Sekitar jam sepuluh malam, Evelyn dan anggotanya baru keluar dari kantor polisi. Mereka bekerja lembur karena harus mengumpulkan informasi tentang Blackwood meski hasilnya tidak seperti yang mereka harapkan. Mereka hampir bisa dibilang tidak menemukan informasi apa pun malam ini.
"Hati-hatilah di jalan. Kemungkinan akan ada antek-antek mereka yang akan menyerang kita di perjalanan pulang," ucap Evelyn kepada rekan timnya sebelum meninggalkan mereka.
Evelyn memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju apartemennya. Dia sudah tidak tahan ingin berendam dan menyegarkan pikirannya di dalam bathup. Hari ini merupakan hari yang lumayan melelahkan baginya.
***
Sedangkan ditempat lain, tepatnya di mansion milik Gabriel. Sedang berkumpul Gabriel, Tyler, Eun-Ho, Hong Jun, Jay dan juga Sara.
Mereka sedang melacak keberadaan Evelyn melalui serbuk yang ditempelkan Gabriel pada seragam polisi wanita itu.
"Tidak ada tempat lain yang dia tuju, dia langsung kembali ke apartemennya," ucap Jay yang memantau radar pada layar monitor di depannya.
"Well, membosankan," komentar Hong Jun sambil kembali menyeruput wine dalam gelasnya.
Saat ini tujuan utama mereka adalah menyelidiki tempat yang akan didatangi oleh Evelyn dan dengan siapa saja dia berinteraksi. Namun, ternyata Evelyn langsung pulang ke rumahnya. Tidak ada hal khusus yang bisa mereka jadikan petunjuk untuk mengetahui siapa sebenarnya wanita itu.
Hong Jun menoleh kepada Sara dan menaikkan sebelah alisnya heran.”Omong-omong, apa kamu tadi sengaja menabrak orang supaya ditangkap polisi dan meminta Gabriel menjemputmu?" tanyanya sambil meletakkan gelas wine yang sudah kosong.
Sara menjawab dengan tampang acuh tak acuh. "Apa menurutmu aku terlihat sengaja melakukannya?"
"Tidak mungkin kamu mau-mau saja dibawa ke kantor polisi.” Jun memutar matanya malas. Ia tahu betul tabiat adik perempuan Gabriel sekeras apa pun wanita itu menyangkal “Biasanya setelah menabrak orang dengan sengaja, kamu akan langsung kabur."
"Anggap saja aku sedang mencoba hal baru.” Sara tertawa puas lalu menyilangkan kedua kaki jenjangnya yang mulus seperti seorang bos. “Aku akan mencobanya lagi lain waktu. Ternyata berkunjung ke kantor polisi tidak buruk juga.”
Saat Jun dan Sara sibuk berdebat tentang insiden tabrak lari tadi siang, Tyler mendekati Jay dan mengetukkan telunjuknya di permukaan meja. Ia memperhatikan pergerakan radar yang tampak berhenti di satu tempat, di suatu kompleks apartemen di salah satu wilayah Chicago.
Tayler mendesah pelan dan mengambil tempat di sisi Jayden. "Apakah kamu sudah memeriksa dengan siapa polisi itu tinggal?"
Jayden mengangguk sekali. "Ya, aku sudah memeriksanya. Dia tinggal sendiri di apartemen Petchburi. Dia tinggal di apartemen itu sekitar lima tahun, tetapi aku tidak mendapatkan informasi di mana dia tinggal sebelumnya."
Jay mengucek matanya yang lelah lalu melanjutkan. "Dia benar-benar misterius, data yang terdaftar tentang Evelyn Lopez hanya sampai lima tahun terakhir. Selebihnya, zonk. Aku juga mencoba membobol ponselnya, tetapi sama sekali tidak ada hasil. Aku tidak bisa masuk ke sistem jaringan ponselnya.”
Jun mengalihkan pandangannya ke arah dua rekannya lalu menjentikkan jari main-main. "Dan sulit dikalahkan saat bertarung,” timpalnya.
Gabriel yang sejak tadi terdiam hanya menghembuskan napas berat. Ia menenggak liquor di tangannya sampai habis lalu membuang botol kaca itu ke tempat sampah terdekat. “Cukup sampai di sini pertemuannya, kalian semua boleh pergi.”
Atas perintah itu, Tyler, Eun-Ho, Hong Jun, dan Jay pun langsung membubarkan diri dan melenggang keluar dari ruangan itu . Eun-Ho dan Hong Jun pergi menyelesaikan misi mereka yang lain, Tyler pergi entah ke mana, sedangkan Jay lebih memilih menyendiri di kamarnya.
Perlu diketahui, bahwa Tyler, Eun-Ho, Hong Jun ,dan Jay tinggal di mansion milik Gabriel, karena mereka adalah orang-orang kepercayaan Gabriel. Walaupun mereka tinggal dalam satu atap yang sama, bukan berarti mereka akan saling bertemu dan bertegur sapa. Mereka hanya berkumpul jika Gabriel memberikan perintah karena mansion milik Gabriel sangat luas dan besar.
***
"Kenapa kamu masih disini?" tanya Gabriel kepada Sara yang tampak merosot di sofa sembari memelintir rambut panjangnya dengan bosan.
Sara langsung beranjak dan melompat ke sisi Gabriel yang duduk di seberang meja.
"Karena aku ingin bermanja-manja denganmu, Brother," ucap Sara, memeluk tubuh Gabriel dengan erat. Gabriel tersenyum kecil, sedikit mengacak-acak rambut Sara kemudian membalas pelukan adiknya.
Walaupun Sara adalah adik angkatnya, tetapi Gabriel menyayangi Sara seperti adik kandungnya sendiri.
Cukup lama mereka berpelukan hingga Gabriel merasakan tidak ada lagi pergerakan dari Sara. Ia hanya bisa mendengar helaan nafas teratur wanita itu. Gabriel melonggarkan pelukannya kemudian menatap Sara yang ternyata sudah tertidur.
“Dasar tukang tidur. Hobimu hanya memberiku masalah dan sakit kepala, hm?”
Dengan perlahan, Gabriel pun menggendong tubuh mungil sang adik dari atas sofa dan membawanya ke kamarnya sendiri. Setelah memastikan wanita itu berbaring dengan nyaman di kasurnya, Gabriel keluar dari kamar Sara dan menutup pintu pintu di belakangnya. Sekarang giliran dirinyalah yang beristirahat.
Gabriel memasuki kamarnya, sebuah ruangan yang sangat luas dan didominasi warna- warna gelap. Di dalam kamar itu masih terdapat satu ruangan besar yang Gabriel gunakan untuk menyimpan pakaian dan koleksi berharganya.
Gabriel membuka pakaiannya dan menggantinya dengan bathrobe. Ia melenggang memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri dan melepas penat seharian ini.
Bathup adalah tujuan utamanya, dia ingin menjernihkan pikirannya sebentar dengan berendam air hangat.
Saat setengah tubuhnya tenggelam di rendaman air hangat yang menenangkan, Gabriel memejamkan matanya sesaat dan bersandar rileks di tepi bathup.
Uap air hangat terbang ke langit-langit kamar mandi dan mengaburkan pandang. Dan meski ia berusaha memfokuskan pikirannya untuk beristirahat, diam-diam Gabriel masih memikirkan siapa sosok Evelyn Lopez sebenarnya.
Si wanita misterius yang selalu bisa menangkap para mafia kejam dengan kedua tangannya. Gabriel tersenyum miring dan bergumam, “Aku tidak akan terkejut jika suatu hari wanita itu menangkapku, haaahh!"