‘Dasar bodoh kau, Zetta!’
Hubungannya dengan Jason memasuki fase canggung. Bukan hanya karena sikap Jason malam itu, tapi karena Zetta telah meyakini kalau Jason bukanlah gay.
Beberapa tahun ini Zetta hidup dengan bayangan Austin dan Jason yang selalu berada di dalam kamar berdua walaupun dia sama sekali tidak tahu apa yang sedang mereka berdua lakukan. Jika selama ini dia berbohong, Zetta sangat tidak bisa menerima hal itu.
Zetta duduk di balik meja kerjanya menunggu Alva Alexander yang sedang rapat. Keadaan laki-laki itu cukup kacau beberapa hari ini. Paparazi sepertinya mengikuti Alva diam-diam sejak skandal dengan sekretarisnya terungkap, ditambah skandal terbaru di mana Alva terlihat masuk ke kamar bersama Eliana.
Zetta memijit pelipisnya dengan kedua tangan di kepala sembari memejamkan mata. Setelah foto skandal itu terungkap, Eliana malah menghilang entah ke mana hingga saat ini, membuatnya gila.
‘Bisa-bisanya dia—’
"Kau sakit?"
Zetta membuka mata dan bertemu tatap dengan mata hitam milik lelaki tampan yang nampak sangat berbeda. Mungkin karena wajahnya yang sangat Asia.
"Kau tidak apa-apa, kan?" tanyanya kemudian.
Zetta tersadar dan tersenyum, "Tidak. Maaf saya tidak menyadari kedatangan anda."
"Tidak masalah," kata lelaki itu seraya melipat kedua tangannya di d**a dan terlihat mengamati keseluruhan ruangan kantor lalu kembali menatapnya, "Aku yakin menjadi sekretaris Alva sangat melelahkan. Aku benarkan?"
"Sepertinya anda sangat mengenal bagaimana perangai Alva. Seperti itulah dia. Tapi sebelumnya saya tidak pernah melihat anda, apa anda teman bisnis Alva?"
"Apa dia menggodamu seperti sekretarisnya yang sebelumnya?" tanyanya dengan nada jahil.
Zetta tersenyum, "Tidak. Alva berusaha keras menganggap saya sekretarisnya, bukan teman kencannya."
Alis lelaki itu terangkat, "Benarkah?" Lalu dia mundur seakan mengamati Zetta tapi dengan pandangan yang masih sopan bukan meremehkan, "Kau cantik dan tidak mungkin Alva tidak menggodamu."
"Oh, dia memang menyebalkan kalau sudah berkelakuan b******k, tapi saya punya jurus jitu melawannya."
Lelaki itu nampak tertarik, "Bagaimana caranya?"
"Saya menghajarnya habis-habisan."
Zetta tersenyum lebar. Lelaki itu tertegun sejenak lalu kemudian tertawa, "Aku setuju kalau dia memang pantas dihajar. Jadi—," Lelaki itu mendekat dan tersenyum ramah kemudian mengulurkan tangannya, "Boleh kita berkenalan?"
Zetta membalas jabatan tangannya, "Tentu. Saya Nadine Arzetta. Panggil saja Zetta."
Lelaki itu mengangguk dan menggenggam erat tangannya, "Nama yang cantik. Sebelumnya maafkan aku kalau lancing, tapi Alva adalah sahabatku. Aku sangat tahu bagaimana dia dan semua kebrengsekannya, tapi firasatku mengatakan kalau kau wanita yang bisa mengimbanginya."
Zetta mengerjapkan matanya dengan tatapan bingung. “Hah?!”
Lelaki dihadapannya hanya tersenyum sampai seruan nyaring itu membuat mereka berjengit kaget dan menoleh bersamaan.
"WOI b******k! LEPASIN TANGANMU DARI ARZETTA!"
Zetta mengerutkan dahi tidak mengerti dengan bahasa yang Alva gunakan. Sepertinya itu bahasa Indonesia karena laki-laki dibesarkan di sana tanah kelahiran Mamanya. Lelaki di hadapannya tertawa membahana dan tanpa aba-aba bergerak memutari meja dan merangkul bahunya membuat Zetta sempat kaget.
Alva langsung bergerak semakin mendekat dengan amarah. "GEVAN ANGKASA!"
***
"Apa yang kau lamunkan? Kekasihmu itu?"
Sore hari setelah kedatangan sahabat Alva, mereka bertolak ke Vancouver untuk mengurus sesuatu. Zetta hanya diam saja memandangi keluar jendela sejak mereka lepas landas dari bandara menuju ke Vancouver menggunakan pesawat jet pribadi. Lebih memilih menghayati lamunannya dan mengacuhkan Alva yang duduk di depannya, bersidekap.
Zetta tersenyum tipis dan melihatnya sekilas, "Tidak. Aku sedang memandangi awan-awan di luar sana."
Alva mau tidak mau ikut melihat keluar melalui jendela pesawat di sampingnya. "Apanya yang menarik?"
"Tidak ada."
"Lalu kenapa kau lebih betah melihat kumpulan awan itu dari pada aku yang ada di depanmu ini?" dengus Alva.
"Kenapa kau kesal?"
"Karena aku tidak suka diabaikan."
Zetta akhirnya duduk menghadap ke Alva. "Diabaikan satu orang di saat semua orang yang ada di sekelilingmu memujamu, terutama kaum wanita, seharusnya tidak akan membuatmu kesal, Alva."
"Sekarang yang ada di hadapanku ini kau bukan wanita-wanita itu dan aku tidak mau diacuhkan. Aku bosmu!"
Alva tidak mau kalah. Zetta menghela napasnya, "Oke oke. Kau jadi seperti anak kecil saja. Jadi, apa yang kau inginkan, Pak Alexander?"
Alva mengelus dagunya seraya memandangi Zetta yang juga sedang memandanginya. "Aku mau untuk saat ini abaikan aku sebagai bosmu dan seorang Alva yang b******k. Aku mau kau menganggapku teman."
Alis Zetta terangkat, "Teman?"
"Ya, teman. Aku ingin kamu bercerita dan aku akan mendengarkan."
"Untuk apa?"
"Hiburan-ku."
Zetta mendengus, "Sangat-sangat, Alva. Apa kau menganggap hidupku seperti cerita telenovela?"
Alva terkekeh, "Oh, ayolah. Aku sudah lama tidak pernah melakukan ini."
"Mengobrol tanpa adegan s*x maksudmu?"
Alva tersenyum, "Kau tahu dengan jelas maksudku."
Zetta memutar bola matanya, "Aku tidak mau."
Alva berdecak, "Kau boleh meminta satu hal padaku kalau kau mau bercerita."
"Tawaran yang menggiurkan, tapi aku tidak mau." Zetta mengalihkan pandangan dari tatapan merajuk Alva ke luar.
"Kau memang menyebalkan!!”
Zetta menggelengkan kepalanya, "Oke, baiklah. Walaupun bagiku agak susah menempatkan kau yang b******k dalam konteks teman—," Zetta mengangkat kedua tangannya akibat dari pelototan Alva, "Astaga, aku tidak percaya sedang berhadapan dengan bos gila wanita yang sedang merajuk."
"Bisa tidak kau sekali saja tidak usah mengungkit kebrengsekkanku?"
Zetta nyengir, "Tidak bisa, Pak. Rasanya ada yang kurang gitu."
Alva menatapnya tajam, Zetta tertawa. Bahagia rasanya bisa membuat Alva kesal. Lalu setelah itu mereka hanya diam saling menatap. Zetta perlahan masuk ke dalam mata abu-abu milik Alva dan merasakan ada kesan yang tidak biasa. Sama sekali tidak ada cahaya di sana, seakan mata itu memancarkan kekosongan. Zetta menghela napas dan dihinggapi rasa penasaran.
"Oke baiklah. Kita buka sesi tanya jawab tapi aku tidak mau mendongeng duluan."
Alva tersenyum lebar lalu menumpukan kedua lengannya di atas meja yang sejak tadi menjadi pembatas antara dirinya dengan Zetta. Di atas meja itu terisi botol wine dan buah-buahan. Alva memajukan tubuhnya, "Bagaimana kalau kita suit aja?”
Zetta ternganga dan memijit pelipisnya lalu menghela napas panjang.
"Kenapa?" tanya Alva.
Zetta berdecak, "Sangat tidak berkelas."
Alva tertawa, "Tapi mengasyikkan atau kita main truth and dare saja?"
Zetta refleks menggeleng, "Terlalu beresiko. Aku tidak mau."
"Padahal aku sudah berharap. Cih, penakut!"
Zetta mendelik, "Aku tidak takut, tapi kalau lawannya seperti kau, yang ada aku malah terjebak!"
Alva terkekeh, Zetta memajukan duduknya dan mengepalkan tangannya di depan Alva yang langsung menyeringai juga ikut mengepalkan tangannya dan menatap Zetta jenaka, "Dalam hitungan ketiga—," Zetta mulai berhitung lalu menunjukkan jari telunjuknya bersamaan dengan Alva yang mengeluarkan ibu jarinya kemudian menggerang karena kalah. "Sial!! Apa pertanyaanmu? Cepat!"
Alva menyeringai, "Karena kau kalah, jadi aku akan tanya hal pribadi dan kau harus menjawabnya dengan jujur."
Zetta mengangguk. Alva menatap Zetta dengan wajah serius, "Aku mau dengar cerita tentang awal mula traumamu."
Zetta langsung terdiam kaku dan memandangi Alva tidak percaya. Direbahkannya punggungnya di sandaran kursi dan kembali menatap awan yang berarak di luar.
"Kau curang Alva Alexander!"
***