Sinar matahari sudah menembus sela-sela gorden yang menutup dinding kaca. Perlahan sinar itu menyentuh kulit putih dan kenyal, milik wanita cantik yang masih terbaring di tempat tidurnya, setengah terbungkus selimut tebal berwarna putih.
Sosok wanita cantik masih terbaring di atas tempat tidur berwarna putih yang sangat luas. Bella masih terbaring pulas di atas ranjang, beberapa kali dia menggerakkan badannya, merasa sangat capek, Bella menggerakkan tubuhnya, berbaring ke kiri, dengan tangan melayang tepat jatuh di atas d**a bidang Deon yang masih tertidur di ranjangnya. Deon tanpa sengaja terbaring di samping Bella. Dengan santainya dia juga memeluk tubuh Bella sangat erat.
Malam panjang terjadi begitu cepat, tanpa sadar Deon sudah terbaring di atas tempat tidur yang sama dengan Bella.
Bella mengerutkan keningnya sedikit terkejut ada yang aneh di sampingnya.
"Bentar! Bentar, apa ini.... kenapa ada yang aneh!" gerutu Bella dalam hatinya dengan kedua mata yang masih tertutup. Bella mengerutkan bibirnya. Dia yang sangat penasaran, mulai menyentuh perlahan d**a bidang itu, memastikan jika itu benar manusia.
"Astaga..." seketika Bella membuka matanya lebar, kedua bola mata kecoklatan itu hampir saja keluar dari kerangkanya. Bella melompat duduk. Dengan wajah panik melirik ke arah Deon yang masih terbaring di atas tempat tidur.
"Apa, kenapa aku bisa tidur dengannya? Bagaimana bisa ini terjadi ..."
"Nggak! Nggak! Tidak mungkin, aku pasti tidak melakukan apapun, kan?" Bella terlihat sangat panik, dia terus bergumam dalam hatinya. Spontan membuka selimut melihat tubuhnya yang hanya memakai dalaman.
Bella sontak menghela napasnya kasar beberapa kali, napasnya sontak tersendat sesaat. Melihat tubuh bugar itu terbaring di sampingnya, memasang wajah tampan seolah sengaja ingin menggodanya.
"Apa yang aku lakukan semalam dengannya?" tanya Bella dalam hatinya, dia terdiam sesaat memutar otaknya mengingat kembali kejadian semalam. Perlahan Bella mulai ingat sekilas. Saat Deon mengantar dirinya ke kamar. Bella juga mengingat samar wajah tampan itu mengecup bibirnya. Dan, entah apa yang terjadi berikutnya. Ingatan itu seakan hilang dari kepalanya.
"Kenapa aku tidak ingat apa yang terjadi kemarin!" gerutu Bella. Sembari memukul kepalanya pelan berusaha mengingat kembali. Tapi masih saja sama.
Bella melirik ke arah Deon. Wajah yang begitu tampan itu terpahat sangat sempurna. Di balik wajah paniknya, tiba-tiba Senyum tipis terukir di bibir Vina. Saat dia melihat ukiran indah di depannya. Ukiran wajah yang terpahat begitu sempurna. Dia sangat tampan, namun sikapnya yang dingin, jutek, Arrogan membuat Vina menghela napasnya kasar. Ada rasa kagum tersendiri melihat wajah tampan itu. Entah perasaan hanya karena kagum atau ada hal kecil di hatinya yang tidak bisa di jelaskan dengan pikirannya.
"Dia tampan, kenapa dia keras kepala!" gerutu Bella dalam hatinya. Bella menggerakkan kedua bola matanya ke kanan dan ke kiri. Dia teringat kejadian kemarin malam. Sontak Ia membuka selimutnya.
Bella menghela napasnya lega. Melihat baju Deon masih terlihat utuh di tubuhnya. Bella menarik sudut bibirnya. Sembari melirik Deon. "Ternyata dia tidak seburuk yang aku pikirkan!" gerutu Bella dalam hatinya. Dia segera beranjak dari tempat tidur. Dengan sangat hati-hati.
"Tapi kenapa dia masih pakai baju sedangkan aku? Apa kemarin aku yang buka sendiri atau dia?" gerutu Bella dia mulai berpikir negatif. Dengan langkah hati-hati dia mengambil semua baju yang terletak di lantai putih. Bella berjalan menuju ke kamar mandi. Setelah selesai memakai semua, dan merapikan rambut yang sedikit berantakan. Bella menatap ke arah cermin, dia melihat wajah yang terlihat cantik dengan cermin. Pandangan mata Bella tertuju ke arah lehernya. Bella memegang lehernya, memastikan tidak ada luka sama sekali.
"Sepertinya apa, tidak ada bekas cupang juga. Pasti dia tidak melakukan apapun padaku, kan?" tanya Bella pada bayangan dirinya di cermin.
"Aku harus pastikan lagi nanti di tempat tidur, ada bekas darah atau tidak!" Bella membalikkan badannya, dia menyandar di pinggiran wastafel.
"Aku harus pergi dari sini sebelum dia bangun. Aku tidak mau dia bangun dan tau aku berada di kamar yang sama dengannya!" Bella menarik napasnya dalam-dalam menyiapkan diri untuk segera keluar. Bella kembali melangkah sangat hati-hati keluar dari kamar mandi. Kedua ujung alisnya berkerut saat melihat Deon yang masih terbaring di tempat tidur, dengan kedua mata tertutup.
Bella menghela napasnya. Dia berjalan mengendap-endap mendekati ranjang, dan membuka perlahan selimut, kedua matanya menyipit saat melihat tempat tidurnya. Tidak ada bekas darah disana.
"Hah ...." Bella Akhirnya bisa bernapas lega saat dirinya tahu tidak terjadi apa-apa semalam.
"Aku pergi dulu sekarang!" gerutu Bella. Dia segera keluar dari kamar.
"Mau kemana?" suara serak berat itu seketika menghentikan langkah Bella yang bau saja sampai di pintu. Bella menelan salivanya susah payah. Dia melirik ke belakang perlahan.
Kedua mata Bella membuka seketika melihat Deon yang sudah duduk menatap ke arahnya dengan senyuman menggoda.
"Setelah menodaiku kamu pergi begitu saja?" tanya Deon sontak membuat Bella bingung.
"Eee....aku mau pergi, bukanya aku harus segera berangkat kerja?" jawab Bella gugup.
"Tidak perlu takut urusan pekerjaan, bukankah aku bos kamu?" tanya Deon.
"Ta... tapi, aku harus pergi!" kata Bella sembari tersenyum paksa.
"Bukankah semalam tidak terjadi apa-apa dengan kita, kan?" tanya Bella memastikan.
Deon tertawa kecil. "Kamu begitu liarnya tidak terjadi apa-apa? Apa kamu lupa begitu saja?" goda Deon. Beranjak dari tempat tidurnya.
"Tunggu disini, Hans akan segera kesini. Kamu mandi dulu. Dan, Hans akan siapkan baju. Hari ini kamu datang ke kantor bersama denganku!"
"Apa?" tanya Bella terkejut.
"Kamu tidak mau?" tanya Deon memastikan.
"Maaf, bukanya nanti akan menimbulkan gossip di antara kita, pak. Saya tidak mau jika nanti aku di tuduh pakai pelet, atau bahkan menggoda bos sendiri."
Deon tersenyum tipis. "Tidak perlu khawatir, " ucap Deon.
"Mandilah!" pinta Deon.
"Emmm...nanti saja, aku..."
"Mau pergi mandi atau aku seret kamu masuk kamar mandi?" tanya Deon memotong pembicaraan Bella.
Sementara Bella hanya diam dengan wajah terkejutnya. Kedua mata menatap aneh pada Deon.
"Atau, jangan-jangan kamu mau, aku mandikan?" tanya Deon menggoda.
"Nggak!" tegas Bella.
"Ya, sudah! Cepat jalan ke kamar mandi!" pinta Deon.
"Iya... iya, aku akan pergi sekarang. Lagian aku juga bisa mandi sendiri." Bella mengerutkan bibirnya kesal sembari memutar matanya malas. Bella membalikkan badannya dan pergi begitu saja meninggalkan Deon.
Saat Bella di kamar mandi hampir setengah jam, Hans datang membuka pintu kamar itu. Sembari membawa beberapa pelayan yang mendorong gantungan beberapa baju dan bawahan yang pas untuk Bella.
"Pagi, tuan!" kata Hans.
"Iya!" jawab datar Deon.
"Semuanya sudah saya siapkan sesuai perintah anda tadi, tuan!" kata Hans sembari menunduk. Dan, badan menghadap ke arah beberapa gantungan style untuk Bella yang akan bekerja ditempatnya.
"Baiklah, kamu boleh pergi!" pinta Deon.