Krieetttt
Pintu gubuk hukuman dibuka. Cahaya pagi langsung menerobos masuk tanpa penghalang apa pun dari pintu yang terbuka lebar. Seorang penjaga yang bertubuh besar masuk. Ia mengamati Teratai yang masih tertidur pulas.
“Nona, bangun. Hari ini Nona dibebaskan.” Penjaga tersebut mencoba membangunkan Teratai. Gadis yang dipanggil tak bergeming. Ia masih asyik tidur dengan posisi menghadap ke pintu. Rambut hitam pangjangnya terurai di lantai kayu.
“Bangunlah, Nona!” panggil penjaga tersebut. Ia berjongkok di depan Teratai. Dengan sedikit ragu, ia menyentuh pundak Teratai. “Non, bangunlah. Raja memintaku untuk membebaskan Nona.” Penjaga tersebut memberanikan diri untuk menggoyangkan pundak Teratai.
Teratai membuka mata dan mengernyitkan dahinya. Silaunya sinar matahari yang masuk membuat ia menyipitkan kedua matanya.
“Bangunlah, Nona! Hari ini hukuman Nona selesai. Nona boleh keluar dari tempat ini.” Penjaga kembali berbicara kepada Teratai.
Teratai bangkit dan duduk menghadap si penjaga yang masih berjongkok. “Apakah ini sudah hari ketiga?” tanya Teratai memastikan.
“Betul, Nona. Ayo, bangunlah!” Penjaga tersebut berdiri. Teratai juga mengikuti aksinya. Gadis itu berdiri sambil merapikan jubah dan rambutnya.
“Nona, bagaimana Nona bisa sekuat ini?” tanya si penjaga terheran-heran melihat Teratai yang masih bisa berdiri tegak.
“Satu minggu atau bahkan satu bulan penuh dihukum, aku pasti akan kuat.” Teratai berjalan dan keluar melalui pintu. Penjaga mengikuti langkahnya dari belakang. Ia kemudian menutup dan mengunci pintu gubuk hukuman tersebut.
Teratai menarik napas dalam-dalam, menikmati udara pagi yang tak bisa ia nikmati dengan bebas tiga hari belakangan ini. Dengan langkah tegap dan pasti, Teratai dikawal untuk masuk ke kamarnya. Galuh dan Lidya sudah menunggu di sana. Mereka menyambut kedatangan Teratai dengan sangat bahagia.
“Nona, bersiap-siaplah. Raja akan segera menemui Nona.” Penjaga berpesan kepada Teratai sebelum akhirnya dia pamit dan meninggalkan kamar Teratai.
Teratai tersenyum simpul mengantar kepergian si penjaga. Jelas dalam ingatan Teratai bagaimana takutnya para penjaga saat ia mengerjai mereka.
Teratai pun kembali masuk ke kamarnya. Ia menatap dirinya dalam cermin. Dalam tiga hari, Teratai tidak mandi apalagi berganti pakaian. Jubah yang dikenakannya sudah lusuh dan bau.
“Galuh, Lidya, tubuhku sudah sangat kotor. Tolong siapkan air mandi yang wangi. Oh, ya, aku juga ingin memakai jubah terbaikku hari ini. Aku harus menunjukkan kepada mereka bahwa aku baik-baik saja. Aku ingin terlihat lebih cantik dari biasanya. Ayo, cepat, siapkan air mandiku.” Teratai memberi perintahnya kepada kedua dayangnya. Galuh dan Lidya menuruti perintah Teratai.
Ketika kedua dayangnya meninggalkan kamar, Teratai membuka peti besar yang berisi jubah-jubah nan indah. Ia memilih jubah mana yang akan dikenakannya. Ia ingin tampil cantik dengan tujuan membuat setiap orang yang membencinya merasa kesal.
Teratai menjatuhkan pilihannya pada sebuah jubah sutra berwarna ungu. Ada sulaman bunga teratai di punggungnya. Gadis itu mengagumi keindahan jubah tersebut. Ia juga mengambil sebuah kotak berukuran sedang berwarna perak dan membukanya. Isi kotak tersebut adalah satu set perhiasan yang terbuat dari emas.
“Sangat indah perhiasan ini. Hmm … jadi walaupun pemilik raga ini dibenci ia tetap diberikan pakaian dan perhiasan yang terbaik,” gumam Teratai. Ia memilih aksesoris yang akan dipakainya dan meletakkannya di atas meja rias.
Galuh masuk ke kamar Teratai. Ia melihat nonanya yang sedang memilah-milah perhiasan. “Non, air mandinya sudah siap. Mmm … Nona mau pakai perhiasan itu?” tanya Galuh.
“Ya, tentu saja. Untuk apa perhiasan ini ada kalau bukan untuk dipakai?” Teratai balik bertanya.
“Baiklah, Non. Sekarang Nona mandi dulu.” Galuh mengambil jubah yang akan dikenakan Teratai.
“Ya, baiklah.”
Galuh menutup pintu dan mengekori Teratai yang sudah berjalan keluar kamar. Di pemandian, Teratai merendam tubuhnya di air yang sudah ditaburi berbagai jenis bunga. Teratai memejamkan mata sambil tersenyum. Menjadi seorang putri tidaklah buruk. Segala hal disiapkan. Jauh berbeda dengan kehidupannya yang dulu, di mana Teratai harus mengerjakan apa pun sendirian.
Selesai mandi, Teratai mengenakan jubah ungu yang indah. Setelah itu, ia bersama kedua dayangnya kembali ke kamar. Galuh dan Lidya membantu mendandani Teratai.
Teratai menatap puas pada pantulan wajahnya di cermin. Jepitan rambut terbuat dari emas membuat penampilannya bertambah cantik. “Haha … pasti Putri Malika akan kesal melihat penampilanku hari ini.” Teratai mengibaskan ujung jubahnya dan berputar di depan cermin.
“Ya, Nona. Putri Malika dan Ratu Divya pasti akan kesal melihat kecantikan Nona,” timpal Galuh yang diiyakan oleh Lidya.
“Sekarang aku harus bertemu dengan ayah. Aku tak sabar mau melihat kekecawaan di matanya.” Teratai menyeringai. Ia lalu meninggalkan kamar besarnya yang mewah. Galuh dan Lidya kembali melakukan pekerjaan mereka.
* * *
Teratai berjalan melewati lorong yang ada di depan kamarnya. Ia harus melalui alun-alun untuk mencapai kamar sang raja. Beberapa penghuni istana yang sedang lalu lalang melihat kecantikan Teratai dengan takjub.
Teratai menghampiri beberapa anak yang sedang bermain di alun-alun. Ia mengamati mereka dengan penuh senyuman di wajahnya.
“Nona, Nona cantik sekali,” puji seorang anak perempuan. Teratai tertawa dan mengacak rambut anak tersebut.
“Kamu juga cantik. Tapi emm … kamu terlalu kurus. Kamu harus banyak makan ya. Jangan malas makan sayuran.” Jiwa kedokteran Teratai pun muncul.
Teratai melanjutkan perjalanannya menuju kamar sang ayah. Ia melapor kepada penjaga yang berdiri di depan pintu bahwa ia ingin bertemu ayahnya. Setelah mendapatkan izin, Teratai pun masuk.
Raja Ragendra dan Ratu Divya sedang duduk bersisian di tepi ranjang. Mereka melihat Teratai dengan tatapan tak percaya.
“Bagaimana mungkin anak ini bisa selamat?” batin Ratu Divya.
“Senang bertemu kembali dengan Ayah dan Ibu,” ucap Teratai dengan senyuman terbit di wajahnya. Senyumannya membuat Ratu Divya semakin kesal. Apalagi, Teratai terlihat lebih cantik dari sebelumnya.
“Mengapa Ayah dan Ibu diam saja? Apakah penampilanku kurang baik?” tanya Teratai sambil merapikan jubah ungunya yang indah.
Raja Ragendra megeratkan rahangnya. Wajah Teratai yang sangat mirip dengan Sasmita selalu bisa memancing kebencian di dalam hatinya.
“Bagaimana mungkin kau bisa selamat tanpa terlihat lemas sedikit pun?” Raja Ragendra mengamati Teratai yang berdiri tepat di hadapannya. Bahkan, aroma wangi bunga masih menyeruak dari tubuh Teratai.
“Ayah, mengapa Ayah tak terlihat senang mengetahui bahwa aku baik-baik saja?” ucap Teratai dengan nada sedikit manja. Ia dengan sengaja memancing kekesalan dari ayah dan ibu tirinya.
“Atau jangan-jangan ada yang membantumu keluar dari gubuk itu?” hardik sang raja.
“Ayah … Ayah sendiri yang menugaskan para algojo untuk berjaga di sana. Kalaupun ada yang ingin menolongku, bagaimana mungkin mereka bisa melewati para algojo tersebut?” Teratai bertanya sambil memainkan ujung rambutnya yang masih lembab.
Raja Ragendra terdiam sambil menundukkan kepalanya. “Benar juga apa yang dikatakan Teratai. Bagaimana mungkin ada orang yang bisa menerobos pengawalan para penjaga terbaikku?” pikir sang raja sambil mengernyitkan dahinya.
“Bukankah Dewa akan selalu menolong orang yang baik dan tulus? Hehe ….” Suara kekehan Teratai walaupun pelan sanggup membuat Ratu Divya mendidih.
Tak berapa lama kemudian, Putri Malika masuk ke kamar ayahnya. Ia memang sangat penasaran dengan keadaan Teratai.
“Kamu??” Putri Malika terheran-heran melihat Teratai yang sudah tampak segar dan cantik.
“Senang bertemu denganmu lagi, Adikku Sayang,” sapa Teratai sambil tersenyum lebar. Ia senang melihat wajah Putri Malika yang begitu kesal.
“Bagaimana mungkin kamu baik-baik saja?” selidik Putri Malika tanpa menghilangkan raut kesal di wajahnya.
“Adikku, berterima kasihlah kepada Dewa yang sudah memberiku keselamatan dan kekuatan. Kalau bukan karena pertolongan dari Dewa, pasti aku sudah mati dan kita tidak bisa berjumpa lagi. Ohhh … tiga hari tak bertemu denganmu membuatku sangat rindu.” Teratai memegang tangan Putri Malika.
Putri Malika mengeratkan rahangnya. Ia melepaskan tangan Teratai yang sedang menggenggamnya.
“Jangan mimpi kamu. Aku tidak pernah merindukanmu,” sahut Putri Malika dengan kedua tangan terlipat di dadanya.
“Sudah … sudah, kalian jangan bersitegang di sini.” Raja menengahi pembicaraan Teratai dan Putri Malika. “Mungkin benar apa yang dikatakan Teratai bahwa ia dilindungi para Dewa.” Raja Ragendra bangkit dari duduknya dan mengarahkan pandangannya tepat di mata Teratai. “Teratai, ingatlah! Jangan pernah lagi membuat masalah di istana ini. Kalau kau masih berani berulah dengan melawan pada Ratu Divya dan Putri Malika, aku akan memberimu hukuman yang lebih berat. Bahkan para Dewa pun tak akan sanggup menolongmu!” ancam Raja Ragendra dengan suara yang pelan tetapi berat.
Teratai membalas tatapan tajam ayahnya. Ia dapat melihat kebencian di kedua netra hitam pekat itu. Cara raja menatapnya sama dengan cara ayah Teratai menatapnya di kehidupan yang lalu.
“Baiklah, Ayah. Aku menunggu apa yang akan Ayah lakukan kepadaku. Oh, ya, bukankah harimau saja tak memakan anaknya sendiri? Hmmm … atau jangan-jangan harimau memiliki cara berpikir yang lebih baik dari seorang Ayah sepertimu?” sindir Teratai tanpa rasa takut.
“K-k-kau??” Raja Ragendra mengacungkan jari telunjuknya tepat di wajah Teratai.
“Ayah … bukankah di dalam tubuhku ini mengalir separuh darahmu? Jadi bagaimana seorang Ayah, seperti itu jugalah putrinya. Ibarat buah jatuh tak jauh dari pohonnya.” Teratai tak gentar.
Raja Ragendra mengepalkan tangannya yang sudah gemetar. “Tinggalkan tempat ini atau aku akan menghabisimu!” perintahnya dengan suara yang menggelegar.
“Baiklah, sepertinya Ayah sudah selesai melepas rindu denganku. Aku pamit, Ayah, Ibu, dan Adikku.” Teratai membungkukkan tubuhnya dan berjalan dengan kepala tegak meninggalkan kamar sang raja.
“Dasar anak kurang ajar, tak tahu diuntung.” Ratu Divya bergumam dengan setengah suara. “Suamiku, anak itu harus mendapat hukuman yang lebih berat. Makin lama, tingkahnya makin buruk. Ia makin tak sopan dan selalu melawan.”
“Ya, kau benar, Ratuku. Lihat saja, sekali lagi membuat masalah ia tak akan luput dari hukuman.” Raja Ragendra kembali duduk di tepi ranjang. Ia menarik napas dalam-dalam dan mengatur ritme jantungnya yang mulai berdetak lebih keras karena menahan amarah.
“Ya, Ayah. Kita harus cari cara untuk melenyapkan Teratai. Lama kelamaan aku bisa gila melihat tingkahnya,” ucap Putri Malika dengan nada kesal.
Ketiga orang itu terdiam di dalam kamar sambil memikirkan strategi yang tepat untuk melenyapkan Teratai untuk selamanya.