7| Ruangan P*nyiksaan

1469 Words
Kata sensitif author kasih ‘spasi’ ya *** "Apa-apaan kalian semua! Kalian tidak bisa menangkapnya!? Demi Tuhan, dia hanyalah seorang wanita! Seorang jalang!" Teriakan Gabriel menggelegar di ruangan mewah itu ketika lagi dan lagi anak buahnya membawa kegagalan. Gabriel memijit pelan dahinya ketika amarah menguasai dirinya. Ia tidak terbiasa dengan kegagalan ini dan sekarang sudah hari kedua ia memerintahkan anak buahnya untuk membunuh Evelyn. Para anak buah Gabriel saling pandang, Tyler yang lebih dulu bersuara, "Kamu tahu sendiri betapa cerdiknya wanita itu, bukan? Dia tidak sama dengan musuh-musuh yang pernah kami tangani. Dia sedikit berbeda.” Dalam misi ini, beruntunglah Tyler, Eun-Ho, dan Jun turun ke lapangan. Jika itu anak buah Gabriel yang lain, mungkin sudah mati ketika melaporkan kegagalan misi ini. Gabriel menghembuskan napas kesal dan mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih. "Aku tidak ingin tahu. Besok aku tidak ingin mendengar kata gagal lagi dari mulut kalian bertiga. Enyahlah!" Gabriel pun memasuki kamar pribadinya dan membanting pintu dengan keras. Di sana, sudah ada wanita yang akan meredakan emosinya yang meledak-ledak. Seorang wanita yang sedang bertelan jang dengan mata tertutup. Wanita itu berbaring tengkurap dengan pose yang sangat erotis. Gabriel tidak ingin membuang waktu lagi, jadi dia langsung membuka ikat pinggangnya dan menampar pan tat wanita itu dengan ikat pinggang yang ia pegang. Wanita itu langsung mengeluarkan lolongan kenikmatan yang tiada tara, membuat Gabriel menambah beberapa tamparan lagi hingga pan tat yang awalnya putih itu menjadi merah. "Turn around!" titah Gabriel dingin. Seakan terhipnotis oleh kata-kata Gabriel, Wanita itu membalikkan tubuhnya dan membuka kedua kakinya lebar-lebar, menampakkan area sensitifnya yang mulus tanpa ditumbuhi sehelai rambut pun. Gabriel saat ini tidak ingin bermain-main seperti yang dilakukannya dengan wanita sebelum-sebelumnya. Ia membuka semua pakaiannya, kemudian langsung membenamkan miliknya ke dalam liang nikmat wanita itu. Tanpa pemanasan terlebih dahulu, Gabriel langsung menggerakkan tubuhnya dengan liar dan brutal, seakan-akan ingin menghancurkan liang wanita itu. "Yes! Yes! Nikmat sekali! Teruskan!” Desahan wanita itu memantul-mantul di setiap sisi dinding ruangan pribadi Gabriel. Ruangan yang biasa menjadi tempat Gabriel berse tubuh dan ruangan yang juga menelan banyak korban setelahnya. Saat tangan wanita itu hendak meraba dadanya, Gabriel memelintir tangan wanita itu dengan kasar dan menjauhkan dari tubuhnya. Ia menggerakkan pinggulnya lebih erat, maju mundur menggali lebih dalam ke inti tubuh wanita itu. Tubuh wanita itu berulang kali mengejang dan bergetar, dadanya membusung menandakan dia akan keluar. Gabriel meremas dengan sangat kuat gundukan besar wanita itu dan menghujam lubang wanita itu dengan sangat brutal. “Aku akan sampai, Sir! Yah, yah! Di sana! Aku akan sampai—!” Wanita itu berteriak keras saat akhirnya ia sudah mencapai klima ksnya. Gabriel tidak memberi jeda untuk wanita itu menikmati pelepasannya. Karena sekali lagi ia membalikkan tubuh wanita itu dan kembali menusuk lubangnya dengan keras. Beberapa puluh menit kemudian, barulah Gabriel merasakan akan mencapai puncak. Dia menahan pinggul wanita itu di tempat dan mendorong miliknya hingga titik terdalam wanita itu. Dalam hitungan detik, Gabriel pun menyemburkan jus hangat hangatnya ke dinding dalam wanita itu. Wanita yang sudah tidak berdaya itu bernapas terengah-engah. Dengan tenaganya yang tersisa, ia melepaskan penutup mata yang dari tadi menutupi kedua mata indahnya. “Hah, hah, apakah kamu tidak memakai pengaman—” Setelah penutup mata terlepas, wanita itu spontan menjatuhkan rahangnya dan mengurungkan niat untuk memarahi pria yang keluar tanpa pengaman itu. Namun, ia malah merasa bersyukur karena di masa suburnya, ia dijamin pasti akan mengandung benih pria tampan itu. Wanita itu terperangah akan pesona Gabriel dan berusaha menggerakkan lidahnya yang kelu. "Ke-kenapa kamu keluar di dalam? apakah kamu ingin memperpanjang masa pemakaianku atau kamu ingin aku melahirkan anakmu?" Gabriel tidak menjawab, hanya menatap wanita itu tanpa ekspresi. Kemudian, pintu terbuka dan Tyler masuk ke ruangan pribadinya. Sama sekali tidak terganggu dengan pemandangan itu. "Jay telah menangkap polisi itu," ucap Tyler, menghampiri Gabriel dan membisikkan informasi itu ke telinga Gabriel. Gabriel mencabut keper kasaannya lalu meraih bathrobe dan melenggang keluar dari ruangan. Sebelum pergi, dia berhenti dan melirik Tyler. “Seperti biasa, urus p*****r itu.” Sesampainya di depan ruang pertemuan, Gabriel mengeratkan ikatan bathrobe dan mendekati anak buahnya yang lain. "Bagaimana bisa Jay menangkap jalang itu, sedangkan kalian tidak? Apakah kemampuan kalian sudah menurun karena yang kalian hadapi adalah seorang wanita?” ejek Gabriel pada Jun yang berdiri di depan ruang pertemuan, sedangkan Tyler sedang membunuh wanita yang menjadi pemuas Gabriel tadi. "Di penjara bawah tanah, aku belum menanyakan detailnya kepada Jay," jawab Jun dengan helaan napas panjang. Akhirnya, Gabriel, yang diikuti oleh Jun, memasuki salah satu ruangan yang ada di bawah mansionnya. Terdapat banyak ruangan di ruang bawah tanah itu, tetapi ada satu ruangan yang paling mengerikan yang digunakan untuk menyiksa musuh-musuh Gabriel. Jika semua ruangan di mansion Gabriel adalah ruangan mewah dan megah, ruang penyiksaan memiliki suasana yang sangat berbeda. Gelap, dingin, dan pengap karena tidak ada udara yang masuk ke dalam ruangan itu. Selain suasananya yang kelam, alat-alat yang ada di sana juga sangat mengerikan. Ada beberapa alat-alat kuno yang dibuat untuk menyiksa korbannya seperti: Iron Maiden, Knee Splitter, Judas chair, dan alat-alat lain yang lebih modern seperti: kursi listrik dan meja pemotong tubuh manusia. Iron Maiden adalah alat siksa besar yang bentuknya seperti peti mati dengan sejumlah duri di bagian dalam peti. Ketika orang masuk ke dalam dan peti ditutup, duri-duri tersebut akan menusuk badan korban. Meski begitu, korban tidak akan langsung mati, melainkan akan mati perlahan karena kehabisan darah. Sementara itu, cara kerja knee splitter adalah dengan memasukkan kaki korban ke dalam alat dan diposisikan tepat di bagian lutut. Duri-duri tajam yang ada di knee splitter perlahan akan ditekan menusuk lutut dan mengakibatkan rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuh. Ada pun dengan menggunakan The Judas Chair yang terbuat dari kayu dengan ujungnya yang berbentuk menyerupai piramida. Duduk di kursi runcing ini akan membuat sang korban merasa seperti ada di neraka. Korban yang terpilih untuk duduk di kursi ini tangannya akan diikat ke tubuh dan kakinya diikat lurus. Korban kemudian akan dipaksa duduk di atas kursi ini. Lubang an us atau kewani taan dari si korban akan ditusuk oleh bagian runcing dari kursi piramida. Semakin kaki ditarik, maka semakin masuk pula piramida tersebut kedalam lubang mereka. Sejauh ini ada satu korban yang merasakan siksaan Judas Chair di ruangan itu, yaitu seorang wanita pemuas na fsu Gabriel yang mengaku hamil anak Gabriel, Tentu saja Gabriel tidak akan percaya karena Gabriel tidak akan seceroboh itu. Akhirnya, wanita itu disiksa oleh Gabriel di ruangan itu dengan sangat kejam. Dan semenjak kejadian itu, Gabriel akan membunuh setiap wanita yang telah ditidurinya. Gabriel memasuki ruangan itu dan terdapat Eun-Ho yang sedang membantu Jay mengikat Evelyn. Gabriel melihat Evelyn yang masih belum sadarkan diri dengan tangan dan kaki yang terikat rantai berduri pada kursi. Jika sedikit saja Evelyn bergerak dan memberontak, maka duri pada rantai itu akan otomatis menusuk tangan dan kakinya. "Bagaimana kau menangkapnya ketika kami tidak berhasil menangkapnya?" tanya Jun penasaran. Sungguh mengherankan anak bawang seperti Jayden bisa menangkap polisi gesit ini. "Kalian menggunakan tenaga, aku menggunakan otak," jawab Jay singkat. Dan kesombongannya itu, malah membuatnya menerima jitakan keras dari Eun-Ho. Jay mengusap kepalanya yang berdenyut nyeri. Ia memelototi Eun-Ho dengan agresif sebelum mengalah, dan menjelaskan semuanya. "Yah, mudah saja bagiku. Aku hanya memasuki apartemennya dan mencampurkan semua makanan yang ada di kulkasnya dengan obat tidur dosis tinggi. Kelanjutannya bisa kalian bayangkan. Sesimpel itu.” Gabriel mengangguk pelan lalu, menatap satu-persatu anak buahnya. "Dan kenapa kalian semua tidak langsung membunuhnya?" Jun mengusap tengkuknya canggung dan berdehem pelan. "Aku belum bisa membunuhnya. Chip sevblong masih berada ada di tangannya. Meski aku telah memeriksa apartemennya, tetapi chip sialan itu tidak ada di mana-mana." Gabriel berdecak kesal. Dia tidak peduli lagi dengan urusan chip itu. Chip bisa dicari nanti, tapi tidak dengan polisi wanita ini. Mereka harus menyingkirkannya secepat mungkin sebelum kepolisian menyadari bahwa salah satu anggota mereka hilang. Urusannya bisa bertambah runyam jika mereka terlibat lebih jauh. "Tidak perlu. Langsung bunuh saja dia, kita tidak memerlukan chip itu lagi," ucap Gabriel kemudian berlalu dari ruangan tersebut. Jay meneguk ludahnya kemudian memberanikan diri untuk berkata, “Bisakah kita tunda kematiannya dua hari saja? Aku ingin mencari sesuatu, wanita ini membuatku penasaran akan suatu hal.” Gabriel memutar tubuhnya dan menatap Jayden dengan mata memicing. Tak berselang lama, akhirnya ia memberi Jay sebuah anggukan kecil. "Baiklah, tapi pastikan ketatkan penjagaan di ruangan ini dan jangan biarkan jalang ini kabur dari pandangan kalian." Setelah mengatakannya, Gabriel pun benar-benar keluar dari ruangan terkutuk itu. Jay tersenyum lebar kemudian mengalihkan perhatiannya kepada Evelyn. Kedua alisnya terangkat naik, sungguh wanita ini benar-benar membuatnya penasaran setengah mati. “Kenapa kamu menundanya? Apa yang ingin kau cari sebenarnya?” tanya Eun-Ho heran. Jay hanya meliriknya sesaat kemudian tersenyum miring. “Ra-ha-sia. Kalian akan mengetahuinya nanti.” (Cek info visual setiap tokoh di sosial media author, ig : secrett_zr, sss : secrett_zr, t****k : secrett_zr, dan join grup sss : Readers SecretZR)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD