Bab 8: Spicy Noodles

1464 Words
Bukan mesin pangatur dan menghormati privasi adalah dua poin penting yang selalu kupegang teguh saat menjalin hubungan. Selain nggak abusive dan tukang selingkuh yang sudah otomatis menjadi kewajiban. Tapi semua itu kini terasa buyar ketika yang kudapatkan justru malah sebaliknya. Jika Gale hanya pacar mungkin aku nggak perlu berpikir dua kali untuk mendepaknya, tapi sayangnya dia suamiku, dan aku membutuhkannya untuk mengakui janinku. Rasanya jengkel ketika aku hanya bisa pasrah diantar ke kantor seperti seorang perempuan nggak berdaya. "Lah ngapa lo? Sakit?" Nunung bahkan langsung menegur saat melihatku melompat turun dari mobil. Oke, jika dalam keadaan normal mungkin aku akan salut dengan bagaimana Gale mempersiapkan segalanya karena kupikir dia akan butuh waktu untuk merekrut seorang supir pribadi, tapi hanya dalam semalam aku sudah dikenalkan dengan Pak Endang. Beliau pun masih muda dan tampak sangat terpercaya, Gale memastikan aku akan aman bersamanya. "Ngalem banget pake dianter segala." "Ini bukan kemauan gue, tapi Paksu," seruku capek lalu menjatuhkan diri di kursi. Sengaja memilih datang lebih pagi supaya nggak perlu berlama-lama memandang wajah Gale. Lalu tanpa bisa dicegah aku menumpahkan semua diskusi semalam pada Nunung. "Perhatian banget, gue setuju sih, bagus buat lo, malah enak kan jadi nggak usah repot-repot nyetir, lo juga beberapa hari ini kayak nutup diri, diajak sebat nggak mau, diajak shopping kayak orang tipes. Mending di rumah kan, manja-manja sama suami sendiri?" Masalahnya kapan aku bisa manja-manja sama Gale, sudah kubilang meski laki-laki itu ada di rumah dia lebih senang memelototi layar PC daripada istrinya yang seksi! Dahlah capek. "Coba pakai obat perangsang." Aku benar-benar shock dengan usul ajaib Nunung. "Yang bener aja lo, Nung." "Nggak pa-pa kali, pilih yang dosisnya nggak terlalu tinggi." "Itu ada efek sampingnya, gue nggak mau bikin dia kenapa-kenapa." "Asal nggak over dan cuma sesekali aja nggak masalah sih." "Lo pernah coba?" "Belum." "Terus kenapa lo suruh gue pakai itu? Lo mau jadiin suami gue kelinci percobaan?" "Ya karena suami gue mah udah napsu tiap lihat gue dasteran doang Kim, kalau suami lo nggak mau indehoy ya coba ajak dia periksa jangan-jangan dia lemah syahwat atau impoten." "Pikiran lo ke mana-mana." "Serah, gue cuma kasih saran, nggak terima ya sudah, tapi kalau lo mau coba, gue punya teman yang supply obat itu. Dijamin tokcer no tipu-tipu." "Apaan yang tokcer?" Suara Neo seperti sirine yang berdengung ke seluruh ruangan diikuti Mba Farika, Juhi dan Bianca. Kami sontak mengangkat kepala dan saling menjauh. "Anak kecil nggak usah ikutan," selak Nunung pada pria jadi-jadian itu. "Mau tau aja urusan orang dewasa." Neo mendengus sebelum dengan kecepatan cahaya wajahnya berubah antusias saat memandangku. "Oh Em Gi Ibuu, kok lo nggak bilang-bilang sih kalau udah kewong? Kita-kita nggak diundang, jangan-jangan kemarin ngambil cuti itu karena mau nikah?" "Masya Allah Buk, samawa yaa!" Juhi ikut-ikutan. "Makasih aamiin," jawabku sekenanya. "Cuma akad aja kok resepsinya belum." "Ya tetap aja lo udah nikah Buk, hampir aja gue usir itu laki kemarin, bisa-bisanya dia ngaku sebagai suami lo, ternyata beneran dong." Kurasa ruangan kami seperti terkena gempa ketika dia berseru heboh. Bagus, sekalian saja umumkan kepada seluruh dunia, karyawan lain di luar sana yang sedang melakukan absensi mungkin bisa mendengar! "Gua suka nih, mengingatkan gue sama Angga Yunanda, nggak ada angin, nggak ada ujan, tiba-tiba jebret upload foto kawinan. Aduh kalau tiba-tiba Rey Sungkara nikah mungkin gue nggak bakalan sanggup. Patah hati Nasional." Selama sepersekian detik jantungku berasa naik ke hidung, Nunung mengerling dengan penuh arti. "Jangan dong, gue juga belum ikhlas." Juhi selalu nimbrung. "Welcome to the club Bu, selamat jadi istri." Mba Farika yang sholehah dan super baik menyalami tanganku. Aku berdeham, melawan perasaan nyeri. "Kado manaa?" "Undang dulu kami di acara resepsi Bu, nanti aku bawain hadiah." Bianca gadis manis dari Yogya memberi usul dengan ceria. "Ibu mau apa?" "Apa aja asal bukan hewan peliharaan." Berhubung ketika aku ulang tahun terakhir kali mereka menghadiaku kucing, cantik sih, jenis anggora, tapi aku alergi bulunya, jadinya hewan itu aku pindahkan ke rumah Abang. Neo meringis. "Ah, lo kan udah banyak duit Buk, ngapain minta kado sama kita yang rakjel ini?" Aku hanya tertawa, padahal dalam hati cenat-cenut, berharap nggak akan ada pembahasan soal Rey lagi di sepanjang sisa hari ini, meski sangat sulit karena seharian Juhi justru berghibah bahwa laki-laki itu sepertinya benar-benar cinlok dengan Nagisa Tsani. *** "Kak?" Langkahku sontak terhenti saat akan menyusun heels di rak, pandangan terangkat hanya untuk menemukan Sara yang sedang nyengir lebar. "Kapan dateng Sar?" "Baru aja, Kak." Yah, semoga nggak akan ada alasan menginap, karena sekarang masih sore, dia nggak perlu takut begal, rampok atau penampakan di jalan. Kurasa alih-alih memberiku supir pribadi, Gale sepertinya lebih butuh memberikan adik kesayangannya pengawalan. "Dari kampus? Mau nginap di sini?" "Enggak aku cuma numpang ngerjain tugas aja, nanti langsung pulang." Baiklah, itu cukup. Aku melenggang lega melewati living room untuk menuju kamar, lalu tercengang. Memang benar Sara nggak akan menginap tapi ... "Halo Kak." Ada tiga perempuan dan satu laki-laki seumurannya yang kini sedang duduk melingkar di sofa, di mana macbook terbuka di atas meja dan diktat bertebaran di mana-mana. "Teman-teman kelompok aku, rumahnya pada jauh, kalau mau ngerjain di salah satu rumah kita, keburu habis waktu di jalan." Memangnya mereka nggak bisa memilih opsi mengerjakan di kafe atau perpusatakan? "Nggak pa-pa kan Kak?" Mana bisa aku nolak ketika melihat wajah teman-temannya yang tampak cemas seolah aku ibu tiri yang akan segera mengusir mereka. "Nggak pa-pa kok, silakan, enjoy ya, anggep aja kayak rumah sendiri." Jadi manusia nggak enakan itu melelahkan, aku segera berderap masuk ke kamar, memindai kilat untuk menemukan suamiku, tapi Gale nggak terlihat di mana-mana, karena dia berjanji hari ini akan pulang sore berarti kemungkinannya sekarang dia sedang berada di ruang kerja. Kuputuskan untuk mengirimnya sebuah pesan singkat. Namun baru juga aku akan mangambil bathrobe, pintu kamar kembali diketuk, wajah Sara muncul di sana. "Kakak maaf ganggu lagi." "Kenapa Sar?" "Itu ... teman-teman aku belum makan." Terus? "Kalau Kakak nggak keberatan, bisa nggak minta tolong untuk kasih mereka makan, uang aku cuma cukup buat bensin." "Oke, Kakak delivery ya, mau apa?" "Oh nggak usah repot-repot Kak, kami makan mie instan aja udah cukup." "Jangan makanan instan dong, nggak pa-pa, resto Thai mau?" "Beneran nggak pa-pa Kak, nggak usah repot, aku udah beli mienya kok." Alisku terangkat. "Udah aku taruh di pantry, tapi aku nggak sempat masaknya daritadi, kalau Kakak nggak ada kerjaan ..." Baik, aku paham maksudnya. "Kamu mau Kakak masakin?" Sara meringis. "Tolong ya Kak." Hatiku kenapa panas ya? Sehat nggak sih gejala seperti ini? Seumur hidup Abang saja nggak pernah nyuruh-nyuruh aku untuk berjibaku di dapur, karena sama seperti Gale, dia pun pandai masak, dan Mama nggak pernah memintaku untuk melakukan pekerjaan rumah karena semua sudah dihandle Mba PRT. Tapi nggak masalah, Sara kan hanya meminta tolong, aku yakin nggak ada niat terselubung, dia sangat sibuk dan kelaparan. Aku mengangguk. "Oke." "Makasih Kak." Sara tersenyum manis sebelum menutup pintu. Akhirnya kupilih untuk mengganti setelan kerja dengan piyama, mengikat rambut panjangku dalam messy bun lalu menuju pantry. "Ada rawit nggak Kak?" Karena berkonsep open space, kitchen tersambung dengan area living room dan hanya terpisahkan oleh glass sleding door yang selalu terbuka, dan dari sana aku bisa mendengar suara Sara yang cukup keras. "Kenapa Sar?" "Aku mau kalau ada, yang mie instan rebus ya Kak, pakai telur dua, terus yang mie goreng, telurnya dibikin mata sapi goreng juga ya Kak." Kuembuskan napas panjang, memandang beberapa mie instan di meja. Aku harus mulai dari mana? "Kak?" "Oke Sar." Merebus air, aku menunggunya sampai mendidih sebelum memasukkan telur. Agak panik ketika airnya malah meluber, cepat-cepat aku celingukan mencari tutup panci, mendadak lupa di mana benda itu disimpan, sementara air mulai membasahi electric hob. Sebelum aku menemukan yang kubutukan, sebuah tangan sudah lebih dulu terulur untuk menurunkan suhu. "Masak apa Kim?" Gale berdiri di belakang punggungku, melongokkan kepala. "Kenapa nggak makan yang udah dibawa Mba Ratih?" Refleks aku menoleh, dan terkejut dengan betapa dekatnya wajah kami, aroma musk colognenya seketika melingkupi indera penciumanku. Aku bergeser sedikit sebelum mengaduk panci dengan sendok. "Ini buat Sara sama teman-temannya." "Suhunya nggak perlu tinggi-tinggi." Aku mengangguk berterima kasih selagi Gale mengisi ulang tumblr dari dispenser. Kupikir dia akan kembali mengurung diri di ruang kerjanya, tapi laki-laki itu justru duduk di stool, memandangku yang sibuk menyiapkan mangkuk dan membuka plastik bumbu. Aku nggak masalah masak, meskipun pasti hasilnya amburadul, tapi kalau diperhatikan dengan tatapan menghujam begitu, gimana aku bisa berkonsentrasi? "Grogi Kim?" tanyanya saat aku nyaris menuangkan kecap di mie rebus. Aku mendengus. "Berasa kayak lagi master chef kalau diawasin." "Apa nama masakan kamu?" "Indonesian style spicy noodles with egg, vegetables, and fried shallots." Gale sama sekali nggak tertawa, mungkin ketika menciptakannya Tuhan lupa memberikan selera humor. Wajahnya tetap datar, bahkan untuk menarik sudut bibir sedikit saja kelihatan sangat berat. "Looks fine." See? Masakan masterpiece begini hanya dibilang cukup bagus. "Udah cocok." "Apanya?" "Jadi istri aku." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD