Bab 6: Seksi Konsumsi

1694 Words
"Kenapa nggak bangunin aku?" Tantrum, aku nyaris melompat dari tempat tidur, tapi sadar itu nggak baik untuk janin, aku akhirnya berdiri, mengacak rambut dengan frustrasi. Mendengar pekikanku, Gale tampak menggeliat, dia menguap sambil perlahan beringsut duduk, menatapku dengan mata sayu, berusaha berkonsentrasi karena dibangunkan secara paksa. "Ada apa Kim?" "Semalam Mas nggak bangunin aku." Dia menghela napas seolah lega dan kembali merebahkan kepala. "Aku pikir ada kebakaran." Astagfirullah. Boleh nggak aku cekik saja dia? Stres, aku berusaha menemukan waktu yang tepat supaya bisa menjalankan rencanaku, tapi suamiku sendiri justru menggagalkan rencana itu. "Jangan tidur lagi, Mas." "I don't." "Jam berapa Mas masuk kamar semalam?" "Sebelas." "Nah, seharusnya Mas guncang-guncang aja badan aku, aku nggak pa-pa banget Mas." "Aku yang apa-apa Kim, kamu terlalu nyenyak, aku nggak tega mau bangunin." "Ya kalau kayak gini terus, kapan kita bakalan ..." Duh, aku nggak bisa melanjutkan kata-kata tanpa merasa wajahku merona. Sambil mendengus, aku membuang muka. Kalau seperti ini terus kapan aku bakalan diunboxing? "Nggak perlu heboh, kamu cuma tidur dan aku nggak masalah kalau kamu tidur duluan." Tuh kan. Santai banget sih dia? Nggak ada kagetnya sama sekali, malah menyingkap selimut lalu bangkit, kemudian menghilang di kamar mandi. Karena merasa gengsi mempertontonkan tubuh dengan pakaian mini tanpa disentuh, aku pun menarik kimono di lemari, merasa dongkol luar biasa ketika melihat suamiku keluar sudah dalam keadaan lebih segar dengan rambut yang setengah basah setelah mencuci muka. "Mas sengaja ya?" "Apa?" "Aku nungguin loh semalam." Dia mengerjap cepat dan mengernyit. "Aku ditinggal tiga hari setelah kita resmi menikah, terus Mas juga nggak hubungin aku selama nginap di kantor, aku dibiarin sendirian di sini, sekarang Mas tau aku selalu nungguin di kamar biar kita bisa tidur bareng, tapi Mas kayak sibuk terus sama kerjaan." "Aku memang harus ngurus kerjaan, Kim." Wajahnya kelihatan bingung dengan omelanku yang tiba-tiba di pagi buta. "Tapi itu kan bisa nanti, memangnya aku nggak lebih penting dari kerjaan Mas?" Yang mengejutkan adalah mulut Gale membuka dan menutup seolah ingin mengiyakan, aku makin meradang. "Lupain aja, Mas nggak usah tidur di sini kalau perlu, nginap aja terus di ruang kerja." "Kamu ngomong apa Kim?" "Mas dengar aku." "Kamu lagi PMS ya?" Apakah dia buta? Buat apa aku berpakaian seksi konsumsi, kalau bukan buat dilihat, diraba dan dicelupin? Apakah dia pikir aku hanya sedang bermain-main seperti kami dulu bermain rumah-rumahan? Hebat, suamiku lebih memilih untuk membelai dan berhubungan seksual dengan layar komputer sampai o*****e, sementara aku yang sudah effort dengan tubuh seksi begini, dia nggak peduli. Tunggu dulu ... Jangan-jangan rumor yang mengatakan kalau dia pecinta batangan mungkin benar? Ya ampun, ini bakalan plot twist banget sih, tapi gay sekalipun masih bisa bikin anak, kan? Jadi dengan perlahan aku melangkah mendekat, dahi Gale tampak terlipat ketika aku merapatkan tubuh kami dengan merangkulkan lengan di bahunya, tapi laki-laki itu sama sekali nggak mundur, tatapannya justru menajam saat memandangku. Bagus, bukankah secara alami laki-laki juga tercipta dengan morning wood? Nggak masalah jika kami gagal melakukannya saat malam hari, pagi hari pun nggak akan ada bedanya kan? "Kenapa Mas keras kepala?" Kami sudah pernah ciuman, dan dari cara Gale merespon, walaupun dia nggak menyukaiku, secara insting, dia tetap membalas dengan menggebu-gebu. "Apa maksud kamu?" "Kita udah halal, Mas." Napas berat terembus dari bibirnya. "Aku nggak tau apa yang bikin Mas berubah pikiran dan mau nikah sama aku, tapi aku memilih nikah sama Mas karena aku mau ..." Kamu mengakui anak yang ada di dalam kandunganku sebagai anakmu. "Kita lebih dekat, dari dulu aku selalu kagum sama Mas." Rahangnya yang ditumbuhi bulu-bulu halus terasa menusuk jemariku ketika membelai satu sisi wajahnya. "Setiap Mas main ke rumah buat ketemu Abang, aku selalu merhatiin Mas." Mataku sengaja jatuh dan memandang bibirnya, aku harus menggoda, dan jika aku memandang matanya, keberanianku yang hilang timbul bisa musnah nggak bersisa. "Mas kelihatan dewasa, nggak manja kayak Abang, di saat anak-anak seusia Mas masih bergantung sama orang tua, Mas berani mandiri, bikin usaha sendiri walaupun harus gagal berkali-kali." "Kimmy ..." Oke, sedikit lagi, aku nggak boleh bergidik hanya karena dia menyebutkan namaku langsung di depan bibir kami yang nyaris-- "Mulut kamu bau, gosok gigi dulu sana." Kurasakan kedua jemarinya kemudian mendorong keningku menjauh sampai kepalaku mendongak, lenganku yang membelitnya auto terlepas, Gale menggunkan kesempatan itu untuk mundur lalu melenggang keluar kamar. Earth to Kim! Suami sialan. *** "Kenapa muka lo asem banget kayak nggak dapet jatah?" Memang, kata-kata Nunung cukup mentrigger, tapi aku diam saja, memilih untuk berpura-pura fokus menatap layar PC yang memeperlihatkan excel bersisi revisi jadwal UTS para Mahasiswa. "Biasanya pengantin baru tuh berbinar-binar, ini belum ada seminggu kan? Apa lo udah punya niat buat cerai?" Kali ini aku melotot dan menatapnya ngeri, sementara Nunung dengan enteng justru menarik kursinya untuk merapat ke mejaku. Duh, kapan sih renovasi ruangan Kabag selesai? Aku merasa pusing jika harus berhadapan dengan Nunung di saat seperti ini, dan memiliki ruang sendiri setidaknya akan memberiku privasi. "Perkataan adalah doa, bisa nggak lo ngomong tuh yang baik-baik?" "Gue udah berdoa buat lo kok." "Apa?" "Semoga cepat diberikan momongan." Ludahku tertelan, aku seketika memandangnya mencoba mencari sebuah candaan yang sering dia lontarkan, tapi yang kutemukan dari balik kacamata berframe tebal itu hanyalah sebuah keseriusan. "Biar lo bisa lebih sabar." "Gue kurang sabar apa memangnya?" "Ya banyak, kalau dilihat dari tabiat lo, bukan cuma sabar sih, lo juga mungkin harus belajar biar nggak cepat bosan." Aku mendengus. Mulai lagi. Apakah dia sekarang akan ceramah soal hobiku yang seringkali bongkar pasang hubungan? Mohon maaf, selama ini aku hanya menikmati hidup, dan bukannya sombong, tapi kalau diberikan privilage dari Tuhan berupa anugerah wajah lumayan, kenapa nggak dimanfaatkan? "Jadi kapan lo mau kenalin gue sama Mas suami?" "Main aja ke apart." Kukirimkan alamat gedung apartemen Gale ke ponselnya, Nunung seketika mengangkat alis saat benda pipih itu menyala dan memeriksanya. "Tapi jangan malem-malem, wekeend boleh, bawa suami lo sekalian sama Freya." Nama yang baru kusebutkan adalah anaknya yang berusia dua tahun. Meski kami seumurun, Nunung memang memilih untuk nikah muda bersama seorang laki-laki yang dipacarinya sejak kuliah dan sekarang dia sudah memiliki seorang buntut. "Terus yang lain gimana?" "Apaan?" "Lo nggak ada niat buat umumin pernikahan ke karyawan di sini?" Aku sudah memikirkannya, penting juga untuk menyebarkan berita baik agar nggak menimbulkan fitnah apalagi aku sudah hamidun, orang-orang mungkin akan berpikir macam-macam jika mendadak melihat perutku buncit, tapi aku merasa masih perlu waktu, terutama ketika suamiku bukan seseorang yang kuinginkan. "Lihat nanti deh." Beruntung aku terselamatkan dari sikap mengintrogasi Nunung ketika karyawan lain yang baru dari makan siang berhamburan memasuki ruangan. Lemas. Sebenarnya aku lebih pusing memikirkan bagaimana akan melalui malam ini tanpa terinterupsi. Kata-kata manisku tadi pagi sama sekali nggak mempan, terus mau aku berpakaian seksi pun, Gale masa bodo. Apa aku telanjang saja ya? Nggak, itu terlalu sarap. Sambil menimbang-nimbang, aku mencoba menghubungi Abang Ken, memintanya bertemu sepulang kantor. Sebagai orang yang dekat dengan Gale aku perlu nasihatnya untuk mencuri perhatian laki-laki itu. "Tumben banget kamu kayak orang insecure, Kim." Itulah kalimat pertama Abang ketika kupaparkan niatku untuk meminta pendapatnya saat kami janjian di sebuah restoran. "Aku serius loh Bang, dia tuh lempeng banget, datar, lurus, apa dulu selama pacaran dia juga gitu?" Abang yang sore itu masih mengenakan setelan kerja mendesah sambil menarik gelas berisi iced latte di meja. "Abang nggak punya waktu buat merhatiin gaya pacaran orang lain Kim." "Tapi kan kalian dekat." "Hubungan dengan pasangan adalah privasi, Gale bukan tipikial orang yang suka mengumbar kemesraan." "Ya tapi masa dia nggak ada curhat sama sekali sih? Tentang pacarnya, atau tentang orientasi seksualnya yang mungkin menyimpang—" Abang terbatuk-batuk keras sampai menggedor-gedor d**a karena mendadak tersedak minuman. Buru-buru aku menganggsurkan beberapa lembar tisu untuknya. "Ngomong apa kamu ini Kim?" Kenapa dia terdengar marah? Setelah batuknya mulai mereda, dengan wajah yang merah padam Abang kembali bicara dengan lebih tenang. "Gale totally straight, Abang nggak pernah lihat secara langsung tapi bisa Abang pastiin dia bukan kaum pelangi. Kamu hati-hati, jangan sampai Gale dengar kata-kata kamu tadi, itu bisa bikin dia tersinggung Kim." Sepertinya aku memang sudah nggak waras, segala deadline karena perhitungan kehamilan ini membuatku merasa tertekan, padahal aku hanya butuh nina-ninu sekali saja, tapi seolah hidup sedang mempermainkanku. "Maaf Bang." "Kamu udah bosan?" Ya ampun, kenapa semua orang selalu menanyakan hal yang sama? "Ingat pernikahan bukan permainan Kim, kalau suatu saat kamu merasa nggak cocok sama Gale, itu udah resiko, kamu harus bisa berkompromi dengan kekurangannya." Nasihat yang baik, tapi yang kubutuhkan sekarang bukan itu. "Gimana dengan rencana Papa?" "Lancar, bulan depan kita bakalan mulai kampanye, kamu mau ikut?" "Nggak deh, aku nggak suka politik." Aku perlu yakin bahwa keputusanku sudah tepat, dan jika Papa baik-baik saja, meski aku harus terjebak dan menjebak orang lain, rasanya semua sepadan. Ponsel di tasku mendadak bergetar heboh, nama Neo terpampang di layar, tumben sekali dia menghubungi di pukul segini, mungkin dia mau ajak karaokean? Semenjak hamidun, aku memang memutuskan untuk mengurangi kegiatan yang nggak bermanfaat, aku sudah bersiap untuk menolaknya ketika suara Neo yang agak mendayu menyapa. "Ibukkk," pekiknya heboh, aku menjauhkan ponsel dari telinga, mengernyit sebelum kembali menempelkannya. "Lagi di mana? Ada yang nyariin di kantor." "Jam segini?" "Cowok, dia udah nungguin daritadi, hampir tiga jam loh Buk, karena dokumen Ibu masih di meja makanya gue suruh tunggu, tapi Ibu malah nggak balik-balik." "Gue memang nggak bakal balik, Yo." "Lah, harusnya ngomong dong, si Bapak khawatir nyariin, katanya Ibu dichat nggak dibales." "Bapak siapa?" "Orang yang nungguin Ibu daritadi lah, siapa lagi? Dia sih ngakunya suami Ibu ya, tapi gue nggak yakin Bu, soalnya dia memang cakep sih tapi udah berumur, kayaknya bukan tipe Ibu ba—" Aku sudah nggak mendengar sisa rentetan ocehan Neo dengan memutus sambungan telepon, lalu mengecek notifikasi, mataku melebar ketika menemukan ada dua puluh chat masuk yang belum dibaca dan enam panggilan nggak terjawab dari Gale. Kenapa aku nggak menyadarinya? Apakah karena terlalu fokus mengobrol sambil makan dengan Abang aku jadi nggak notice ada yang mendesak dari benda pipih ini? "Kenapa?" Abang bertanya melihatku yang mulai gusar. "Kamu harus pulang sekarang?" Tanpa menjawab aku segera menghubungi Gale, aku hanya butuh menunggu dua kali nada sambung untuk mendengar suaranya. Namun sebelum aku memberi penjelasan karena kami nggak pernah janjian, Gale dengan tegas sudah lebih dulu menyerobot bertanya. "Kamu di mana?" ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD