Siapa Si Vampire itu ?

2345 Words
Seorang pria berkulit pucat yang terus memegangi tangan pasien wanita pagi itu rupanya begitu menarik perhatian perawat dan dokter yang akan melakukan control pagi ini pada Queeny. “mereka ini sweet sekali” “benar” Gumam perawat yang kini tengah memeriksa cairan infus yang terpasang pada tangan Queeny dan di setujui oleh sang dokter yang juga tengah memeriksa keadaannya. Aaron tak sedikitpun terganggu dan tetap melanjutkan tidurnya, satu perawat bahkan jahil memotret kebersamaan mereka. “Aaron!” Aaron langsung membuka matanya, terbangun dari tidurnya karena di kagetkan oleh suara manusia yang tak asing lagi di telinganya, “kenapa? ada apa? Queeny? Dia..dia baik-baik saja kan dok?” Refleks dirinya langsung bertanya soal keadaan Queeny pada dokter yang baru saja selesai memeriksa keadaannya. Aaron tiba-tiba saja terlihat sangat panic dan kini tengah memeriksa wajah juga tubuh Queeny yang masih terbaring dengan tenang di ranjangnya. Wajahnya yang baru terbangun dan langsung panic itu tampak sangat lucu sampai-sampai dokter, perawat juga Will tengah menahan tawa mereka melihat tingkah Aaron yang seperti itu. “dia baik-baik saja” Jawab dokter itu dengan senyum di wajahnya, dan akhirnya Aaron kini bisa bernapas lega bahkan dirinya kembali mendudukan dirinya setelah tadi sempat berdiri terperanjat karena di bangunkan oleh suara Will yang membuat Aaron sangat kaget. “ahh.. WILL!! Kau membuatku kaget saja! ku kira ada apa dengannya? Aaron jadi emosi karena di bangunkan tiba-tiba oleh kedatang Will yang sangat tak bisa santai itu. “oh.. apa aku mengagetkanmu..hehe” “hhhffttt…” Dalam hatinya ia menggerutu jika saja tadi malam ia tak membantunya, pasti Will sudah habis di telannya. “ah.. ngomong-ngomong..dokter, apa dia sungguh baik-baik saja? kenapa dia masih belum bangun?” Tanya Aaron pada dokter yang berada di samping Queeny. “dia akan segera bangun, itu hanya efek dari obatnya saja, soal cedera dan luka-lukanya kita akan melihat hasil lab dan scannya yang akan keluar nanti” Balas dokter itu. “begitu ya.. aku akan menunggunya sampai dia bangun” Ucap Aaron, namun Will tiba-tiba membalikan tubuh Aaron dan membuatnya menghadapnya. “NO! Aaron kau harus pergi ke perusahaan dan menyapa penggemarmu hari ini.. kau tahu, kau kini sudah seperti bintang.. lihat ini..” Will memperlihatkan hasil siaran langsung semalam dari handphonenya, itu adalah beberapa cuitan juga ulasan komunitas daring yang tengah menjadikan dirinya pembicaraan uatama. bahkan namanya berada dalam pencarian teratas dan memenuhi berita utama hari ini karena telah berhasil membekuk para pejabat korup semalam. “hah..yang benar saja..” Aaron mendorong dan menjauhkan tangan Will yang memperlihatkan layar handphonenya itu padanya, ia seolah tak tertarik dengan maraknya pembicaraan mengenai dirinya. “kau.. kenapa seperti ini, lihat kau sudah terkenal sekarang.. bahkan kau harus menghadiri salah satu podcast dan talk show untuk keberhasilanmu ini” Tambah Will pada Aaron yang terlihat tak peduli pada apa yang sedang di bicarakannya itu. dan memang Aaron tak mempedulikan soal dirinya yang tengah naik daun. Ia kini ingin memfokuskan dirinya pada wanita yang masih terbaring tengah di pandanginya dan saat ini hanya Queenylah yang ada di kepalanya, satu yang di pedulikannya. Tangannya di julurkannya untuk membenarkan rambut yang menjuntai menghalangi wajah cantiknya, “bibirnya jadi seperti ini” Gumam Aaron, ia kemudian mengusapkan jarinya di sudut bibir Queeny yang membengkak dan terluka di wajah yang sangat di kaguminya itu. “dokter akan mengobatinya jadi tenang saja..” “bagaimana aku bisa tenang sekarang dia seperti ini karena aku..” Sesal Aaron. Drtt drtt drttt Satu panggilan masuk di handphone Aaron dan ia langsung menerima panggilan itu. “ya… aku tak akan pergi ke perusahaan hari ini, di sana pasti ribut sekali bukan?” “ehmm.. batalkan semua janjiku hari ini.. yah terimakasih Kelly” Singkatnya dalam telpon yang baru saja di sudahinya. “kenapa? kau bisa meninggalkannya pada perawat..” Will masih juga belum mengerti kenapa Aaron sampai bersikap seperti itu. Aaron menghirup napas dalam, meski ia masih tak yakin namun ia sepertinya harus mendeklarasikan keinginannya soal Queeny. “Will.. kau berkata orang yang memiliki trauma sepertinya akan sulit membuka diri pada orang lain bukan, aku akan buktikan padamu aku akan menjadi orang yang berhasil membuatnya bisa membukakan diri untukku ..agar aku bisa masuk kedalam hidupnya, dan jika kau pikir aku hanya datang padanya untuk menambah luka di hidupnya saja, kau salah.. karena aku yang akan menyembuhkan lukanya juga traumanya..” Ucap Aaron dengan penuh keseriusan dari nadanya bicaranya. “Aaron …kau..” “ehmm.. aku tak akan melepaskan prospek sempurnaku ini, dia akan menjadi pendonor tetapku dan akan ku buat dirinya selalu tetap berada di sisiku..” Matanya benar-benar menunjukan bahwa ia tak sedang bermain-main, Aaron benar-benar terlihat seperti orang yang sedang benar-benar bertekad dengan kata-katanya itu. will hanya bisa melihat Aaron yang seperti itu. ia tahu jika saudara iparnya itu sudah bertekad maka ia akan berpegang dengan teguh pada apa yang ia sudah tekadkannya itu. … Pukul 11.08 Setelah memutuskan untuk membolos hari ini, Aaron tak henti-hentinya memandangi lekat wajah yang masih tertidur dengan tenang di hadapannya saat ini. sedikit geram dirinya, bahkan matanya beberapa kali melirik jam di dinding seperti orang yang tengah menunggu sesuatu dengan sangat tak sabar. Ia bahkan terus saja bergumam dengan gelisah menanyakan kenapa Queeny masih belum juga terbangun. “kata dokter dua jam saja lagi ia akan bangun tapi lihat ini sudah pukul segini..” Gerutunya. Kemudian terdengar seseorang membuka pintu ruangan Queeny, hingga iapun menoleh dan di temukannya seorang wanita di sana. “ooh.. kau-“ “Depheny..” Aaron mengingat wanita yang terakhir kali membantunya mengurus ke anggotaan di pusat kebugaran tempat Queeny bekerja. Ia juga melihat sosok tak asing yang muncul setelah Depheny. “kau menjaganya sedari kemarin malam?” Tanya Jack Lee yang langsung berjalan masuk untuk menghampiri Queeny. “kau.. bagaimana bisa.. bukankah semalam kau di tahan..” Aaron terheran dengan kedatangan Jack Lee yang jelas-jelas semalam ikut di ringkus kepolisian. “ehm.. aku memiliki hak istimewa untuk itu dan kini aku di bebaskan secara bersyarat karena hanya seorang saksi” Aaron tak percaya atas apa yang baru saja di dengarnya, bagaimana bisa hanya seorang saksi, jelas-jelas dialah yang mengurus pencucian uang disana. “tak usah memandangiku dengan aneh begitu, kau tahu orang dari kepolisianpun beberapa ada yang sama liciknya dengan si wali kota dan selama ini mereka juga telah sama menggunakan jasaku untuk mencuci semua hasil uang yang di gelapkannya” Aaron menganga tak percaya. namun berbeda dengan Jack yang tampak biasa saja dana pa yang di kerjakannya itu bukanlah apa-apa. “lupakan soal itu, bagaimana keadaannya?” Tanya Jack kemudian. “ah.. dokter bilang dia akan segera bangun, dan untuk kondisi pastinya harus menunggu sampai hasil tesnya keluar” Jack Lee mengangguk-anggukan kepalanya setelah mendengar penjelasan dari Aaron, dan kini ia tengah memandangi wajah Queeny dengan sangat khawatir. “terimakasih sudah menjaga Qu dengan baik, sebaikanya kau pulang dan beristirahatlah..” Ucap Jack yang terdengar seperti sedang mengusirnya secara halus begitu pikir Aaron setelah mendengar Jack yang baru saja berucap menyuruhnya pulang itu. “ehm.. benar, kau sepertinya juga kelelahan, Qu biar aku saja yang jaga” Tambah Depheny, meski mereka menyuruh Aaron untuk pergi dan pulang. tapi sayangnya Aaron terlalu enggan meninggalkan Queeny yang masih belum sadar itu. Ia masih tetap ingin berada di sisinya sampai Queeny bangun. “tenang saja, jika dia bangun akan aku kabari” Depheny berkata demikian, dan itu berhasil membuat Aaron kalah, sampai ia merasa lebih baik ia pulang saja menuruti perkataan mereka. “baiklah kalau begitu” Aaron akhirnya pergi dari ruangan Queeny. Tengah berjalan lunglai keluar gedung rumah sakit. lelah yang semula tak di rasakannya setelah semalaman menjaga Queeny anehnya kini baru bermunculan membuat punggung juga lehernya terasa sangat berat, bahkan seluruh badannya terasa pegal sekali saat ini. “hhhh.. aku harap dia baik-baik saja” Gumam Aaron begitu mengempaskan dirinya di kursi mobilnya. Ia kemudian menancap gasnya dan melaju menuju apartemen miliknya. Di sepanjang jalan, ia melihat banyak sekali simpatisan juga aktifis mahasiswa yang turun kejalanan untuk berdemonstrasi soal si wali kota yang semalam baru ketahuan busuknya itu. Warga kota sepertinya tak terima uang yang seharusnya bisa di pakai untuk fasilitas umum dan oprasional pemerintahan kota malah di pakai untuk hal gila seperti perjudian yang baru terbongkar. Bahkan ia melihat tayangan siaran berita pagi ini yang terpampang di salah satu gedung, sosok yang semalam telah mentertawakannya, kini dalam siaran berita itu malah terlihat sedang di tutup wajahnya, tak lupa dengan kedua tangan yang sudah di borgol, berjalan memasuki gedung kejaksaan dengan di giring beberapa orang anggota kepolisian dan sedang gandrungi para wartawan lengkap dengan kamera-kameranya yang siap untuk meliput kejahatan yang telah di lakukannya. Dan tiba-tiba saja ia melihat wajahnya menggantikan topik berita sebelumnya. “ahh.. kenapa mereka memasang wajahku seperti itu” Gerutu Aaron. Meski begitu ia tetap tak bisa menyembunyikan senyumannya saat mendengar ulasan yang baik soal dirinya semalam. Drrtt drtt drttt “ya.. hallo..” Aaron mengangkat satu panggilan masuk di handphonenya. “kau.. benar-benar senang sekali mencuri perhatian rupanya..” Ucap sang komisaris dari sambungan telpon. “tadinya ingin ku selesaikan dengan diam-diam dan tak ingin ikut campur soal politik kotor mereka.. tapi ya ..mau bagaimana lagi..” “aku tak peduli, yang penting perusahaan tetap aman… ahh..wajahmu sangat pucat sekali di semua pemberitaan media.. kau sadar itu, ku pikir tadinya itu bukan gambar tayangan berita, tapi cover film vampire terbaru” Sang ayah rupanya sedikit terganggu dengan foto-foto anaknya yang tersebar dengan wajahnya yang memang sangat pucat sekali sampai-sampai ia meledeknya dengan berkata seperti itu. “ingat jadwal transfusemu dan cepatlah dapatkan pendonor yang bersedia memberikan banyak darahnya untukmu” Tambahnya, “yaa..baiklah..” Ucap Aaron malas, lalu menutup sambungan telponnya. “apa katanya cover film Vampire.. cih.. enak saja, aku terlihat cukup tampan kok disana” Gerutu Aaron. “ahhh.. Qu.. kuharap kau bersedia untuk menjadi pendonorku..” … Sementara itu di rumah sakit, Queeny yang barus saja membuka matanya dan dilihatnya seseorang yang menurutnya bukan dirinyalah yang seharusnya berada di sampingnya itu. “kau..kenapa disini..” Tanyanya dengan suaranya yang lemah dan sedikit serak. Dalam hatinya jelas-jelas ia mengingat bahwa semalaman si vampire itulah yang menemaninya. ‘atau itu hanya khayalanku saja ya, tapi itu terlalu nyata.. jelas-jelas semalam ku ingat dirinya yang memegangi tanganku..’ “tentu aku harus di sini menjagamu..” Balas Jack. “padahal aku ingin berterimakasih padanya..ah! kau- kenapa menyuruh seorang CEO untuk mengikuti dan mengawasiku, wahhh…semakin hebat saja dirimu sampai berani begitu..” Jack kini menyiritkan dahinya, ia tak mengerti dengan perkataan Queeny baru saja. “kau pasti sudah gila karena kepalamu terpukul semalam.. mana bisa aku menyuruh seorang CEO untuk mengawasimu“ “lalu Aaron? Aaron Schoth si vampire itu?” “…..” Hening. Keduanya tampak sama-sama tak mengerti keadaan yang terjadi. Queeny masih berpikir jika Aaron mendekatinya karena perintah Jack, dan Jack benar-benar menganggap Queeny sangat aneh setelah ia menuduh dirinya menyuruh seorang CEO perusahaan besar untuk mengikutinya. “sepertinya aku harus memanggilkan dokter untuk memeriksa keadaanmu yang tak beres itu, kau pikir aku ini raja atau presiden sampai bisa bisanya menyuruh CEO GLOBAL Holding mengikutimu..” “la-lalu?.. “ Queeny semakin terheran-heran dan kebingunan kenapa seorang CEO sepertinya sampai bisa mengikutinya. “akhhh” Dan tiba-tiba saja Queeny ingin bangkit untuk bangun, namun sayangnya ia hanya bisa mengangkat kepalanya saja dan kembali membaringkan diri karena seluruh tubuhnya terasa sangat sakit sampai ia tak bisa mengangkat tubuhnya untuk duduk. “hati-hati kau ini masih harus istirahat.. kenapa malah ingin bangun” Ucap Jack. “habisnya.. aku- aku tak mengerti kenapa dia mengikutiku” “kau.. kau tak pernah mencari masalah dengannya bukan?” Jack curiga pada wanita yang sudah dianggapnya sebagai adiknya itu. ia sungguh tahu kecerobohannya juga sikapnya yang terkadang terlalu berani itu selalu membuatnya berada dalam masalah. “ehm.. itu.. aku pikir tidak, aku hanya sempat membanting-“ “APA?? MEMBANTING?? Kau- kau membantingnya? WAAAHHH..KAU GILA!” Reaksi Jack sungguh membuat pasien yang baru bangun itu terkaget-kaget. Queeny sampai menghentakan tubuhnya selagi ia terbaring di ranjang itu. “hhahh…bisa tidak jangan membuatku kaget begitu” Ucap Queeny sambil memegangi dadanya karena berhasil di buat kaget oleh Jack itu. “kau tahu dia itu bukan manusia sembarangan yang bisa kau banting Qu.. dia- dia itu…ahhhh” Jack jadi frustasi sendiri mengetahui apa yang telah di lakukan Queeny. Ia tak mengerti, bisa-bisanya dirinya membanting orang asing seperti itu. “aku- aku tak sengaja, mana aku tahu dia CEO, lagi pula itu hanya bentuk pertahanan diriku saja, suruh siapa dia tiba-tiba memegangi pundakku malam itu..” Jack hanya menatapi Queeny dengan mata tak percaya, “kau.. makanya jangan selalu berpikiran buruk pada orang lain, jadi-“ “bagaimana aku tak berpikiran buruk, jika kau saja yang ku percaya bisa-bisanya ingin memberikanku pada k*****t tua Bangka itu untuk di tidurinya” “QU!” Jack membentak Queeny saat ia mengungkit masalah sensitive juga kesalahan yang pernah di lakukan Jack padanya. “APA?” Queeny membalas Jack suara yang tak kalah kerasnya. “itu kesalahanku, kuaikui itu. tapi aku juga tak membiarkanmu di lukai oleh mereka bukan? harus berapa kali aku meminta maaf padamu soal itu” Ucap Jack, “tetap saja kau hampir saja membuatku di lecehkan oleh pria c***l itu..” Queeny benar-benar tak bisa melupakan apa yang pernah di lakukan Jack padanya, dan karena itu pula lah hubungan Queeny dan Jack sedikit menjauh. “Qu…kau sudah bangun” Depheny yang baru saja masuk dari balik pintu ruangan Queeny, ia langsung bisa merasakan aura ketegangan yang terjadi diantara keduanya. “kau baik-baik saja bukan?” Tambahnya sambil mendekati Queeny. “dia benar-benar sudah baikan Deph, bahkan sifat sensitifnya yang sangat menyebalkan itu sudah kembali” Ucap Jack mewakili Queeny menjawab pertanyaan Depheny. “aww.. sakit kenapa kau mencubitku” Depheny mencubit Jack karena kesal dengan tingkahnya itu. “bersikaplah baik pada pasien kak.. tak bisakah kau lihat, dia ini baru saja bangun tapi kau sudah seperti itu padanya” “memang hanya kau Deph yang mengerti diriku” Balas Queenya sambil memeluk wanita yang sudah di kenalnya baik itu. “ah.. aku harus mengabarinya” Ucap Depheny, ia baru saja teringat pada janjinya untuk mengabari orang itu begitu Queeny bangun. “siapa?” “si Vampir” Aaron adalah orang yang maksudnya, mereka benar-benar memberi nama panggilan si vampire itu untuknya. “si Vampire? Kenapa?” Queeny tak mengerti dengan perkataan depheny, kenapa ia harus menghubungi pria pucat itu. “aah.. semalaman sampai tadi sebelum aku dan kak Jack datang, dialah orang yang menjagamu” Jelas Depheny pada Queeny. Mata Queeny membulat mendengar itu. karena semula ia pikir itu hanya mimpi terlebih saat ia bangun bukan dirinya yang ada di sampingnya dan malah Jack. “tapi kenapa? maksudku.. bagaimana bisa? kenapa dia mau menemaniku semalaman?” Kepala Queeny semakin di penuhi dengan pertanyaan-pertanyaan soal pria pucat yang di panggilnya si Vampire itu. …
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD