Evelyn dengan cepat menghindari tongkat yang akan mengenai kepalanya sambil membalas pukulan dari pria lainnya.
Evelyn memasang gumpalan tinju untuk menghadapi sepuluh pria yang menyerangnya. Dari pengamatannya, orang-orang yang menyerangnya saat ini sudah terlatih bertarung, terbukti dari cara mereka menangkis serangan Evelyn dengan gesit. Namun, mereka salah menghadapi lawan karena Evelyn jauh lebih terlatih daripada mereka.
Alasan Evelyn tidak ingin menjatuhkan lawannya sekarang adalah hanya untuk mengulur waktu. Ia akan mengambil kesempatan yang pas untuk melumpuhkan mereka.
“b******n! Siapa yang telah mengirim kalian untuk membunuhku, hah?” Evelyn berusaha mengalihkan perhatian mereka dengan mengulik informasi. Ia menghindari pukulan dari sepuluh pria itu dengan lincah dan membalas serangan beberapa di antaranya.
“Kau tidak perlu tahu, Manis. Karena sebentar lagi kau juga tidak akan bisa melihat hari esok. Tidak ada gunanya bertanya, hahah!” Pria yang tampaknya memegang tongkat baseball mengayunkan benda tumpul itu secara membabi-buta ke udara. Evelyn melompat mundur, berhasil menghindarinya lagi.
“Kau sudah menangkap Sevblong,” ucap pria lain yang bersiap menyerang Evelyn dari arah berlawanan. “Dan kau harus menerima akibatnya karena mencari masalah dengan kami semua!” Kini pria itu melayangkan tinjunya tepat ke arah wajah Evelyn. Evelyn menahan napas kemudian menendang perut pria itu mundur untuk menjauh darinya.
“Cih! Simpan ocehanmu itu nanti, pecundang! Kau hampir merusak wajah berhargaku!”
Namun, orang-orang itu tidak mengindahkan keluhan Evelyn dan terus menyerang Evelyn dengan pukulan-pukulan brutal.
Evelyn berlari menjauh dan membawa mereka ke pinggir jalan. Di sana, ia mengambil kuda-kuda untuk melakukan serangan balasan. Dan harus diakui, ini adalah kali pertamanya mereka menemukan seseorang yang bisa mengimbangi kekuatan mereka, biasanya mereka tidak butuh waktu lama untuk membunuh seseorang.
“Siapa kau sebenarnya?” tanya pria lain, yang sepertinya adalah ketua dari sekawanan pria-pria berbaju hitam tersebut.
“Polisi,” jawab Evelyn dingin. “Dan itu sebabnya kalian sudah berurusan dengan orang yang salah! Perlukah aku memperkenalkan keindahan ruangan tahanan kepada kalian semua? Agar kalian bisa bergabung bersama rekan-rekan kalian di penjara!”
“Shut up! Semuanya, segera habisi jalang sialan ini dan cabik-cabik tubuhnya hingga tak berbentuk!”
Atas perintah itu, kesembilan orang tadi mulai bergerak lebih cepat menerjang udara malam. Evelyn tahu ia seharusnya tidak memancing amarah mereka, tapi dengan begitu ia bisa membuat musuh lebih cepat lelah dan ia dapat menghantam titik kelemahan mereka.
Evelyn menepis setiap serangan yang datang padanya. Ia mendengar mereka berbicara tentang Sevblong sebelumnya. Evelyn pun memelintir lengan salah satu pria dan membanting ke aspal yang keras.
“Apa kalian semua anak buah Sevblong? Aku sangat yakin sudah menangkap semua anggota Sevblong, tapi ternyata dia memiliki lebih banyak anak buah dari yang kuduga, huh?”
Si pria dengan pemukul baseball menggertakkan gigi dan meraih kerah seragam polisi Evelyn, menariknya mendekat untuk dipukul. “None of your business!”
“Wah, wah, garang sekali. Kalian membuatku takut, Gentleman! Setidaknya jawablah pertanyaan dari wanita tidak berdaya ini!”
“Sudah kubilang tutup mulutmu, Jalang!” teriak pria itu.
Namun, detik berikutnya Evelyn memukul dagu pria itu dan menjauhkan diri dalam beberapa langkah mundur. “Sayang sekali padahal aku sangat ingin berkenalan dengannya.”
“DIAM. DIAM. WANITA TERKUTUK! BERHENTI MAIN-MAIN!” teriak pemimpin kelompok itu murka. Ia mulai merogoh saku celananya dan mengarahkan sebuah pistol dipegangannya kepada Evelyn.
Evelyn menghentikan aktivitasnya dan mengangkat kedua tangannya ke udara. Kemudian, ia berbalik menghadap pria yang menodongkan pistol itu.
Pistol yang dipegang pria itu hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya.
“Siapa kau sebenarnya? Dari gerakan menghindarmu, sepertinya kau bukanlah polisi biasa,” tanya pemimpin itu dengan mata menyalang tajam.
“Aku adalah polisi luar biasa yang sangat terlatih. Cita-citaku ingin menjadi kepala polisi, tapi sepertinya cita-cita itu hanya kenangan saja, karena well—sebentar lagi aku akan mati di tangan kalian, bukan? Hidupku sangat menyedihkan,” jawab Evelyn dengan wajah sedih, seakan-akan dunianya akan sirna.
“Tetapi ada sesuatu yang perlu kalian tahu,” lanjut Evelyn, dia menatap pria tersebut dengan puppy eyes-nya.
“What?” Pria itu menyipitkan matanya, bersiap-siap melubangi tengkorak Evelyn.
“Kalau ingin membunuh orang, jangan mengulur-ulur waktumu,” ucap Evelyn, kemudian langsung merebut pistol pria itu dan menembakkan ke kepala sang pimpinan kelompok.
Semua orang yang melihatnya berjingkat kaget. Saat sadar bosnya telah dibunuh dengan tipuan wanita ini, salah satu pria berteriak murka. “A-apa yang kau lakukan, Sialan!?”
Evelyn tidak menjawab. Ia langsung mengarahkan pistol di tangannya kepada orang-orang yang akan menyerangnya dan menembaki mereka satu persatu. Namun, mereka menghindar dengan cepat dan Evelyn mulai kehabisan peluru. Suara tembakan peluru menggema di langit malam. Evelyn menantang para pria yang tersisa dengan seringai kejam.
“Ayo, maju! Siapa lagi selanjutnya yang bersiap untuk mati!” tantang Evelyn sambil mengarahkan moncong pistol ke udara.
Namun, pria-pria itu sudah tidak bisa lagi menyerang. Wanita ini adalah monster dan mereka tahu jika berada di sini lebih lama lagi, maka mereka sama saja dengan mencari mati. Jadi, mereka pun mengambil langkah seribu, berlarian meninggalkan Evelyn.
Evelyn mendengus kesal, menendang mayat yang kepalanya sudah bolong, kemudian meninggalkan mayat tersebut begitu saja.
Evelyn kembali memasuki mobil dan melihat ke arah teman-temannya, untung saja teman-temannya masih tertidur.
Orang yang pertama diantar oleh Evelyn adalah Rosaria kemudian barulah teman-temannya yang lain. Karena rumah Rosaria yang paling dekat dengan tempat tinggalnya.
“Aku melihatnya,” ucap Eric di jok belakang. Evelyn melirik melalui spion tengah dan mengangkat sebelah alis. Tidak menyangka jika Eric ternyata sudah sadar. Eric adalah orang yang terakhir diantar Evelyn.
“Itu adalah salah satu cara bertahan hidup,” sahut Evelyn masa bodoh. “Jadi, jangan pernah mengomentari tindakanku.”
Eric hanya mendesah pelan, seperti biasa. Evelyn selalu keras kepala jika berbicara soal tindakannya.
“Karena sekarang kau sudah sadar, aku tidak perlu mengantar ke kamarmu, bukan?” tutur Evelyn sembari bersandar santai di kursi kemudi. Saat ini mereka sedang di depan apartemen Eric.
“Tidak perlu, aku bisa sendiri,” jawab Eric. Turun dari mobil Evelyn dengan wajah kusut. Pria itu sedikit terbatuk dan memegangi kepalanya yang pening. Ia mengetuk jendela Evelyn agar membukanya. Begitu terbuka, Eric melampirkan senyum tipis kepada rekan polisi wanitanya itu.
“Omong-omong, terima kasih sudah mengantar kami semua pulang. Tapi, kuharap kejadian yang sama tidak terjadi lagi. Selamat malam,” ucap Eric sebelum meninggalkan mobil Evelyn dengan langkah tertatih memasuki gedung apartemennya.
Evelyn hanya mengedikkan bahu acuh, menunggu sampai Eric menghilang dari pandangannya sebelum menjalankan mobilnya menuju tempat tinggalnya sendiri. Malam ini sungguh malam yang panjang.
***
“APA?! Dasar tidak becus! Membunuh seorang polisi saja kalian tidak sanggup!” teriak Kim Eun-Ho kepada anggotanya yang melaporkan kegagalan mereka dalam menjalankan misi.
Pria yang gemetaran di depan Eun-Ho menjawab gugup, “Dia bukanlah polisi biasa, Bos. Dari gerakannya, kami yakin sekali jika dia sudah sangat terlatih.“
“Apa kalian lupa jika aku paling benci dengan kegagalan?” ucap Eun-Ho menggertakkan giginya. Kemudian ia mengangkat pistol di tangannya dan langsung menembakkan peluru ke kepala sembilan anak buahnya secara bergantian. Suara tembakan bersahutan di ruangan itu.
“Kalian lihat para pecundang-pecundang teri ini. Jika kalian gagal menjalankan misi, akibatnya kalian akan bernasib sama seperti mereka,” kata Eun-Ho kepada anak buahnya yang lain sebelum meninggalkan ruangannya.
Dia sangat kesal sekarang, bagaimana bisa anak buahnya yang sudah terlatih dan tidak pernah gagal dalam menjalankan misi bisa dikalahkan oleh seorang polisi? Dan lagi, seorang wanita!? Eun-Ho melirik Jun, salah seorang rekannya yang tiba-tiba muncul di sampingnya.
“Bagaimana jika aku saja yang turun tangan menangkap polisi itu?” tanya Hong Jun sambil mensejajarkan langkah dengan Eun-Ho.
Eun-Ho mendesah kasar dan mengangguk. “Berhati-hatilah, sepertinya dia bukan polisi biasa.”
“Hm.” Jun mengusap-usap dagunya dan menyenggol bahu Eun-Ho main-main. Wajah Eun-Ho tampak sangat tegang. “Tapi, harus kuakui. Baru kali ini seseorang mengalahkan Green Fly. Aku bertanya-tanya polisi macam apa dia ini.
Green Fly, salah satu kelompok anak buah Kim Eun-Ho yang biasa menerima misi membunuh. Biasanya mereka tidak pernah gagal menjalankan misi bahkan saat membunuh bos mafia yang bertentangan dengan Blackwood. Namun, sepertinya kali ini mereka lengah dan membuat Green Fly musnah untuk selama-lamanya.