Rumah Kosong?

2097 Words
" Ini rumah nenek?" Raka terdiam beberapa menit menatap sebuah rumah di depannya dengan seksama. Bukan karena ia lupa bagaimana rumah neneknya, atau berapa lama ayahnya tidak mengenali dirinya. Tapi... Rumah besar kosong di depannya memang benar benar asing. Itu tidak seperti rumah nenek yang sebelumnya ditunjukkan di dalam foto. " Ayo! Ini kuncinya." Anehnya, Abimanyu memiliki kunci di tangannya yang diberikan pada Raka. " Ayo! Buka!" Pintanya yang masih membuat Raka terdiam. Masih bertanya tanya apa benar kunci itu bisa membuka rumah di depannya. " Ayo! Sebentar lagi hujan." Paksa Abimanyu. Raka pun menghela napas panjang, lebih baik mencoba dari pada tidak sama sekali bukan. Maka ia pun mencoba memasukkan kunci itu ke lubang pintu. Dan benar saja, itu bukan kunci rumah megah di depannya. " Tunggu apa lagi? Ayo buka rumahnya sebentar lagi hujan dan hari mulai malam. Ayo!" Pinta Abimanyu " Ayah, ini bukan rumah kita." Senyum Raka mencoba sabar. Abimanyu terdiam beberapa detik, mengernyit " Lalu ini rumah siapa? Aku akan tinggal di mana?" Tanyanya pada Raka Pemuda itu menatap langit yang mulai gelap memang, kondisi rumah di depannya memang masih bagus, tapi rambat yang tumbuh di sana sini membuktikan bahwa rumah itu tidak memiliki penghuni. Raka dan Ayahnya tidak memiliki tempat tinggal, bagaimana jika mereka luntang lantung di jalan. Sejenak, pemuda itu berpikir, demi ayahnya ia bahkan rela meregang nyawa. Tidak ada pilihan lain, untuk sementara waktu hanya rumah itulah satu satunya pilihan untuk tinggal. " Ayah tunggu di sini! Aku akan mencari sesuatu untuk membuka pintu." Pinta Raka kemudian bergegas mencari apapun yang bisa membantunya membuka pintu itu. " Ayah bantu." Ujar Abimanyu kemudian mulai ikut mencari cari sesuatu di sekitarnya. Raka mengulas senyum tipis, mungkin tragedi semalam sedikit membantu ingatan ayahnya. Setidaknya ia sangat mengenali Raka hari itu. " Apa ini bisa?" Tanya Abimanyu menyodorkan sebuah balok besi tua berkarat di tangannya. Raka mengernyit, entah kenapa firasatnya tak enak " Ayo! Aku sudah kedinginan." Pinta Abimanyu. Rakapun mengambil besi tua itu tanpa pikir panjang dan mulai menggunakannya untuk membuka pintu. Hingga tak berapa lama waktu kemudian... " Klek." Deg Raka terdiam pucat. " Pintunya terbuka!!" Seru Abimanyu Benar, pintunya terbuka. Tapi bukan karena usaha Raka melainkan ada yang membukanya dari dalam. Semakin tertegun saat melihat siapa yang saat ini berdiri di depannya. Seorang gadis berambut sebahu dengan gaun tidur yang anggun tapi tak asing baginya. Gadis yang beberapa waktu lalu Raka temui di pemakaman. Kenapa Abimanyu justru membawa Raka ke rumahnya? " Raka?" Sapanya mengulas senyum " Ayah, ayo kita.... Belum selesai Raka ingin mengajak Ayahnya pulang, Abimanyu sudah main nyelonong masuk saja. " Ayah!!" " Silahkan masuk!" Ajak sosok yang tak lain adalah Nicki itu. Melihat ayahnya justru nyelonong masuk ke dalam ruangan, mau tidak mau Raka harus masuk juga. " Ayahku pasien rumah sakit jiwa. Jadi aku akan segera membawanya pergi!" Celetuk Raka sinis hendak menyusul Abimanyu. Tapi dengan cepat Nicki menggenggam lengannya " Apa belum cukup seorang gadis mengakhiri hidupnya karena sikap cuek dan dinginmu ini, Raka?" Raka menatap gadis itu dingin, dari mana Nicki tahu tentang kejadian di sekolahnya. Apa ia memata matai Raka? Bukan tidak mungkin kalau Nicki adalah salah satu fansnya. Karena itu ia tahu segalanya, itu juga menjawab bagaimana Nicki bisa menyelamatkan Raka dan membawanya ke makam semalam. " Ayahmu butuh tempat tinggal. Kau juga sepertinya sangat bermasalah. Kenapa tidak tinggal di sini dulu? Aku tidak keberatan." Celetuknya lagi " Tidak, terima kasih." Balas Raka menghempas pegangan tangan Nicki kemudian bergegas mencari Abimanyu yang entah masuk ke ruangan mana. " Keras kepala!" Celetuk Nicki melipat tangannya di depan d**a. Siapa gadis itu sebenarnya. Raka terlihat kebingunan, membuka semua ruangan di rumah itu, mencari keberadaan Abimanyu " Ayah!!" Teriaknya dengan urat leher menegang. " Bukankah berteriak di rumah seseorang yang hampir kamu bobol itu merupakan kriminal?" Senyum Nicki mengikuti " Jangan ikut campur!" Tunjuk Raka kesal. Gadis itu mengulas senyum kemudian melangkah mendekati Raka " Kalau kau selalu emosi, kau tidak akan menemukan apa yang kau cari. Ayo! Ikut aku!" Ajaknya kemudian melangkah menuju sebuah ruangan, Raka mengikutinya. Dan benar saja, saat Nicki memutar knop pintu dan membukanya.. Abimanyu terlihat berdiri di dekat jendela sembari menatap ke sekitar. " Ayah!!" Teriak Raka berlari masuk ke dalam " Ayo kita pergi!" Ajaknya memegang tangan sang ayah. Tapi Abimanyu menepis pegangannya " Ini rumahku! Aku tidak akan kemana mana, kau siapa?" Tanyanya " Ini Raka, ayah. Ini bukan rumah kita, jadi ayo kita pergi." Desak Raka " Tidak! Ini rumahku! Ini rumahku! Kau bukan Raka, Raka masih di sekolah." Raka terdiam, sepertinya ingatan sang ayah kembali terganggu. Abimanyu kemudian duduk di ranjang " Ini rumahku, kenapa aku harus pergi." Celetuknya Pria tua itu bahkan mengambil bantal dan membaringkan tubuhnya di sana. " Ayah." Suara Raka mulai pelan. " Sepertinya dia sangat lelah, biarkan saja. Toh aku sendirian, aku justru senang memiliki tamu. Terlebih dirimu." Nicki menenangkan Raka menatap gadis itu dengan tatapan kesal. Terlihat jelas, rahangnya menegang. " Ada banyak hal yang harus kau jelaskan." Ujarnya kemudian ke luar dari ruangan dan membiarkan ayahnya tidur. " Akan aku jelaskan apapun yang kau mau." Senyum Nicki mengikuti langkah Raka ke luar. " Siapa kau sebenarnya dan apa maumu? Bagaimana kau mengenalku sementara aku sama sekali tidak mengenalimu!" Tunjuk Raka tak sabar di ruang tamu Sebaliknya, Nicki justru terdiam menatap keindahan sosok yang tengah marah di depannya. Raka memang menawan, ia begitu sempurna, bahkan amarah membuat pesonanya semakin terpancar saja. " Jawab!!" Bentak Raka membuat Nicki tersentak. Ia kemudian menghela napas " Aku mengawasimu." Jawabnya singkat dan tentu saja, ia membuat Raka mengernyit " Mengawasi?" " Iya. Aku tahu tentangmu, segalanya." " Bagaimana bisa?" " Karena aku mengawasimu." " Sejak kapan?" " Aku tidak tahu. Kenapa kau begitu marah? Aku bukan penjahat atau hantu kan? Kau bisa memeriksa kalau kau mau " Nicki justru membusungkan dadanya ke hadapan Raka yang seketika wajahnya berubah ungu melihat bentuk d**a seksi yang terbalut kain tidur gadis itu. " Kenapa? Pegang saja!" Senyum Nicki gamblang " Kau sudah gila!!!" Bentak Raka memalingkan wajahnya untuk pertama kalinya ia berhadapan dengan karakter seperti Nicki. Gadis itu melangkah ke sisi Raka " Aku hanya ingin menolongmu saja Raka. Karena aku mengerti bagaimana rasanya kesepian dan sendirian." Ujarnya kemudian Raka terdiam, menatapnya getir. Barulah ia sadari, ia tidak menemukan anggota keluarga lain sejak tadi. Rumah itu begitu besar, walaupun Raka berteriak ke sana ke mari mencari Abimanyu tadi tetap tidak ada seorangpun yang datang selain Nicki. Apakah gadis itu memang benar benar tinggal sendiri? " Kau sendirian?" Tanya pemuda itu akhirnya. Nicki menggeleng pelan " Kan ada kamu sekarang." Godanya membuat pemuda itu lagi lagi menghela napas panjang " Baiklah aku akan tinggal disini untuk sementara. Sampai aku menemukan tempat tinggal yang baru. Dan ini bukan karena kemauanku tapi karena terpaksa." Celetuk Raka akhirnya " Baiklah, mau tidur di kamarku?" Tawar Nicki " Tidak, terima kasih." Jawab Raka memalingkan wajahnya " Hai! Mumpung aku semurah ini lho. Kapan lagi barang bagus dengan harga murah." Goda Nicki lagi. " Apa kau sudah gila?" Raka mengernyit Tapi... Saat melihat wajah Nicki yang terlihat begitu manis memainkan mata, entah kenapa jantung Raka yang selama ini sebeku kulkas 5 pintu justru terasa berdegup " Kenapa menatapku begitu? Apa aku menggemaskan? Tawaranku masih berlaku lho. Mungkin ada pertanyaan lain yang bisa aku jawab nanti." " Aku tidur di sofa saja!" Ujar Raka kemudian melangkah ke arah sofa, mengambil segelas air di meja lalu meneguknya " Ya, anggap saja rumah sendiri." Celetuk Nicki kemudian berjalan menuju tangga ke arah kamarnya. Beberapa detik, ia terdiam, menatap ke luar jendela besar yang terpampang. Ia seakan melihat sesuatu yang memperhatikan mereka dari balik jendela itu, gadis itu tersenyum sinis kemudian melanjutkan langkahnya " Luzar!" Gumamnya. Ekspresi wajahnya berubah 180° dari Nicki yang tadi ceria berubah menjadi sorot mata tajam dan mimik yang misterius. Mereka memanggilku Nicki, Dan aku memanggil diriku sendiri " Sang Ratu" Aku bisa mendapatkan apapun yang aku mau jika aku suka Membuang apapun jika aku bosan Dan tidak akan ada yang bertanya kenapa? Bagaimana? Parasku yang cantik membuat siapapun terpikat Aku bisa dengan mudah menarik simpati Merubah sikapku dan membuat siapapun jatuh hati padaku Apapun yang aku mau akan datang padaku Termasuk " Dia " Setelah Nicki pergi, Raka merentangkan dirinya di sofa, hari ini rasanya sangat melelahkan. Jam berdenting 9x menandakan jam 9 malam. Entah kenapa rasanya begitu mengantuk hingga sulit untuk berjaga semalaman. Raka bahkan tidak merasakan hawa dingin karena hujan deras di luar sana. Benar saja, untuk pertama kalinya setelah bertahun tahun ia bisa tertidur dengan lelapnya tanpa sekalipun terjaga karena mimpi buruk. Ya, ia tidak bermimpi malam itu. Layaknya pemuda normal lain, Raka dibangunkan oleh jam dinding yang berdenting nyaring. Aneh, ia merasa baru saja tidur tapi jam sudah menunjuk pada angka 6 pagi. Aroma masakan yang begitu menantang membuatnya terjaga, masakan rumah yang sejak kecil ia impikan. " Kau sudah bangun?" Tanya Nicki yang tampak begitu cantik dengan celemek pink yang masih ia pakai. Tangannya dipenuhi dengan makanan yang terlihat baru saja matang. Bukankah ia terlihat seperti wanita yang sempurna? Cantik, kaya dan pintar masak. Raka masih terdiam, kepalanya terasa pusing. Ia agak bingung, tidak mendapati mimpi dan bisa tidur samalaman justru terasa begitu aneh baginya. Pemuda itu mencoba berdiri, menatap ke sekelilingnya. " Ayah di mana?" Tanyanya mengernyit " Paman belum bangun, mungkin ia terlalu lelah. Tapi aku sudah mengantarkan makanan ke kamarnya baru saja." Jawab Nicki meletakkan makanannya di meja yang tampak sudah penuh dengan berbagai hidangan lezat. Raka berdiri, berjalan menuju tempat ayahnya beristirahat semalam. Tapi... Saat membuka pintu, ia tak menemukan siapapun di sana. " Ayah?" Teriaknya panik memasuki ruangan itu, mencari di kamar mandi dan segala sudut ruangan. Jendela tampak masih terkunci, ayahnya tidak mungkin ke luar kecuali dari pintu utama. " Ayah di mana?" Raka mulai pucat Tapi... Saat ia tergesa gesa hendak mencari ayahnya ke luar ... " Raka! Ini enak sekali, ayo makan!" Deg Langkahnya terhenti Itu suara ayahnya Perlahan, Raka menoleh ke arah meja makan. Benar saja, ia melihat ayahnya tampak duduk menyantap hidangan yang disiapkan Nicki di meja. Gadis itu tersenyum ke arahnya. Aneh, Raka jelas mengingat tak ada ayahnya tadi di sana. Kenapa tiba tiba Abimanyu ada di sana? " Raka, setidaknya ciciplah hidanganku. Kau sejak kemarin belum makan kan?" Tawar Nicki " Tidak, aku belum lapar." " Raka, tidak baik menolak ajakannya. Ayo! Sini! Sudah lama kita tidak makan bersama kan." Ajak Abimanyu lagi Sekali lagi, ini terasa cukup aneh tapi Raka tidak pernah bisa menolak ajakan ayahnya. Maka dengan berat hati pemuda itu melangkah ke meja makan. Hidangan di atasnya memang menggugah selera " Kau mau aku suapi? Atau kebiasanmu cukup unik hanya dengan melihat makanan bisa kenyang?" Sindir Nicki Raka tertegun Raka pun duduk dan mulai menyantap beberapa makanan yang dihidangkan. Rasanya begitu lezat, seakan Raka belum pernah merasakan makanan selezat itu sebelumnya " Enak?" Tegur Nicki yang entah sejak kapan berada di sisinya, memandanginya makan. " Uhuk uhuk." Raka terbatuk " Minumlah!" Pinta gadis itu menyodorjan segelas air Wajah Raka sudah merah padam karena malu " Ayah, aku akan ke luar setelah ini untuk mencari kontrakan dan pekerjaan sampingan. Kau butuh beberapa obat baru. Apakah aku bisa meninggalkanmu di sini?" Pemuda itu menatap sang ayah getir Abimanyu hanya mengangguk sambil terus melahap makanannya " Ayah yakin?" " Jangan khawatir." Nicki menggenggam tangan Raka yang berada di meja. Membuat jantung pemuda itu lagi lagi terasa berdegup kencang " Aku akan menjaganya seperti menjaga ayahku sendiri." Senyumnya begitu manis. Lagi lagi, Raka memalingkan wajah. " Aku pergi dulu!" Ujarnya berdiri, mencuci tangannya, berusaha menghindar. Dengan langkah cepat pemuda itu bergegas ke luar dari rumah megah Nicki. Ia tak ingin ekspresi salah tingkahnya terbaca oleh gadis itu. Sebaliknya, gadis itu mengulas senyum melepas kepergian Raka Karena tergesa gesa, Raka hampir saja menabrak seseorang di luar. " Maaf!" Ucapnya Seorang pemuda yang mungkin seumuran dengannya tampak mengernyit heran menatap Raka. " Kau baru saja ke luar dari rumah itu?" Tanyanya menunjuk ke arah rumah Nicki di belakangnya Raka mengangguk, sepertinya memang ada yang aneh menebak ekspresi pemuda di depannya. " Ada keperluan apa kau datang ke rumah itu?" Tanya pemuda itu lagi " Ini rumah kenalanku." Jawab Raka singkat Mendengar hal itu, sosok di depannya mengernyit " Kenalan? Bukankah rumah ini sudah lama kosong? Mana ada yang mau tinggal di rumah yang menyeramkan itu." Tanyanya heran Deg Raka langsung menoleh ke belakang. Benar saja, rumah itu terlihat tidak layak dihuni. Gedungnya terlihat berlumut dan suasana di sekitarnya terlihat lembab, sangat berbeda dengan yang sebelumnya Raka tempati. " Hati hati bung, mungkin anda sedang berhalusinasi." Ujar pemuda itu menepuk pundak Raka kemudian melangkah pergi. Halusinasi? Mungkinkah?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD