Awan yang berarakpun rela tiada demi menjadi hujan
Jutaan raga rela binasa demi rasa cintanya
Darah selalu lebih kental dari pada air
Tapi tak seabadi air, tak ada yang lebih setia dari pada air yang selalu kembali ke muaranya.
Ya, aku adalah air yang mudah dibinasakan
Tapi abadi dalam kenangan
Karena walaupun aku tak memiliki segalanya dari dunia
Aku memiliki " Rasa Cinta Tulus " yang membuatku menjadi segalanya.
~ Nicki
" Mama." Senyum Nicki pucat, tatapannya terlihat kosong. Ia melangkah pelan dengan belati berdarah di tangannya. Maharani terduduk di lantai, ketakutan melihat darah tercecer di mana mana. Ketakutan melihat Nicki yang terlihat tidak baik baik saja.
" Nicki, kenapa? Ada apa ini? Seseorang tolonggg!! Kenapa dia bisa ke luar begini? Nicki kau mau apa? Aku ibumu nak, ini mama sayang." Wanita itu terlihat ketakutan apalagi saat kaki Nicki terhenti di hadapannya
" Nicki ingat Ma, mama yang lupa kalau Nicki anak mama. Kemana mama yang dulu? Mama yang selalu ada buat Nicki. Saat Nicki pertama kali sekolah, Nicki dibully dan mama yang bela Nicki mati matian. Mama bekerja keras di siang dan malam demi sekolah Nicki, demi Nicki bisa makan. Kita sangat bahagia kan ma waktu itu?" Nicki meneteskan air matanya mengingat masa lalu. Entah kenapa Maharani seakan melupakan semuanya dan baru mengingat hari ini. Air mata Nicki yang jatuh membuat hatinya sakit. Teringat saat ia diusir dari rumah karena mempertahankan kehamilannya dulu, menderita demi melahirkan Nicki ke dunia, berjuang seorang diri, melahirkan dan membesarkan Nicki sendirian. Bola mata wanita itu memerah, air matanya menetes turun. Baru ia sadari betapa menderitanya Nicki, kulitnya penuh luka lebam, lehernya terlihat memerah bekas jeratan, bibirnya robek dan hidungnya membiru.
" Untuk apa harta ini jika kita kehilangan segalanya Ma? Sama seperti mama, Nicki ingin bayi Nicki terlahir ke dunia ini. Tapi bayi Nicki sudah tidak ada ma. Orang yang mama cintai, setiap malam bersikap jahat pada Nicki, melecehkan Nicki, menyakiti Nicki, memukuli Nicki. Tapi mama tidak peduli kan? Mama tidak pernah bertanya mengapa Nicki begini, mengapa Nicki menangis. Rumah besar, uang, harta, segalanya membuat Mama lupa bahwa Nicki anak mama. Nicki sakit ma." Nicki terisak sedih. Ia sudah tidak sanggup menahan bebannya lagi
" Sa... Sayang. Nicki maafkan mama nak. Tapi tidak seharusnya kamu melakukan semua ini? Di mana papa? Di mana dia nak? Nicki tidak melakukan apapun padanya kan?" Tanya Maharani mencoba berdiri dengan kaki gemetar
Nicki tersenyum, menyeka air matanya
" Aku meluapkan penderitaanku tapi mama justru bertanya kabar orang yang menyakitiku." Ujarnya kecewa
" Tidak sayang bukan begitu, mama hanya ....
" Mama takut aku menyakiti kekasih mama? Sementara dia menyakitiku dan mama baik baik saja? Ma, lihat aku! Aku begini gara gara dia. Seharusnya mama menghukumnya. Tapi tidak, aku menghukum dia untuk diriku sendiri." Potong Nicki kemudian mengangkat pisau di tangannya, membuat wajah Maharani memucat seketika
" Nicki jangan berbuat yang tidak tidak, mama hanya tidak mau kau celaka nak. Ayo! Kita pergi! Kita mulai semuanya dari awal lagi. Ayo nak." Ajak Maharani
Namun....
Nicki menggeleng, ia mengulas senyum pucat
" Nicki, ayo nak!"
" Aku akan tetap di sini, menunggu Alif datang."
" Dia tidak akan datang Nicki."
" Dia pasti datang Ma, aku yakin itu."
" Nicki! Kau sudah gila? Kau bisa dipenjara gara gara semua ini Nak. Ayo! Kita pergi!" Ajak Maharani
" Tidak akan ada yang bisa menghukum orang yang sudah mati kan ma?" Senyum Nicki pasi
" Apa maksudmu?" Maharani mulai pasi
Nicki mengarahkan pisau itu ke lehernya
" Hati dan jiwaku sudah lama terbunuh ma, aku hanya punya tubuh untuk dibinasakan." Gumamnya. Dan ....
Inilah akhir dari hidupku dan awal dari ketulusanku
" Nicki!!!!" Teriak Raka saat Nicki mulai mengkoyak lehernya
Karena sejahat apapun diriku, aku tidak akan pernah sanggup menghukum ibuku sendiri. Aku juga tidak akan sanggup hidup dengan noda noda di tubuh ini, aku tak memiliki apapun lagi untuk bertahan di dunia selain penderitaan. Jadi, aku memilih memeluk kematian ~ Nicki
Semuanya menjadi gelap. Raka terduduk di lantai dengan keringat berderai dan napas tersenggal. Apa yang ia lihat barusan sangat mengerikan. Ruangan itu berubah menjadi dingin, lembab, berlumut dan kotor, lantainya dipenuhi debu dan dindingnya tampak usang dengan retak di mana mana. Itulah kondisi rumah megah itu yang sebenarnya.
Arwah Nicki berdiri di sisi Raka dengan pakaian putih terakhir penuh darah yang ia kenakan, wajah cantiknya begitu pucat penuh kesedihan. Raka meneteskan air matanya melihat sosok itu, rasanya begitu perih setelah mengetahui semua kesedihan dan penderitaan Nicki
" Bertahun tahun aku di sini, sendirian, menunggu dan kesepian. Tapi Alif tidak pernah datang." Ujarnya getir
Raka berdiri dengan tubuh gemetar. Ia memang tidak merasa bahwa dirinya adalah Alif, tapi entah kenapa ia merasa begitu sedih melihat Nicki begitu. Ada rasa rindu yang sukar di jelaskan ada rasa bersalah yang tak menemukan tuan dan sebab.
" Mama pergi setelah kematianku. Ia bahkan tidak mengurus pemakamanku Raka. Aku terjebak di rumah ini, dengan semua kutukan yang melilit jiwaku, bersama jasadku yang terkurung, tidak mendapatkan pemakaman yang layak." Senyum Nicki pasi
" Di mana jasadmu?" Tanya Raka lembut
" Di bawah kakimu sekarang. Tepat di sana! Mama menguburku begitu saja lalu meninggalkanku di sini." Tunjuk Nicki pada kaki Raka.
Pemuda itupun menghentakkan kakinya ke lantai, dan benar saja, marmer di bawah kakinya tampak longkar, bersuara dan tidak begitu rapat. Ia bergegas mencari sesuatu untuk membuka marmer di bawah kakinya. Dengan penuh usaha Raka berusaha membobol marmer itu, walaupun terlihat mudah.. nyatanya, marmer itu sudah terpasang puluhan tahun yang lalu. Butuh tenaga untuk membukanya kembali.
1 jam lebih Raka berusaha, mengais satu persatu pecahannya. Menggali tanah di bawahnya. Benar, di sana ada peti. Raka memukul peti yang sudah mulai lapuk itu. Tangannya penuh dengan darah, kulit jarinya terkoyak, tapi ia seakan tidak merasakan sakit. Hingga....
Deg
Saat tetes darahnya mengenai tengkorak yang sudah hampir hancur itu... Tiba tiba Raka mengingat sesuatu, air matanya mengalir tanpa asa.
" Nicki! Nicki!" Teriak dirinya di masa lalu, berlari usai ke luar dari mobil mewahnya.
" Tuan muda anda mau ke mana? Anda dilarang masuk ke dalam rumah ini, apalagi malam malam begini. Tuan besar bisa marah!" Lerai supir pribadi Andika ayahnya. Ya, Raka seakan bisa melihat Alif di masa lalu dan ia merasa itu memang dirinya.
" Aku mau bertemu Nicki! Lepaskan!"
Bug
Alif memukuli supir itu lalu menerobos masuk dengan wajah memerah, ia terlihat berantakan. Berlari menuju tangga ke kamar Nicki
" Nicki!" Teriaknya mengetuk pintu
" Nicki aku datang. Ayo kita pergi! Ayo!!" Teriak Alif berusaha membuka pintunya berkali kali. Hingga....
Klek
Seseorang membuka pintunya dari dalam. Kening Alif mengernyit melihat ayahnya ke luar dari kamar Nicki dan hanya mengenakan celana pendek, tubuhnya berkeringat, tersenyum puas. Alif mengintip dari punggung ayahnya tampak kekasihnya tertidur berselimut sepinggang setengah t*******g.
" Nicki!!!"
" Sshhh kau mau ke mana? Bukankah ayah bilang jangan pulang! Kenapa kau harus datang. Nicki sedang tidur, jangan ganggu dia." Perintah Andika
" Apa yang kau lakukan padanya?" Marah Alif, wajah tampannya memerah dan jari jarinya mengepal
" Kita bicara di luar saja, tidak enak dilihat semuanya. Ini juga demi nama baik Nicki. Ayo!" Andika memegang lengan Alif dan membawanya ke ruangan berbeda.
" APA YANG KAU LAKUKAN PADA NICKI??" Bentak Alif tak tahan melihat ayahnya begitu tenang sembari menyalakan rokok di tangan
" Dia simpanan ayah. Dan satu lagi, anak yang dia kandung sebenarnya anak ayah. Kita sudah melakukan hubungan ini dalam waktu yang lama. Karena itu ayah ingin menggugurkan anaknya, ayah takut ketahuan." Cerita palsu Andika
" KAU PEMBOHONG!" Bentak Alif hampir saja meninju wajah sayahnya. Tapi... Andika dengan cepat menunjukkan sebuah foto ke hadapan Alif
Foto Nicki yang tampak berdiri di dekat kolam renang dengan Dewi.
" Dia sangat menyukaimu Alif, karena itu dia melenyapkan Dewi dan kekasihmu yang lain. Kau pikir siapa yang bisa melakukan semua itu? Kau pikir semua itu hanya kebetulan?" Senyum Andika melihat kepalan tangan putranya semakin melemas
" Ayah tidak berbohong. Dia memang simpanan ayah, anak yang dikandungnya anak ayah. Ayah juga tahu dia dalang semuanya. Ayah menjauhkanmu darinya untuk menyelamatkanmu nak. Hiduplah bebas di luar sana, biarkan Nicki menjadi urusan ayah. Ayah akan mengurung dia di sini agar tidak bisa mengganggumu lagi." Andika menepuk pundak putranya yang terduduk lemas memandangi foto foto itu. Air mata Alif meleleh turun
" Ayah, ini semua bohong bukan? Ayah aku sangat mencintainya." Ucap Alif gemetar
" Apa ayah pernah berbohong padamu? Dia berbahaya untuk hidupmu. Pergilah, tinggalkan dan lupakan dia yang hanya bisa menyakiti hatimu. Ini belum terlambat. Ayah akan mengurus segalanya." Hibur Andika
Sulit bagi Alif untuk percaya, cintanya menjadi kebencian yang memuncak. Menyadari kekasihnya tak hanya menghianati tapi juga melenyapkan orang orang yang ia sayangi. Alifpun pergi begitu saja tanpa menyapa Nicki, ia menyimpan kebencian dan dendam yang tak berujung. Ia membakar semua kenangan tentang Nicki dan tak ingin melihatnya lagi. Alif melanjutkan hidupnya, ia bahkan hampir menikahi wanita asing di sana.
Sampai ia mendengar kabar tentang kematian Ayahnya yang mengerikan, Alif kembali pulang tapi tidak pernah mau datang ke rumah itu. Dendamnya pada Nicki semakin besar karena menurut Maharani, Nickilah yang melenyapkan Andika lalu pergi begitu saja bersama orang lain.
Alif memutuskan membawa Maharani sebagai ibunya untuk tinggal bersamanya. Tapi tidak dalam waktu lama... Pemuda itu memutuskan mengakhiri hidup. Ia ditemukan tewar di ruang kerja dengan pistol yang melubangi pelipisnya sendiri. Seseorang mungkin bisa hidup dengan segala harta yang ia punya. Tapi tidak dengan rasa kecewa yang begitu besar terutama pada penghianatan dari orang tercinta.
Raka bisa merasakan, sampai matipun ia ( Alif ) masih bingung dengan perasaannya. Apakah rasa besarnya pada Nicki lebih dari pada kebencian dan amarahnya?
Kini Raka mengerti, kenapa Nicki berkali kali datang ke dalam mimpinya selama ini. Karena rasa yang belum selesai yang Alif bawa saat kematiannya masih membekas hingga kehidupannya yang ke dua. Kenapa Raka berhenti bermimpi setelah bertemu Nicki, karena itulah jawabannya. Nicki adalah wujud dari rahasia besar hidup dan matinya.
" Kau mengingat segalanya?" Tanya Nicki yang tersenyum cantik di belakangnya. Raka hanya mengangguk kemudian meneteskan air mata. Mengangkat satu persatu sisa tulang belulang Nicki dari bawah marmer itu
" Aku tidak selingkuh, anak ini anakmu, aku juga tidak membunuh siapapun. Justru aku datang menemui Dewi yang tampak menunggumu di kolam renang malam itu. Dia bilang Andika mengatakan bahwa kau memintanya menunggu di sana. Aku bahkan tidak tahu jika Dewi tidak bisa berenang. Aku memang berusaha menjauhkanmu dari siapapun tapi tidak membunuh. Aku hanya menunggu kepercayaanmu, Alif." Tangis Nicki sedih
Raka memerah, ia menangis. Memeluk sisa jasad Nicki ke dadanya
" Maafkan aku, harusnya aku tidak pergi." Ucapnya menatap Nicki teduh
Nicki tersenyum, ia kemudian mengangguk, menyeka air mata dari pipi Raka
" Aku sangat mencintaimu Raka, sejak kehidupan sebelumnya. Aku begitu lama menunggumu. Kau sangat terlambat." Ujarnya
" Maafkan aku... Aku sangat menyesal."
" Tidak, sekarang aku tenang. Kau percaya padaku kan?" Tanya Nicki
Raka mengangguk pelan
Nicki memeluknya hangat, Raka bahkan bisa merasakan hangat tubuhnya
" Tolong aku minta bantuanmu dan ayahmu untuk memakamkanku dengan layak. Kau mau kan?" Bisiknya
" Aku pasti akan melakukan itu." Janji Raka
" Kau masih mencintaiku?" Tanya Nicki dengan tatapan syahdunya
Raka terdiam sejenak, menatap tulang belulang itu. Ia kemudian mengangguk pelan
" Aku sangat mencintaimu dan masih mencintaimu." Ujarnya membuat Nicki tersenyum lega
" Kalau begitu kau mau memelukku sekali lagi? Aku ingin bersamamu hingga akhir." Pinta Nicki merentangkan tangannya
Raka meletakkan tulang belulang itu lalu memeluk Nicki erat
" Aku sangat menyayangimu Nicki. Maafkan kesalahanku, aku tahu penyesalanku tidak akan mengembalikan hidupmu, tapi aku berjanji, aku tidak akan pernah melupakanmu. Aku akan tetap di sini." Ucap Raka
" Aku bahagia." Ujar Nicki meneteskan air matanya, mengecup pipi Raka pelan kemudian perlahan... Tubuhnya menghilang, menjadi percikan mutiara yang begitu indah, membaur bersama malam kemudian menghilang bersama hembusan angin
Ternyata, aku bukanlah daun kering
Penantianku tidak sia sia...
Dan aku sangat bahagia
~ Nicki