"Jason, aku sedang berada di Vancouver. Ada beberapa kunjungan bisnis dan urusan pribadi Alva." Zetta mengigit ujung kukunya mendengarkan setiap kalimat yang dilontarkan Jason di ujung sana.
"Kau pergi begitu saja tanpa memberitahuku?!" Nada suara Jason meninggi.
Zetta memijit pelipisnya, "Maaf. Aku pikir tidak ada masalah jika memberitahumu belakangan dan juga—"
"Jadi, sekarang aku bukan lagi orang pertama yang penting bagimu, Arzetta?!"
"Bukan. Bukan seperti itu maksudku, Jason."
Zetta mulai panik. Ini salahnya karena tidak memberitahukan kepergiannya lebih awal ke Jason. Laki-laki itu pasti mencemaskannya.
"Lalu, kenapa kau tidak meminta izin lebih dulu padaku? Apa kau lupa, selain Jeremy segala hal terkait urusanmu di New York menjadi tanggung jawabku. Setidaknya hargai aku dengan memberitahuku bukannya asal pergi. Apa kau menghindar?"
Zetta menatap laut di kejauhan yang berwarna biru sempurna seraya merapikan riak anak rambutnya yang tertiup angin, "Ada yang harus kita bicarakan secara serius, right?"
Jason terdiam sesaat, "Iya aku tahu. Tadinya aku meneleponmu ingin memberitahukan kalau aku menunggu di apartemen untuk makan malam bersama karena kita harus meluruskan sesuatu, tapi aku tidak menyangka kalau kau sekarang sudah berada jauh di Vancouver dengan bos playboy mu itu. Aku khawatir, Zetta."
"Kau tenang saja. Aku bisa menjaga diri. Kita akan berbicara setelah aku pulang ke New York tiga hari lagi. Oke?"
"Ergh, baiklah. Jaga dirimu baik-baik dan jangan terlalu dekat dengan si Alva b******k itu."
"Tentu. Sampai ketemu lagi."
Lalu sambungan terputus. Zetta menghela napas panjang dan menggenggam erat ponselnya di tangan. Jadwal kerja Alva baru akan di mulai besok. Sore ini setelah dua jam yang lalu mereka mendarat di Vancouver, Alva mengajaknya untuk bertemu dengan seseorang. Semula Zetta pikir lelaki itu mau menemui salah satu wanita teman tidurnya tapi nyatanya dugaannya sama sekali salah.
"Zetta, ayo masuk. Mereka sudah menunggumu."
Zetta menoleh dan menemukan Alva dalam balutan pakaian santainya nampak tampan seperti biasanya menunjuk ke dalam rumah sederhana dua lantai yang menjadi tempat tinggal dua pasutri yang sudah memasuki usia senja. Alva bilang kalau mereka adalah sahabat dari kakeknya Alva, Papanya Pak Gabriell.
Zetta mendekat, "Aku merasa tidak enak berada di antara kalian yang sepertinya ingin bernostalgia."
Alva tertawa, "Kau pasti akan suka mendengar Oma bercerita. Tentu saja beliau akan menceritakan tentang beberapa kenangan masa kecil ku bersama mereka dulu sebelum mereka pindah dan menetap di Vancouver."
"Wow, aku tidak sabar mendengarnya dan berharap bisa memiliki beberapa bahan ejekan untukmu Pak Alva yang sempurna."
Alva tertawa lalu membuka pintu bercat putih itu dan masuk ke dalam rumah yang hangat langsung ke ruang keluarga yang kental akan nuansa vintage . Di salah satu dari dua sofa panjang yang tersedia sudah duduk Oma Alena dan Opa Rexan yang terlihat sedang bercanda mesra. Di meja sudah tersaji minuman teh hijau hangat dan beberapa kue yang Oma Alena buat sendiri. Alva dan Zetta tidak sadar duduk bersebelahan di sofa yang lain. Oma dan Opa menatap mereka bergantian dengan senyuman hangat.
Satu hal yang bisa Zetta rasakan tentang mereka berdua hanyalah aura dan kebahagiaan yang begitu kental melingkupi di dalam rumah sederhana yang memang mereka huni berdua ini. Zetta bahkan bisa membayangkan di dalam kepalanya bagaimana keseharian mereka.
Saat musim dingin, mereka akan duduk nyaman di dekat perapian dengan selimut menutupi kedua kaki dan membuka-buka album foto masa lalu mengenang semua perjalanan hidup mereka, membicarakan kisah cinta mereka lalu anak- anak dan cicit mereka di sana. Oma Alena akan mengusap lengan Suaminya penuh cinta dan senyum bahagia lalu diakhiri dengan meminum coklat panas seraya saling berpandangan.
Zetta seketika dihinggapi rasa iri dan sebuah pertanyaan apakah suatu hari nanti, ketika dia telah menemukan belahan jiwanya dan anak-anak mereka sudah pergi dengan kehidupan mereka masing-masing, masih nampak kah cinta yang begitu besar seperti yang ada di mata Opa Rexan saat menatap Istrinya?
"Jangan melamun, Sayang. Aku tahu apa yang sedang kau lamunkan." Oma dengan suaranya yang halus menyadarkan Zetta yang langsung tersenyum kikuk.
Opa terkekeh, "Kalau Alva tidak menjadi kekasih yang baik lepaskan saja dia, Zetta. Lelaki macam dia pasti akan merasakan penyesalannya dan akan kembali mencarimu. Percaya saja padaku."
Zetta tertawa dan melambaikan kedua tangannya ke depan seraya menggeleng. "Tidak, Opa. Hubungan kami tidak seperti itu."
Alva menutup bibirnya dengan punggung tangan menahan tawa melihat sikap panik Zetta. Oma menggeleng, "Ah kalian ini. Tapi tak apalah karena semuanya juga butuh proses. Tidak bisa terjadi dalam sekejap."
"Oma jangan buat Zetta mengharap jadi kekasihnya Alva dong."
Zetta mendelik mendengarnya.
"Kau juga, Alva. Oma tidak suka melihat beritamu yang masih saja bermain-main dengan wanita-wanita malam itu. Coba ingat umurmu dan juga kedua orang tuamu."
Zetta hampir saja tertawa melihat bibir Alva yang mengerucut ke depan mendengar nada tidak suka Oma lalu menggaruk tengkuknya dan menyandarkan tubuhnya di sofa merapat ke Zetta yang mencoba untuk menggeser tubuhnya tapi panggilan Opa menghentikan niatnya.
"Zetta," panggilnya.
"Iya, Opa?"
"Kau tahu, Alva itu sebenarnya lelaki yang baik dan setia. Dia tidak seburuk kelihatannya kok." Zetta mendelik dan refleks menoleh ke samping melihat Alva yang menolehkan kepalanya ke arah lain. "Opa akan bercerita sedikit. Dulu saat kecil dia memiliki anjing peliharaan. Di mana ada Alva pasti di sana ada si Bruno—si anjing—yang mengikuti."
Zetta mendengarkan dengan seksama.
"Kau tidak akan bisa memisahkan mereka berdua. Kau tahu sendiri, Alva anak tunggal dan di rumahnya yang seperti istana itu dia hanya sendirian. Jadi, dia senang sekali bisa memiliki peliharaan yang dijadikannya teman."
"Kasihan, Alva." Zetta bergumam dan mengangguk padahal orang yang sedang dibicarakan berada tepat di sampingnya memutar bola mata kesal.
Opa terkekeh, "Tapi demi seorang gadis, dia rela memberikan Bruno yang sudah menemaninya sejak lama. Gadis kecil yang suka sekali memeluk Bruno. Bukan hanya Bruno sebenarnya, bahkan kalau gadis itu meminta Alva berubah menjadi banci pinggir jalan dia pasti akan melakukannya."
"Opa, please. Hentikan." Alva akhirnya tidak tahan. Zetta terdiam mendengarkan dengan kerutan samar di dahinya.
"Kau perlu diingatkan, Alva. Sejak dia memilih pasangan hidupnya sendiri seharusnya kau juga seperti itu bukannya malah menjadi b******k. Apa kau baru akan berhenti kalau Amira yang meminta?"
"Tidak. Dia sudah tidak memiliki hak itu lagi."
Opa menggeleng, "Jangan bohongi diri sendiri. Kami merasa bersalah padamu dan Amira bahkan sudah mendatangi kami dan menangis berhari-hari karena kehilangan kau. Tapi kau sudah terlanjur tidak bisa berpikir jernih dan tidak pernah lagi datang kemari."
Zetta memperhatikan wajah Alva yang nampak terluka saat nama Amira di sebut ternyata, laki-laki di depannya ini juga pernah dikhianati. Wajah tampan dan memiliki segalanya ternyata belum bisa membuat seseorang setia.
"Dia sudah tidak peduli lagi padaku, Oma. Kenapa semua orang malah menyalahkanku padahal semua ini terjadi karena dia diam-diam menjalin cinta dengan Aston di belakangku. Aku yang lebih mencintainya, aku yang selalu ada untuknya, aku yang bersedia melakukan apapun, aku—" Alva mengatupkan bibirnya, berdiri dan memijit pelipisnya, "Sudahlah, lupakan saja. Aku sudah tidak peduli pada apapun lagi."
Zetta terdiam melihat Alva berbalik dan keluar melalui pintu belakang dan menutupnya dengan keras. Zetta terhenyak di sofa menatap semburat jingga di luar melalui jendela yang menandakan malam akan segera datang. Zetta pernah dengar kalau fenomena alam matahari terbenam yang di saksikan di pinggir pantai Vancouver luar biasa indah.
"Zetta."
Zetta menoleh saat Opa memanggil.
"Maaf karena kau harus mendengar yang seperti ini. Kami hanya khawatir dengan Alva yang semakin jauh seperti itu padahal dia bukanlah laki-laki yang buruk. Opa bisa menjamin itu." Zetta hanya bisa mendengarkan. "Dia lelaki yang masih terjebak di masa lalu."
"Tidak apa-apa,Opa. Setiap orang memiliki masa lalunya sendiri meski saya sebagai orang baru yang mengenalnya hanya bisa melihat Alva sekarang yang suka berbuat onar dan bermain dengan wanita."
Opa mendesah,"Semoga saja ada sesuatu yang bisa merubahnya kembali."
Zetta terdiam, melalui jendela rumah, Zetta melihat Alva di kejauhan. Tepatnya di pinggir pantai merunduk memegangi kedua kepalanya dan diam menatap cakrawala di kejauhan. Dari semua hal yang terjadi, Zetta tidak pernah melihat Alva Alexander dalam siluetnya yang seperti ini di antara silau cahaya jingga saat matahari terbenam. Dia terlihat bukan lagi Alva Alexander yang meniduri banyak wanita di luaran sana. Dia hanya Alva Alexander yang rapuh. Hanya karena mencintai seseorang terlalu dalam dan tidak bisa keluar atau enggan keluar.
Bukankah masih terjebak dengan masa lalu bisa begitu sangat menyakitkan?
Karena Zetta tahu bagaimana rasanya.
****