Bab 9: Off Cam

1457 Words
"Kim?" "Hm?" "Bangun." Bahuku terasa ditepuk pelan, aku menggeliat, meregangkan lengan sebelum perlahan membuka mata lalu menemukan suamiku yang sedang mondar-mandir di kamar. "Kenapa Mas?" tanyaku sambil menguap, semalaman aku menunggu dia selesai bekerja sampai pukul dua pagi dengan menonton ulang semua episode drama Princess Hours. Tapi nggak ada tanda-tanda Gale bakalan tidur. Dan jika diraba dari bagaimana dinginnya kasur di sampingku, kurasa laki-laki ini memang nggak masuk ke kamar semalam. "Kamu nyari apa?" "Kaos kaki." "Memang biasanya taruh di mana?" "Pada hilang sebelah." "Beli aja." "Mau aku pakai sekarang." Ya ampun. Lebih genting mana kaos kaki yang hilang atau aku yang yang ditinggal sendirian sampai ketiduran? Tapi responnya jauh lebih heboh ketika dia nggak bisa menemukan sepasang benda itu. Saat aku beringsut bangkit sambil menggulung rambut untuk menghampirinya di walk in closet, semua isi lemari sudah bertebaran, laci-laci dalam keadaan terbuka. "Kenapa diacak-acak semua sih?" "Tolong cariin pasangannya Kim." Dia melempar kaos kaki hitam ke udara yang segera kutangkap. Aku berdecak, ini gimana konsepnya? Bukankah dia bilang aku istri magang? Aku saja belum ada sebulan di apartemen ini, dan nggak pernah mengotak-atik pakaiannya, jadi aku benar-benar clueless. Lagipula semua kaos kakinya berwarna hitam, abu-abu, krem, atau putih, dia tinggal mencocokkannya saja kan? "Aku mau pakai buat meeting sama pemegang saham." Kutarik asal kaos kaki di lantai yang warnanya sama. "Pakai aja ini." Anehnya, tanpa protes Gale langsung menyambar sepasang benda itu dari tanganku. "Makasih Kim." Dia berderap keluar kamar begitu saja meninggalkan kekacauan yang sudah dibuat. Aku mendengus, kalau kudiamkan saja, Gale pasti nggak akan membereskannya, sementara jiwa babuku terasa meronta-ronta. Dengan gemas aku memungut satu persatu semua celana pendek sampai beberapa dasi yang dia lempar ke lantai, lalu menatanya sesuai tempat. Apakah dia bocah? Mungkin inilah kelemahan Gale, dia hanya pintar masak, tapi nggak bisa bebersih, bahkan semalam setelah Sara dan teman-temannya meninggalkan semua piring bekas makan di meja. Gale hanya mengernyit memandangi kekacauan itu. "Biarin nanti diberesin Mba Olga, kamu tidur aja." Begitulah katanya semalam. Tapi dasarnya aku nggak bisa diam, akhirnya kucuci semua sampai kinclong. "Kim?" Lagi-lagi kudengar suaranya memanggil, saat melangkah keluar, kulihat Gale sudah tampak rapi, pagi ini dia mengenakan kemeja dan celana bahan, nggak seperti biasanya yang santai. "Aku mau ajak kamu lunch di luar, nanti aku jemput di kampus gimana?" Eng ... Kenapa tiba-tiba? Bukannya aku nggak mau sih, tapi aku belum merasa terbiasa, apalagi sekarang semua orang kantor tahu aku sudah bersuami, kuyakin jika Gale muncul lagi di sana, mulut julid Neo bakalan kepo. "Dinner aja gimana Mas?" Aku mencoba nawar yang sontak dibalas dengan kerutan halus di keningnya. "Aku nggak bisa lunch lama-lama, kalau keluar pasti bakalan makan waktu kan? Jadwal aku lagi padet buat persiapan UTS." "Aku yang nggak bisa kalau dinner." Mataku langsung membulat. "Mas mau lembur di kantor?" Karena dia santai saja mengenakan sepatu, aku melanjutkan. "Mas udah janji." Gale berdiri. "Aku akan pulang seperti biasa." Jantungku terasa berdebar ketika laki-laki