Bab 7: Istri Magang

1553 Words
"Aku pikir Mas nggak bakal jemput." "Bukannya kamu yang bilang kalau kita harus saling ngabarin kegiatan dan aktivitas satu sama lain?" Aku mendengus. Jadi dia sempat mendengar ocehanku tempo hari? "Marahin aja Gal." Abang malah kompor, bukannya memperbaiki suasana, dia justru makin gembira kalau aku terpojok. "Aku pesenin makan ya?" "Nggak usah, di apart kan udah ada masakan Mba Ratih, nanti mubazir." Serba salah. Tadi pagi dia menolakku, sekarang dia mencari istrinya, seolah aku penting, apa sih maunya Bapak satu ini? Nggak ingin jadi bahan tontonan di depan Abang yang mulai menikmati drama kami dengan cengar-cengir, kuputuskan untuk berdiri, menyelempangkan tote bag di bahu, tapi Gale malah menarik kursi di sampingku dan dengan entengnya menjatuhkan diri di sana. Allahu Akbar. "Gimana kabar Mama sama Papa?" tanyanya pada Abang, menggeser gelasku yang berisi es teh manis mendekat dan menyeruputnya. Lalu mengernyit ketika menikmati rasanya. "Manis banget Kim?" Digesernya lagi gelas itu ke tengah meja. Suruh siapa main asal minum? Aku tahu dia anti sama semua jenis menu makanan dan minuman manis yang terlalu berlebihan, tapi kalau haus kan dia bisa pesan air sendiri. Kenapa Bapak satu ini bikin aku keki? "Sehat, sehat Alhamdulillah." Abang menjawab, nggak kalah santai. Aku mengerti dulu kenapa zaman Abang kuliah mereka sering dijuluki kembar, sebagai everyone's favorite soccer hero karena tergabung dalam klub sepak bola yang sama, secara proporsi tubuh mereka hampir mirip. Sama-sama menjulang seperti gapura kabupatan, kulitnya sama-sama kecokelatan khas Mas-Mas pribumi, kelihatan bersih dan sehat. Bahkan keduanya sama-sama berpenampilan serampangan. Abang berambut gondrong yang diikat manbun, sementara Gale ... dia ini seperti tipikal nasabah bank ABC prioritas. Hanya mengenakan kaos, celana pendek dan sendal jepit. Seperti itulah dia menjemput aku di kampus. Sebagai orang yang mengidap OCD, penampilannya yang kelewat santai ini kadang bikin aku gemas, tapi mau gimana lagi? Asalkan dia mengenakan pakaian, aku nggak bisa protes, dan ini masih mending kerena aku pernah melihatnya hanya kutangan dengan trunk saat menginap di rumah. Pemandangan yang bikin jantungku jedag-jedug, tapi itu dulu banget, saat masa kuliah. Perbedaan umur kami nyaris sepuluh tahun, ketika dia sedang menyelesaikan strata satu, aku masih SMP. Jadi kenangan itu memang nggak pantas untuk diingat. "Duduk Kim, kenapa berdiri terus?" Gale tampak heran, kepalanya menggidik ke arah meja. "Makanan kamu belum abis, aku tunggu, abisin dulu." "Aku udah kenyang." Lebih tepatnya napsu makanku sudah menguap, tapi aku tetap menuruti perintahnya. "Nyusahin ya Gal?" tanya Abang dengan wajah mengajak bersekongkol, aku melotot ke arahnya, pria itu hanya tertawa. "Kata Mama kalau Kim bikin masalah, dia yang bakal jemput langsung, daripada jadi beban lo." Gitu yang katanya mau menjodohkan kami, tapi di belakang mereka menjelek-jelekkan aku? Gale malah menyahut. "Belum." Astagfirullah. Sudah dua kali nih aku nyebut, yang ketiga kalinya mungkin aku bakal dapet hadiah umroh. "Masih seminggu, ibaratnya masih magang, nggak tau kalau besok." Bukankah dia yang lebih pantas disebut bermasalah? "Bang nggak dicariin Mba Hanum? Biasanya jam segini udah diteror suruh pulang?" Kualihkan topik ke arah yang lebih aman. Meski gayanya sangar, Abangku ini tipe suami-suami yang takut istri, padahal Mba Hanum tuh mungil hanya sebatas ketiaknya, tapi Abang kalah telak kalau sudah adu mulut sama Kakak iparku itu. "Ini juga mau cabut, kamu sih nahan-nahan terus." Aku merotasi bola mata. Yang nahan siapa coba? Aku kan cuma curhat, dan dia bersedia mendengarkan. Abang kemudian berdiri, memungut dompet dan kunci mobil yang diletakkannya di meja. "Titip adek gue ya." "Memangnya aku bakal ngapain?" "Mana Abang tau, tapi kamu selalu bikin jantungan keluarga Kim." Alis Abang naik satu, seolah memberiku ulitimatum dia berbisik. "Yang tadi kita omongin jangan sampai—" "Paham." Abang mengangguk, menepuk bahu Gale sebagai gestur pamit sebelum keluar dari restoran. "Kamu kenapa nggak angkat telepon?" Tanpa menunggu, Gale langsung menginterogasi saat aku menatapnya. "Nggak kedengeran." "Silent?" "Cuma geter doang." "Pasang ringtone buat nomor aku." Tunggu, kenapa aku harus melakukan itu, sementara dia saja dihubungi sulit? Seolah bisa membaca raut wajahku, Gale menambahkan. "Aku juga bakal ngelakuin hal yang sama ke kamu." Kemudian tangannya menengadah. "Sini, mana HP kamu, biar aku bantu atur dan pasang location tracker." Hah? Masa kami harus sampai segitunya sih? Melihatku yang memandangnya ngeri dan langsung memeluk ponselku, satu alis lebat Gale mencuat naik. "Itu terlalu privasi." Banyak banget hal penting yang ada di ponsel, ini seperti belahan jiwa, dan aku nggak sudi membaginya. Selama pacaran dengan Rey saja kami nggak pernah mengecek ponsel satu sama lain, apalagi dengan dia? "Oke." Untungnya dia nggak maksa. "Tapi kayaknya kita memang harus tukar jadwal biar nggak cari-carian gini." Aku menatapnya bingung ketika Gale mengacungkan tangan untuk memanggil pramusaji, seorang perempuan dalam seragam brown dengan cekatan segera menghampiri meja kami. "Boleh saya minta kertas dan pena?" "Mas mau apa?" "Kita butuh menulis kegiatan masing-masing dan membahas beberapa peraturan." Benar, aku pun merasa bersalah kalau nanti dia menunggu lagi hingga berjam-jam, Gale sangat sibuk, dan membuatnya menunggu sama saja menghinanya secara terang-terangan. Tapi nggak di sini juga kan? Kami bisa melakukannya di apartemen. "Kan bisa ditulis di note HP aja Mas," kataku memberi solusi jenius ketika Mba pramusaji itu dengan baik hati mengulurkan yang Gale butuhkan. Namun Gale seolah nggak mendengarkan dan justru mulai mencoret kertas di atas meja. "Pertama aku bukan pekerja kantoran nine to five, jadwal kerja aku fleksibel, bisa lebih padat atau lengang tergantung kondisi kerjaan, tapi weekdays aku akan ada di kantor dari pagi, mungkin jam tujuh? Sampai jam sepuluh—" Belum apa-apa, aku sudah protes. "Terlalu malam, lokasi kantor Mas dari apartemen aja bisa sejam itu juga kalau nggak macet." Telunjukku mengetuk-ngetuk kertas di atas meja. "Nggak bisa, maksimal jam delapan Mas harus udah ada di rumah." "—kalau weekend aku akan ada di kantor lebih siang, dan pulang lebih sore." "Jangan weekend aja, Mas harus batasin diri dong." Kan sekarang sudah punya istri. Aku ingin melanjutkan kata-kata itu tapi menahan lidahku, mendadak kehilangan keberanian ketika menatap matanya. "Kadang-kadang aku juga harus ketemu investor, bisa jadi bahkan di hari weekend." Laki-laki ini nggak mendengarku ya? "Aku kerja jam delapan, Mas pasti udah paham, dan pulang jam sepuluh." Alisnya naik. "Jangan bercanda Kim." "Ya kalau Mas nggak ada di rumah, ngapain aku di sana sendirian?" Gale menjatuhkan pena di meja, lengannya ditumpangkan pada punggung kursi lalu duduk menyerong untuk menghadapku sepenuhnya. Karena alasan yang nggak kupahami, jantungku terasa berdebar ketika laki-laki itu mengamatiku dengan intens. "Apa?" "Siapa yang mengizinkan kamu untuk berkeliaran?" "Gi-gimana Mas?" Aku nggak salah dengar kan? Tanang Kim, Gale hanyalah Gale, dari dulu dia bukan laki-laki yang bisa membuatku merasa terintimidasi. Sebagai pemimpin perusahaan, mungkin dia terbiasa memberi perintah, tapi aku juga bukan wanita yang mudah nurut begitu saja, aku pun terbiasa mengendalikan situasi. "Setelah kerja, kalau nggak ada urusan di luar, aku mau kamu langsung pulang, dan kalau ada kegiatan lain, minimal kabarin aku dua hari sebelum kegiatan itu dilaksanakan." Aku mendelik dengan hidung kembang kempis. "Mas pikir nggak ada yang namanya jadwal atau pertemuan dadakan?" "Pekerjaan kamu nggak membutuhkan ketemu dengan client." "Aku juga butuh me time!" Gila, aku benar-benar nggak habis pikir dengan jalan pikirannya. Kenapa dia mendadak jadi tukang ngatur begini? "Hidup aku bukan cuma tentang Mas—" "Aku akan pulang sesuai jadwal yang kamu mau." Sialan, itu tawaran yang menarik. "Sebagai gantinya tolong hormati keberadaan satu sama lain dengan nggak sembarangan pergi tanpa izin." Kutelan ludah susah payah. "Oke." "Kedua, kamu juga harus menyebutkan dengan siapa kamu pergi." Saat aku megap-megap untuk membantah, Gale segera melanjutkan. "Penting buat aku tau kamu pergi dengan siapa, supaya kalau terjadi sesuatu di luar sana, ada yang bisa aku mintai pertanggung jawaban." "Makasih, tapi aku bisa jaga diri sendiri." "Ketiga," imbuhnya mengacuhkan sindiranku. "Aku akan siapin kamu supir pribadi." Bukan cuma melotot, kali ini aku bahkan melompat berdiri, tapi sadar itu terlalu menarik perhatian aku kembali ambruk di kursi dengan mata menatap nyalang. Apa-apaan? "Aku bisa nyetir sendiri, Mas." Dan aku bukan anak sekolah yang harus diantar jemput, aku pun terbiasa mandiri sepertinya. "Cuma untuk sementara," katanya. Berbanding terbalik dengan aku yang mulai berasap Gale tampak tenang, nggak terpengaruh dengan penolakanku. "Beberapa hari terakhir kamu kelihatan kelelahan dan sepertinya sakit, aku udah janji ke orang tua kamu kalau aku akan menjaga kamu, jadi untuk meminimalisir hal yang nggak diinginkan, lebih baik kamu nggak dibiarkan untuk nyetir sendiri sampai aku yakin kamu sehat." "Dan gimana caranya Mas mastiin aku sehat atau nggak?" "Dokter." Mendengar profesi yang mati-matian sedang kuhindari itu disebut aku langsung lemas. "Ini nggak adil." "Apanya yang nggak adil? Memangnya ada dari peraturan aku yang nggak menguntungkan kamu?" Yaaa benar sih, semuanya demi kebaikanku, tapi itu sama saja aku harus tunduk dengannya kan? Mataku hanya bisa mengerjap ketika Gale menggunakan kesempatan diamku untuk kembali menengadahkan tangan. "Kunci mobil kamu." Ya ampun. Demi Medusa dan ular-ular di kepalanya, kenapa dulu aku menganggap pernikahan kami akan berjalan mudah? "Kim." Karena aku nggak juga merespon, Gale menggedikkan tangan itu seolah meminta. Dengan lemas aku mengorek tas dan menjatuhkan kunci mobil berbandul Eiffel tower ke tangannya. Gale langsung mencengkeram benda itu sebelum disimpan di dalam saku celana. "Bagus," katanya lalu meremas kertas di meja. "Kamu benar, kita nggak butuh ini, apa yang aku sebutin tadi, kamu pasti udah paham kan?" Aku mengangguk. "Oke, sekarang kita pulang." Gale berdiri, menepuk kepalaku dua kali seolah memberi penghargaan pada anjing peliharan karena sudah bersikap patuh, sebelum melenggang menjauh, meninggalkan aku yang tertegun di tempat. Sepertinya aku memang belum mengenal siapa sebenarnya laki-laki yang kunikahi. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD