"Minum dulu." Aku nurut saja menerima uluran segelas air dan menandaskannya dalam satu kali tegukan. "Kamu punya masalah mata minus Kim?"
"Enggak, aku beneran nggak ngecek."
Akibat terlalu fokus pada misi, padahal komputer Gale nggak ada yang berukuran mini, aku pun hanya perlu melirik supaya keteledoran ini nggak terjadi, walaupun Gale menenangkan bahwa itu bukan conference call resmi dan hanya para karyawannya tetap saja aku merasa terguncang.
"Aku nggak bakal berani ke kantor Mas sekarang," kataku lesu lalu meraup wajah setelah mengentak gelas di nakas. "Apa yang bakal dipikirin karyawan Mas nanti?"
"Mereka akan mengerti."
"Tapi malu-maluin."
"Namanya pengantin baru Kim."
Iya, sayangnya aku yang antusias sendirian, Gale nggak peduli.
"Gimana dong?" rengekku.
Menyebalkannya Gale malah terdengar seperti menahan tawa, aku sontak menurunkan tangan dan menatapnya galak. "Apanya yang lucu?"
"Aku pikir kamu berniat ngerjain aku dan malah kena tulah sendiri."
Heh?
Mataku makin melotot nggak terima. "Siapa yang mau ngerjain Mas? Aku cuma mau ngajak tidur."
"Jam segini?"
"Ya memang kenapa?"
"Biasanya kamu selalu begadang."
Aku juga begadang karena ulahmu Mas! Memangnya untuk apa aku nonton series kalau bukan untuk menunggu dia menghampiriku? Lagian dari mana dia tahu aku selalu tidur larut? Bukankah ruangannya kedap suara? Apakah diam-diam dia selalu mengintip? Apakah dia sengaja melakukannya? Membuat aku menunggu sampai jatuh tertidur, tapi untuk apa dia melakukan itu?
"Mas lebih parah, memang nggak lembur di kantor, tapi sama aja sibuk terus."
"Masalah yang kemarin belum sepenuhnya selesai, aku harus pastiin sistem kami udah sempurna, minimal nggak ada kebocoran lagi, semua karyawan bergantung dengan pekerjaan ini Kim, kalau kami kehilangan customer, bukan cuma defisit, Fluent bisa aja gulung tikar."
Huh, karena dia menyebut para karyawan, aku kembali merona. Belum lagi posisiku yang duduk di pinggir ranjang, dan dia yang berlutut di bawah membuatku harus menunduk untuk menemui tatapannya.
"Oke," katanya seperti menyerah saat melihatku diam saja. "Aku temenin kamu dinner di luar." Laki-laki itu langsung bangkit. "Kamu ganti baju dulu, jangan sampai nanti--"
"Ya!"
Aku juga bukan perempuan bodoh, mana mungkin aku akan jatuh ke lubang yang sama dua kali?
Sial, aku merasa sedih ketika lagi-lagi membuka lingerie tanpa hasil apa-apa, pakaian ini sama sekali nggak bermanfaat di mata Gale.
"Pakai celana," koreksi laki-laki itu ketika aku sudah siap dengan sebuah dress. "Kita hanya akan cari makan di dekat sini, lebih baik aku bawa motor."
Aku nurut saja daripada ribet.
***
Sebuah angkringan pinggir jalan adalah tujuan kami, aku mengalungkan lengan di perutnya merasa enggan turun saat melihat tempat itu sangat ramai.
"Kamu nggak pernah makan di pinggir jalan?"
Tolong jangan hujat aku, tapi aku memang belum pernah mencoba makan di tempat terbuka. Maksudku, ada banyak debu yang mungkin berbaur ke masakan selagi kendaraan lewat. Ditambah dengan suaranya yang berisik, bukankah tempat seperti ini kurang higenis? Selain debu, berapa banyak kuman-kuman yang juga ikut berbaur karena saat duduk pelanggan hanya beralaskan tikar?
"Cari tempat lain," pintaku.
Gale berdecak. "Kamu mau makan apa?"
"Terserah, tapi jangan di sini."
"Jangan terserah, sebutin apa yang kamu mau."
"Yaudah jalan aja dulu, nanti aku pikirin sambil lihat-lihat yang lain."
"Kita mau makan bukan mau shopping."
"Yang mau shopping siapa sih?"
"Kamu selalu kayak gini ya?"
"Gimana?"
"Manja."
Pandanganku seketika terangkat lalu menepuk pelan bahunya. "Aku nggak manja."
Gale melirik dari kaca spion, senyum simpulnya terbit. "Right."
Ish.
"Yaudah makan apa?"
Aku baru akan menjawab jalan, ketika indera penciumanku menghirup aroma asap satai yang terbawa sapuan angin. Perutku sontak bernyanyi.
Kepala Gale langsung berputar untuk menatapku sepenuhnya. "Ini langganan aku kok Kim, dijamin nggak bakal bikin kamu keracunan."
Baiklah, aku melakukannya hanya karena aku sudah lapar, ralat, maksudku anak di dalam perutku yang lapar!
Seorang laki-laki muda segera menyambut dengan buku menu ketika kami berhasil dapat tempat duduk.
"Nggak pakai nasi? Kamu bakalan laper lagi kalau cuma makan satenya doang. Di sini juga ada lontong." Gale menawarkan ketika menu pesananku datang dan dengan hati-hati menyantapnya sementara dia memilih memesan tongseng daging dan seporsi nasi.
"Aku mau cicip punya Mas boleh?"
Gale kontan menggeser mangkuk tongsengnya ke hadapanku. Karena wangi rempah-rempahnya membuatku merasa tergoda, dan ketika menyeruput kuahnya, aku menggeleng kecil merasa takjub dengan rasanya yang ramai. Gale bahkan menambahkan jeruk nipis ke dalam mangkuk tersebut sehingga membuat rasanya lebih segar.
"Punya Mas lebih enak," kataku menyuap kembali dengan nasi.
"Ambil." Gale menukar piring kami, dan akhirnya menikmati satai milikku.
Ternyata makan di pinggir jalan nggak seburuk yang kupikirkan, aku bahkan lumayan menyukainya, meskipun banyak nyamuk dan beberapa kali aku harus terinterupsi menampar-nampar lengan.
"Bukannya aku udah bilang buat pakai baju yang sopan?"
Dasar orang tua pikun, kapan dia mengatakan begitu? "Mas cuma suruh aku pakai celana."
Jangan salahkan aku yang memilih ribbed tanks karena nggak berpikir kami akan singgah di trotoar.
Gale berdecak, kepalanya dipanjangkan untuk memberi kode agar seseorang mendekat, anak muda yang sebelumnya melayani kami dengan cekatan segera menghampiri, dia meminta sesuatu ke anak muda tersebut dan nggak berapa lama, laki-laki itu datang sambil membawa sebotol lotion anti nyamuk.
"Aku nggak minta Mas buat beli ini kok."
Tapi kurasakan telapak tangannya yang licin karena lotion mulai begerak untuk mengusap lenganku, membaluriku dengan cairan berwangi jeruk tersebut seperti bocah.
"Aku bisa sendiri," kataku merasa keki, karena wanginya yang khas cukup menarik perhatian. Setelah selesai aku bisa lanjut makan.
"Nambah Kim?" tanyanya saat makananku sudah kandas duluan. Dengan malu-malu aku menganggukkan kepala. "Laper banget ya?"
Jelas, aku makan untuk dua orang. Rasanya menyenangkan ketika Gale lanjut mengajakku untuk keliling kota, minum soda gembira, melihat keramaian, mendengarkan pengamen jalanan, aku semakin membelit perutnya, bersandar di punggungnya yang luas. Untuk sesaat merasa damai setelah badai pikiran akibat kehamilan yang nggak pernah kuinginkan.
"Mas kenapa mau nikah sama aku?" Aku memberanikan diri bertanya saat kami sudah di lift untuk menuju lantai dua puluh, tempat unit Gale berada.
Laki-laki itu sontak menoleh, dia bersandar di railing dengan kedua tangan disimpan dalam saku celana. "Karena cuma kamu yang mau nikah sama aku?"
Aku mendengus. "Serius."
"Ya, kalau saat itu di ballrom kamu nggak minta, mungkin aku juga nggak kepikiran buat menikah sama kamu Kim."
Astaga, jawabannya jujur sekali, agak nyesek karena ternyata aku memang nggak istimewa, tapi aku nggak bisa menyalahkan Gale, aku pun nggak memiliki pilihan kecuali untuk menyembunyikan kehamilan.
"Dulu bagi aku kamu udah kayak adik aku sendiri, aku nggak pernah memandang kamu lebih dari itu."
"Kalau sekarang?" tanyaku, nggak ingin luput dari setiap kata yang dia ucapkan.
Mata Gale tampak mengerjap. "Nggak ada kakak adik yang menikah."
"Betul."
"Jadi aku berusaha untuk melihat kamu sebagai perempuan dewasa."
"Makanya kenapa Mas menghindar?"
"Apa?"
"Mas ngerasa kesulitan buat tidur dengan seseorang yang udah Mas anggap sebagai adik?"
Gale mengernyit. "Aku nggak menghindar Kim."
"Oh, nggak pa-pa kok, aku bisa paham, aku juga dulu nganggep Mas kayak Abang, aku nggak pernah kepikiran kita bakal nikah, bahkan pas Mama nawarin juga aku nggak habis pikir, ya bayangin aja, Mas lihat aku dari kecil, aku malah malu sebenarnya karena kita se--" Suaraku semakin melemah seiring dengan Gale yang semakin merapat.
Apa sudah kubilang bahwa aku memiliki tubuh semampai? Tapi Gale tetap lebih tinggi dan lebih besar, jika ingin mempertahankan kontak mata aku harus mendongak.
"Mas?"
Ibu jarinya terasa mengusap bibirku, aku menahan napas saat dia menunduk lalu jemarinya membawa daguku untuk terangkat. "Kamu sengaja goda aku Kim?"
Harusnya aku nggak perlu mundur kan? Aku menginginkan ini, aku perlu berhubungan dengan Gale, tapi entah gimana, tatapan laki-laki itu membuatku merasa sangat merona.
"Apa salahnya kalau aku goda Mas? Kita udah jadi suami istri," cicitku pelan.
Lantai sembilan, ini adalah kesempatan yang bagus, jika aku berhenti, kuyakin akan sangat sulit untuk membuat Gale menyentuhku lagi.
"Tapi kayaknya Mas nggak terpengaruh, mungkin sedikit banyak Mas masih anggep aku adik." Entah hanya perasaanku saja atau sesuatu dalam diri Gale akhirnya terlepas hingga kini matanya tampak membara. "Sayangnya sekarang aku udah anggap Mas sebagai suami. Dan Mas tau kan apa kewajiban suami selain memberikan nafkah lahir?"
Gale jarang senyum, kalaupun senyum dia paling cuma bakalan narik sedikit sudut bibir, itu juga masih ditambah muka judes, jadi nggak ada kelihatan manis-manisnya sama sekali. Tapi kali ini... dia senyum, senyum beneran yang memperlihatkan deretan giginya sebelum berubah jadi tawa.
"Kamu pandai beragumen ya?"
Mas juga pandai bikin aku deg-degkan.
"Oke, give me those lips."
Lalu, perlahan bibirnya turun untuk meraih bibirku, memangut lembut, buku-buku jemarinya terasa mengelus pipiku, membujuk agar bibir itu membuka, sambil meremas kaos di dadanya, aku memberikan yang dia inginkan, lidah Gale terasa menerobos dan mulai mengeksplorasi.
Punggungku membusur ketika laki-laki itu semakin berani memperdalam pangutan kami, bisa kurasakan telapak tangannya mulai meraba-raba, Gale mendesak, menghimpit tubuhku di railing, ketegangan mulai merambat naik di antara lipatan kakiku menuju rongga dadaku yang terasa bertalu-talu.
Jadi beginikah yang kata Abang Gale nggak suka memperlihatkan kemesaraan? Meskipun saat ini hanya ada kami berdua, tapi nggak menutup kemungkinan seseorang di luar sana sudah menunggu saat pintu lift berdenting terbuka.
Dan itulah yang kulakukan, mendorong lembut dadanya saat lift perlahan terbuka, pertanda kehadiran pendatang baru, hawa panas seperti bergulung di udara ketika tubuh kami saling menjauh, aku megap-megap mencoba mengatur napas saat melihat Gale mundur tanpa mengalihkan tatapan, seolah ada janji yang tak terucap di dalam sana.
Jantungku berdegup kencang.
Seorang perempuan cantik sambil menggendong seekor kucing melenggang masuk, aku menahan napas saat hewan menggemaskan itu menggeliat, hidungku mendadak gatal, namun yang membuatku panik adalah wangi parfum yang kini memenuhi ruangan, perutku seperti diguncang.
Begitu sampai di lantai yang kami tuju, aku bergegas keluar, nyaris berlari kecil untuk mencapai unit kami, bisa kudengar langkah kaki Gale tergesa mengekori di belakang.
"Kim?"
Aku membekap mulut saat cairan di perutku mendesak di tenggorokan, tapi saat baru berhasil membuka pintu aku nggak mampu menahannya, semua yang kumakan buyar berceceran di lantai, aku bisa mendengar Gale terkesiap di balik punggungku. Sambil meringis dengan mata berair aku berkata gemetar. "Mas maaf ..."
***