bc

Buang Sampah, Dapat Berlian

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
contract marriage
HE
arranged marriage
heir/heiress
drama
sweet
city
lies
like
intro-logo
Blurb

Lahir di tengah gelimang harta, hidup Luzella Northen seketika berubah menjadi neraka ketika sang ayah membawa pulang seorang ibu tiri dan anak perempuannya yang seusia. Rumah yang tadinya hangat berubah menjadi sarang duri.

​Puncaknya tiba saat gaun pengantin mewah, pesta megah, dan pria yang seharusnya menjadi takdirnya direbut begitu saja oleh Narina, saudari tirinya. Sementara Luzella harus bertarung melawan penculik yang telah di sewa untuk mencelakai dirinya

​Dikhianati oleh darah daging sendiri dan dibuang layaknya sampah, Luzella tidak lagi menangis. Dari abu kehancurannya, ia bangkit kembali—bukan lagi sebagai gadis manis yang penurut, melainkan sebagai badai maut yang siap menuntut balas setiap tetes air mata dengan darah.

chap-preview
Free preview
01 Gaun Berdarah
Mobil mewah dengan hiasan bunga pengantin tengah melaju kencang melintasi aspal yang kian asing. Di kursi belakang, seorang perempuan dengan gaun pernikahan putih yang megah meremas jemarinya yang dingin. "Tolong... kalian di mana?" bisiknya lirih, hampir berupa cicitan yang tertahan di tenggorokan. Hari ini seharusnya menjadi momen paling membahagiakan dalam hidupnya. Namun sejak fajar menyingsing, tak satu pun anggota keluarganya yang mau mengangkat telepon. Tak ada kendaraan yang diutus, tak ada hangat ucapan selamat. Dan kini, rasa gelisah yang menggantung sejak pagi berubah menjadi ketakutan mencekik saat ia menyadari mobil ini membawanya makin jauh ke arah yang salah. "Sebenarnya kamu siapa?!" jeritnya, hilang kesabaran saat menatap punggung pengemudi di depannya. "Tidak penting Anda tahu," sahut pria itu dingin tanpa sedikit pun menoleh. "Saya hanya menjalankan tugas." Napasnya memburu. Tersadar hidupnya dalam bahaya, ia memutus kepasrahan yang memdera. Dengan gerakan cepat dan nekat, ia menarik paksa tali pita tebal dari pinggang gaunnya. Tanpa ragu, disatukannya sisa keberanian untuk melingkarkan pita itu ke leher sang pengemudi, lalu menariknya sekuat tenaga. Kuda besi itu sempat oleng secara mengerikan. Pria di balik kemudi menggeram, mencoba mempertahankan kontrol kendaraan sembari menahan napas yang tercekik. Melihat reaksi lawan yang belum menyerah, ia makin gila-gilaan menarik pita tersebut. Gesekan kasar kain membakar telapak tangannya hingga memerah dan perih, tetapi ia tak peduli. Pria itu membelalak, cengkeramannya pada setir melonggar akibat pasokan oksigen yang terputus. Kendaraan roda empat itu hilang kendali kemudian meluncur liar di jalanan yang sepi. "Arghhh! Akhhh!" Teriakan tertahan yang mengerikan bergema di dalam kabin. Sedetik kemudian, suara berdecit nyaring membelah keheningan. Mobil mewah berbunga itu menghantam batang pohon besar di tepi jalan dengan dentuman yang dahsyat. Asap tebal langsung mengepul dari kap mesin yang ringsek. Bau menyengat dari bahan bakar yang bocor mulai memenuhi udara. Pintu belakang mobil terdorong--terbuka secara perlahan. Dari sana, merangkak keluar sosok pengantin wanita dalam kondisi mengerikan. Gaun putih yang semula begitu anggun kini dinodai bercak darah—bagian dadanya bahkan telah berubah warna menjadi merah menyala. Ia bertengger di atas lututnya, menatap nanar rangka mobil mewah yang