" Selesai!" Senyum Andika usai menutup makam itu dengan tanah.
Raka menghela napas kemudian menatap langit lepas
Hidup ini bukanlah sebuah misteri
Rasa yang menjadikannya begitu misterius
Seperti awan yang terangkat begitu tinggi
Lalu binasa menjadi hujan
Terjun, terhempas ke bumi hanya untuk menemui muara yang sama
Sejauh apapun kita melangkah....
Takdir akan selalu menemukan jalannya
Ya, kembali ke muara yang sama
Muara bernamakan " Cinta "
~Raka
" Ayah, kita harus membereskan rumah. Ayo! Sebentar lagi akan turun hujan." Ajak Raka
" Rumah? Sejak kapan punya rumah? Rumah kita di mana?" Tanya Andika mengernyit heran. Raka mengulas senyum
" Ayo!" Ajaknya memegang lengan ayahnya dan mengajaknya berjalan menuju rumah megah milik Nicki
~Ya, aku tidak akan pernah pergi lagi~
Apakah kisah ini selesai sampai di sini?
Tidak, ini baru permulaan.
-***-
Malam itu, hujan turun begitu lebatnya. Gemuruh petir terdengar mengerikan. Raka tak bisa memejamkan mata hingga pagi menjelang. Bayangan wajah Nicki memenuhi benaknya. Semuanya masih berantakan, entah kapan Raka akan mulai sekolah, haruskah ia melanjutkan sekolahnya? Pemuda itu memutuskan berjalan menuju kamar Nicki, merapikan segalanya, tersenyum melihat potret lama Nicki yang terlihat begitu cantik, tersenyum lepas. Tatapannya terarah pada potret Alif yang masih tampak tersimpan rapi. Semuanya memang sudah terjawab tapi ini belum sepenuhnya usai, sebaliknya... Ini adalah awal dari kenangan yang selamanya akan ikut bersama Raka kemanapun ia pergi.
" Huft, ada banyak hal yang harus diselesaikan. Rumah ini butuh banyak perbaikan. Sebaiknya besok aku mulai bekerja saja." Celetuk Raka kemudian melentangkan tubuhnya di ranjang Nicki. Tapi... Baru saja ia mencoba memejamkan mata...
Kletak
Seseorang melempar jendela di dekatnya dengan batu. Sontak, pemuda itu berdiri, melangkah cepat ke arah jendela. Mata ambernya memicing mencoba menelisik kegelapan di luar sana. Tampak seseorang berdiri di dekat pohon besar, sosok tak asing yang tak lain adalah pemuda yang kemarin Raka temui. Kenapa dia muncul lagi?
Raka bergegas turun, ke luar dari rumah menemui sosok itu.
" Jadi kau memutuskan tinggal di rumah hantu ini?" Tanyanya menyapa. Dari manapun Raka melihat, sosok ini seperti tidak asing baginya. Entah mereka pernah bertemu di mana atau ia mirip seseorang yang Raka kenal.
" Ini sudah jam 1 malam, kenapa kau berada di sini? Seharusnya aku yang bertanya. Kau selalu berada di sekitar sini? Kenapa? Kau memiliki urusan denganku?" Tanya Raka curiga
Seperti biasa, sosok itu tersenyum misterius lalu melepas topi yang selalu ia pakai. Ya, author lupa, sosok ini selalu mengenakan topi hitam bertuliskan Dreen
" Bayu Dreenan. Salam kenal!" Ujarnya mengulurkan tangan. Raka masih terdiam seakan sulit menerima uluran tangan dari sosok yang terasa aneh itu. Ia bahkan melihat kaki Bayu, napak tanah atau tidak, jangan jangan pemuda itu juga arwah penasaran
" Hei! Aku manusia. Apa yang kau cari? Namaku Bayu, Bayu Dreenan. Kakak kelasmu sebenarnya. Cuma tahun ini gak naik kelas lagi. Jadi mungkin sekarang kita sekelas. Aku sudah lama mengikutimu, kamu bisa melihat mahluk halus bukan? Bagaimana? Kamu berhasil menenangkan hantu Nicki?" Tanyanya masih mengulurkan tangan. Pantas saja, Raka seperti tak asing dengan wajah sosok di depannya ini. Ternyata mereka berada di sekolah yang sama.
Rakapun menjabat tangan itu
" Aku tidak pernah melihatmu di sekolah, mungkin pernah tapi lupa." Celetuknya gamblang
" Ya, aku jarang sekali masuk sekolah. Lebih suka berpetualang. Aku menyukai dunia lain, mungkin kau sudah lupa, tapi saat kau menjadi siswa baru, akulah yang menjadi panitia MOS. Kau ingat? Saat itu ada anak yang kesurupan dan kau yang menenangkannya seakan akan kau bisa bicara dengan mahluk lain. Sejak itu kau dibully kan, tapi bagiku kau unik." Senyumnya renyah
Raka mengangguk mengerti, rupanya sosok bernama Bayu ini memiliki kegemaran unik dan ketertarikan ke dunia lain. Makanya, ia banyak tahu tentang cerita misteri, sikapnya juga sangat aneh
" Kau mau masuk ke rumah atau diam di sini di jam segini?" Tawar Raka
Pemuda bernama Bayu itu menatap rumah megah Nicki yang terlihat gelap karena masih belum ada listrik yang masuk.
" Aku tinggal di kontrakan dekat sini selama 1 bulan ini. Kalau memang hantu Nicki sudah tidak ada. Bisakah aku sesekali menginap bersamamu di sini?" Tanya Bayu
" Hah?" Sekarang Raka yang justru dibuat heran.
" Apa kau tidak merasa kesepian?" Celetuknya mengulas senyum kemudian menepuk pundak Raka pelan
" Tidak." Balas Raka
" Hmm, rumah megah ini terlihat gelap. Kau tidak mengalirkan listrik ke dalam?" Tanya Bayu melipat tangannya di depan dada
" Tidak, aku harus bekerja untuk membiayai listrik masuk ke rumah sebesar itu. Lagipula ada lampu pijar." Celetuk Raka.
" Seperti jaman penjajahan saja. Ya sudah, aku pulang dulu. Tidurlah dengan tenang. Sampai jumpa di sekolah." Ujar Bayu slengean kemudian beranjak pergi begitu saja.
" Hei!! Kau memintaku ke luar saat hujan begini hanya demi ini?? Dasar!" Teriak Raka kesal. Ia mengatur napas menahan emosi kemudian kembali ke rumah Nicki dan membanting pintunya kasar.
" Ada ada saja." Gumamnya kemudian merebahkan dirinya dan terlelap dalam pelukan malam, bahkan tidak mengganti bajunya yang basah kuyup.
Malam itu, Raka sama sekali tidak bermimpi buruk. Sepertinya, Nicki memang sudah beristirahat dengan tenang. Ia telah menemukan kedamaiannya.
Waktupun berlalu, hingga...
Tok tok tok
Pemuda itu membuka mata, entah berapa lama ia tertidur. Tak ada jam yang masih menyala di sana, hanya sinar matahari yang tampak sudah terik menembus jendela.
" Tok tok tok"
Benar, itu suara ketukan yang terdengar semakin keras saja. Siapa yang datang? Raka bergegas ke luar dari kamarnya, takut sesuatu terjadi pada Abimanyu. Dan saat ia membuka pintu, tampak beberapa orang tengah sibuk memperbaiki listrik dan lampu lampu di rumah itu.
Mereka bahkan masuk tanpa meminta izin pada Raka. Mungkin bahkan mengabaikan kehadiran pemuda itu. Karena berkali kali Raka mencoba menyapa, tak ada yang benar benar menggubrisnya, mereka benar benar sibuk. Tapi siapa yang memerintahkan orang orang berseragam PLN ini untuk memperbaiki aliran listrik di rumah itu?
Tak hanya petugas PLN saja, setelah itu datang tukang renovasi, beberapa orang yang tiba tiba ingin membersihkan ruangan dan bahkan datang beberapa perabotan baru untuk mengganti beberapa perabot yang sudah rusak dan usang. Apakah rumah itu akan menjadi milik orang lain dan Raka harus ke luar dari sana?
Raka mencoba mencari tahu siapa dalang dibalik perbaikan ini. Ia melihat lihat nota permintaan yang tergeletak di meja. Terlihat ada ratusan juta uang yang dilunasi di kertas perintah itu. Nota yang tertulis atas nama Tn. Bayuandra D Baskara. Siapa sosok itu sebenarnya? Apakah dia pemilik baru tempat itu? Lalu kenapa baru diperbaiki setelah puluhan tahun dibiarkan?
Hingga matahari terbenam, renovasi di rumah itu belum selesai juga. Setelah petugas listrik pergi, datang beberapa orang lagi yang tampak sibuk membenahi. Termasuk seorang pria tua yang terlihat sibuk mengecat dinding.
" Pak, maaf." Raka menyapa sosok yang tampak sibuk membenahi dinding itu
" Iya den?" Tanya sosok tua itu sopan, akhirnya ada juga yang mau bicara dengannya
" Apakah bapak tahu siapa Bayuandra Baskara itu? Dan kenapa dia merenovasi tiba tiba rumah ini?" Tanya Raka
Pria tua di depannya mengulas senyum
" Oh ya pasti Den. Saya pelayan di rumahnya." Jawabnya santai
" Di mana rumahnya?"
" Di Jalan Ringkin Jati kawasan elit, den, nomor 07D. Beliau putra tunggal tuan Baskara Andriansyah pemilik PT. Andrian Company." Jawab pria tua itu lengkap
Raka tampak berpikir, ia benar benar tidak mengenal sosok itu. Tapi nama PT. Andrian Company memang tidak asing. Karena perusahaan itu adalah salah satu donatur utama di sekolahnya.
" Di mana saya bisa bertemu dengannya?" Tanya Raka lagi
" Loh, bukankah kata Tuan Bayu, aden Raka ini teman sekelasnya? Saya tidak tahu Den, karena tuan Bayu sering tidak di rumah. Kelayapan terus kerjaannya." Celetuk pria tua tadi
" Maaf, siapa yang bapak sebut barusan?"
" Tuan Bayu, Bayuandra Dreenan Baskara." Jawab pria itu
" Astaga!!" Decak Raka. Sekarang ia mengerti siapa tuan muda yang dibicarakan. Jadi ini semua ulah Bayu? Dia bukan orang sembarangan rupanya. Tapi kenapa Bayu memperbarui rumah itu? Raka harus bicara dengannya. Tapi di mana? Ia bahkan tidak tahu di kontrakan mana sosok itu tinggal saat ini.
Hanya ada satu tempat di mana Raka pasti bisa bertemu dengan Bayu, " Sekolah"
Pemuda itu pun bergegas menuju kamar ayahnya yang tampak diam duduk di sisi ranjang. Lagi lagi mematung dengan air mata meleleh.
" Ayah." Sapa Raka memegang pundaknya
Dan....
" Aaarrkkhh!" Teriak Abimanyu ketakutan. Melihat ekspresi takut di wajah sang ayah, Raka mengerti. Sudah lama ayahnya tidak meminum obat.
" Pergi! Jangan mendekat! Aku tidak bersalah! Pergi! Pergi!" Teriak Abimanyu
" Baiklah Ayah, aku hanya membawakan makanan. Besok, Raka harus ke sekolah, ada satu hal yang perlu Raka selesaikan. Ayah tidak apa apa sendirian di rumah ini bukan, jaga diri ayah baik baik ya." Pinta Raka sedih.
" Pergi!! Pergi!!!" Abimanyu justru menutup matanya, seakan ketakutan.
" Ayah?"
" Pergiii!!!" Teriak Abimanyu yang kemudian berlari ke tempat tidur dan menggulung dirinya dalam selimut tebal
" Baiklah." Raka meletakkan makanan di tangannya ke atas meja kemudian ke luar dari kamar sang ayah.
Saat menutup pintu, pria tua yang mengecat dinding tadi tampak berdiri di belakangnya, sedikit mengagetkan.
" Maaf Den, saya mendengar ada teriakan. Jadi saya ke tempat ini. Apa semuanya baik baik saja?" Tanyanya. Raka mengangguk
" Ayah saya memiliki gangguan mental sejak 7 tahun yang lalu. Tidak apa apa, semuanya baik baik saja." Jawabnya
" Kenapa? Apa ada sesuatu yang terjadi pada ayah anda, sehingga menjadi seperti itu?"
" Saya tidak tahu, saat saya pulang sekolah, rumah berantakan dan ayah tidak sadarkan diri selama beberapa hari. Setelah sadar, dia sudah begini. Tapi maaf pak, saya harus istirahat. Besok saya harus ke sekolah." Senyum Raka kemudian beranjak meninggalkan pria tua yang masih menatapnya dengan kening mengernyit.
Pria itu terus menatap punggung Raka yang berlalu pergi, ia kemudian menghela napas panjang
" Kasihan sekali keluarga ini, ayahnya pasti ketakutan." Gumamnya mengulas senyum tipis, entah bermaksud apa.
Next : Siswi baru