itu melangkah maju, membawa serta aroma colognenya yang mulai akrab, dan bukannya aku nggak suka, justru sebaliknya, dengan penampilan matang beserta cambang tipis seperti itu dia kelihatan sangat gagah, dan aku harus menahan napas ketika dia menunduk, berusaha untuk nggak mundur saat tangannya terulur menarik tas yang ditinggalkan di atas sofa. Sialan. "Jadi kamu nolak?" "Lain kali aku usahain." "Oke." Kami kan sudah jadi suami istri, akan ada banyak waktu hanya untuk sekedar makan siang bersama. Tapi aku merasa kesal karena wajah Gale yang datar sulit sekali untuk k****a sehingga aku nggak tahu apa yang dia rasakan. Tapi kenapa pula perasaannya penting buatku? "Mas harusnya tanya dulu aku ada waktu luang atau nggak, jangan dadakan." Satu alisnya naik. "Peraturan yang Mas sebutin kemarin juga berlaku vice versa," lanjutku berani. "Kalau Mas mau pergi, wajib laporan, dengan siapa, ke mana dan kasih tau dua hari sebelumnya." Nah, gimana? Pasti nggak nyaman kan rasanya diatur-atur? Tapi sepertinya aku menilai diri terlalu tinggi karena Gale tampak nggak keberatan. "As you wish, Kim." *** Lucunya adalah, setelah kamu menolak seseorang lalu kamu berharap akan dibujuk oleh orang tersebut. Itulah yang kurasakan ketika tanpa sadar bolak-balik menyalakan ponsel. "Lagi nunggu telepon siapa sih?" Aku hanya mendesah dan lanjut menyuap sushi, beberapa hari ini aku sedang hobi sekali makanan mentah, meskipun anehnya aku nggak cocok dengan amis telur, tapi di restoran ramen ini, semua bahannya sangat fresh dan nggak bikin aku mual. Seperti namanya, Rame(i)n tempat ini sangat ramai, interiornya bergaya tropis Japandi yang cukup cozy. Kami datang ke sini atas rekomendasi Juhi, selain makanannya yang endul dan harganya yang affordable, konon katanya sang owner sangat good looking. "Arah jam lima, nah itu pemiliknya." Aku nggak paham sebenarnya dengan jalan pikiran Juhi, bisa-bisanya di mana saja dia menemukan cogan. "Kalau lagi beruntung kita bisa ketemu dia, kalau lagi nggak beruntung yaudah nikmatin aja makannya," lanjut perempuan itu menjelaskan saat kami melirik ke arah yang dimaksud, di mana ada seorang laki-laki berwajah tegas dalam balutan jas super rapi sedang duduk. "Tapi sayang dia udah taken, yang duduk di sebelahnya itu istrinya." Perempuan itu juga sedang mengandung sepertiku, bedanya dia sudah hamil tua dan mungkin sebentar lagi akan melahirkan. Meski mata si owner tampak tajam ketika memindai sekitar, tapi siapapun yang melihat mereka bisa menangkap bahwa sang suami sangat mencintai istrinya, sorot matanya melembut ketika memandang sang istri, berbisik di telinganya, lalu tertawa. Dan saat melakukan itu, sudut-sudut keras di wajahnya tampak mengendur. "Duh jadi pengin nikah." Neo menyampaikan apa yang ada di pikiran para jomblo. Aku pun merasa iri, kenapa tadi aku menolak tawaran Gale dan justru memilih maksi dengan wajah-wajah membosankan ini? "Meskipun gue masih normal tapi ada jenis laki-laki yang s*x appealnya tinggi, nah inilah tipe yang gue maksud, makin dilihat, makin gerah gitu." "Kan ..." kata Juhi membenarkan. "Cakepnya bukan yang ngebosenin." "Istigfar," sahut Mba Farika. "Itu istrinya ada di sampingnya loh, dipelototin kalian nanti." "Couple goals." Neo berdecak, kemudian perhatiannya jatuh padaku. "Laki lo juga tuh Buk, yang matang biasanya lebih menantang kan?" Nah inilah kenapa lebih baik Gale jangan berkeliaran di sekitar bawahanku. Secara referensi pribadi jika dibandingkan dengan laki-laki ini, jelas Gale kalah telak, bahkan jika dibandingkan dengan Rey, suamiku mungkin nggak akan ada apa-apanya. Tapi kalau terus-terusan membahas fisik nggak akan ada ujungnya kan? Sementara manusia akan menua tapi kepribadian bertahan selamanya. Dan untuk saat ini hanya Gale-lah yang bisa kuandalkan dibanding Rey. "Kapan-kapan ajak nyeng-nyong bareng lah Buk, kenalin ke kita." Ide yang buruk. "Mana mau dia." "Kenapa?" "Orang tua kalau malem bawaannya nggak jauh-jauh dari ranjang, nggak pantes berkeliaran di tempat karaokean." Neo ngakak. Seandainya dia tahu, yang terjadi justru sebaliknya, umur hanyalah angka, aku merasa tenaga Gale justru seperti kuda. Bagitu selesai makan siang, kami lanjut ngantor seperti biasa, seharian aku masih terbayang-bayang bagaimana indahnya menjadi pasangan suami istri yang saling mencintai. Ditambah hormon sialan yang bikin aku melankolis. Ketika sampai di rumah, sesuai janji aku menemukan sepasang sepatu Gale yang melintang di depan pintu, kurapikan dan kupindahkan sepatu itu di rak. "Mas?" Gale sepertinya ada di ruang kerja karena aku nggak menemukannya di mana-mana, tapi aku malas mengetuk, maksudku, harusnya dia menyambut istrinya kan? Tapi apalah daya, kami bukan pasangan yang normal. Aku memilih untuk mandi, membersihkan diri lalu memandang perutku. Kalau mengenakan kemeja oversize jelas nggak akan kelihatan, tapi saat telanjang begini, maka perutku tampak berbeda. Payudaraku pun mulai membesar. "Hai, apa kabar?" Aku berkata canggung sambil mengelus perut itu. Terakhir kali memeriksakan diri di obygyn dia masih sebesar buah anggur. "Baik-baik ya, jangan rewel, jangan bikin Mama mual." Setelah kelar aku memindai isi lemari, lalu tertegun menatap pakaianku. Nggak akan ada hari esok, mau sampai kapan aku menunggu Gale yang inisiatif tanpa nyosor duluan? Jadi dengan gemetar, aku menarik lingerie berpotongan chemise dengan warna green berbahan silk sebatas paha, kemudian berderap ke ruang kerja Gale. Pintu kuketuk dua kali sebelum membukanya dan mendapati ruang itu ternyata kosong. "Mas?" Aku merasa lega ketika suara keran dari arah kamar mandi terdengar. Oke, bagus dia nggak ke mana-mana. Saat laki-laki itu keluar aku akan langsung menyongsong dirinya, nggak akan kubiarkan Gale berhenti atau apapun mengganggu kami sebelum semuanya selesai. Kuangkat rambutku dalam cepolan tinggi, lalu berpose, mencoba beberapa gaya yang cukup menggoda. Pintu terbuka tepat ketika aku sengaja menarik turun satu tali di bahu. Mata Gale langsung melotot saat melihatku. Aku menyeringai. "Ayo tidur, aku—" "Kimmy!" Gale tampak ngeri. "Aku lagi ada conference call, kamu ngapain di situ?" Conference call? "Di belakang kamu." Aku langsung berputar, mata berkeliaran mencari dari tiga PC-nya yang menyala, wajahku sontak terasa pias ketika menemukan tepat di depanku, layar menampakkan beberapa bingkai kotak berisi wajah para koleganya. Kubekap mulut sambil berjongkok, merasa lemas sebadan-badan bersamaan dengan Gale yang segera menyerbu ke meja, menunduk untuk menekan ikon mute dan membentak. "b*****t, kenapa nggak ada yang off cam, yang kalian pelototin itu istri gue!" ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD