba untuk menyentuh wanitaku," geram Deon.
Pria itu menarik sudut bibirnya sinis. Dia masih tidak pedulikan apa yang di katakan Dion. pengaruh alkohol yang kuat tidak membuatnya takut pada siapapun. Bahkan termasuk Deon.
"Siapa wanitamu, Hah...." Pria itu menertawakan Deon.
"Anda tidak tahu tuan Deon?" Tanya Hans dengan nada penuh emosi.
"Urus dia." Pinta Deon.
Hans langsung mendekati pria asing itu tanpa basa-basi mengeluarkan beberapa pukulan padanya.
"Bugh..." Hans memberikan sebuah tendangan keras di perut pria itu. Hingga terpental ke belakang. Punggung terbentur ujung ranjang kamar itu.
"Bentar, apa yang kamu katakan tadi? Tuan Deon?" Tanya pria itu berusaha berdiri sembari memegang pinggang yang terasa sakit. Pria itu berdesis pelan, menahan rasa sakitnya.
"Iya,"
"Tuan Deon?" pria itu terdiam sesaat. Dia berjalan mundur ke belakang dua langkah teringat orang terkaya di kota adalah tuan Deon Wijaya. Semua orang tahu siapa dia. Pria dingin berhati iblis. Bahkan dia bisa membunuh siapakah saja yang menghalangi jalannya. Deon bisa menghilangkan nyawa seseorang tanpa ampun.
Seketika tubuh pria asing itu gemetar mendengar nama itu. Dia menelan ludahnya beberapa kali.
"Maaf, tuan.. Maaf!" Ucap pria itu beberapa kali sembari menundukkan kepalanya.
"Maaf, tuan! Saya tidak tahu jika itu anda. Dan saya tidak tahu itu wanita anda." Pria itu berlutut memohon ampun pada Deon. Deon bahkan tidak pedulikan pria itu. Tatapan mata Deon hanya tertuju pada satu arah. Seorang wanita yang terbaring di atas tempat tidur dengan pakaian sedikit terbuka.
Sepertinya Bella sudah tidak berdaya lagi. Tubuhnya hanya bisa berbaring manja di atas tempat tidur. Sembari membolak balikkan tubuhnya, seolah suasana di ruangan itu terasa sangat panas. Keringat mulai bercucuran keluar dari tubuhnya. Bella beberapa kali mengusap leher yang sudah berkeringat dengan lengannya.
"Emmmm.... kenapa panas sekali, apa kalian tidak menyalakan ac-nya ," gerutu Bella. Sembari mengusap tubuhnya yang terasa sangat panas. Beberapa kali Bella berusaha membuka bajunya. Namun jemari tangan itu seolah berhenti sesaat. Dia beranjak duduk, kedua mata perlahan terbuka, melihat samar-samar beberapa pria ada di depannya.
"Ka-kalian siapa?" Tanya Bella, sembari menu yuk satu persatu. "Emmm.. kenapa wajah kalian buram? Apa kalian penjahat?" Bella berusaha bangkit, namun kedua kakinya seolah tidak bisa menumpuk tubuhnya lagi. Bella kembali terjatuh di atas tempat tidur berwarna putih itu.
"Apa yang kamu berikan padanya," Deon berjalan pelan mendekati pria asing di depannya. Dengan wajah ketakutan, badan sedikit menunduk, beberapa kali menelan ludahnya, pria itu berjalan mundur berusaha menghindari Deon.
"Maaf, tuan. Saya hanya memberikan dia minum."
Deon menarik sudut bibirnya sinis. Aura mematikan seolah mulai memenuhi ruangan itu. Deon menendang sangat keras tubuh pria itu hingga terpental jauh membentur dinding.
"Kamu berani menyentuhnya, aku bisa patahkan semua tulangmu, dan aku buang mayatmu ke laut." pekik Deon dengan nada serak, suara hang begitu tajam terasa perlahan menusuk di tubuhnya. Siapa yang mendengar suara itu seketika gemetar ketakutan.
"Ti-tidak, tuan... maafkan saya! Sa-saya tidak menyentuhnya sama sekali. Maafkan saya tuan," pria itu terus memohon, tubuhnya masih gemetar ketakutan melihat Deon seperi sosok iblis yang begitu menyeramkan. Dengan aura mengerikan, seperti aura kematian bagi musuh yang menghalanginya.
"Pergilah!" Pinta Ken pada pria asing itu.
Pria itu bergegas segera pergi, belum sampai di depan pintu. Suara Deon menghentikan langkahnya.
"Habisi dia!" pinta Deon.
"Ba-baik, tuan!" Ken sedikit ragu menghabisi nyawa seseorang. Tetapi dia tahu tuan yang berada di depannya ini lebih angkuh. Dia terkenal sangat kejam, bahkan rela membunuh siapa saja yang berani mengusiknya. Dia paling takut dengan neneknya. Deon tidak bisa berkutik jika itu perintah neneknya. Deon laki-laki ambisius yang harus akan darah jika saat dia berkuasa ada yang berusaha menghalanginya. Atau, bahkan mengusik kehidupannya.
Deon hanya diam, dia melepaskan jas hitam miliknya. Berjalan perlahan ke tempat tidur. Deon segera memakaikan jas hitam miliknya ke tubuh bagian depan Bella. Deon sengaja menutupi tubuh Bella yang terbuka. Lalu mengangkat tubuh Bella ala bridal style dan segera pergi dari tempat itu. Deon berjalan dengan tenangnya, sementara Vina yang sudah tidak berdaya karena pengaruh alkohol. Dia berusaha membuka matanya, senyuman tipis terukir manis di bibirnya Pandangan matanya terlihat buram, dia tidak tahu jelas siapa yang sekarang membawanya pergi. Tapi entah kenapa Bella merasa nyaman dalam gendongan pria itu. Bella melingkarkan kedua tangannya di leher Deon. Sembari menyandarkan kepalanya di d**a bidang Deon.
"Deg..." seketika jantung Deon berdetak lebih cepat. Diam-diam Deon juga merasakan kenyamanan yang sama dengan Bella. Jantungnya selalu berdetak cepat saat dekat dengan Bella. Bella tersenyum tipis, meskipun dia dalam pengaruh alkohol, dan setengah sadar. Dia bisa mendengar jelas detak jantung Deon.
"Wanita yang menyusahkan!" Gerutu Deon pelan. Meskipun suara Deon terdengar pelan, Bella mendengar samar-samar suara itu di telinganya.
"Uhuk..."
"Heemmm... Siapa yang menyusahkanmu!" Ucap Bella dengan tangan terangkat ke atas. Lalu menepuk bahu Deon dua kali. Dengan kedua mata masih tertutup.
"Kamu mendengarnya?"
Bella tersenyum sumringah, "Memangnya aku tuli?" Kesal Bella. Kembali meletakkan kepalanya di d**a Deon. kali ini dia benar-benar sudah tidak sadarkan dirinya berada dalam pelukan hangat tubuh bugar Deon.
Deon berdengus kesal. Mau tak mau sesegera membawa dia kembali ke rumah. "Tuan, kita antarkan dia ke rumahnya atau bawa dia ke...."
"Bawa ke rumah!" Pinta Deon memotong perkataan Ken.
Ken sempat bingung, sembari mengedipkan matanya tak percaya. "Ba-baik..."
**
Setelah beberapa menit perjalanan, Deon tidak membawa Bella pulang ke rumah besar miliknya. Dengan halaman yang luas, rumah dengan nuansa putih yang begitu cantik dan elegan.
Deon membaringkan tubuh Bella di king size berwarna kecoklatan. Deon menatap sejenak wanita yang sudah tertidur pulas itu. Entah sejak kapan, senyuman tipis itu tiba-tiba muncul di bibirnya. Saat melihat wajah cantik yang di miliki oleh Bella.
"Hmmm..." Bella tidur miring ke kanan. Merasa puas melihat wajah Bella. Deon melepaskan high Heels yang masih melekat di telapak kaki Bella. Lalu segera memakaikan selimut menutupi sebagian tubuh Bella. Deon bergegas untuk segera pergi. Namun langkahnya seketika terhenti.
"Jangan pergi!" Gerutu Bella, sembari memegang pergelangan tangan wanita cantik itu.
Deon mengerutkan keningnya. Melihat keringat menetes di kening Bella. Deon mengambil remot ac di atas meja samping tempat tidur. Mengatur dinginnya ac.
"Tolong jangan pergi!" Ucap Bella lagi, sembari menarik tubuh Deon. Hingga tubuh tegap itu hampir saja jatuh mengenai tubuhnya, dengan sigap tangan Deon memegang menyentuh ranjang seolah dia sedang pust up.
Kedua mata Deon tertuju pada wajah cantik dengan ukuran wajah yabg begitu sempurna. Entah dewi cinta apa yang memasukinya. Bibir lembur Deon tiba-tiba mendarat di kening Bella.