Pagi-pagi sekali Gabriel sudah melangkahkan kakinya menuju ruangan pribadi Jay. Ruangan itu dipenuhi oleh barang-barang favorit Jay sekaligus menjadi tempat untuk mengakses semua informasi dan data. Ruangan yang Jay sebut dengan sebutan ‘cybercrime lab’.
Jay mengalihkan pandangan ke arah pintu saat Gabriel memasuki ruangannya tanpa mengetuk pintu. Tanpa ditanya, Jay tahu Gabriel akan memberitahu tujuan kedatangannya ke mari. Pria itu bukanlah orang yang suka berbasa-basi.
Gabriel menghampiri Jay kemudian menyilangkan kedua tangan dengan angkuh. Seakan-akan itu adalah pose paten seorang Gabriel Blackwood. “Aku akan menggunakan ruanganmu seharian ini.”
“What? Untuk apa?” Jay menautkan kening heran, tidak biasanya Gabriel akan turun tangan mengolah informasi sendiri.
"Aku akan langsung memantau polisi itu. Ada beberapa hal yang ingin kuselidiki tentangnya. Dan kali ini kau bisa rileks sedikit. Kau sudah bekerja keras," jawab Gabriel kemudian mengambil alih kursi kerja Jay.
Jay memperhatikan Gabriel selama beberapa saat lalu berjalan menuju ruang sebelah, mengambil sebuah benda berukuran kecil dan kembali ke cybercrime lab-nya.
Benda yang Jay bawa adalah sebuah robot lalat pengintai yang telah ia modifikasi sesuai kegunaan organisasi mereka. Hanya sebesar ukuran lalat pada umumnya, tetapi mampu diandalkan dan bertahan hingga 48 jam nonstop.
Jay mengaktifkan sistem kerja robot lalat itu kemudian menghubungkan dengan komputernya.
Setelah beberapa saat terdiam, Jay meletakkan robot lalat itu di samping komputernya dan berkata pada Gabriel, “Apa kau ingin aku yang mengontrolnya? Atau kau ingin melakukannya sendiri?”
"Tidak, biar aku saja,” tukas Gabriel lalu meraih robot pengintai itu untuk memeriksa detailnya. Ia menatap Jay yang tampaknya tak ingin bersantai dan menyeringai tipis, “Karena sepertinya kau tidak mau bersantai, lebih baik kau keluar dan bantu yang lain menjalankan misi. Dan jangan khawatir, aku tidak akan merusak alat-alatmu.”
Jay mendengus kesal kemudian membiarkan Gabriel menerbangkan robot pengintai itu menuju apartemen Evelyn dan memantaunya melalui layar komputer. Walaupun ukuran robot itu sangat kecil, tetapi dia mampu berpindah tempat dan terbang dengan kecepatan di atas 100km/jam.
*
Gabriel memperhatikan Evelyn dari layar monitornya. Evelyn baru keluar dari apartemennya dengan setelan yang sedikit berbeda dari yang Gabriel lihat kemarin. Saat ini Evelyn berpakaian dengan lebih santai, tetapi tetap ada kesan misterius yang terpampang di ekspresi wanita itu.
'Mau ke mana dia?' gumam Gabriel, masih tetap mengikuti Evelyn hingga Evelyn memasuki mobilnya.
Tujuan Evelyn ternyata ke kantor polisi, tempatnya bekerja. Evelyn memasuki ruangannya setelah melakukan presensi dengan fingerprint yang terletak di dinding samping pintu ruangannya. Saat ia masuk, Evelyn sudah disambut oleh Eric yang tampak membaca koran paginya. Eric tersenyum lebar lalu melemparkan koran itu ke meja.
"Morning, Eve. Bagaimana kabarmu hari ini? Kudengar kau akan turun tangan lagi?” sapa Eric sambil merangkul bahu Evelyn dengan erat. Evelyn memutar mata dan menyeduh kopi paginya.
"Yep. Sementara itu, kalian teruslah mencari informasi tentang Blackwood, biar aku yang menyelesaikan sisanya,” jawab Evelyn sembari mengisi gelas karton dengan bubuk kopi hitam dan air panas. Eric tertawa mengejek dan mengomentari bagaimana hidup Evelyn yang selalu serius jika menyangkut masalah mafia.
Di sisi lain, Gabriel mendengar setiap percakapan yang terjadi di antara mereka. Bahkan robot pengintainya langsung mendeteksi wajah orang-orang yang ada di sana tanpa terkecuali. Gabriel mengontrol robotnya sekitar 3 meter di atas Evelyn sehingga wanita itu tidak akan curiga.
Sekitar jam sebelas Evelyn keluar dari ruangannya dan meninggalkan kantor polisi, sedangkan Gabriel masih mengikuti dan memantau Evelyn dengan robot lalat yang ia kendalikan dari jarak jauh.
Gabriel mengernyitkan kening ketika Evelyn tiba di suatu perusahaan yang sangat dikenal oleh Gabriel.
Perusahaan itu adalah salah satu perusahaan bersih yang dimiliki oleh Gabriel yang bergerak di bidang obat-obatan, tetapi bukan Gabriel yang menjalankan perusahaan itu, melainkan anak buahnya. Bahkan perusahaan itu didirikan atas nama anak buahnya tanpa menggunakan namanya sama sekali.
Gabriel masih memantau pergerakan Evelyn sampai wanita itu keluar dari mobilnya. Dengan santai, Evelyn berjalan layaknya seseorang yang bekerja lama di perusahaan itu.
Namun, di tengah perjalanan, Evelyn sengaja menabrak salah satu karyawan dan langsung meminta maaf kepada karyawan tersebut.
Evelyn tersenyum ketika berhasil mengambil kartu pengenal si karyawan. Kartu pengenal itu akan memudahkan Evelyn memasuki perusahaan sebagai seorang karyawan.
"Permisi, bisakah Anda membantu saya menunjukkan ruangan Mr. Kenzo? Saya pegawai baru di sini dan Mr. Kenzo menyuruh saya mengantarkan file ke ruangannya," tanya Evelyn berpura-pura menanyakan ruang kerja 'perusahaan' itu.
Seorang karyawan yang kebetulan lewat berhenti dan menjawab, "Ruangan Mr. Kenzo terletak di lantai sembilan, sebaiknya kamu bergegas karena sebentar lagi Mr.Kenzo akan menghadiri rapat di luar perusahaan."
Evelyn mengangguk dan sedikit membungkuk kepada senior itu untuk berterima kasih.
Sepeninggal karyawan itu, Evelyn langsung meninggalkan koridor dan menaiki lift menuju lantai sembilan. Sesampainya di depan ruangan pemilik perusahaan itu, Evelyn mengetuk pintu lebih dulu dan masuk tanpa menunggu jawaban sang atasan.
"Siapa kau?" tanya orang di dalam ruangan itu, yang biasa dipanggil Mr. Kenzo.
Evelyn tersenyum miring kemudian menghampiri Kenzo dengan tatapan genit. "Aku karyawan baru di perusahaan ini, tetapi sepertinya aku sedang tersesat. Apa kau mau membantuku?" ucapnya dan dengan kurang ajar, melompat di atas meja Mr. Kenzo dan mendudukinya.
Mr. Kenzo mengerutkan kening tak suka dan tanpa Evelyn sadari, pria itu bersiap dengan sebuah pistol di bawah meja. "Jangan banyak bicara, b***h. Katakan saja apa tujuanmu dengan datang ke perusahaanku."
"Kalau begitu, baiklah. Aku tak akan bermain drama lagi denganmu. Dasar b******n tak ramah."
Evelyn mendecakkan lidah kesal. Sungguh, pria ini sama sekali tidak humoris dan reaksinya sangat membosankan. Ia mencondongkan tubuh lalu mengeluarkan sebuah foto dari dalam tasnya, meletakkannya di atas meja. "Lalu bagaimana kau akan menjelaskan tentang foto ini, Mr. Kenzo?"
Mr. Kenzo mengamati foto itu lamat-lamat dan terkekeh geli. Itu adalah adalah foto tumpukan mayat yang diduga dilakukan oleh orang suruhannya.
Kenzo menyandarkan punggungnya ke kursi dengan seringai sinis. Matanya menyalang geli menatap Evelyn yang dengan berani menantangnya.
"Bukankah kau sudah tahu jawabannya, hm? Jadi, untuk apa aku menjelaskannya padamu? Benar, aku yang melakukannya. Apalagi yang ingin kau ketahui dariku, b***h?"
Evelyn memutar matanya jengah. Ia mengangkat dagu pria itu dengan ujung telunjuknya lalu mengeluarkan tanda pengenalnya. “Kita bisa sudahi basa-basi ini sekarang sehingga kau bisa menjelaskan semuanya di kantor polisi, Mr. Kenzo.”
Sesaat, mata Kenzo melebar kaget. Ia membaca tanda pengenal polisi milik Evelyn kemudian menepis tangan wanita itu dari dagunya dengan ekspresi jijik. "Cih! Polisi bodoh! Kau bahkan tidak punya bukti untuk menangkapku!”
"Well, well, beberapa saat yang lalu aku memang tidak memiliki bukti apa pun sebagai alat untuk menangkapmu, tetapi sekarang aku sudah memilikinya.”
Dengan begitu, Evelyn pun bangkit dari kursi kerja Kenzo. Ia mengambil beberapa langkah mundur sembari merogoh saku celana hitamnya. Lantas, ia mengeluarkan sebuah alat penyadap dan menunjukkannya kepada Kenzo. Senyum licik terukir di bibirnya.
"Bagaimana Mr. Kenzo? Apa kau akan ikut denganku atau kau ingin aku membuatkan surat penangkapanmu lebih dulu, hm?”
Kenzo menggertakkan giginya dan langsung melompat dari kursinya dengan sikap was-was. Dengan jantung berdebar keras, Kenzo menodongkan moncong pistolnya ke kepala Evelyn, hanya untuk dirampas dengan mudah oleh sang polisi wanita. Kenzo menegang saat senapan itu sudah beralih tangan. Sialan siapa wanita ini sebenarnya?
“Kau—kau! Apa yang sebenarnya kau inginkan dengan datang ke perusahaanku, hah!?”
Evelyn memutar pistol di tangannya dan kini berganti dialah yang mengarahkan pistol itu ke kepala Kenzo.
Kenzo meneguk ludah dan mundur selangkah demi selangkah. Kedua tangannya terangkat ke udara, tapi otaknya masih memikirkan cara untuk keluar dari situasi ini.
"Kau bermain-main dengan polisi yang salah, Mr.Kenzo. Kau terlalu bodoh untuk disebut sebagai seorang pemimpin perusahaan.”
“Wha—”
Ucapan Kenzo terputus karena tiba-tiba saja, Evelyn mengantongi pistol itu dan menerjang ke seberang ruangan dengan cepat. Kenzo tidak sempat bergerak sehingga Evelyn memanfaatkan situasi itu untuk memojokkan Kenzo ke dinding dan memborgol kedua tanganya.
Kenzo berseru marah. Ia meronta-ronta, tapi borgol sudah terpasang di pergelangan tangannya dalam hitungan detik.
“f**k! DASAR PECUNDANG i***t!”
Gabriel yang menyaksikan adegan itu langsung membanting tinju ke meja komputer. Dengan mudahnya Evelyn menangkap salah satu bawahan kepercayaannya, padahal sebelumnya tidak ada yang bisa mengalahkan Kenzo.
Tak ingin membuang-buang waktu lebih lama lagi, Gabriel pun meraih teleponnya dan menghubungi Tyler. Wajahnya menggelap dan ia menggeram rendah di bawah napasnya, memberitahu Tyler untuk menangkap dan membunuh Evelyn bagaimana pun caranya.