dulu sangat ia kagumi. "Kamu pikir... kamu bisa menyingkirkan aku?" bisiknya licik dan dingin, sembari menyapu kasar aliran darah dari sudut bibirnya. Gemuruh mesin kendaraan dari kejauhan membuatnya berpaling. Sambil menahan rasa remuk di sekujur tubuh, ia menyeret fisiknya menuju bahu jalan dan merentangkan tangan. Sebuah sedan tua mendadak mengerem mendadak tepat di hadapannya. "Ya Tuhan, Neng! Kamu kenapa?! Kecelakaan?!" seru seorang pria setengah baya, melompat keluar dengan wajah pucat pasi. "Antar saya, Pak..." sahutnya terbata, matanya menyipit menahan nyeri yang menusuk-nusuk di kepalanya. "Antar saya ke Gedung Antariksa." "Ayo, Neng, cepat masuk!" sahut supir itu dengan wajah campur aduk; perpaduan ngeri sekaligus heran. Satu jam perjalanan terasa bagai keabadian. Setiap goncangan roda mobil mengocok rasa sakit di kepalanya. Begitu sedan tua itu berhenti di depan pelataran gedung pernikahan yang menjulang megah, ia segera melepas kalung yang melingkar di lehernya. "Pak, saya tidak punya uang tunai. Tapi Bapak bisa ambil kalung ini. Ini berlian asli," ucapnya seraya menyerahkan perhiasan itu. Pengemudi tua itu hanya terpaku gagap, tangannya bergetar saat menerima kalung bernoda darah segar tersebut. Sebelum sempat pria itu bersuara, sang gadis sudah terlanjur melangkah keluar. Tanpa alas kaki, ia menyeret kakinya menaiki anak tangga marmer. Setiap tapak meninggalkan jejak merah samar. Pandangan para tamu di area luar langsung tertuju padanya—campuran antara terkejut, jijik, dan mengerikan melihat seorang pengantin bergaun darah berjalan bak hantu penuh dendam. Di papan penyambutan besar yang dihiasi ukiran emas, sebuah nama terpampang menyapa pandangannya: Narina Northen & Samuel Tommy Luzella Northen—atau yang kerap disapa Luzel—tertawa sumbang. Senyum getir terukir di bibirnya saat melihat namanya telah digantikan oleh perempuan yang paling ia benci di muka bumi ini. "Maaf, Anda tidak diperkenankan masuk," cegah seorang petugas keamanan berjas hitam di depan pintu kayu jati ballroom. Luzel menatap pria itu dengan pandangan membunuh. "Aku Luzella Northen. Pemilik sah pernikahan ini. Minggir dari hadapanku sebelum kamu menyesal." Mendengar nama itu, wajah sang petugas pucat seketika. Ia membungkuk dalam-dalam dan terburu-buru menyingkir dari pintu. Dengan kedua tangan kecilnya yang penuh luka dan lumuran darah, Luzel mendorong daun pintu raksasa itu lebar-lebar. Cklek. Gema engsel pintu menghentikan riuh rendah di dalam ruangan. Seluruh pasang mata berbalik. Pihak keluarga yang berdiri di panggung utama bagaikan disambar petir di siang bolong. Luzel melangkah maju. Gaun berdarahnya kontras dengan dekorasi ballroom berkonsep biru-hitam yang megah. Ia memetik setangkai mawar hitam dari vas hiasan di sepanjang lorong, lalu mengoleskan senyum paling dingin yang pernah ia miliki. "Sejak kapan... seorang Narina Tasya berganti marga menjadi Northen?" suaranya lantang membelah keheningan, mengundang kasak-kusuk instan dari ratusan tamu VIP. "Luzella?! Kamu..." Luzel menoleh pada wanita paruh baya bergaun sutra di panggung. "Kenapa, Ibu tiriku? Kaget melihatku masih bernapas?" Dewi, ibu tirinya, berdiri terpaku dengan wajah pias. Rasa malu dan rasa bersalah bertarung hebat di raut wajahnya. Luzel tidak berhenti. Ia berjalan santai menghampiri Master of Ceremony yang berdiri membatu, menyambar mikrofon dari genggaman pria itu tanpa permisi, lalu berbalik menghadap para hadirin. "Saya memohon maaf atas kegaduhan ini," ucap Luzel, suaranya tenang namun sarat tekanan. "Saya Luzella Northen, putri tunggal William Northen sekaligus pewaris tunggal Northen Tech Company. Saya perlu meluruskan kebohongan besar hari ini. Seharusnya saya yang berada di atas pelaminan itu, bukan wanita yang bahkan tak memiliki setetes pun ikatan darah dengan keluarga Northen. Namun entah bagaimana, posisi saya mendadak digantikan oleh Narina... sementara saya sendiri terjebak di dalam mobil penjahat." Gedung itu seketika pecah oleh bisik-bisik riuh. Wartawan dan tamu undangan mulai menuding-nuding ke arah panggung utama. Dengan wajah memerah menahan amarah yang tersembunyi di balik senyum palsu, Dewi tergesa-gesa menghampiri Luzel. "Maafkan kami, Para Hadirin... Hari ini memang seharusnya hari bahagia Luzella. Namun kami kehilangan kontak dengannya dan terpaksa mengambil keputusan cepat agar Narina sementara menggantikan posisinya demi menjaga nama baik..." Dewi menyentuh bahu Luzel dengan berpura-pura cemas. "Kamu tidak apa-apa, Nak? Ada yang luka?" "Benarkah kalian tidak tahu?" potong Luzel tajam, mengibaskan tangan Dewi hingga terlepas. "Aku meneleponmu puluhan kali, Ibu. Tak ada satu pun dari kalian yang mengangkat, apalagi bersusah payah mencariku." "B-bukan begitu, Luzel..." Dewi tergagap, ketakutan telanjang menyelimuti matanya saat pandangan sinis para tamu makin menyudutkannya. "Cukup, Luzella!" William Northen akhirnya angkat bicara. Suara sang ayah berwibawa, namun di mata Luzel, pria itu tampak begitu picik. "Ini hanya kesalahpahaman. Lagi pula, hari ini tetaplah hari pernikahanmu." Luzel tertawa hampa. Bahkan setelah melihat putrinya yang berdarah-darah, ayah kandungnya sendiri hanya peduli pada formalitas dan nama baik. "Pernikahan belum dimulai. Kembalilah ke posisimu," perintah William dingin, mengabaikan raut syok dari Narina dan Tommy. Narina tampak panik luar biasa, sementara Tommy memegang tangannya erat-erat, mencoba memberikan ketenangan yang sia-sia. "Aku tak sudi," sahut Luzel lantang. "Aku tidak akan pernah menikahi pria yang dengan murahannya menerima wanita lain untuk menggantikanku dalam hitungan jam." "Luzel, tolong! Aku tidak bermaksud begitu!" Tommy melangkah maju dengan tatapan memohon yang membuat Luzella ingin muntah. "Aku hanya tidak ingin mempermalukan keluarga kita!" Dulu, tatapan penuh kebohongan itu selalu berhasil meluluhkan hatinya. Namun kini, saat cinta itu telah mati dan berganti dendam yang membara, Luzella hanya merasa jijik. "Benarkah, Tom?" Luzella tersenyum miring. "Bukankah aku juga meneleponmu berkali-kali?" Tommy membisu, lidahnya kelu. Narina dengan cepat menahan lengan Tommy, menatap Luzel penuh kebencian. Melihat pemandangan itu, d**a Luzella terasa berdenyut nyeri. Bukan karena cemburu, melainkan karena meratapi betapa butanya ia selama ini. Ke mana saja aku selama ini hingga tak menyadari pengkhianatan sejijik ini di depan mataku sendiri? Luzella menatap sekeliling. Seluruh dekorasi, tema bunga, hingga pilihan warna pesta ini—semuanya adalah selera Narina. Pernikahan ini memang diciptakan untuk Narina sejak awal. Ia hanyalah bidak yang disingkirkan. Menelan kepahitan yang menyumbat tenggorokannya, Luzel menatap kedua sejoli itu dengan tatapan paling merendahkan. "Sudahlah. Lagi pula, dari awal kalian berdua memang sampah. Dan aku tak berminat memungut sampahku kembali." "Maksudmu apa, Luzzel?!" jerit Dewi tak terima. "Apa perlu kubuka semuanya di sini? Di depan seluruh kolega bisnis Papa?" ancam Luzzel pelan, sukses mengunci rapat mulut Dewi. "Jangan sombong kamu, Luzzel!" Narina akhirnya meledak, histeris. "Dari awal Tommy itu milikku! Kami sudah berpacaran jauh sebelum kamu bertunangan dengannya!" "Narina, diam!" bentak Dewi panik. Luzel terkekeh puas. "Lihat? Tanpa perlu kubongkar, sampahnya sudah membusuk dan berbau dengan sendirinya." Ia melempar mawar hitam di tangannya ke atas karpet, tepat di depan kaki kedua pengantin itu. "Selamat atas pernikahan kalian. Semoga bahagia..." Luzel menggantung kalimatnya, lalu tersenyum manis. "...di tempat pembuangan sampah." Sebelum berbalik, Luzel mendekatkan wajahnya ke telinga Dewi, berbisik dingin yang sanggup membekukan darah wanita itu. "Ini baru permulaan. Ingat itu." Tanpa menoleh lagi, Luzel melangkah turun dari pelaminan. Dengan gaun berdarah dan kepala tegak, ia berjalan anggun membelah kerumunan tamu yang memberi jalan dengan decak kagum sekaligus ngeri. Di sudut tergelap ballroom, seorang pria berjas mahal nan elegan, berdiri memegang gelas sampanye. Matanya yang tajam bak elang mengawasi setiap pergerakan Luzel tanpa berkedip. "Menarik..." bisiknya pelan, bibirnya terangkat membentuk sunggingan senyum penuh tipu daya. ──₊°༺❤︎༻°₊── Pesta yang digadang-gadang menjadi pesta megah tahun ini berakhir menjadi panggung lelucon berdarah. Para tamu pulang lebih awal tanpa berniat berfoto, meninggalkan keluarga Northen dalam pusaran kebingungan dan kejatuhan martabat. "Ini semua gara-gara Luzella! Berani-beraninya dia menghancurkan pernikahan ku!" Narina mengamuk di ruang rias, membuang gaun mewah yang tergeletak di sofa dengan ganas. "Pah, perbuatan anak itu sudah kelewat batas! Papa harus memberi dia pelajaran!" timpal Dewi dengan napas memburu hebat dan darah mendidih hingga ke puncak kepala. William menghela napas berat, memijat pelipisnya yang berdenyut. "Hukuman apa? Ini semua salah kalian yang maksa untuk menggelar pernikahan menggunakan namanya!" "Tapi Pah! Aku dan Tommy saling mencintai! kalau tidak dengan nama dia tidak mungkin para tamu terhormat mau datang" sahut Narina tak mau kalah. "Sudah! Aku sudah cukup menanggung malu hari ini!" bentak William lalu pergi meninggalkan ruangan dengan langkah gusar. "Arghhh!" Narina menjerit histeris. Ia menarik mahkota di kepalanya hingga terlepas lalu melemparkannya ke cermin hingga pecah berserakan. "Awas kamu, Luzzel! Aku akan membalasmu seribu kali lipat!" "Sudah, Sayang... Jangan rusak harimu karena wanita itu," Tommy merengkuh tubuh Narina yang gemetar oleh amarah, mengecup puncak kepalanya. "Tapi pernikahan kita sudah hancur, Tom..." bisik Narina sesenggukan di d**a pria itu. "Kita akan buat dia membayar semuanya," bisik Tommy dengan mata membendung kepalsuan. "Dia akan menderita. Aku janji."

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

MAMA PACARKU BUDAK SEKSKU

read
57.0K
bc

BINAL [Menggoda Sopir Pribadiku]

read
11.8K
bc

Pak Bos Gila Jadi Jodohku

read
112.1K
bc

SIMPANAN OM SAGARA

read
4.9K
bc

GAIRAH LIAR SANG JENDRAL

read
139.1K
bc

Malam Pertama Sebelum Bercerai

read
14.1K
bc

Tetanggaku, CEO Bucin!

read
4.3K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook