Suasana Berulang

1638 Words
Pemuda itu mengulas senyum dari jauh melihat raut wajah Raka yang tampak mulai berpikir menatap rumah megah itu. Bagaimana bisa seseorang tinggal di tempat seperti itu? Sosok itu kemudian berbalik dan menghilang di tikungan jalan " Yang sendirian akan tetap sendirian selamanya." Gumamnya dengan senyum lepas. Hari berlalu begitu cepat, matahari seakan beranjak cepat dari peraduannya. Tapi hari hari setelah tragedi itu seakan sama saja. Panas, terik, tapi tidak menyengat. Udara cenderung lembam dan berawan. Nicki menatap bayangan wajahnya di depan cermin, bersiap secantik mungkin menunggu kehadiran Raka. Ia membuka laci dan menemukan foto lama di sana, foto tanpa bingkai. Senyum manis tercetak di bibir mungilnya. Sosok di dalam foto itu adalah dirinya bersama seorang pemuda yang begitu rupawan. Sekilas, sosok di dalam foto itu begitu mirip dengan Raka Kenziera. Apa mungkin itu memang Raka? Sekelebat bayangan masa lalu seakan kembali menari di benaknya. Saat ia berlari dengan seragam SMP yang masih melekat di tubuhnya. " Nicki!!!" Teriak sebuah suara dari atas sepeda menyambut kedatangannya yang langsung duduk di boncengan motor itu. Ia adalah sosok di dalam foto itu, bukan! Itu bukanlah Raka melainkan sosok lain yang begitu mirip dengannya. " Kau terlambat, aku sudah lama menunggu di sini. Kau tahu, ayah pasti akan marah besar jika kau terlambat pulang." Celetuknya memasang wajah kesal kemudian menyalakan mesin motornya dan mulai melaju. " Kenapa terburu buru? Kau ingin jalan jalan?" Nicki memeluk pinggang pemuda itu erat. Terlihat jelas dari sorot matanya, Nicki menyukai sosok itu. " Ya, aku ada janji dengan Namira dan gara gara menunggumu pulang semuanya jadi berantakan." Jawab pemuda itu kesal. Nicki tersenyum senang mendengar jawaban sosok yang membonceng dirinya itu. Dia adalah Alif Hendrawan. Kakak tiri Nicki. Usia Nicki 10 tahun saat mengenalnya, ya... Saat ibunya memutuskan untuk menikah kembali. Saat itulah ia bertemu dengan Alif untuk pertama kalinya, sebenarnya... Aliflah alasan ia menerima suami baru ibunya, Andika Hendrawan, salah satu pengusaha ternama di kota itu. Walaupun sikap ayah tirinya agak kurang ia sukai, tapi kehadiran Alif membuat segalanya nyaman. Mereka melaju bersama menuju rumah megah Hendrawan yang Nicki tempati hingga saat ini. Awalnya, Nicki mengira itu hanya rasa suka biasa. Cinta monyet yang akan menghilang bersama dengan bertambahnya usia. Tapi ternyata ia salah menduga, semakin lama ia merasa semakin nyaman di sisi Alif, merasa cemburu saat Alif mengenalkan gadis baru yang dekat dengannya, menghalalkan segala cara untuk membuat hubungan kakak tirinya itu berantakan sama seperti hari itu, Nicki sengaja bersembunyi lama di dalam toilet untuk mengulur waktu agar Alif tidak jadi bertemu dengan Namira. Ya, ia jatuh cinta pada kakak tirinya sendiri Hingga... Kenangan malam itu kembali membiak dan menari di bola matanya. Bau amis darah yang begitu pekat, suara tembakan dan teriakan, sayatan yang menyakitkan lalu dalam sekejab rumah megah itu menjadi seperti kuburan. Nicki seakan melihat dirinya sendiri berdiri di tengah tengah ruangan dengan pakaian koyak bersimbah darah memegang belati yang masih memerah di tangannya. Tubuhnya penuh dengan luka lebam " Aaaarrkkhh!!" Teriak Nicki kemudian memecahkan kaca kamarnya. Wajah cantiknya memerah mengingat kenangan mengerikan itu. Entah apa yang terjadi. Nicki menatap tangannya yang gemetar " Ini bukan salahku! Bukan salahku." Celetuknya seakan akan mengalami trauma Sementara itu di luar sana... Raka yang melangkah gontai kembali ke rumah itu dengan membawa sebuah plastik berisi makanan di tangannya mulai terlihat gusar. Ia harus kembali untuk tahu siapa Nicki sebenarnya dan juga Ayahnya masih berada di dalam. Raka belum bisa menemukan rumah baru ataupun pekerjaan, bagaimana bisa ia membawa ayahnya luntang lantung di jalanan. Mau tidak mau, pemuda itu harus sedikit bertahan dan bersabar. Saat ia membuka pintu... Ia terkesiap melihat Nicki yang tampak begitu anggun dengan gaun putih selututnya menuruni tangga. Ia sangat cantik dan mempesona. " Kau sudah kembali?" Tanya Nicki menyibakkan lamunan Raka. Ia seakan melihat wajah Alif di dalam diri Raka, mungkin benar, Nicki menganggap Raka sama seperti Alifnya. " Di mana ayah?" " Paman sudah tidur setelah makan malam. Kau mau makan? Aku membuatkan sup kacang hijau kesukaanmu." Tawar Nicki lembut Raka mengernyit " Kenapa? Kau tidak suka?" Tanya Nicki menebak " Tidak, bagaimana bisa kau tahu apa makanan kesukaanku?" Celetuk Raka semakin heran. Gadis dengan gigi kelinci cantik di depannya tersenyum senang " Aku sudah bilang kan? Aku tahu segalanya tentangmu. Ayo!!" Nicki menggenggam tangan Raka agar mengikutinya ke meja makan. Sejenak, ia menatap ke arah pintu yang masih terbuka, menatap tajam ke jalan hampa di luar sana. Tampak sosok gadis berseragam SMA menatapnya dari balik gelap, sosok yang tak lain adalah Natasya. Nicki seakan bisa melihat Natasya, ia bahkan seakan akan tahu bahwa Natasya meneteskan air mata. Nicki justru mengulas senyum sinis kemudian membawa Raka pergi bersamanya. Seakan menunjukkan kemenangan. Ya, Natasya sepertinya terus mengikuti Raka. Tapi kenapa? Raka tersenyum melihat sup kacang hijau di meja. Aromanya mengingatkan ketika ia masih kecil, ayahnya memasak sup itu untuknya hampir setiap pagi. Tak sabar, Raka meletakkan plastik makanan yang ia bawa kemudian duduk dan mulai menyantap hidangan dari Nicki yang seperti biasanya, sangat lezat. Nicki memandangi Raka, senyum di bibirnya surut. " Kau memang dia." Gumamnya membuat Raka menghentikan suapannya " Dia?" Tanyanya mengernyit " Ya, dia maksudku dia yang aku suka. Raka, aku menyukaimu kau mau jadi pacarku?" " Uhuk uhuk." Raka terbatuk, wajahnya memerah mendengar pertanyaan gamblang itu " Apa kau memiliki kebiasaan batuk saat makan. Ini minumlah!" Nicki bergegas memberikan segelas air untuk Raka. Beberapa detik, pandangan mereka beradu, seakan napas mereka saling menyapa. " Kau menyukaiku kan?" Tanya Nicki begitu dekat, Raka bahkan bisa merasakan rasa dari hembusan napasnya. Lagi lagi, pemuda itu seakan terhipnotis, ia tidak bisa menolah saat jari lentik Nicki menyentuk hidung mancungnya, berjalan ke bibirnya. Seakan ada perasaan yang lama terkubur dan hasrat kepada Nicki yang tak bisa ia lawan. Saat bersama Nicki, ia merasa dirinya berbeda. Dan entah setan apa yang merasuk, waktu seakan menggelapkan mata dan ia tersadar saat dirinya berada di sebuah kamar, dengan kemeja yang terbuka dan Nicki yang duduk di atas dirinya, mencium bibirnya lembut lalu memeluk tubuhnya erat. Busana gadis itu sedikit turun. Tersadar, Raka mendorong Nicki menjauh, ia terduduk dengan keringat membasahi kening. " Kenapa? Kau tidak menyukaiku?" Tanya Nicki terlihat kecewa " Tidak, aku hanya... Aku...tidak mau melakukan ini." Raka terbata " Tapi kenapa? Kalau kau menyukaiku aku bisa memberikan segalanya! Lagi pula kita sudah dewasa kan?" Celetuk Nicki kesal " Tidak, a...aku tidak ingin melakukan ini. Tidak!" Gumam Raka dengan wajah tertunduk, ia bergegas bangun dari ranjang, mengancingi kemejanya dan berlari ke luar kamar dengan menunjukkan wajah. " Raka!!! Rakaaaa!! Shiiiitttt!!" Teriak Nicki kecewa. Sementara itu... Raka mengusap rambutnya jengah, ia berlari cepat menuruni tangga. " Kenapa aku bisa hanyut? Kenapa aku bisa terpengaruh? Aku harus pergi dari rumah ini. Aku harus membawa ayah pergi." Celetuk Raka kemudian berjalan cepat menuju kamar ayahnya. Tapi... Deg Langkahnya terhenti, kepalanya terasa begitu pusing. Ia bahkan merasa dirinya seakan melayang. Raka menopang tubuhnya di tangan sofa " Kau tidak akan bisa kemanapun! Kau takdirku Raka." Celetuk Nicki dari atas tangga sana. Raka tak bisa menjawab, suaranya seakan kering, pandangannya berkunang kunang dan tak lama kemudian segalanya seperti berputar Bruk Raka terjatuh di sofa, ia tak sadarkan diri. Apa sebenarnya yang terjadi? Siapa Nicki sebenarnya? " Kau takdirku, Alif." Gumam Nicki sedih " Kau tidak akan pergi lagi." Imbuhnya Dan seperti roda berputar, Raka terlelap dalam tidurnya. Jam berdenting 9 kali saat ia mulai merasakan ada cahaya yang masuk. Sama seperti kemarin, Raka tersadar. " Ayah?" Paniknya mencoba duduk. Kepalanya masih terasa begitu pusing. " Kau sudah bangun?" Sapa Nicki dengan nampan berisi makanan di tangannya dan celemek pink yang membalut tubuh indahnya, lagi lagi... Sama seperti kemarin Apakah ini hanya sebuah kebetulan? Raka merasa semakin bingung. " Di mana ayah? Ayah!!" Teriak Raka panik kemudian mulai berlari ke ruangan tempat ayahnya beristirahat. Ia membuka pintu, tak menemukan siapapun di sana " Ayah, kau di mana??" Teriak Raka mulai bingung. Kemana Abimanyu sebenarnya? Lalu... Saat Raka membuka pintu... " Raka!! Kemarilah! Ayo makan! Ini sangat lezat." Deg Benar, Abimanyu terlihat sudah duduk di meja makan. Di kursi yang sama, dengan posisi yang sama dan menyantap makanan yang sama. Seakan itu dejavu dari kejadian kemarin " Ayo sini! Sudah lama kita tidak makan bersama kan? Ini sangat lezat." Tutur Abimanyu terlihat lahap Apa ini? Kenapa rasanya semuanya kembali terulang? Raka melangkah pelan ke meja makan, ia menatap satu persatu menu yang dihidangkan. Menu yang sama dengan kemarin, bahkan tata letaknya sama " Kau mau aku suapi? Atau kebiasanmu cukup unik hanya dengan melihat makanan bisa kenyang?" Senyum Nicki Deg Bahkan... Kata kata Nicki pun seakan mengulang kata katanya kemarin Raka harus memastikan sesuatu, ia duduk dan mencicipi makanan itu. Lalu... Dengan ragu ragu... Raka kembali meminta izin " Ayah, setelah ini aku ke luar dulu, aku harus mencari rumah baru dan pekerjaan paruh waktu baru untuk kita nanti. Kau butuh beberapa obat yang baru. Apa aku bisa meninggalkanmu di sini?" Ujarnya mencoba mengulangi pertanyaan yang sama Lagi lagi, sama seperti kemarin, Abimanyu mengangguk Ya, sama persis Lalu... Nicki memegang tangan Raka hangat dan berkata : " Jangan khawatir, aku akan menjaganya seperti menjaga ayahku sendiri." Kletak. Sendok di genggaman Raka terjatuh, jemarinya serasa gemetar. Apa sebenarnya yang terjadi? " Kalau begitu aku pergi dulu!" Raka bergegas bangun dengan wajah pucat. Jika ini benar benar dejavu.. maka ia akan bertemu dengan seorang pria di luar sana. Ia berjalan cepat ke luar dari rumah itu. Mencari sosok pemuda yang seharusnya ia tabrak. Tapi, Raka tidak bertemu dengannya. Raka menghela napas panjang, ia sedikit lega, setidaknya kekhawatirannya bahwa hari ini hanya mengulang hari kemarin hanya halusinasi saja. Namun.... " Kau mencariku?" Deg Bola mata Raka membundar melihat sosok yang kemarin ia tabrak tampak berdiri di hadapannya, mengulas senyum dengan tangan melipat di depan d**a. Sepertinya, ia memang menunggu Raka " Siapa kau sebenarnya?" Tanya Raka pucat, dan jujur saja... Kakinya mulai terasa lemas. Ya, ini bukan lagi terlihat seperti sebuah kebetulan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD